
Juhri terduduk di tanah dengan nafas tidak beraturan, tubuhnya kotor dengan lumpur, sepatunya hilang entah tertinggal dimana. Sapuan angin sedikit menenangkan nya, hingga beberapa saat barulah ia mau berbicara.
"Njenengan kenapa, mas? Saya lihat pagi tadi njenengan masih ada di kursi belakang." ucap Zainal seraya menghampiri, ia memberikan sebotol air mineral.
"Ada perempuan di dalam hutan. Penuh sisik, dan panjang sekali.. " ucap Juhri tak jelas, ia menerangkan setengah setengah.
Mereka yang ada disana di buat kebingungan, apa sebenarnya yang dimaksud kan orang ini. "Maksudnya gimana? Apa yang panjang?" tanya Zainal lagi.
"Perempuan itu, panjang!" ucap Juhri singkat. Ia malas menjelaskan, otak nya masih belum bisa diajak berkompromi. Alingga juga tidak mengerti yang dimaksudkan Juhri, ia melirik kearah Danu, dengan cepat Danu mengalihkan pandangannya menghindari kontak mata dengan Alingga.
Zainal meminta Juhri untuk bernafas perlahan, ia membiarkan Juhri menenangkan diri hingga dia siap untuk bercerita secara rinci.
__ADS_1
"Malam tadi aku melihat sesuatu di dalam hutan, sebuah jejak. Saat kalian semua terlelap, aku menyelinap pergi untuk memeriksa jejak itu. Aku mengikuti jalur sebelumnya, dengan mengendap endap jejak itu aku ikuti."Juhri memulai cerita, ia memulainya dari pertama kali ia pergi. Semua orang terdiam, menyimak dengan serius setiap kata yang Juhri lontarkan.
" Jejak itu menuju rumah tua, tepat di depan teras jejak itu menghilang. Masih dengan hati-hati, aku masuk kedalam pintu yang tidak di tutup, aku berhenti saat melihat seekor Ular, sangat besar, sedang mengalami transformasi." Semua orang malah semakin kebingungan dengan cerita Juhri, Ular apa yang mengalami transformasi, antara percaya dan tidak.
"Transformasi bagaimana?"
"Seperti siluman, ia berubah wujud menjadi manusia. Ekornya membelah menjadi dua, lalu muncul kaki dari belahan tersebut."
"Lalu apa yang terjadi dengan mu? Mengapa kacau sekali." tanya Zainal.
"Perempuan itu sangat mirip dengan Rahayu! Dia menarik kaki ku, membawanya keruang bawah tanah. Pagi tadi aku mendengar suara kalian, tapi sayangnya suara ku tertahan di tenggorokan, aku tidak bisa berteriak!"
__ADS_1
"Dia bukan putri mu lagi, aku melihatnya pagi tadi. Wijaya sudah menjual nya kepada iblis, sebagai wadahnya. Maaf aku harus mengatakan ini, tidak ada yang bisa kamu lakukan, dia tidak bisa di selamat kan." ucap Alingga, ia memiliki kata sehalus mungkin agar Juhri tidak tersinggung. Ia tau benar sebesar apa cintanya pada Putrinya itu, dia juga sudah bersiap dengan respon apapun yang akan Juhri berikan.
" Iya, aku tahu itu. Aku sudah terlalu banyak melihat kematian, juga banyak hal ganjil. Aku sangat tau itu. Tapi, apa salahnya berharap, mungkin saja ada keajaiban yang akan mengembalikan dia kebentuk semula, mengembalikan nya menjadi putri ku yang cantik!" Juhri berbicara dengan terisak-isak, air matanya mengalir, membasahi pipinya. Ia menunduk menatap tanah di bawahnya, tangan meremas ujung pakaian hitam nya.
Ratapan dari seorang ayah yang kehilangan Putri nya membuat semua orang mengiba, tidak ada yang bisa berkata kata. Memang selalu ada harapan disetiap kesulitan, tapi untuk masalah ini, sepertinya hanya ada jalan buntu. Bukan nya tidak boleh memiliki harapan, hanya saja harapan itu hanya akan menimbulkan luka lebih dalam lagi.
Alingga berusaha menghibur Juhri, pertikaian keduanya seperti nya telah berakhir. Alingga dapat merasakan kesedihannya.
Alingga membawa Juhri masuk kedalam mobil, membiarkan nya menenangkan pikirannya yang tengah kacau. Sakit di hatinya semakin mengiris, membuat luka itu tak pernah bisa sembuh. Mobil melaju meninggalkan kawasan hutan, melesat cepat di jalan yang lenggang.
Juhri menatap kebelakang, melihat tempat mereka tadi semakin menjauh. Samar samar ia melihat seorang wanita berdiri di balik semak belukar, menatap kosong mobil yang semakin jauh melaju, meninggalkan nya sendirian di dalam hutan yang sunyi.
__ADS_1