
Jalanan sepi di bawah teriknya matahari, debu debu berterbangan tertiup angin sepoi-sepoi. Sebuah mobil hitam terparkir di pinggir jalan tanpa ada pengemudinya, tak jauh dari sana terdapat sebuah gubuk diantara pohon pohon yang menjulang.
Hari menjelang senja, gubuk itu belum juga menunjukkan siapa pemiliknya. Seorang lelaki paruh baya mendatangi gubuk tersebut sembari memegangi perut dan lehernya. Pakaian nya kotor dengan tanah, belum lagi wajahnya yang bengkak dan babak belur.
Lelaki itu masuk kedalam gubuk bambu yang pintunya tidak terkunci, di dalam sana hanya ada sebuah kotak kayu yang gemboknya juga sudah terlepas. Lelaki itu bersusah payah mendekati kotak dengan ekspresi yang menahan sakit, wajah lebam nya tak perlu ditanyakan lagi apa yang menyebabkan semua itu.
Saat kotak itu dibuka terdapat sebuah anak tangga yang menjorok kebawah hingga tidak terlihat ujung dasarnya, di ujung anak tangga hanya ada kegelapan tanpa sedikitpun cahaya. Lelaki itu menuruni satu demi satu anak tangga hingga ia benar-benar lenyap dari permukaan, saat sampai didasar terdapat sebuah pintu yang terbuat dari kayu dengan ukiran bunga bersulur.
Lelaki itu mengetuk beberapa kali pintu kayu berharap seseorang yang baik hati mau memberikan sedikit harapan kepada nya. Benar saja, selang tak berapa lama pintu tua itu benar benar terbuka. Di dalam sana berjejer puluhan kotak kayu dengan satu lilin yang menyala di atas setiap kotak nya.
Lelaki yang membukakan pintu itu menuntut tamu nya untuk masuk ke dalam ruangan, perawakannya terlihat lebih tua dibandingkan si lelaki sebelumnya.
"Barang e ndi?" " Barang nya mana?" tanya lelaki yang lebih tua.
Orang yang ditanyai tak segera menjawab, ia menatap lelaki dihadapan nya dengan wajah yang memelas.
"Ndoro neng Jero! Ngomong o dewe, aku ora ndue hak!" (Nyonya ada di dalam! Bilang sendiri, aku tidak punya hak!) ucap laki laki itu sembari membantu tamu nya berdiri.
Mereka masuk kedalam lorong dengan dinding tanah, lorong panjang dengan aroma pengap yang menyesakan. Lelaki itu membawanya menghadap majikan nya yang sudah menunggu kabar cukup lama, sedang si lelaki nampak begitu putus asa saat tahu kemana ia akan dibawa
__ADS_1
"Kowe ngerti nasib e trewelu seng gak iso nyekel mangsa ne?" (Kamu tahu nasib nya kelinci yang tidak bisa menangkap mangsanya?) tanya seorang wanita yang mengenakan kebaya putih di tengah-tengah ruangan.
Wanita itu bertanya kepada lelaki yang tengah berlulut di hadapannya, orang lain di dalam ruangan itu membisu terutama seorang wanita yang tangan dan kakinya terikat di samping wanita berkebaya.
Lelaki yang ditanya hanya diam, dia tak berani menyela sedikitpun ucapan majikan nya
"MATI!!" ucap wanita berkebaya putih tanpa mengalihkan pandangannya.
Wanita itu kemudian menarik sebuah parang yang tergeletak diatas tanah. Parang itu diarah keleher si lelaki yang tengah berlulut, Keringat dingin mengucur deras bersamaan dengan tubuh si lelaki yang mulai bergetar.
"Juhri! Wes lewat seko opo seng mbok janji ke!" (Juhri! Sudah lewat dari apa yang sudah kamu janjikan!)
Lelaki yang tengah berlutut itu segera memohon ampun, ia kemudian memberikan sebuah bungkusan kecil yang dibalut kain berwarna hitam. Sang wanita mengernyitkan alisnya tak mengerti, yang juhri berikan tidak sesuai dengan ekspektasi nya.
Lasmi memerintahkan lelaki yang berdiri dibelakang Juhri mengambil bungkusan itu, bungkusan hitam lembab dengan warna merah yang membekas setelah disentuh. Aroma anyir tercium sangat kuat dari bungkusan yang tengah dibuka, gumpalan merah terpampang jelas yang membuat senyum lasmi semakin melebar.
Lasmi menatap Juhri lekat lekat, ia menurunkan parang yang tadi diarahkan ke lehernya. Jika saja Juhri tidak segera memberikan barang rampasan nya, kepalanya sudah pasti terpisah dengan lehernya. Lasmi tidak bisa dianggap remeh, ia lebih kejam dari iblis itu sendiri.
" Nyowo anakmu dadi jaminan! Ojo wani wani ne ngelanggar sumpah mu!" ( Jangan berani beraninya melanggar sumpah mu!) ucap lasmi lantang.
__ADS_1
Lasmi berganti menatap wanita yang diikat disebelahnya, senyum nya semakin lebar saat melihat rengekan memelas tak berdaya. Nyawanya sudah di ujung tandu, wajahnya bengkak akibat pukulan yang tak henti-hentinya menghujani wajahnya.
Lasmi mengayun kan parangnya tepat keleher wanita itu yang merupakan istri dari Juhri sendiri. Tangisnya pecah, hanya karena satu kegagalan satu nyawa keluarga nya melayang. Juhri tidak berhasil membawa tubuh mbah Slamet ke tempat ini seperti yang sudah diperintahkan, ia seharusnya sudah tau konsekuensi apa yang harus ia tanggung atas kegagalan nya.
Kepala yang sudah terpisah dengan tubuhnya itu menggelinding tepat di depan mata Juhri, ia hendak meraih potongan kepala istrinya namun tiba-tiba saja sebuah benda tajam melesat dan menancap tepat di telapak tangan nya. Darah menetes deras di atas lantai tanah. Juhri mengerang kesakitan saat pisau itu hampir menembus telapak tangannya.
Lasmi sudah tak punya urusan lagi disini, ia melangkah pergi meninggalkan suara rintihan yang menggema di dalam ruangan. Raut nya tak menampakan sedikit pun rasa bersalah setelah menghabisi satu nyawa tak berdosa, ia dengan santai nya memerintahkan bawahannya membereskan apa yang baru saja terjadi di ruang bawah tanah.
Juhri mencengkeram pergelangan tangannya sangat kuat, sorot matanya menampakkan kebencian yang sangat besar. Ia menarik paksa pisau tersebut meskipun harus menahan rasa sakit yang mengiris iris setiap senti telapak tangannya.
"WIJAYAA... " teriaknya Sembari menancapkan pisau tersebut ketanah.
Sebuah tangan yang sudah agak keriput menyentuh pundak Juhri, ia beberapa kali menepuk-nepuk pundak itu berubah menenangkan kebencian temannya.
"Ileng, Rahayu ijek karo keluarga Kuwi!" ( Ingat, Rahayu masih bersama keluarga itu!) ucap lelaki itu sebelum mengambil potongan kepala dan membalut nya dengan kain putih. Mayat itu ia masuk kan kedalam kotak di ruangan sebelah, kotak itu kemudian di paku sampai tidak ada sedikitpun udara yang dapat menerobos sedikitpun rongga nya. Terakhir sebuah lilin dinyalakan diatas kotak tersebut sama seperti puluhan kotak lainya.
Juhri mengatupkan gigi giginya, nyeri ditangan nya semakin menjalar, namun nyeri dihatinya semakin tak bisa ia tahan. Ia bertekad lepas dari jerat yang mengikatnya dengan keluarga itu, namun ia juga tidak bisa sembarangan bertindak, salah bertindak nyawa putrinya melayang.
"Nyowo di bales nyowo!" (Nyawa dibales nyawa!) ucap nya lirih sambil mengepalkan tangannya. Orang yang tengah menyalakan lilin itu menyadari gelagat aneh dari juhri, ia tahu temannya itu tengah diselimuti amarah yang begitu besar, ia tak ingin terlibat karena dia sendiri juga punya keluarga, tentu dia paham bagaimana perasaan juhri saat ini.
__ADS_1
Juhri meninggalkan ruang bawah tanah bersama dengan segala rasa sakitnya, darah yang menetes meninggalkan jejak kemanapun ia melangkah. Namun, bukan berarti dendam nya telah tuntas. Selalu muncul tunas yang baru meskipun satu tunas telah di tumpas.
...***...