Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 41: Langit senja


__ADS_3

Daun daun pepohonan tinggi melambai tersapu angin senja, langit kemerahan, kepakan burung terbang, dan Suara binatang pengerat menemani langkah Sumi membelah jalan setapak di tengah tengah rimbunnya hutan belantara. Jalan berkerikil menggores kaki mungilnya, namun sedikitpun ia tidak punya niatan untuk berhenti.


Perasaan was was selalu mengusik pikiran nya, bahkan suara gesekan daun membuat degup jantung nya memompa lebih kencang. Beberapa kali ia menoleh kebelakang, memastikan siapa pun yang mengejar nya tak dapat menyusulnya di belantara hutan. Sumi menyeka peluh, udara dingin tak menyurutkan niatnya meskipun rasa perih mulai menyelimuti setiap garis kemerahan di seluruh tubuhnya.


Kaki mungil itu menapak di antara rerumputan liar setinggi betis orang dewasa, setiap pijakan nya meninggalkan bekas dari rerumputan yang layu. Sesekali Sumi menengadah ke langit senja, menatap langit kemerahan, menyapa awan kumulus yang menertawakan Kemalangan nya.


Perih di hatinya menjalar menggerogoti hati nurani nya, bulir bulir bening tak mampu lagi ia bendung, mengalir deras, membasahi kulit wajahnya yang kemerahan. Tanpa Sumi sadari, kehidupan kecil dalam rahimnya Tampak mengiba, berusaha menguatkan ibunya yang sudah diambang batas kesabaran nya.


Sebuah akar kayu di hantam keras kaki mungil itu, Sumi ambruk, tergeletak di tanah dengan pakaian yang kotor dengan genangan lumpur. Tidak ada waktu untuk meratapi lagi, bagi seorang pengabdi, hidup mereka telah lama mati, yang tersisa hanyalah seonggok daging tanpa jiwa yang terus-terusan berbuat kemungkaran.


Saat Sumi hendak kembali berdiri, masih dengan posisinya yang berlutut, sebuah Kilauan dari besi pipih bersarang tepat di pangkal lehernya. Sumi terpejam, bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi setelahnya, meskipun tubuhnya bergetar, nyalinya menciut, namun masih terlihat harapan dari wajah sendunya di balik pilar pilar tinggi penyangga bumi.


Sumi menggigit bibir bawahnya hingga mengeluarkan darah segar, ia takut, apalagi saat benda tajam itu mulai menggores kulit lehernya, darah mengalir, semakin mengikis keteguhan hatinya.


"Mau lari kemana kamu!" Suara berat terdengar dari seorang yang mengenakan pakaian serba hitam, ia masih teguh mengarah kan sebuah parang kearah sumi.

__ADS_1


Sumi masih bergeming, tidak mengeluarkan sepatah katapun, darah masih mengalir, begitu pula aliran darahnya yang mengalir lebih kencang dari biasanya.


"Waktu seng mbok sileh wes entek!" ( Waktu yang kamu pinjam sudah habis!) ucap sosok berpakaian serba hitam, di lihat dari suaranya yang berat, Sudah dipastikan sosok itu adalah laki laki.


"Wenehi wektu meneh mas! Kulo ngandut wenihe Wijaya." ( Beri aku waktu lagi mas! Saya mengandung anaknya Wijaya!) Sumi memohon dengan suara bergetar, ada perasaan enggan saat ia menyebutkan nama Wijaya.


Orang misterius di belakang Sumi menurunkan parangnya, ia berdiam beberapa saat. Lelaki itu membuka penutup wajah, bibirnya tersungging saat Sumi menyebutkan nama Wijaya.


"Getih ireng meneh! Koe ngerti Sum, asline aku yo ora tego, tapi Lasmi butuh bukti nyoto seng nggo mbayar sumpah mu mbiyen!" ( Darah hitam lagi! Kamu tau Sum, Aku sebenarnya enggak tega, tapi Lasmi butuh bukti nyata untuk membayar Sumpah kamu dahulu!)


Setiap abdi Wijaya di sumpah dengan perjanjian darah, tidak ada yang bisa berkhianat. Jika mereka nekat mengkhianati Wijaya, bukan hanya kematian sebagai balasannya, Namun, sumpah mereka akan menggerogoti jiwa yang telah mereka gadaikan dan menjerat mereka selamanya dalam gerbang segoro.


Sumi menjerit, meraung-raung di iringi pekik-an burung gagak yang bertengger di ranting rating dahan kering, suaranya menggema di penjuru hutan , di sampaikan oleh dahan dahan pohon hingga menghilang tersapu angin yang tengah berhembus. Sumi memelas Sembari menahan nyeri yang menjalar, jarinya mati rasa, darah menetes melewati akar pohon hingga bermuara di tanah yang lembab.


"Ampun mass! Ampunn... " Sumi meringis menahan sakit, ia memelas meminta belas kasihan dari orang tersebut.

__ADS_1


Laki laki yang memegang parang mengambil potongan jari yang sudah hampir tenggelam setengah nya di genangan lumpur, ia membalutnya dengan kain yang sebelumnya ia gunakan sebagai penutup wajah. Ia tidak memperdulikan rengekan Sumi yang wajah nya mulai pucat.


Sumi mencoba berdiri meskipun darah masih menetes dari bekas tebasan parang di jari kelingkingnya, Ia menatap lelaki yang berbicara dengan nya, wajah yang tidak asing lagi, seseorang yang sering ia lihat di kediaman keluarga Wijaya.


"Dimana barang yang kamu ambil!" tanya si lelaki Sembari menyimpan bungkusan tadi di saku pakaiannya. Sumi terdiam mengunci mulutnya rapat-rapat.


"Kita ada di kapal yang sama, Kamu pikir masih bisa hidup setelah mengkhianati Wijaya! Lihat, hanya jari kamu yang terpisah. Kalo aja mas Juhri yang datang, sudah pasti kepala kamu yang diseret ke alas Ruwah!" ucap si lelaki dengan tegas, matanya menatap wanita dihadapan nya, lalu memberikan kain kecil untuk menahan darah yang keluar secara berlebihan.


Sumi menunduk menyesali kembali segala perbuatan nya, ia merintih, meratapi nasibnya. Dia tidak menyangka, jalan yang di ambilnya ternyata begitu terjal.


"Enten nggone mbah Slamet!" ( Ada di tempat Mbah Slamet!) Sumi berujar lirih, isak tangis nya iya tahan. Si lelaki yang mendengar ucapan Sumi terdiam, ia tenggelam dalam lamunannya.


"Lewung?" Si lelaki berbalik, melirik kearah Sumi. Sumi mengangguk menjawab pertanyaan dari lelaki dihadapan nya. Laki laki itu mengepal kan tangan nya, matanya membulat, bibirnya bergetar Sembari mengucapkan kata tersebut.


"Mbah Slamet wes Mati." ucap si lelaki. Sumi Tampak tidak percaya, baru beberapa hari yang lalu ia bertemu dengan nya, bagaimana mungkin dapat terjadi. Sumi menatap tajam kearah si lelaki, meminta penjelasan atas kabar yang baru saja ia dengar. Namun, laki laki itu enggan menjawab tatapan Sumi, ia memilih pergi, berjalan kearah utara Sembari membersihkan darah yang tersisa di parang nya.

__ADS_1


Sumi menatap punggung si lelaki yang mulai menjauh, satu hal lagi yang kini menghancurkan hatinya. Sudah bertahun-tahun ia mengenal orang tua tersebut, mana mungkin hatinya tidak hancur mendengar kabar duka yang begitu ia hindari. Kaki nya mendadak lemas, ia terduduk menunggu kegelapan melahapnya.


Saat matahari telah tenggelam seluruhnya, Sumi masih bersimpuh disana, menangis terisak-isak ditemani suara serangga dan angin dingin yang mulai menusuk nusuk tulang rusuk nya. Ia masih belum sadar keadaan telah gelap gulita, di dalam kegelapan bukan binatang pemangsa yang begitu di takuti manusia. Namun, mahkluk kegelapan yang siap memperbudak ketakutan manusia, menguliti keteguhan dan kesabaran hatinya, dan mengganti nya dengan keserakahan yang melebihi kekejaman dari iblis itu sendiri.


__ADS_2