Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 28: Lewung


__ADS_3

Ruang tengah itu nampak sunyi meskipun di dalamnya begitu banyak orang, Alingga masih memegang buku bersampul kecoklatan dan terus terusan membolak-balik kan halaman nya. Ia begitu serius mengamati setiap kata yang tertulis disana, ia tak henti-hentinya takjub dengan hal yang baru saja ia mengerti.


Disisi lain mbah Slamet duduk bersila di atas tanah sembari menaburkan wewangian ke dalam ember di sampingnya, mulut nya berkomat kamit mengucapkan mantra yang tak ada habisnya. Air yang telah diberi minyak olehnya kemudian ia basuh sedikit demi sedikit ke tubuh zainal yang terbaring di tanah, setiap basuhan ia selalu meneteskan satu tetes minyak di botol transparan kedalam ember air, hal tersebut selalu mbah Slamet ulang sampai seluruh tubuh zainal benar benar basah.


Alingga menutup buku nya setelah ia baca sampai tuntas, ia kemudian mengembalikan buku tersebut kepada mbah Slamet lagi.


"Wes rampung Lee?" ( Udah selesai nak?) tanya mbah Slamet yang sudah selesai Dengan tugas nya.


"Mpun Mbah." Alingga menjawab singkat dengan tatapan yang tak ia alihkan dari tubuh zainal, Ia mengamati dengan seksama apa yang tengah dilakukan mbah Slamet terhadap sahabat nya tersebut.


Mbah Slamet memberikan kotak di balik kain merah tersebut kepada Alingga, Alingga menerimanya dengan senang hati, namun mbah Slamet masih belum memberikan instruksi lanjutan nya, Alingga yang tidak sabaran bertanya lebih dulu sebelum sempat mbah slamet menjelaskan nya.


"Bukak en!" (Bukalah!) ucap mbah slamet menjawab tatapan Alingga yang bingung.


Alingga langsung membuka nya tanpa ragu, ia sedikit bingung saat kotak tersebut terbuka, di dalamnya terdapat sebuah boneka kayu yang dipahat menyerupai bentuk manusia. Alingga mencoba mengambil boneka kayu tersebut, ukurannya hanya sekitar satu jengkal orang dewasa. Tidak ada yang istimewa dari boneka itu jika yang melihatnya hanya orang biasa, namun jika orang tersebut memiliki kemampuan yang cukup mumpuni maka ia akan melihat boneka ini diselimuti aura hitam yang begitu kuat.


Alingga salah satu orang yang memiliki kemampuan, ia dapat melihat sesuatu yang amat hitam dari Boneka kayu ini. Alingga bertanya kepada mbah Slamet apa maksud dari kotak yang ia berikan, namun mbah Slamet tidak mau memberitahu kebenaran nya.


"Iku lewung Lee, Seng ngiket Sukmo ne konco mu." ( Itu lewung nak, yang mengikat Sukma nya temen mu.) ucap mbah Slamet santai, ia membawa kembali buku kecoklatan itu kedalam kamarnya.

__ADS_1


"Lewung?" Tanya Alingga bingung.


"Ora mung siji, mbah yakin enek akeh neng omahe Wijaya." (Bukan cuma satu, mbah yakin ada banyak di rumah nya Wijaya.) ucap mbah slamet setelah keluar dari dalam kamarnya.


"Sampean weroh Wijaya Mbah?" ( Kamu tau Wijaya Mbah?) tanya Alingga penasaran.


Mbah Slamet tersenyum mendengar pertanyaan Alingga, bagaimana tidak mbah Slamet jauh lebih dulu mengenal Wijaya sebelum Alingga dan teman temannya mengenal keluarga itu.


"Mbah seng njogo ganjang ben ora metu seko omahe." ( Mbah Yang menjaga ganjang agar tidak keluar dari rumahnya.


Alingga terpaku mendengar penuturan mbah Slamet, ia menelisik kembali ingatan nya tentang mahluk itu, mahkluk penghuni pohon beringin di belakang kost kostan milik wijaya, bagaimana mungkin mbah Slamet berurusan dengan mahkluk ini.


"Lewung kui tunggale satus, simbol seko satus tumbal nggo alas Ruwah. Golek i kabeh seng di pendem Wijaya le.. , mung kowe seng iso, seloso legi wes cedak." ( Lewung itu temanya seratus, simbol dari seratus Tumbal untuk alas Ruwah. Cari semua yang ditanam Wijaya nak.. , cuma kamu yang bisa, Selasa legi sudah dekat.) Jelas mbah Slamet kepada alingga. Alingga yang mendengar hanya terdiam.


Mbah Slamet masih membaca kebingungan dimata Alingga, ia kemudian memberitahu Alingga agar menemui gurunya di desa laweh. Alingga semakin dibuat bingung karena mbah Slamet juga mengenal gurunya, namun ia tak ingin menambah pikiran nya, tidak penting darimana mbah Slamet mengenal gurunya namun jika perkataan mbah Slamet benar, maka ia harus menemui gurunya sendiri.


"Rip,kowe ngerti kan alamat deso laweh?" (Rip, kamu tahu kan alamat desa laweh?) Tanya Alingga kepada syarif yang termenung di pojokan, Syarif yang dipanggil Alingga tersentak dari lamunan nya.


"Laweh?" Tanya syarif bingung.

__ADS_1


Alingga menjelaskan panjang kali lebar agar Syarif mengerti apa yang dimaksudkan nya.


"Deso laweh rodo adoh ngga, pie nek wektune ora cukup?" ( Desa laweh lumayan jauh ngga, gimana kalau waktunya tidak cukup?) tanya Syarif.


"Awak e dewe gak iso neng kene terus, wijaya mesti weroh engko." (Kita nggak bisa tinggal disini terus, Wijaya pasti tau nanti.) Jelas Alingga berharap Syarif mengerti kondisinya.


"Ngene rip, kowe karo mbak laras ngeterke zainal neng omah e mbah ladi, sisane engko tetep neng kene golek syarat e nggo nutup gerbang segoro." ( Gini rip, kamu sama mbak laras nganterin zainal kerumah mbah ladi, sisanya tetep disini nyari persyaratan buat nutup gerbang segoro.)Jelas Alingga.


"Aku sih gak popo ngga, tapi yakin iki wektune cukup." Sanggah syarif dengan saran Alingga.


"Makane kui, sebagian neng deso laweh sebagian neng kene" ( Makanya itu sebagian didesa laweh, sebagian disini.) jelas Alingga lagi. Syarif masih saja terus membantah, ia tahu betul jika jauh dari Alingga tak ada yang menjamin apa yang akan terjadi padanya.


"Gak usah mbantah neh, mumpung jek awan dalan e jek padang.'' ( Jangan membantah lagi, mumpung masih siang jalan nya masih terang.)


Setelah nya Alingga menyusun rencana apa apa saja yang harus mereka lakukan untuk orang yang masih tinggal, sedang kan Syarif dan laras bersiap siap untuk melakukan perjalanan yang lebih jauh.


Alingga membantu memasukkan zainal kedalam sebuah mobil sewaan, ia menatap nanar saat sahabat nya mulai tak terlihat lagi di hadapannya, mobil itu melaju kencang dijalanan lenggang menyisakan sedikit jejak dijalan yang berdebu.


Setelah melepas kepergian Zainal, Alingga masuk kembali kedalam rumah ia menatap kotak tempat lewung itu berada, ia sengaja tidak menyertakan kotak tersebut kepada Zainal karena Wijaya sudah pasti akan mencari barang nya yang hilang tanpa henti, jika kotak ini berada didekat Zainal maka sudah pasti Wijaya akan menghabisi Zainal terlebih dahulu agar rencananya tidak bisa gagal. Zainal akan menjadi tumbal terkahir nya sebagai penutup, karena semua ini diawali oleh darah ibunya, Laras, maka harus ditutup dengan darah yang sama.

__ADS_1


__ADS_2