
Perundingan mereka berlangsung hingga beberapa saat lamanya.Tanpa mereka sadari lampu minyak yang menyala di dinding rumah mulai redup. Masalah yang tengah mereka perbincangkan masih belum menemukan titik terang. Ketiganya saling berhadapan, bertukar pendapat, sampai menemukan kebulatan.
Alingga berdiri, mengambil lampu yang meredup, lalu menggantinya dengan yang baru. Angin malam bertiup dari sela sela jendela, menggoyang api kecil di tangan Alingga. Hembusan nya menyapu lembut kulit leher sensitif itu.
Sesaat kemudian setelah ia mengganti lampu yang redup, handphone di saku celananya berdering. Alingga tersentak, karena suaranya cukup keras. Kedua temannya pun ikut merasakan dampaknya, Zainal yang melamun pun di paksa kembali ke dunia nyata.
Panggilan itu berasal dari Danu, teman yang Alingga beri kepercayaan untuk menjaga Mas Yanto. Alingga berjalan menuju teras rumah, menjauh dan tentunya untuk menghindari Syarif yang akan menguping pembicaraan nya nanti.
Sementara itu Syarif yang di pelototi Zainal masih tetap pada posisinya yang semula. Dengan memasang wajah kesal, Syarif memejamkan matanya dan sedikit bersandar pada dinding kayu.
Tidak lama kemudian Alingga kembali, duduk di tempatnya semula, bersampingan dengan Zainal.
"Mas Yanto ilang!" ucap Alingga spontan. Zainal dan Syarif memandangi Alingga secara bersamaan. Keduanya memasang ekspresi bingung, berharap Alingga mau menjelaskan maksud perkataan nya barusan.
"Mas Danu seng njogo tes wae ngabari!" ( Mas Danu yang jaga baru aja ngabarin!) Alingga berbicara tanpa menatap mata kedua temannya, ia menunduk membolak balik kan handphone nya.
"Kok iso? Pie cerita ne kok iso ilang ki Lo." (Kok bisa? Gimana ceritanya kok bisa ilang gitu.) tanya Zainal.
Alingga masih menunduk, ia merasa malu untuk menunjukkan wajahnya. Lagi lagi karena kesalahannya. Jika ia tidak meninggalkan rumah sakit, mungkin Mas Yanto tidak akan hilang.
"Gak usah di bahas sek, Nal! Saiki seng penting disek seng di urus!" ( Jangan di bahas dulu, Nal! Sekarang yang paling penting yang harus di urus dulu!) jawab Alingga dengan nada rendah.
Zainal pun merasa setuju dengan Alingga, ada hal yang lebih penting sekarang ini. Meskipun, kasus orang hilang bukan lah masalah yang sepele, tapi mereka harus menyelesaikan tugas tugas mereka yang sudah tidak memiliki banyak waktu lagi. Apalagi kalau sampai musuh mereka berhasil mencapai tujuannya, usaha mereka selama ini akan sia sia.
"Jadi, dimana titik awal pencarian?" tanya Zainal, ia membuka pembicaraan saat melihat kondisi Alingga yang tengah terguncang.
__ADS_1
"Salah satunya pasti ada di dalam kediamannya sendiri." ucap Syarif spontan yang langsung saja membuat kedua pasang mata di hadapannya saling memelototi.
Alingga juga berpikir demikian, tapi ia juga masih ragu. Tidak mungkin hal yang sangat penting begitu Wijaya simpan di tempat sembarangan. Rumah Wijaya memiliki banyak Abdi, tentu dia tidak mau mengambil resiko meletakkan nya di sana.
" Apa mungkin di Alas Ruwah? tempat itu sangat memungkinkan untuk Wijaya gunakan." Ucap Zainal sambil menatap Alingga.
Di sela sela pembicaraan mereka, seseorang masuk ke dalam rumah, tanpa permisi ia langsung menyela pembicaraan mereka. Ketiga orang yang sedang berdiskusi itu sontak saja menjadi terkejut, mereka berdiri, menatap menyelidik terhadap orang asing di hadapan mereka.
"Sudah aku bilang, cuma aku yang tau dimana letak pastinya!" ucap lelaki itu yang siluet nya begitu lekat dalam ingatan Alingga.
"Juhri!" ucap Alingga singkat.
Alingga mengepalkan tangannya, wajah nya memerah. Ia secara spontan melayangkan Bogeman kearah wajah Juhri. Bibir Juhri mengeluarkan darah. Juhri terbatuk, mengelap darah yang masih menghiasi bibirnya.
Zainal terburu buru melerai keduanya. Zainal membawa Alingga untuk mundur sampai di depan kamar milik mbah Ladi. Begitupun dengan Syarif yang ikut menahan Alingga yang tengah dikuasai Amarah.
"Mau apa bajingan itu kesini! " Alingga berbicara sambil berusaha lepas dari cengkeraman Zainal. Juhri tidak menanggapi, ia tersenyum sedikit sambil menahan perih di wajahnya.
"Aku mrene mung arep mbantu! Malah di kek i oleh oleh." ( Aku kesini cuma mau membantu! Malah di kasih oleh oleh.) ucap Juhri dengan wajah yang masih tersenyum.
Kondisi Alingga masih belum bisa di ajak berdiskusi, Zainal terpaksa membawa nya ke dalam kamar. Setelah nya Zainal keluar, menghampiri Juhri yang masih berdiri di depan pintu.
"Saya tidak akan bersikap sopan! Langsung aja ke intinya, bantuan apa yang kamu bawa?" Zainal berbicara terlebih dahulu, sedangkan Juhri hanya menatapnya dengan mola mata hitamnya.
"Saya bisa tunjukan di mana letak barang yang kalian cari itu." jawab Juhri ringan, ia mulai berbicara santai.
__ADS_1
"Terus?" tanya Zainal.
Keduanya saling diam, Juhri tidak tau harus menanggapi apa atas respon Zainal barusan.
"Saya antar kalian ke tujuan kalian, kalian bawakan kepemilikan ku!" Juhri menjawab.
Zainal terdiam, angin malam yang membelai kulitnya tak ia pedulikan. Ia masih diam sampai sebuah kata terlintas dalam pikiran nya.
"Apa itu?"
"Nyawa yang paling berharga!" jawab Juhri singkat.
Syarif yang mendengar kan pembicaraan mereka sedikit kebingungan, ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan Juhri barusan. Dia hanya diam, mendengar kan dengan seksama.
Sementara itu dari arah kamar Alingga perlahan keluar, ia berjalan sempoyongan menghampiri Zainal. Dia tidak berkomentar, berdiri tepat di belakang Zainal. Mata mereka saling bertemu, Juhri dan Alingga. Tapi keduanya masih belum bisa berdamai, terutama Alingga.
"Oke, Sepakat!" Zainal langsung menjawab, ia setuju jika harus bekerjasama dengan orang itu. Meskipun Alingga agak keberatan, tapi ia harus tetap menerima keputusan yang di buat Zainal.
Kesepakatan mereka sebenarnya membawa dampak positif, selain lebih memudahkan untuk menemukan semua Lewung itu, mereka juga bisa mempersingkat waktu dengan lebih banyak nya orang yang terlibat.
Terutama Juhri, yang sudah sangat familiar dengan semua tempat tempat khusus milik Wijaya.
Setelah mereka selesai, Juhri segera pergi. Ia meninggal rumah itu lalu menghilang di telan kegelapan. Alingga terduduk, ia mengatur nafasnya yang sedikit berat. Zainal masih berdiri, memandangi kegelapan di depannya, sekilas ingatannya terbuka.
Kilasan memori melintas sekejap, pemandangan mengerikan dari ribuan mahkluk halus yang mengelilingi Zainal. Di dalam kilasan kilasan memori nya, tubuh Zainal terikat, kaki dan tangan nya dirantai pada sebuah tiang. Kulit nya memerah terkena bekas cambukan.
__ADS_1
Tiba tiba saja Zainal terjatuh, ia sudah tersadar dari penglihatan nya sebelumnya. Sebenarnya bukan hanya penglihatan, itu adalah kenangan Zainal yang pernah ia alami selama jiwanya meninggalkan raganya. Ia disiksa oleh ribuan mahkluk, wajah wajah marah mereka tidak pernah bisa Zainal lupakan.
Terutama rasa sakit saat Cambuk-cambuk itu mendarat di kulit punggung nya. Zainal meringis disaksikan oleh Alingga dan Syarif, keduanya terlihat bingung saat melihat Zainal yang tiba tiba saja menangis.