Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 38: Meminta miliknya


__ADS_3

Angin berkecamuk menghantam pilar pilar tinggi pohon jati, dentuman keras saling bersahutan berusaha merobohkan perisai batin dari para pengabdi. Di luar sangat ramai, gubuk kecil itu di kepung ribuan mahkluk yang tengah meminta milik mereka. Beberapa dari mereka mengamuk berusaha mendobrak pintu kayu yang terkunci rapat, belum lagi mereka yang melayang selalu meneriakkan suara melengking yang me mekak–kan telinga.


Ranting ranting pohon menggesek atap rumah menciptakan suara yang membuat penghuninya ketakutan, belum lagi suara suara pilu yang beriringan dengan dentuman besar dari arah luar.


Syarif dan sang sopir meringkuk di sudut ruangan, tubuhnya bergetar dengan keringat dingin yang hampir memenuhi telaga. Keduanya terdiam, membungkam ketakutan mereka dengan telapak tangan nya masing masing. Sesekali matanya melirik dua tubuh yang terbaring dihadapannya, kain kafan menutup seluruh tubuh mereka, meskipun itu temanya Syarif juga merasa ngeri.


Tubuh zainal masih mengejang, kejadian ini sudah berlangsung selama lima belas menit lamanya. Keduanya tak memiliki saran juga tak memiliki keberanian, mengendalikan kondisi apalagi memberikan solusi. Syarif tidak mengalihkan pandangannya dari lubang kecil di bawah kusen jendela, sesuatu yang bergerak, sesuatu yang tengah mengawasi dari bola mata putih tak ber pupil.


Syarif sudah tau jawabannya, namun rasa penasaran nya masih enggan mengalihkan pandangannya dari lubang kecil dibawah kusen jendela. Setetes darah mulai mengalir dari lubang kecil itu, Syarif terperanjat dengan apa yang barusan ia lihat.


Syarif terburu-buru mengambil kain secara asal dan segera menutupi lubang itu sebelum menimbulkan masalah yang lebih besar, apalagi saat ini ia hanya berdua dengan sang sopir menjaga kedua tubuh tanpa jiwa. Jika saja ia sadar, di angin angin jendela muncul sesosok kepala yang mengamati setiap gerak gerik mereka semua, terutama mata nya tak teralihkan dari apa yang tersembunyi dibalik kain kafan.


Sang sopir menyadari sesuatu yang salah, ia berpindah posisi membelakangi lubang angin dan sesuatu yang bergelantungan di seberangnya. Sedangkan syarif masih belum menyadari kehadiran sosok tepat diatas jendela tempatnya menunduk.


Mereka yang diluar tidak tidak bisa masuk kedalam, sesuatu menghalangi mereka menyentuh rumah itu. Badai ini tidak akan pergi sebelum mereka mendapatkan apa yang diinginkan nya, sepasang darah hitam yang sudah dijanjikan seseorang untuk ditumbalkan.

__ADS_1


Mbah ladi keluar dari dalam kamarnya dengan raut wajah yang kelelahan. Di tangan nya membawa mangkuk yang berisi kembang tujuh rupa yang telah di campur wewangian dan sebuah guci tanah liat yang diisi dengan arang kayu. Mbah ladi memanggil Syarif untuk mendekat, ia memberikan kedua barang itu untuk diletakkan di dekat kedua tubuh di balik kain kafan.


Aroma menyengat dari wewangian di dalam mangkuk merebak memenuhi ruangan. Syarif menaburkan bunga tujuh rupa keatas kedua tubuh itu, asap dari arang kayu mulai menyebar menyesakan alat pernafasan.


Mbah ladi mengambil mangkuk garam yang Syarif letakkan di dekat pintu. Segenggam garam laut mbah ladi lemparkan kearah angin angin jendela tepat di wajah mahkluk yang sedang mengintip, suara erangan terdengar keras bersamaan dengan tubuhnya yang mulai terbakar.


"Ojo ngantek enek seng mlebu!" (Jangan sampai ada yang masuk!) perintah mbah ladi sebelum kembali masuk kedalam kamar.


Syarif mengerti yang dimaksudkan oleh mbah ladi, terlebih lagi kondisi mereka saat ini sedang di ujung tanduk. Tidak ada pilihan lain selain bertahan, tidak ada untungnya juga buat mereka jika malam ini mereka gagal. Tugasnya hanya menjaga sahabatnya itu, seharusnya ia tak akan melakukan kesalahan yang fatal.


"Mas.. sampean weroh mau seng neng kono?" (Mas.. kamu lihat tadi yang disana?" tanya Syarif setelah selesai menaburkan bunga di seluruh tubuh Zainal dan Laras.


"Di takoni malah meneng wae!" (Ditanya malah diam aja!) keluh Syarif kesal.


Syarif Kembali duduk disebelah sang sopir, mereka kembali membisu tenggelam dalam lamunannya masing-masing. Bayangkan saja jika sang sopir nekat pulang malam itu juga, sudah pasti Syarif akan sendirian menghadapi teror yang tak henti-hentinya menghantui mereka.

__ADS_1


"Asem.. Kebul e!" Asap yang memenuhi rumah membuat mereka berdua terbatuk-batuk.


Syarif menatap sang sopir tajam, tangan nya membungkam mulut sopir itu beberapa saat lamanya. Sang sopir kebingungan, nafasnya sudah sangat sesak, namun ia juga tidak berani banyak bertindak. Syarif mengedipkan matanya, beberapa kali matanya berkedip Sembari menunjuk kearah samping. Namun, sang sopir masih juga tidak mengerti.


Syarif kehilangan kesabaran, ia mengambil mangkuk garam di dekat pintu. Satu genggam garam ia lemparkan kearah pintu, bersamaan dengan itu sebuah tangan panjang yang berusaha menerobos pintu masuk segera melepuh. Tangan itu menyusut, suara melengking kembali terdengar. Sang sopir tak dapat menjernihkan akal sehatnya, ia masih terpaku penuh kebingungan.


"Bantu Cok!" Teriak Syarif membuyarkan lamunan sang sopir. Sopir itu mengambil segenggam garam dan menaburkan nya ketempat tempat yang rawan mereka masuki, seperti jendela, lubang angin dan pintu masuk.


"Edan.. Gak enek wedi wedi ne blas!" (Gila.. Gak ada takut takutnya sama sekali!) ucap sang sopir lirih setelah selesai menaburkan garam.


"Sampe kapan iki?" lanjutnya lagi menuntaskan ucapan nya. Syarif menggeleng kan kepala karena ia sendiri tidak tahu jawabannya, mereka menatap pintu masuk melihat tentakel tentakel panjang dan tangan tangan tipis berusaha masuk lewat celah di bawah pintu.


Syarif mundur menyandar pada dinding kayu, matanya menatap tajam. Semakin banyak yang berusaha menerobos benteng pertahanan nya. Suara dentuman diluar semakin keras terdengar, angin ribut semakin kencang, Ranting-ranting pohon yang menghantam dinding dan atap rumah seperti kerasukan arwah penasaran, tidak memberi ampun meskipun dinding kayu itu sudah hendak roboh.


"Coba enek Alingga," ( Coba ada Alingga,) ucapnya lirih dengan kaki jenjangnya yang bergetar. Mental nya hancur, jam tidurnya berantakan bahkan mereka belum tidur sama sekali sejak semalam.

__ADS_1


Syarif terlalu sering bergantungan pada Alingga, ia lupa akan ada saat nya mereka terpisah, ada saatnya tidak ada seorang pun yang dapat membantunya. Pada saat itu lah ia harus mengandalkan dirinya sendiri, harus menyelamatkan dirinya sendiri ketika tak ada satupun tangan yang mau mengulurkan bantuan.


Sang sopir merangkul pundak Syarif berusaha menenangkan nya, mereka telah siap dengan resiko apapun yang akan terjadi setelah ini. Di rumah ini mereka berdua saling menguatkan, menunggu datangnya para iblis yang berusaha masuk dari pintu depan. Daging daging kemerahan mengelupas sesaat setelah bersentuhan dengan garam yang ditebar, namun sedikitpun tidak ada niatan dari mereka untuk mundur.


__ADS_2