Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 30: Tamu tak diundang


__ADS_3

Jalan masih berkelok-kelok di sepanjang mobil itu melintas, jarak yang hanya sejauh 2 kilo meter tak cukup waktu satu jam untuk melalui nya. Tempat yang sama selalu berulang ulang. Entah mereka tersesat atau mereka memang tak di izinkan untuk lewat.


Ketika kali kelimanya mereka keluar masuk hamparan ladang jagung, sopir itu menghentikan laju kendaraannya dan memarkirkan nya di pinggiran jalan yang di dominasi kerikil dan tanah merah. Dia sedikit bingung padahal sudah berkali-kali melewati jalan ini namun mengapa masih belum juga sampai di tempat tujuan.


Syarif yang sedari tadi menahan mual segera keluar dari dalam mobilnya, wajahnya mulai memerah tak sepucat sebelumnya. Hwek- Lambung yang belum menerima sarapan itu ia paksa mengeluarkan apapun isi didalamnya, bahkan setetes air putih pun belum. Sang sopir memberikan sebotol air mineral untuk Syarif gunakan.


"Mas ini kenapa gak sampe sampe, sampean bilang dua kilo lagi?" Tanya Syarif sambil mengambil botol air mineral tersebut.


"Iyo aku juga bingung lo mas, Biasane gak se suwi iki. Sek mas tak periksa dalan ngarep kae" Jawab supir itu sembari memeriksa jalan didepannya. Sang supir berjalan sedikit kedepan untuk memeriksa jejak roda mobil yang berbekas panjang, ia sangat yakin jejaknya begitu mirip dengan mobil yang dikendarai nya. Apakah mungkin mereka hanya berputar putar saja di tempat yang sama.


Syarif yang penasaran pun ikut mendekati jejak tersebut.


"Pie mas, jek suwi meneh opo piye?" ( Gimana mas, masih lama lagi apa gimana?) Tanya syarif sambil menyentuh pundak sopir itu, sang sopir menatap Syarif dengan tatapan bingung.


"Kita coba sekali lagi mas, saya nggak tau ini apa yang bikin kita muter muter di ladang jagung."


"Enggak tau gimana to mas? Sampean yang bawa kok enggak tau."

__ADS_1


"Wes lah ayok kita coba lagi, mana tau kali ini bisa keluar dari ladang jagung." Sopir itu masuk kembali kedalam mobilnya, diikuti oleh syarif meskipun ia masih sedikit bergidik dengan aroma mobil yang menyengat.


Suara mesin mobil kembali memecahkan suasana di tengah tengah ladang jagung, burung burung yang bertengger berhamburan terbang tak tentu arah. Bensin yang tersedia tak banyak tersisa, berputar putar diladang jagung menguras banyak bahan bakar.


Laras masih menatap keluar jendela, ia masih bergeming dengan posisinya saat ini. Tatapan kosong itu masih belum teralihkan dari bayangan hitam yang berterbangan, arwah penasaran yang jiwanya tidak diterima di akhirat.


Laras yang terdiam tiba tiba saja berbicara," Mas Syarif, bisa Sampean buangkan kain ini?" Laras menyodorkan sebuah kain yang sudah berlumuran darah. Syarif menatap telapak tangan laras, rupanya dari sanalah kain itu berasal, kain yang membalut luka laras Syarif terima tanpa banyak bertanya.


Sebenarnya Syarif agak bingung, kenapa bukan laras sendiri yang membuangnya, kenapa harus dia yang melakukan itu. Namun, Syarif memang tak seharusnya banyak bertanya, ia hanya perlu menurut Karena saat ini tak ada Alingga di sisinya.


Beberapa saat setelah kain itu menyentuh tanah, muncul seorang wanita yang berdiri sendirian di tengah jalan. Wanita itu menghentikan lajunya mobil, sopir yang menyadari keberadaan wanita itu segera menginjak pedal rem nya tiba tiba.


"JANGAN ADA YANG KELUAR!" Teriak laras dengan suara keras.


Syarif yang telah memegang gagang pintu mengurung kan kembali niatnya, ia menatap bingung ke arah laras. Begitupula dengan sang sopir ia terlihat lebih bingung perempuan yang sedari tadi membisu itu tiba-tiba saja berteriak.


"Kemuning," Ucap Laras lirih, meskipun suaranya sangat kecil namun Syarif masih bisa mendengar nya. Syarif sedikit terkejut dengan apa yang di ucapkan laras, lagi lagi hal ini terulang.

__ADS_1


"Mbak laras," Syarif masih menatap laras dengan ekspresi takut, ia pernah sekali bertemu dengan mahkluk ini. Namun, ia tidak menyangka akan bertemu lagi dengannya.


"Kemuning sudah bebas, dia sedang mencari Raga Zainal." Ucap laras dengan tegas, ekspresi nya begitu serius dengan sorot mata yang tajam.


"Buat apa mbak, itu kenapa si kemuning terobsesi sekali sama Zainal?" Syarif bertanya dengan sedikit kesal, meskipun dia takut dengan mahkluk ini namun ia juga kesal karena ia tak henti-hentinya mengganggu Zainal.


"Tembang gondo kembang sudah terdengar. Dia sedang menagih janji Wijaya."


Laras menatap tajam kearah wanita berkebaya merah di tengah jalan, matanya tak sedikitpun mengedip memastikan mahkluk itu masih ditempatnya.


"Urusannya apa dengan Zainal?" Tanya syarif lagi, Syarif terlalu sering bertanya karena memang dia masih belum tau apa apa.


"Darah keluarga Wijaya mengalir dalam tubuhnya, kemuning hanya ingin mengambil jiwa yang sudah di janjikan Wijaya untuk satus tumbalnya." Syarif terkejut dengan fakta yang baru ia dengar, apa mungkin Alingga sudah mengetahui hal ini atau sama tidak mengerti seperti nya.


Sang sopir yang mendengar pembicaraan mereka berdua bergidik ngeri, tentu bukan perilah dongeng semata tentang keberadaan mahkluk bernama kemuning tersebut. Meskipun sopir itu tidak pernah bertemu secara langsung, namun cerita tentang penghuni alas ruwah itu cukup terkenal di kalangan masyarakat awam. Dan yang lebih membuat sopir itu tak berani lagi banyak bicara, ketika ia mendengar pembicaraan laras dan Syarif tentang satus tumbal. Bukan kah sudah jelas orang orang yang dia bawa adalah orang yang terlibat dengan para sekutu setan, sopir itu takut bila dia juga akan menjadi salah satu tumbalnya.


"Mbak laras, Apa Alingga juga tahu perihal ini?" Syarif sedikit berharap dengan pertanyaan. Laras menatap kearah Syarif datar ia kemudian mengedipkan matanya yang seharusnya sudah Syarif pahami, asal Syarif tidak tumpul.

__ADS_1


Syarif kembali ke posisinya, ia duduk tegak Sembari mengatur nafasnya yang tidak karuan. Matanya menatap si kemuning, yang membuat nya lebih bergidik, di siang bolong begini iblis juga Berani menunjukkan wujudnya dihadapan manusia. Tentu yang sejauh ini kita ketahui para penghuni alam sebelah hanya menunjukkan wujudnya pada malam hari, terutama malam malam sakral seperti malam jumat Kliwon dan malam sakral lainnya. Namun faktanya iblis,jin dan sejenisnya sama seperti manusia, mereka hidup tanpa mengenal siang dan malam.


Syarif menggenggam erat lutut nya sendiri, detak jantung nya masih tak beraturan membuat tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Kenangan saat kemuning datang menyeret Zainal di depan matanya masih tergambar jelas, bagaimana jika itu terjadi juga kepanya, bagaimana jika kali ini mereka tidak dibiarkan hidup, Bagaimana jika perjalanan mereka akan berakhir detik itu juga.


__ADS_2