
Danu menyambut jabatan tangan dari Alingga, keduanya bertukar kabar dengan senyum yang mengembang. Mereka berempat telah berkumpul, Alingga segera mengajak Danu untuk beristirahat di dalam rumah.
Ketika mereka memasuki ruang depan, Danu sedikit terkejut saat melihat seorang wanita tengah di selimuti kain kafan, matanya membulat memeriksa lebih seksama, sebelum akhirnya ia duduk saat Alingga meminta nya.
Danu duduk di sebelah kanan Syarif, dan di sebelah kiri Zainal. Alingga sendiri duduk di tempat paling ujung, dekat dengan Laras. Mata Danu belum teralihkan, menyimpan beribu pertanyaan yang kini memenuhi kepalanya. Siapa dia? Ada apa dengan nya? semua pertanyaan itu sahut menyahut memenuhi isi kepalanya.
Sebelum membuka pembicaraan, Syarif berdiri. Ia menuju ke arah dapur dan kembali dengan membawa 6 gelas kopi hangat. Tentunya tidak nikmat memulai perundingan tanpa adanya sajian.
Alingga memulai percakapan, ia memperkenalkan dulu semuanya yang masih belum saling mengenal.
"Mas? Bisa saya minta tolong sekali lagi kaleh Njenengan?" tanya Alingga sambil menatap Danu. Tanpa di minta sekalipun Danu pasti akan menolong nya. Danu mengangguk memberikan jawaban. Alingga terlihat puas, ia kembali membuka pembicaraan.
"Jadi, kita semua yang berkumpul di sini memiliki maksud dan tujuan." ucap Alingga, matanya menyorot Sopir dihadapan nya, kemudian beralih menatap Juhri di sampingnya.
"Kami punya kesepakatan dengan Mas Juhri, dia sebagai Abdi Dalem nya Wijaya bersedia membantu kita menemukan Lewung." ucapan Alingga terhenti sebentar, ia mengambil napas kemudian melanjutkan ucapannya lagi.
"Tapi, kita harus menemukan Putrinya sebagai bayaran dari kesepakatan itu. Jadi, di sini saya minta kerja samanya untuk mengakhiri teror ini. Terutama Njenengan, Mas!" Alingga menunjuk pada sang sopir.
__ADS_1
Orang yang di tunjuk Alingga hanya menunduk, ia sebenarnya enggan terlibat lagi, sudah cukup kesialan yang menimpa dirinya. Tapi, mau bagaimana lagi. Jika teror ini tidak segera terhenti, maka seterusnya kehidupan nya akan terus terusan di selimuti kesialan.
Alingga mempersilahkan Juhri untuk berbicara, karena hanya dialah diantara mereka yang duduk di ruangan itu yang tahu keberadaan Lewung itu.
"Ada beberapa tempat, yang jelas salah satunya adalah sebuah tempat yang dijaga sangat ketat. Omah Dongko, Gudang kost kostan. Hutan di sebelah barat, ada gubuk yang memiliki ruang bawah tanah di sana." Semua yang hadir di sana terdiam, meskipun tau lokasinya tetapi, mereka juga tidak tau letak pastinya di mana.
"Jadi, ada tiga tempat?" tanya Alingga mengoreksi pemanahan nya.
Juhri menoleh ke arah Alingga, ia sedikit mengangguk untuk meyakinkan kebingungan Alingga.
"Tunggu! Masih ada satu tempat lagi. Wijaya memiliki satu hektare kebun jati yang di jaga oleh beberapa orang. Aku tidak yakin tentang kebun itu. Tetapi, pasti ada sesuatu sehingga tempat itu di jaga ketat." ucap Juhri menjelaskannya kembali tempat tempat itu.
Beberapa saat lamanya setelah ia tenggelam dalam pikirannya, ia menyarankan untuk melakukan pembagian tugas dan mempersingkat waktu, mengingat Selasa legi sudah tidak lama lagi. Sebenarnya Alingga juga heran, mengapa melakukan ritual ini di malam selasa legi. Tapi, apapun itu alasannya, selagi mereka bisa menghancurkan Wijaya, alasan apapun tak penting lagi baginya.
"Gimana? Tempat yang akan di kunjungi memiliki penjaga yang tentunya bukan hanya manusia saja, para lelembut pun pasti menjaga tempat itu. Saya punya saran untuk membagi tugas dalam beberapa kelompok." ucap Alingga. Tapi, nampaknya Zainal kurang setuju dengan ide Alingga. Ia menyanggah saran Alingga.
"Bukan kah terlalu berbahaya jika kita berpencar. Tidak semua yang ada disini mampu berhadapan dengan ilmu hitam, jika ke sana tanpa memiliki persiapan, itu sama saja mengantarkan nyawa!" bantah Zainal. Semua yang ada di dalam ruangan terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
__ADS_1
"Kita bisa bagi! Aku bisa pergi dengan Syarif, kamu bisa membawa sopir itu. Setidaknya ada seseorang yang melindungi. Kita tidak memiliki banyak waktu, secepatnya semua Lewung itu harus terkumpul." ucap Alingga. Ia masih bersikukuh dengan pendapat nya, perdebatan nya dengan Zainal berlangsung hingga beberapa menit lamanya. Yang lain tidak bisa menengahi, keduanya bersitegang tanpa memperdulikan keadaan sekitar.
"Ngene lo ngga, Sebenarnya aku enggak ada masalah sama saran kamu. Tapi, aku enggak mau sampe ada yang jadi korban lagi! Iki nyowo lo! Ojo di gawe dolanan. Kamu liat sendiri kan, gimana kekuatan mereka. Kalau kita berpencar, akan lebih mudah bagi mereka untuk menghabisi kita!" jelas Zainal mencoba meluluhkan Alingga. Ia tidak ingin terus terus an begini. Ia tau Alingga menginginkan yang terbaik untuk mereka. Tapi, ia juga khawatir gegabahan Alingga akan membuat nya menyesal di kemudian hari.
Alingga terdiam mencoba mendinginkan kepalanya yang tengah mendidih. Ia berfikir ulang, mencoba menerima masukan dari Zainal. Lagipula yang dikatakan Zainal ada benarnya, jika mereka berpencar, keadaan akan semakin rumit.
"Gini aja, malam nanti kita datangi salah satu tempat yang kemungkinan paling aman. Gimana kalo kost kostan?" saran Zainal saat melihat kebingungan Alingga, ia mencoba membantu Alingga menemukan jalan keluar.
"Bukannya di tempat itu ada Ganjang!" ucap Alingga.
"Gimana, Mas?" tanya Zainal sambil melihat kearah Juhri.
"Iya, aku rasa Ganjang itu masih di sana sebelum gerbang Segoro ke tutup. Lebih baik kita pergi di siang hari." Juhri berbicara setelah sekian lamanya terdiam. Semua orang setuju, itu artinya setelah perundingan ini selesai, mereka akan segera berangkat menuju kost kostan di kota sebelah.
"Lalu, bagaimana dengan tempat yang lainya. Kita juga perlu mengumpulkan tujuh sumber air murni dari tujuh tempat sakral."tanya Zainal kepada Alingga. Alingga yang sebelumnya melamun sedikit terkejut, ia agak kebingungan menatap wajah penuh harap dari semua orang.
"Kita selesaikan dulu masalah Lewung ini. Untuk tujuh air itu kita pikirkan lagi setelah semua Lewung sudah terkumpul." jawab Alingga spontan.
__ADS_1
"Untuk ke tiga tempat lainya, kita kunjungi di malam hari. Apalagi Omah Dongko ada di dalam sarang iblis, lebih baik kita datang saat semua orang sedang lengah." ucap Alingga melanjutkan ucapannya yang sebelumnya.
Beban pikiran nya semakin banyak. Alingga sedikit terguncang, akhir akhir ini ia lebih sering melamun. Sebelumnya masalah ini selesai, sepertinya keadaan akan sulit untuk pulih. Masalah ini bukan hanya menghabiskan banyak tenaga, tapi juga menggangu kesehatan mental seseorang. Jika mental orang tersebut tidak kuat, ia bisa saja menjadi Gila setelah di hantam Aura negatif dari semua iblis itu.