Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 61: Hutan Barat


__ADS_3

Mobil terus melaju, menyisakan asap mengepul di sepanjang jalan tanah, hingga tiba di jalanan beraspal, barulah mereka semua dapat bernafas lega.


"Apa apaan itu tadi?" tanya Danu yang duduk di kursi depan.


"Njenengan pasti tau itu apa." ucap Alingga menanggapi pertanyaan Danu.


Danu terdiam. Dia memang tau, tapi juga tidak yakin. Ia tidak pernah melihat mahkluk itu secara langsung. Jika di ingat kembali, cerita orang tua tua dulu sedikit janggal. Bagaimana cara mereka mengetahui keberadaan ganjang yang tempatnya di gerbang segoro, apakah mereka pernah melintasi kematian?


Sayangnya, yang Danu yakini cerita itu hanyalah sebuah cerita. Hingga sampai ia melihat nya secara langsung, barulah ia mempercayai keberadaan mahkluk mahkluk ini.


"Jadi, setelah ini apa? Apa langsung ke lokasi selanjutnya?" tanya Danu.


"Jika semuanya setuju, kenapa tidak? Lebih cepat lebih baik!" jawab Alingga dengan pandangan mengarah kepada Danu.


"Wes bengi, Ngga! Ogak sesuk wae?" (Sudah malam, Ngga! Tidak besok saja?) sanggah Zainal yang duduk di samping Alingga. Alingga menoleh, mengedipkan matanya beberapa kali. Kemudian kembali pada posisi nya semula.


"Nggak! Seperti kesepakatan kita pagi tadi! Malam ketika mereka lengah kita bergerak!" Alingga menjawab dengan pasti, ia memusatkan matanya menatap cahaya lampu yang menyorot jalan. Mengiba pada serangga malam yang menabraknya.


Ada keraguan dalam benak Zainal. Tapi, mereka juga tidak punya banyak waktu. Zainal mencoba mengerti, bukan karena Alingga egois, tapi karena waktu yang semakin menipis.


*


*

__ADS_1


Mereka telah meninggal kota, menuju kearah barat, tempat tumbuhnya ribuan hektar pepohonan liar. Jauh di dalam sana, vegetasi asli dari hutan rawa dibawah naungan hutan hujan tropis tubuh subur tanpa sentuhan tangan manusia. Mereka bagian dari alam menyimpan misteri yang tidak bisa di pecahkan oleh manusia, seperti nuklir, sangat berbahaya juga dapat membantu jika tau cara menggunakan nya.


Hutan itu memaksa mereka untuk menyapa, mengagumi kegelapan yang tak bisa diterobos cahaya bulan, mengagumi pilar pilar tinggi yang seperti labirin hidup. Sepanjang kanan dan kiri, kegelapan itu melahap apa yang terlihat, menyisakan cahaya kecil, untuk memberitahu kan kepada dunia, bagaimana rasanya kehampaan.


Alingga memandang pepohonan yang tertinggal sepanjang mereka melintas, cahaya kecil dari mobil itulah yang membelah hutan belantara , tak ada persimpangan, hanya ada jalan berkelok yang meliuk mencari jalur aman.


"Masih jauh?" tanya Zainal yang sudah mulai gelisah. Ia mungkin sedikit teringat saat ia disandera kegelapan, kenangan itu mengusik hatinya, membuatnya khawatir, mungkinkah kejadian yang sama akan terulang lagi. Kini ia sangat berhati-hati, tidak ada tempat aman selama masih berada di dunia fana.


"Mungkin, sedikit lagi. Seharusnya ada jalan setapak di sebelah kiri dengan beberapa susunan batu!" ucap Juhri, ia menunjuk kearah sisi jalan, mengarah kepada semak semak dan beberapa rumput liar.


"Tapi, kita tidak akan lewat sana!" lanjut Juhri melengkapi kata katanya.


"Kenapa?" tanya Zainal.


Kata mungkin memang tidak bisa memuaskan mereka, tapi lebih baik daripada tidak melakukan apa apa. Harapan akan selalu ada, menemani cahaya mengambil alih tempat nya.


Juhri meminta sopir itu untuk berhenti, memarkirkan mobilnya di pinggiran jalan. Juhri sebenarnya ingin membawa mobil itu masuk, tetapi Medan nya sangat tidak memungkinkan. Mereka terpaksa turun, melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.


"Kita turun disini?" Danu bertanya setelah mereka semua turun.


"Iya, mobil tidak bisa melewati pohon pohon rapat itu! Ingat, jarak yang harus ditempuh masih satu kilo lagi, Jangan sampai berpencar!" ucap Juhri sambil menunjuk sisi kiri mobil yang ditumbuhi pohon besar dan pepohonan kecil yang rapat rapat.


"Mas, Dan! Njenengan di sini aja jaga Kotak kotak itu! Saya khawatir kalau cuma satu orang yang jaga!" Alingga meminta Danu untuk tetap tinggal di dalam mobil, untuk memastikan kotak kotak itu tetap aman sampai mereka kembali. Danu setuju, ia kembali masuk kedalam mobil, sambil menyaksikan ketiga orang itu yang semakin menjauh.

__ADS_1


Juhri memimpin, menebas semak belukar untuk membuka jalan. Langkah mereka di sambut hangat suara serangga malam, sahut menyahut, mengusir sedikit kegelisahan ketiga orang itu. Berbekal cahaya senter, semua orang saling waspada, mengarahkan ke sekitar, keatas, kebawah, kemana pun tempat yang paling rawan untuk mereka di sergap.


Mereka tidak menyadari beberapa pohon pisang yang mulai bertengger di atas pohon, diselimuti kafan kotor, dengan belatung yang menetes jatuh. Tidak ada pergerakan dari mahkluk mahkluk itu, hanya menunggu mangsanya lengah, lalu menguliti nya hidup hidup.


Alingga merasakan hawa yang semakin panas, di tengah angin yang bertiup semilir, seharusnya ia tak merasakan aura pengap seperti ini. Ia memastikan kembali sekeliling nya, menyorot semak semak tinggi, menyorot jalan yang telah mereka lewati, tapi sedikitpun matanya tak menangkap hal yang ganjil.


Dia melupakan pepohonan itu, tempat paling nyaman untuk para makhluk itu bersembunyi.


Mereka bertiga berhenti, mendengar suara ber debum dari arah belakang. Alingga menoleh, melihat sekali lagi, tak ada apapun, lagi lagi mereka di permainkan, oleh kumpulan pocong itu, yang kini berbaris rapi, menyebar kan aroma busuk, dari tubuhnya yang kehitaman.


Alingga, Zainal dan Juhri memilih diam, mereka tetap melanjutkan perjalanan. Beruntung Alingga tidak membawa Syarif dalam ekspedisi ini, jika iya, mungkin dia harus menggendongnya sejauh ia melangkah.


"Ngga.. "


"Gak usah dipedulikan, mereka cuma nyapa!" ucap Alingga sembari mendorong Zainal untuk lebih cepat lagi berjalan. Suara suara melompat di belakang mereka semakin mengganggu, belum lagi saat pocong pocong itu terus terus an mendekat.


Mereka tak bisa berjalan santai lagi, setengah berlari, menerobos semak belukar yang tak sempat lagi Juhri tebas. Mereka berlari, semakin membuat senang para pocong itu yang kini tertawa bersahutan. Alingga tidak ingin mengeluarkan banyak tenaga untuk meladeni pocong pocong itu. Masih ada mahkluk yang lebih kuat yang lebih membutuhkan kekuatannya. Dia tak ingin menyia-nyiakan nya, lebih memilih melarikan diri, dari para pengganggu yang suka melompat itu.


"Bajingan! Lihat saja, ku kirim kalian semua ke Neraka!" umpat Zainal sambil berlarian, ia kehabisan napas, tenaga nya diperas habis, ia hampir menyerah karena sudah setengah jam mereka masih belum menemukan juga tempat tujuan nya.


"Kemana lagi? Lihat, kita tersesat!" ucap Zainal dengan nada tinggi, ia kesal dan juga marah. Mereka sudah berjalan cukup lama, jarak satu kilo itu mengapa menjadi berlipat ganda.


Banyak yang berubah dari Zainal, semenjak ia kembali ke raganya, sifatnya tak setegar dahulu. Kini ia gelisah, banyak khawatir, dan takut melakukan sesuatu. Padahal sebelumnya ia tak pernah seperti ini, pemikiran nya telah berubah, setelah disiksa kegelapan, akal sehatnya juga perlahan menipis.

__ADS_1


__ADS_2