Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 51: Perundingan


__ADS_3

Selepas mengistirahatkan tubuhnya, Zainal meregangkan sendi sendi nya di teras rumah. Ia sendirian menikmati cahaya senja yang sudah lama tidak ia rasakan. Burung burung terbang menari nari di atas awan, kepakan nya terdengar lembut bersamaan dengan suara gesekan ranting-ranting pohon. Angin senja bukan hanya menyapu kulit, tetapi juga melengkapi alam yang tengah berbahagia, di temani cahaya jingga itu, senyum Zainal perlahan-lahan merekah.


Sayangnya keindahan itu tak bertahan lama, senja berganti malam. Tidak ada burung burung bernyanyi lagi, hanya tersisa suara serangga dan udara dingin yang menusuk hingga ke tulang tulang. Alam membawa pesan, kegelapan tengah berkuasa.


Zainal memasuki rumah, berhenti saat menemukan Alingga tengah duduk bersila di ruang depan. Keduanya saling pandang, menyampaikan pesan satu sama lain. Sorot mata mereka tajam, dalam kebisuan itu, Syarif hanya menatap kedua nya dengan ekspresi datar.


"Ali!" panggil Syarif membuyarkan bahasa batin mereka berdua. Alingga menoleh, memasang wajah masam. Sudah berkali-kali Alingga menegurnya, tapi tetap saja Syarif selalu memanggilnya Ali.


"Jadi, gimana selanjutnya?" tanya Syarif tanpa berbasa basi. Alingga menunduk, mencoba mengingat kembali ucapan mbah Ladi. Lamunan nya di iringi suara jangkrik dan beberapa kali hembusan angin. Alingga kembali tersadar, menatap Syarif dan Zainal secara bergantian.


"Temukan Lewung dan tujuh sumber air sakral!" ucap Alingga singkat. Kedua orang yang diajak bicara tidak menanggapi, keduanya sama sama bingung. Terutama Zainal yang tidak mengerti apa itu Lewung dan untuk apa mengumpulkan nya. Alingga ingin menunjukkan kepada Zainal apa itu Lewung. Sayangnya ia telah membakar nya terlebih dahulu sebelum Zainal melihat nya.


"Lewung kui wadah tumbal tumbal e Wijaya. Seharusnya jumlahnya ada seratus dilihat dari ritual lebur sukma yang dilakukan Wijaya!" Alingga menjelaskan, menjawab kebingungan Zainal. Zainal pernah mendengar tentang wadah ini. Namun, ia tidak pernah melihatnya secara langsung.


"Tapi masalah e, neng endi Wijaya nyeleh kabeh Lewung kui."( Tapi masalah nya, dimana Wijaya meletakkan nya.) Semua orang tampak berfikir, tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui letak pastinya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Alingga mulai bercerita tentang pertemuan nya dengan Juhri salah satu algojo Wijaya yang menangani semua tindak kejahatannya. Awalnya Alingga ragu untuk menceritakan masalah ini, terlebih lagi apa yang telah di lakukan Juhri terhadap Mbah Slamet.


"Gimana menurut kalian? Penawaran Juhri Siang tadi!" Alingga bertanya, tetapi matanya menatap ke lantai kayu. Zainal memandang Alingga, ia juga tidak tau harus mengambil keputusan apa. Sejujurnya Zainal tidak mengenal Mbah Slamet, tapi mendengar bahwa orang itu Pernah menolong nya, tentu saja Zainal merasa marah dengan apa yang telah dilakukan Juhri.


"Jika tidak ada pilihan lain, harus ada resiko yang di ambil. Kita kesampingkan dulu persoalan mbah Slamet ini! Juhri pasti punya alasan kenapa ia sampai menawarkan bantuan." ucapan Zainal terasa ringan. Tentu saja ia tidak melihat sendiri bagaimana kondisi mbah Slamet saat Alingga menemukan nya. Tapi berbeda dengan Zainal, Alingga terlihat sangat ragu bila harus mempercayai Juhri.


Zainal mendekat, menepuk-nepuk pundak Alingga.


"Sek .. sek!" sela Syarif di tengah tengah obrolan mereka.


Alingga kemudian menatap Syarif dan Zainal secara bergantian,"Setelah semua persyaratan di penuhi, Ritual lebur Sukma akan dilaksanakan sebelum malam selasa legi!" Alingga memandang keduanya lagi, ia berhenti sejenak untuk memastikan ekspresi teman temannya setelah mendengar cerita nya. Zainal hanya menyimak, sedangkan Syarif memasang ekspresi bingung yang tentu saja membuat Alingga harus menjelaskan secara lebih detail lagi.


"Ritual Lebur Sukma digunakan untuk membuat perjanjian dengan iblis dan dengan Persyaratan yang ditentukan oleh kedua belah pihak. Bolo Laru meminta 100 tumbal sebagai mahar nya. Setelah ritual itu di lakukan Wijaya akan memiliki kekuatan untuk mengendalikan alam ghaib dan memiliki kendali penuh atas Bolo Laru. Bisa dikatakan di ingin menjadi yang terkuat di antara orang orang kuat." jelas Alingga menceritakan apa yang di ketahui nya kepada kedua orang teman nya.


"Terus, kenapa kita harus melakukan ritual yang sama?" tanya Zainal di samping Alingga. Alingga menoleh lalu menatap tajam kedua bola mata itu.

__ADS_1


"Untuk menggagalkan ritual yang sebenarnya!" jawab Alingga singkat. Syarif lagi lagi memasang ekspresi bingung, Alingga sedikit tidak sabar dengan pemikiran lamban kedua teman nya.


"Ritual Lebur Sukma memiliki kelemahan. Jika ritual dilaksanakan lewat dari waktu yang di janjikan atau sebelum nya maka ritual itu akan gagal. Tapi kita butuh darah keluarga Wijaya untuk melakukan nya."


Syarif berbalik, memegang kepala, memijatnya beberapa kali.


"Jadi, maksud kamu kita mau menipu iblis gitu?" Astaga Ali .. yang bener aja kamu. Nal omongi konco mu, asli mumet aku!" Zainal juga tampak bingung, ia baru sadar dari koma, tapi harus memikirkan masalah berat seperti ini.


"Rungok ne sek, Cok!" bentak Alingga dengan nada tinggi. Syarif langsung terdiam, ia menunduk kan kepalanya. Ia sadar telah membuat Alingga kesal.


"Ini satu satu nya cara. Kalau sampe Wijaya mendapatkan kekuatan itu. Gerbang Segoro bukan halangan lagi untuk dia melepaskan semua isinya. Terutama iblis terkuat Alas ruwah yang terkurung di sana. Jika kelima iblis itu berkumpul, mereka akan membangunkan Ratu mereka yang kekuatannya disegel pada kelima iblis itu!" Syarif dan Zainal terdiam. Kini ucapan Alingga terasa masuk akal. Setelah Alingga menceritakan semuanya, mereka memulai berdiskusi tentang tawaran Juhri. Satu satunya orang yang tau pasti letak Lewung itu ya hanya sang algojo.


"Jangan sampai Wijaya tau rencana kita, itulah kenapa aku menentang jika Juhri ikut andil dalam misi ini." ucap Alingga mengeluarkan isi hatinya. Ia sadar tidak ada pilihan lain, tapi ia juga sadar betapa berisiko nya pilihan mereka.


"Ngene wae wes, kita minta dia ngasih tau dimana tempat tempat itu, tapi kita tidak akan melibatkan dia dalam ritual. Dia juga tidak boleh tau tempat dan waktunya ritual itu di laksanakan. Gimana?" saran Zainal berusaha memberikan jalan keluar diantara kebuntuan mereka.

__ADS_1


Alingga menoleh, saran Zainal cukup masuk akal. Tapi mereka tidak yakin Juhri akan setuju dengan saran itu. Melihat dari temperamen nya, Alingga yakin Juhri akan membuat kekacauan setelah mereka beri kepercayaan. Namun, tidak ada salahnya mencoba. Tidak mungkin mereka harus menggali setiap tanah yang dimiliki Wijaya, atau harus memeriksa setiap bangunan yang di dirikan oleh keluarga itu. Cara satu satunya ia dengan meminta bantuan dari yang mengetahui nya, tidak ada salahnya, resiko selalu ada dalam setiap tindakan. Hanya saja, kapasitas nya lah yang membedakan nya.


__ADS_2