
Mereka berlarian di antara semak belukar, goresan tipis dari rumput merambat menciptakan rasa perih saat tersentuh angin malam. Mereka terpencar, mengambil jalan masing masing, terhalang semak dan tumbuhan perdu di sekitarnya.
Alingga yang berada di barisan terakhir memilih untuk mengambil jalan lurus ke depan. Sayangnya, ia tertinggal, tidak mendapati kehadiran kedua temannya. Hutan itu memperangkapnya, menciptakan ilusi dari rapatkan pepohonan. Ia berputar putar di tempat yang sama hingga kehilangan tenaga. Memang benar, tidak ada yang akan berjalan mudah, usaha terbaik pun mampu berkhianat.
Di tengah hutan belantara mereka saling memanggil, saling menyahut, tetapi juga saling menjauh. Suara yang menyahut menyesatkan, berasal dari belakang, dari depan, dari segala penjuru yang membuat mereka kebingungan, mengambil jalan yang salah, hingga jauh dari jangkauan masing masing.
Zainal yang jarak nya paling jauh dengan keduanya berhenti berlari, melihat sekelilingnya. Pohon pohon tinggi itu berubah menjadi barisan kafan kotor, mengelilingi nya, menekan nya dengan suara tawa. Zainal berlutut, menutup lubang telinga nya, mengusir suara yang semakin keras terdengar. Dia sudah berada di ambang batas.
Alingga mendengar suara teriakan Zainal, cukup samar namun ia sangat yakin. Tidak tahu mana arah mata angin, ia menuju sumber suara, menyibak semak semak tinggi, menginjak tanah berair, melompati pepohonan tumbang, hingga kakinya amblas menginjak lapisan tanah yang tidak stabil.
Alingga melewati tanah berlumpur, penerangan nya tenggelam, ia kehilangan senter yang di bawanya. Namun, samar samar ia melihat cahaya yang bergerak di depan, tidak terlalu jauh juga tidak dekat. Cahaya itu menyorot pepohonan, memberikan sinyal agar seseorang mau datang.
Sementara itu, Juhri yang sebelumnya memimpin jalan telah sampai di pelataran rumah kayu berlantai dua. Tapi, ia baru menyadari kedua orang yang mengikutinya tidak lagi berada di belakangnya. Ia menunggu lama, menunggu keajaiban munculnya kedua orang itu, sayang nya hingga belasan menit berlalu tak satupun dari mereka yang muncul. Ia tidak sabar menunggu lagi, Juhri kembali kedalam semak, menelusuri jejak nya sebelumnya.
__ADS_1
Angin berhembus menyapu tubuh Alingga yang sedikit basah, embun menempel pada pakaian nya, meresap, menetap di dalam serat terdalam kain tersebut. Ia samar samar melihat tubuh Zainal, ia sedang meringkuk, menutup kedua telinganya dengan mulut yang terus terusan meracau. Alingga menghampiri, menepuk pipi nya beberapa kali, berusaha menyadarkan temannya kembali.
"Nal.. Bangun! Bangun!" Alingga menepuk nya lagi. Kali ini Zainal sadar, ia menatap Alingga dengan peluh yang sudah membanjir wajahnya.
"Aku liat.. Aku liat, Ngga!" Zainal mulai meracau tak jelas lagi. Alingga segera membawanya, menuntun nya untuk berjalan. Mereka berjalan lurus, berharap menemukan tempat yang mereka diskusi kan sebelumnya.
"Ngga.."
Alingga tidak memperdulikan ocehan Zainal, ia fokus mencari jalan untuk keluar dari labirin itu. Dari arah depan seseorang tiba-tiba muncul, mengejutkan keduanya hingga mundur beberapa langkah. Orang itu adalah Juhri yang kembali untuk mencari mereka, Alingga tampak senang saat bertemu kembali dengan orang yang pernah berselisih dengan nya itu.
Alingga duduk di atas tanah, meluruskan kakinya sambil menatap bangunan kayu yang gelap. Tidak ada penerangan, tempat itu seperti sarang hantu di tengah tengah hutan belantara.
"Mana penjaga yang kamu bilang?" tanya Zainal.
__ADS_1
"Rumah ini tidak di jaga, hanya gerbang masuk nya saja yang di jaga ketat." jawab Juhri.
"Aneh! Kenapa mereka berjaga jauh dari bangunan nya." ucap Zainal sembarangan. Ia sebenarnya kebingungan, kenapa mereka hanya menempatkan penjagaan di pintu masuk, lalu untuk apa bangunan ini di dirikan jika tidak mereka jaga.
"Hati hati, mungkin ada sesuatu yang membuat para penjaga itu tidak mau mendekati rumah ini." Alingga mengingat kan mereka untuk berhati-hati, tetap waspada dan jangan sampai lengah. Tidak ada penjagaan bukan berarti tidak ada bahaya, justru tempat yang terlihat aman adalah tempat yang sangat berbahaya.
Juhri memimpin jalan, membawa mereka masuk kedalam rumah itu. Mereka melalui pintu depan, berjalan berjingkat agar tidak menggangu siapapun yang bersemayam di dalam sana.
"Sehening mungkin!" bisik Juhri memperingat mereka untuk terakhir kalinya sebelum memasuki rumah.
Juhri memutar kenopi pintu, mendorong nya perlahan, bunyi berderit memecahkan kesunyian. Lantai kayu ikut meramaikan suasana, menemani langkah kehati-hatian mereka.
Senter yang dibawa Juhri menyorot seisi ruangan, tidak ada kursi maupun meja, hanya ada lantai kayu berdebu dengan lemari lemari kecil di sudut sudut ruangan. Mereka melangkah masuk, meninggalkan jejak sepatu dan tanah di lantai kayu.
__ADS_1
Juhri mengarahkan mereka masuk lebih dalam lagi. Mereka membagi tugas untuk memeriksa setiap ruangan. Rumah ini cukup besar, akan membutuhkan waktu lama jika mereka cari satu persatu. Juhri memeriksa lantai dua sedangkan Alingga memeriksa lantai bawah. Zainal menemani Alingga memeriksa setiap lantai, hingga mereka menemukan sebuah ruangan yang terkunci.
Alingga tidak memiliki kunci, sedangkan pintu itu di kunci dengan kunci khusus. Juhri yang sudah selesai memeriksa lantai dua kembali menghampiri Alingga di lantai bawah. Mereka bertiga berfikir, mencoba mencari solusinya. Sayangnya, tanpa kunci pintu itu tidak akan pernah bisa mereka buka, dan usaha mereka datang ketempat ini akan sia sia saja.