Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 25: Kota sebelah


__ADS_3

Sumi berjalan sempoyongan memasuki pelataran rumah seseorang, ia duduk di teras Sembari mengatur nafas nya.


"Mbah..mbah met, niki sumi mbah." Ucap sumi sambil mengetuk pintu.


Lama sumi menunggu namun tak kunjung dapat jawaban, ia kembali duduk di lantai Sembari melepas penat nya. Sumi penasaran kenapa mbah slamet tidak ada dirumah padahal biasanya ia selalu tau kapan sumi akan datang.


Saat itu ketika sumi sedang melepas penat nya, ia melihat sesuatu yang mencurigakan tak jauh dari tempatnya duduk. Di dekat tiang penyangga sumi melihat sesuatu yang tengah berdiri menatap tajam ke arah sumi, sumi sedikit terkejut meskipun ia sudah sering melihat mahkluk halus namun sumi masih saja kaget saat mahkluk tersebut muncul secara tiba-tiba.


Mengapa mahkluk itu muncul di siang hari, Sumi memastikan Kembali penglihatan nya, ia tidak salah itu memang bukan manusia, apa yang diinginkan mahkluk itu darinya.


Saat sumi sedang fokus dengan mahkluk tersebut tiba-tiba saja seseorang mengagetkan nya dengan sengaja menyentuh pundak sumi, sumi sangat terkejut sampai tak mampu berkata-kata.


"Ngopo nduk neng njobo, ayok mlebet!"(Kenapa nak di luar, ayok masuk!) Ajak orang tua tersebut.


Sumi yang masih terkejut hanya bisa menurut lalu mengikuti orang tua tersebut, ia memeriksa kembali tempat berdirinya mahkluk tadi, namun mahkluk itu sekarang telah lenyap, tidak ada apapun lagi disana. Meskipun sumi masih heran ia lebih memilih untuk menyembunyikan karena ada hal yang lebih mendesak ketimbang membahas mahkluk usil tadi.


Sumi masuk kedalam rumah mbah Slamet, ia dipersilahkan duduk di kursi bambu yang sudah sedikit tua. Sumi berhati hati agar kursi tersebut tidak rubuh saat ia menduduki nya nanti.

__ADS_1


"Ini barang nya mbah, titipan mbak Rina." Ucap sumi spontan, ia segera memberikan bungkusan merah tersebut kepada mbah Slamet.


"Nggih, ini mbah terima ya." Balas mbah Slamet sembari mengambil barang yang di berikan sumi.


Mbah slamet mengawasi gelagat sumi yang aneh, memang sedari tadi sumi nampak tidak tenang seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Ngopo nduk? Enek seng arep di ceritane neng Mbah?" ( Kenapa nak? Ada yang mau di ceritakan ke mbah?) tanya mbah Slamet sambil meletakkan kotak tadi di pangkuan nya.


"Mboten mbah." jawab sumi Sembari tersenyum.


"Mbah weroh seng mbok delok mau, gak popo nduk mung iseng wae." ( Mbah liat yang kamu lihat tadi, gapapa nak cuma iseng aja itu tadi.) ucap mbah Slamet berusaha menenangkan sumi.


Mbah slamet menatap sumi datar, ia tidak tau harus menjawab apa atas pertanyaan sumi, dia sendiri tidak tau kapan pastinya semua ini akan yang berakhir. Mbah slamet menarik nafas panjang lalu berdiri membawa kotak tersebut kedalam kamar nya, sumi hanya bisa menatap lesu karena tak mendapatkan jawaban yang di inginkan nya.


Sumi kemudian mengikuti Mbah Slamet masuk ke dalam kamar tersebut, di dalam kamar terdapat banyak benda benda antik yang terlihat sudah sangat lawas. Mbah Slamet lalu membuka kotak yang ia bawa tadi, sumi tidak dapat melihat dengan jelas isi kotak tersebut, yang jelas sumi melihat mbah Slamet seperti sedang perang batin dengan sesuatu yang entah apa.


Beberapa menit kemudian Mbah Slamet menutup kembali kotak tersebut, ia memutar tubuhnya menghadap ke arah sumi. Mbah Slamet memberikan sekotak sajen kepada sumi, ia tidak mengerti maksud dari mbah Slamet.

__ADS_1


"Gowo neng wit ringin nduk, paham kan nggon e." ( Bawa ke pohon beringin nak, tau tempat nya kan.) Ucap mbah Slamet.


Sumi yang mendengar ucapan mbah Slamet hanya menyimpulkan bukan kah yang dimaksud mbah Slamet adalah pohon beringin di belakang kost kostan milik wijaya, tempat sebelumnya nya zainal dan teman temannya tinggal.


Sumi mengangguk mengerti lalu pergi untuk menyelesaikan tugas nya, Mbah Slamet mengikuti nya dari belakang dan mengantarkan nya sampai di teras rumah. Mbah Slamet melihat sesosok mahkluk yang mengikuti sumi pergi, tatapan mbah Slamet getir, meskipun sudah berkali-kali melakukan hal ini namun ia tahu sewaktu-waktu keadaan akan benar-benar hancur.


Sumi berjalan melalui perkebunan warga sekitar, Ia jalan perlahan karena tidak ingin menjatuhkan sedikit pun isi dari sajen tersebut. Sebenarnya ini pertama kalinya sumi mengantarkan sajen secara langsung karena biasanya mbah Slamet sendiri lah yang melakukan nya, namun saat ini sumi yang diberi tugas tersebut menandakan mbah Slamet sudah tidak kuat lagi. Umurnya sudah sangat tua, hanya tinggal menunggu waktu sampai tuhan meminta nyawanya.


Sumi tiba di belakang kost kostan tersebut, ia melihat pohon beringin yang tinggi menjulang, akar udara bergelantungan di cabang cabang nya yang kokoh. Sumi mendekati pohon beringin, aroma lumpur amat menyengat di sekitar sana. Sumi melihat beberapa sajen yang sudah membusuk di bawah pohon beringin, ia kemudian meletakkan sajen yang dibawanya tepat dibawah pohon beringin yang tanah nya sedikit mengering.


Setelah selesai sumi segera berbalik meninggalkan pohon beringin, namun sumi merasa sedikit tidak nyaman karena merasa sedang di ikuti, ia melihat kebelakang kearah pohon beringin, lalu di sana di balik pohon besar itu ia melihat sesosok yang Pernah dilihatnya di rumah mbah slamet.


Kali ini makhluk itu menunjukkan wajahnya yang hancur, mahkluk itu menyeringai menatap sumi yang ketakutan, sumi bergidik ngeri saat menatap wajah tak berbentuk dari makhluk itu, ia segera lari dari tempat itu sebelum terjadi hal yang tidak tidak.


Sumi sebenarnya penasaran kenapa mahkluk itu menampakkan wujudnya kepada sumi, apakah ada sesuatu yang sumi lewatkan, atau mungkin mahkluk tersebut merupakan penghuni hutan yang tanpa sengaja mengikuti sumi karena tertarik dengan kotak bawaan sumi. Sumi tak pandai menerka nerka, ia tak ingin mendapat masalah lagi, sumi segera mempercepat langkahnya berharap mahkluk tadi tidak akan mengikuti nya lagi.


Sumi tiba kembali di pelataran rumah mbah Slamet, ia buru buru masuk kedalam karena masih ketakutan, hal yang tidak masuk akal adalah kenapa sumi begitu takut dengan mahkluk itu, padahal ketika dihutan sumi sudah banyak di kunjungi mahkluk halus dan sejenisnya, lalu apa yang berbeda dengan mahkluk yang wajahnya hancur tersebut. Semakin difikir semakin tidak masuk akal, namun lagi lagi sumi tak ingin mengambil pusing, ia segera masuk kedalam ke tempat mbah slamet berada, ia memberitahu mbah Slamet bahwa ia telah menyelesaikan tugasnya.

__ADS_1


Mbah Slamet saat itu sedang membuka sebuah buku bersampul lusuh yang isinya tidak sumi mengerti karena tulisan nya begitu asing, ia menunggu di pintu kamar sampai mbah Slamet menyelesaikan kegiatannya. Beberapa menit kemudian mbah Slamet telah selesai memeriksa buku tersebut, mbah Slamet kemudian meminta agar sumi segera kembali kekediaman keluarga Wijaya karena dia merasa telah terjadi sesuatu pada mbah rina. Sumi tak banyak berfikir dan segera minta izin untuk pamit pulang, mbah Slamet mengizinkan lalu memberikan sebuah bungkusan untuk perlindungan sumi selama perjalanan nanti.


__ADS_2