Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 33: Cahaya terang


__ADS_3

Syarif menatap tajam pada kerumunan yang berbaris rapi di sepanjang mobilnya melintas, sudah cukup lama mobilnya melaju tak tentu arah. Sosok-sosok yang mengenakan kain kafan lusuh tak pernah ada habis-habisnya, semakin ramai memeriahkan datang nya para penghuni baru.


Tak ada setitik pun cahaya, tak ada pula harapan. Hamparan ruang hampa membentang tak berujung sejauh jarak pandang yang mampu diterima retina. Harapan satu satunya hanyalah gerbang pembatas dunia manusia. Namun, sayangnya tak pernah ada yang tahu pasti Dimana letaknya. Bahkan, para pemburu pesugihan pun tak pernah tau.


Laju mobil semakin tak terkendali, menghantam ribuan pocong yang tak memberikan sedikit pun ruang untuk mereka bernafas. Bahkan, mahkluk mahkluk itu semakin berani, ada yang merangkak di bagian atas atap mobil, ada pula yang melayang mengacaukan mereka yang tak bisa melarikan diri.


Namun, yang paling menakutkan diantara mereka semua adalah Ganjang Roha, sosok mahkluk yang memiliki kaki dan tangan yang sangat panjang. Ganjang adalah penjaga gerbang Segoro, ia yang memastikan apa yang ada di dalam dan apa yang ada diluar tidak bisa melewati batas masing masing. Terutama apa yang hidup didalam sana, kekuatan para iblis yang tersegel sempurna dalam perjanjian lebur sukma. Sebuah ritual hitam dan putih yang menjadi awal dan akhir sebuah perjanjian.


Dari semua hal, yang masih menjadi misteri adalah bagaimana mobil hitam itu bisa masuk kedalam alam ghaib, tempat tersegel nya ribuan iblis. Apakah mungkin ada campur tangan nya dengan wijaya Adhitama, tumbal terkahir nya melarikan diri dan terjebak di dunia nya para pendosa.


Jika saja saat itu Alingga menyertakan pula Boneka lewung dalam ekspedisi ini, mungkin segala usaha mereka sudah berakhir. Di dalam alam ghaib jiwa manusia tak berkuasa.


Syarif masih menahan ngeri yang menjalar, lidah panjang sesosok mahkluk sedari tadi masih nyaman menetap tepat di jendela kiri mobil hitam. Syarif tak berani melirik menatap mata yang hampir terlepas, ia menegakkan kepalanya menatap tajam apa yang sedang dibersihkan bumper depan mobilnya.


Sosok lain menemani nya dalam ekspedisi jagat lelembut. Wanita bergaun putih lusuh duduk anggun di kursi belakang dengan bola mata yang sudah tak ditempatnya. Sosok itu hanya diam, duduk tepat di samping zainal terbaring.


"Lee.." Terdengar suara lirih dari arah kursi belakang.


Syarif mendengar nya, namun ia ragu untuk menolehkan kepalanya kearah itu. Namun, batin nya lebih penasaran daripada akal sehatnya. Ia menoleh, tepat di muka wajah sosok tersebut.

__ADS_1


"COK.. DJANCOK DEMIT ORA NGUTEK!!" ( Bajingan.. Setan gak punya otak!!) umpat syarif dengan keras.


Syarif mengalihkan pandangannya dari wajah yang hampir rusak tersebut, sang sopir disebelah tak memperdulikan ocehan syarif yang sudah tak terkontrol lagi. Tubuhnya bergidik ngeri, ia hampir memuntahkan lagi isi perutnya yang masih kosong.


"Menengok o cok!" (Diam!) Sang sopir menggertak Syarif yang kesetanan. Bagaimana tidak, wajah yang kulit kulitnya mengelupas itu masih membekas dalam pandangan nya.


"Ngguri.. Ngguri!" (Dibelakang.. Dibelakang!) ucap Syarif dengan ekspresi panik. Syarif lebih frustasi lagi, sedangkan sang sopir semakin kesal karena sikap Syarif yang membuat nya hilang fokus.


Sebenarnya tak ada yang perlu ditakutkan dari sosok laras, dia banyak membantu putra nya melewati masa masa sulit. Seperti saat di kediaman keluarga Wijaya, laras sebisa mungkin menjauhkan zainal dari jangkauan Wijaya. Namun, takdir berkata lain. Apa yang telah digariskan tak dapat diubah semudah itu.


Laras ingin membantu mereka keluar dari dalam alam ghaib. Namun, ada harga yang harus ia bayar karena telah memasuki gerbang segoro. Jiwa orang mati yang masuk kedalam gerbang Segoro tidak akan pernah bisa keluar lagi, sebesar apapun kekuatan nya ia akan selamanya terjebak di pembatas kedua dunia.


Ini mungkin kali terakhir nya ia membantu putra nya, ia tak akan pernah bisa keluar dari alam ini. Tidak akan ada lagi yang menjaga zainal, tidak akan ada lagi yang menuntun mereka menemukan jalan keluar. Setelah nya mereka benar-benar sendirian.


"Nengen cok!" (Belok kanan!) ucap Syarif spontan saat mengetahui sang sopir tidak pergi kearah yang ditunjukkan Syarif.


"Gak iso mas! Setang e muter dewe." (Gak bisa mas! Setir nya muter sendiri.) jawab sang sopir yang kebingungan.


Syarif juga menyadari nya. Ia melihat tangan sang sopir yang tidak ditempat yang seharusnya, namun setir itu bergerak seperti telah dikendalikan oleh sesuatu.

__ADS_1


Syarif mengisyaratkan kepada sang sopir untuk melirik kebelakang. Syarif curiga wanita Dibelakang itulah yang melakukan semua ini. Lagipula, mereka tidak bisa berbuat apa apa, mereka tak memiliki arah di alam antah berantah yang tak berujung ini.


Mobil hitam melaju semakin kencang, kecepatan nya melebihi kecepatan maksimal yang mampu ditempuh mobil ini.


Sebuah cahaya terang menyilaukan pandangan mereka. Cahaya tersebut memancar diantara pekat nya kegelapan, harapan muncul dalam benar mereka setelah sekian lama terjebak di dimensi yang berbeda.


...***...


Matahari kembali bersinar setelah sekian lamanya menghilang, angin kembali berhembus menyambut mereka kembali ketempat yang seharusnya, dunia nya para manusia, meskipun manusia tidaklah pantas hidup di dunia yang telah lama mereka rusak.


Mereka kembali ke area ladang jagung, disinilah perjalanan supranatural mereka dimulai. Syarif membuka jendela mencoba merasakan sejuknya angin senja, sang sopir pun demikian, ia menengadah kan kepalanya memastikan dengan mata kepalanya sendiri matahari yang hampir tenggelam.


Angin senja menyampaikan pesan dari alam, jangan menyakiti nya, jangan merusak alam, maka alam akan melindungi manusia saat berada di dalam atmosfer nya.


"Mas, barusan aku mimpi. Ada banyak demit!" ucap sang sopir tanpa mengalihkan pandangannya dari matahari.


Syarif melirik sang sopir dengan wajah masam, ia menempeleng kepala sang sopir dengan telapak tangan nya.


"Mimpi matamu!" ucap Syarif setelah nya.

__ADS_1


Sang Sopir menatap Syarif panik, ia buru buru keluar mobil untuk memastikan sesuatu. Sang sopir memeriksa sisi mobil satu persatu dengan teliti, ia ingat dengan jelas bagaimana mahkluk mahkluk itu menghantam sisi mobil nya dengan sangat keras. Belum lagi saat bumper depannya menerjang barisan sosok berkain kafan lusuh di sepanjang mobilnya melaju.


Namun, tidak ditemukan sedikitpun goresan di badan mobil tersebut. Jika semua itu bukanlah mimpi seharusnya mobil itu akan dipenuhi dengan noda dan goresan, namun melihat kondisi mobilnya yang seperti tak pernah terjadi apa apa, sang sopir mulai meragukan ingatan nya.


__ADS_2