Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 22: Ruang tersembunyi


__ADS_3

Aku sudah cukup lama memandangi foto ini, namun sepertinya ada yang salah. Dalam pantulan kaca lukisan berdiri sesosok wanita menatap tajam tanpa ekspresi, ia tepat berada di sebelah ku namun ketika aku menoleh kearah tersebut, tidak nampak wujud apapun seperti yang terpantul dalam lukisan.


Sekali lagi sosok itu muncul, namun kali ini mahkluk itu berpindah posisi , ia menyeringai tepat di depan ku. Tidak tau apa aku telah melakukan kesalahan, sosok itu terlihat begitu marah, ia berteriak mengeluarkan suara yang sangat melengking hingga mulut nya robek selebar jengkal orang dewasa.


"Rina..!!"


Suara bisikan terdengar jelas didalam kepala ku, di kanan, kiri, dimana mana Suara itu menggema. Sakit sudah pasti, gendang telinga ku seolah olah akan pecah.Tiada wujud tiada pula perantara angin pun tidak terasa, suara itu seolah-olah merambat dari setiap pembulu darah.


"Rina.. awak mu wes muleh nduk!" ( Rina.. kamu sudah pulang nak!) Bisikan itu lagi lagi terdengar.


"Hahahahhha", Terdengar suara tertawa dari dalam ruangan, Suara itu beriringan dengan barang barang yang mulai berjatuhan.


"Sopo Kowe!! " (Siapa kamu?) tanya ku sembari menahan sakit.Aku hampir mencapai batas, rasa sakit nya semakin memuncak.


"Tahan sitik neh ndukk, mbah e kudu nemoni putu ne." (Tahan sedikit lagi nak, mbah nya harus menemui cucunya.) Suara itu terdengar lagi.


Aku tidak bisa membiarkan ini terus terusan berlanjut, jika di biarkan aku benar-benar akan kehilangan kendali atas diriku sendiri. Suara ini merambat mengambil alih seluruh susunan syaraf di dalam tubuhku, ia berusaha mengendalikan tubuh ku agar melakukan apa yang diinginkan nya.


Saat itu aku melihat sesuatu yang bercahaya di atas lemari kayu, aku tidak tahu apa itu, tapi jika di simpan dalam ruangan ini sudah pasti itu sesuatu yang sangat berharga. Aku mencoba sebisa mungkin menggerakan tubuh yang hampir kaku, selangkah demi selangkah jarak ku dengan lemari itu semakin dekat.

__ADS_1


"Arep neng endi!!" (Mau kemana!!) Suara itu terdengar marah, ia seperti sudah tau apa yang akan kulakukan. Tidak bisa bergerak, tubuhku benar benar kaku sekarang padahal sebentar lagi lemari itu bisa dijangkau, satu satunya harapanku kini pun pupus.


Aku harus keluar dari tempat ini, tugasku masih belum selesai. Kutarik nafas dalam-dalam, ku fokuskan pikiran agar tak dikendalikan lagi oleh mahkluk itu. Saat ini tanpa sadar kaki ku bisa melangkah dengan ringan, aku buru buru berlari kearah lemari dan segera mengambil apapun itu yang berkilau di dalam nya. Namun sialnya aku terjatuh, wajahku menghantam sudut lemari, bekas luka gesekkan nya sangat ngilu hingga telinga berdengung parah.


Aku tidak punya banyak waktu untuk mengeluh, segera ku ambil lilin yang tadi sempat terjatuh, beruntung lilin itu masih tetap menyala. Kutarik lemari dengan keras, di dalam nya terdapat banyak barang buku buku berdebu dan sesuatu yang terselip di antaranya.


Sebuah cermin antik dengan emas yang terukir dipinggir nya, cermin itu berdebu dan terlihat sangat usang. Apa mungkin ini benda berharga, jika bukan kenapa mahkluk itu berusaha menghalang-halangi?


Aku sangat penasaran, ku angkat sedikit cermin tersebut. Wajah ku nampak kacau dengan beberapa goresan di wajah, darah yang keluar ku seka perlahan.


Mahkluk itu tiba-tiba muncul, ia tepat berada di belakang ku. Mahkluk dengan wajah yang robek tadi menatap ku bengis dengan bola mata yang hampir terlepas, rambut panjangnya bergerak perlahan menjerat kaki kiri ku.


Tidak perlu banyak berfikir, waktu ku tidak banyak. Jika tidak mencoba maka tidak akan ada perubahan nya, aku segera mengayun cermin tersebut tinggi tinggi lalu menjatuhkan nya dengan keras. Mahkluk itu tiba-tiba saja terlihat oleh mataku, apakah caraku ini berhasil?


Mahkluk itu berteriak keras lalu berlutut lemas, tubuhnya nya mengalami keretakan dari mulai wajahnya yang rontok hingga anggota tubuh lainnya yang terlepas. Bagian bagian tubuhnya yang jatuh menyentuh tanah hancur lalu berubah menjadi debu dan seketika lenyap.


Apakah sudah berakhir?


Aku tidak merasakan apa apa lagi, ruangan ini benar benar sunyi dari gangguan. Namun kesunyian itu tak bertahan lama, sesaat setelah aku sedikit melonggarkan kewaspadaan, lukisan rumah di tengah hutan tiba tiba saja bergetar hebat, lukisan itu bergerak cepat di iringi suara tawa yang melengking.

__ADS_1


"Hahahahhha.."


Suara tawa itu menggema tak lama setelah nya lukisan yang bergetar itu terjatuh dan pecah.


"Goblok kowe .. opo kowe pikir iso mateni aku mung koyo ngono kui. Koco kui seng nge rangkeng aku, aku mung urip neng njero kene Hahahhaha." ( Bodoh kamu ..apa kamu fikir bisa membunuhku dengan cara seperti itu. Cermin itu yang mengurung aku, aku hanya hidup di dalam sana Hahahhaha.)


"Saiki aku wes bebas." (Sekarang aku sudah bebas.) Ucap mahkluk itu.


Aku benar-benar terkejut dengan apa yang terjadi, itu artinya aku baru saja membebaskan mahkluk yang terkurung dalam cermin itu. Lalu apakah yang terjadi barusan padaku itu hanyalah ilusi, bagaimana aku di perdaya oleh mahkluk ini.


"Metu o seko kono , rogo mu saiki nggo aku!" ( Keluarlah dari sana , raga mu sekarang milik ku!) Mahkluk itu berteriak lalu menggerakkan rambutnya kembali ke arah ku.


Aku sebisa mungkin menghindar, tubuhku ku jatuhkan ke tanah untuk menghindari serangannya. Mahkluk itu tidak berencana untuk menyerah, dia sudah menargetkan ku dan akan tetap mengincar ku sampai dia dapatkan.


Rambut yang bergerak itu menjerat pergelangan kaki ku, gerakan nya begitu cepat aku sampai tidak menyadari sekarang tubuh hampir setengah nya sudah tertutupi rambut. Aku berguling ke arah kanan mencoba meraih pecahan kaca lukisan, namun lagi lagi kalah cepat dengan mahkluk itu, dia lebih dulu menyadari niat ku. Sekarang aku hampir kehabisan nafas karena rambut itu melilit begitu erat, sedikit lagi seluruh tubuh ku akan hancur.


Aku menyerah sudah tidak ada harapan lagi, rambut yang melilit itu semakin menebal. Ujung ujung rambut itu mulai bergerak, mereka mencari celah lalu masuk kedalam indera indera ku. Aku tidak bisa melihat lagi segala nya menjadi gelap, aku bisa merasakan helaian helaian tipis itu masuk kedalam mataku, masuk ke dalam telinga,masuk ke dalam hidung dan mulut ku. Mereka bergerak cepat turun melalui leher dan memenuhi seluruh pembuluh darah.


Ini telah berakhir, rasa sakit sudah tak tertahankan saat jiwa mu di paksa pergi dari raganya. Aku tidak tahu apa terjadi dengan tubuh ku, yang jelas saat ini aku berada dalam kegelapan tanpa cahaya sedikitpun, terperangkap disini entah sampai kapan.

__ADS_1


__ADS_2