Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 39: Malam hari


__ADS_3

Jam dinding berdetak, Ruang IV koridor melati masih dipenuhi dokter dan perawat. Alingga menunggu dengan gelisah, sudah setengah jam masih belum ada kepastian apa yang sedang terjadi di dalam sana. Perawat membalut luka di kaki mas Yanto dengan kain Kasa hingga beberapa lapis, Dokter memeriksa beberapa catatan untuk memastikan kondisi pasien nya stabil.


Seorang perawat menemui Alingga, membawakan pesan dari dokter yang menangani mas Yanto. Alingga segera menemui dokter.


“Bapak wali dari pasien?” Dokter bertanya dengan sopan.


“Benar, apa yang terjadi dengan teman saya?”


“Baik, Pasien mengalami syok hipovolemik akibat tubuh yang kehilangan begitu banyak cairan!”


“Cairan? “


“Benar pak, pasien mengalami luka bakar yang cukup serius sehingga kehilangan banyak darah. Kami sedang mengusahakan untuk mendapatkan pendonor yang cocok dengan darah beliau.”


Alingga terdiam, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Luka bakar apa yang dimaksud oleh dokter ini.

__ADS_1


“Luka bakar bagaimana dok?” Mata Alingga memicing, otaknya berusaha keras untuk berfikir.


“Beberapa saat yang lalu salah satu perawat kami menemukan pasien yang kondisinya sudah seperti itu, namun anehnya, hanya tubuhnya saja yang terbakar sedang seprai dan barang di sekitarnya baik baik saja. Kami pihak rumah sakit juga tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi, secara logika Pasien yang sedang dalam tahap pemulihan tidak mungkin bisa bergerak bebas, ini masih menjadi misteri yang belum bisa kami pecahkan.”


Alingga terdiam, matanya memandang punggung dokter yang sudah berjalan menjauh. Mas Yanto terbaring di ranjang rumah sakit dengan perban yang membalut seluruh kakinya, dia masih pingsan, Alingga masuk kedalam memastikan sendiri keraguan nya.


Di dalam ruangan Alingga menatap getir, kekosongan tergambar dari sorot mata nya yang tajam, beberapa kali ia menggertak gigi nya kuat kuat, melampiaskan kekesalannya Selama ini. Mas Yanto sudah mulai mendapatkan kembali kesadarannya, wajahnya linglung, nyeri di area perut masih belum reda kini ia harus menahan perih di sekujur tubuhnya.


Mas Yanto ingin mengatakan sesuatu, ia menatap Alingga berharap ia mengerti apa yang diinginkannya, tentu saja Alingga mengerti, ia segera mendekatkan telinganya tepat di depan wajah Mas Yanto. Mas Yanto memang tidak mengetahui siapa perempuan berkebaya merah yang sebelumnya mendatangi nya, namun dengan penjabarannya yang detail alingga dapat memahami Siapa yang dimaksudkan nya.


Pukul 1 malam, Alingga masih terjaga. Lampu lampu di luar kamar terus berkedip-kedip, lorong sepi, keheningan total di tengah kota metropolitan. Di seberang kamar IV halaman bunga dapat terlihat, dari jendela besar di dinding Utara halaman itu diguyur hujan rintik-rintik.


Alingga membuka buku bersampul coklat yang sebelumnya ia bawa dari rumah mbah Slamet, halaman demi halaman ia buka. Di halaman yang terakhir alingga melihat sesuatu yang begitu mengejutkan, sebuah ritual lebur Sukma disebutkan dengan tulisan yang sangat besar. Hitam dan putih saling berkaitan, tidak seperti halaman-halaman sebelumnya, di halaman ini tertulis apa-apa saja yang diperlukan untuk memutuskan sebuah simpul Pati.


Alingga mencoba memahaminya lagi, dia harus mengumpulkan boneka lewung yang tersebar di beberapa tempat. Para pengabdi menggunakan boneka ini untuk menahan Sukma dari para tumbalnya, semakin banyak tumbalnya maka akan semakin besar pula kekuatan yang didapatkan.

__ADS_1


Alingga tampak berpikir dia tidak tahu di mana Wijaya menyembunyikan semua boneka itu. Dari sekian banyaknya hal yang ia pahami, Wijaya bukanlah orang yang mudah ditebak, ia pasti sudah mengantisipasi segalanya terutama sesuatu yang sangat berharga itu tidak mungkin diletakkan di tempat yang sembarangan. Satu-satunya orang yang dapat memberinya petunjuk telah tiada, entah siapa lagi saat ini yang bisa membantunya menyelesaikan tugas nya.


Sebuah tatapan tajam menyorot alingga dari bola matanya yang putih. Sesosok makhluk berdiri di seberang jendela, berusaha menunjukkan kekuatannya, memberikan teror dari wujudnya yang tak beraturan. Namun, sayangnya tidak berhasil. Alingga tidak goyah, bibirnya mulai berkomat-kamit sembari menatap makhluk itu, menunjukkan keberaniannya. Alingga bukanlah dukun, maupun orang sakti mandraguna. Namun, sesuatu mengalir dalam darahnya bukan kekuatan yang didapat tanpa usaha, tapi kekuatan yang ia pelajari bertahun-tahun lamanya, hingga menumbuhkan buah emas yang sekarang dapat dipetik saat ia membutuhkannya.


Entah apa yang bisa dilakukan oleh makhluk itu, auranya tidak terlihat bersahabat, kebencian tumbuh subur tanpa dipupuk apapun. Alingga memuntahkan darah, dadanya sesak dan kesulitan bernafas. dia mencengkeram kuat kerah bajunya, matanya dipenuhi tekad.


Makhluk hitam Nan tinggi, merangkak di langit-langit rumah sakit. cairan kental kehitaman menetes sepanjang ia melintas, aromanya busuk, siapapun yang menciumnya tidak akan tahan meskipun hanya sedetik di tempat itu.


Alingga sadar posisinya tidak menguntungkan, jika ia melanjutkan perlawanan mungkin akan ada lebih banyak lagi makhluk yang menyambangi rumah sakit. Bukan hantu penasaran yang bergentayangan, namun para iblis yang berusaha merebut jiwanya, untuk kesempurnaan ritual mereka.


Alingga mundur mendekati Mas Yanto, selagi di sini dia tak dapat berbuat banyak. Alingga membuat lingkaran perisai untuk melindungi mereka dari makhluk makhluk jagat lelembut, ia menyiramkan sebuah air di dalam botol kecil membentuk lingkaran di sekitarnya. Dia tidak tahu cara itu berhasil atau tidak— Tapi, ia tetap melakukannya karena hanya itu cara satu satunya yang ia pikirkan.


Mas Yanto mendengar kebisingan yang dibuat Alingga, saat matanya terbuka, tepat di atasnya sebuah makhluk hitam berusaha mencabik-cabik tubuh lemahnya. Namun, sesuatu menghalangi agar makhluk itu tidak semakin dekat, mungkin saja cara Alingga berhasil. Setidaknya untuk saat ini mereka aman, tapi tidak ada jaminan cara ini akan bertahan untuk waktu yang cukup lama.


Tirai biru ditarik secara paksa, menghalangi wujud makhluk-makhluk berbagai bentuk. Alingga menatap dari balik tirai sosok-sosok yang berdiri berbaris rapi berusaha menembus pertahanan terakhirnya. Mereka masih belum menyerah, mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menembus Perisai itu.

__ADS_1


Jika saja Alingga bergerak lebih cepat, tentu saja segala nya tidak akan serumit ini. Ia juga ikut andil dalam kematian mbah Slamet, seharusnya dia tidak meninggalkan orang tua itu di saat yang tengah genting seperti ini. Seharusnya Alingga bisa mendapatkan petunjuk yang lebih banyak lagi dari mbah Slamet. Apalah daya semua telah terjadi, tidak ada yang perlu disesali, takdir manusia telah ditentukan oleh sang maha pencipta. Hanya tergantung manusia itu sendiri, bagaimana ia akan mengubah takdir yang menjeratnya dalam lingkaran tanpa ujung.


__ADS_2