
Lorong panjang di koridor melati tampak sepi, tanpa penghuni. Pagi itu Alingga sudah bersiap-siap, tas ransel sudah dibereskan, ia menunggu kedatangan Danu, temannya dari kabupaten.
Kondisi Mas Yanto sudah membaik , nyeri ditubuhnya perlahan-lahan menghilang, kini ia terduduk di atas ranjang, menghabiskan sarapan paginya yang terdiri atas nasi bubur dan semangkuk sup ikan.
"Mas Yan, njenengan ndak kenapa kenapa kan kalo saya tinggal?" Alingga bertanya setelah Mas Yanto menyelesaikan suapan terakhir nya.
"Mau kemana Ngga? " tanya Mas Yanto penasaran.
"Mau liat Syarif Mas, perasaan saya ndak enak sejak kemarin!" Alingga duduk di kursi di samping ranjang.
"Aku sih gak popo lek di tinggal, tapi kowe seng ati ati. Kondisi ne saiki rodo angel!" ( Kalau aku ditinggal sih gak kenapa-kenapa, tapi kamu harus hati hati. Kondisinya sekarang ini bahaya!)
"Nggih, Mas!"
Di tengah tengah obrolan mereka seseorang memasuki ruangan dengan setelan kemeja biru muda dan celana jeans hitam. Dia menyapa, lalu di sambut hangat oleh Alingga.
Permintaan Alingga tentunya memberikan tanda tanya besar dalam benak Danu, terlebih lagi sudah hampir satu tahun ini mereka tidak lagi saling berkomunikasi. Alingga punya kesibukan tersendiri begitu pula dengan Danu, dan pada akhirnya mereka dipertemukan lagi di kondisi Alingga yang sedang banyak masalah seperti saat ini.
"Lingga!" Danu tersenyum, merangkul sekejap temannya tersebut, lalu diakhiri dengan tawa dari keduanya.
"Gimana kabar njenengan?" tanya Alingga. Danu masih tertawa, namun suara nya tak sekencang tadi ia sadar masih ada diarea rumah sakit.
"Ya beginilah, Ngga."
"Nyuwun sewu nggih mas sudah ngerepotin, saya ada keperluan yang memang sangat sangat mendesak. Ini kalau bisa selama saya pergi saya mau minta tolong kalih njenengan jagain temen saya ini mas. " Danu menyimak ucapan Alingga, melirik kearah Mas Yanto terbalik, lalu menatap Alingga kembali.
__ADS_1
" Ndak usah sungkan, kamu udah mas anggep adik sendiri!"
"Suwun Nggih Mas, Saya minta tolong sanget! Nanti kalau urusan saya sudah selesai secepatnya saya balik kesini." ucap Alingga dengan senyum sumringah.
"Wes gak usah khawatir! Moso iyo gak percoyo karo mas mu iki." ( Udah jangan khawatir! Masa tidak percaya dengan abang kamu ini.) Danu berbicara Sembari menepuk pundak Alingga.
Sebenarnya Alingga tidak perlu khawatir jika menitipkan Mas Yanto pada Danu. Dia sendiri sudah tau bagaimana kemampuan Danu, namun tetap saja Danu belum Pernah berhadapan langsung dengan para penghuni alas ruwah, itulah yang membuat Alingga sedikit khawatir. Bagaimana jika Danu tidak mampu melawan iblis iblis itu sendirian, terlebih lagi Mas Yanto tidak memiliki kemapuan yang dimiliki mereka, tentunya Danu nantinya akan kelabakan.
Alingga segera menepis segala pemikiran buruk, ia juga punya urusan yang harus ia kerjakan. Dia berpamitan kepada kedua teman tersebut, meninggalkan ruangan, melangkah pasti meninggalkan segala kerisauan nya di belakang.
Sementara itu Danu tanpa memulai pendekatan dengan Mas Yanto, keduanya terlihat begitu akrab sampai pada akhirnya wajah keduanya menjadi masam. Pembicaraan mereka sampai pada peristiwa peristiwa sebelumnya, saat itu Danu menyadari kenapa Alingga begitu berputus asa sampai harus meminta bantuannya untuk menjaga temannya.
Danu juga menyadari, setelah terlibat dalam lingkaran ini ia tidak bisa kembali lagi. Mereka harus menyelesaikan masalah ini hingga ke akar yang telah menjadi penopang tumbuh nya pohon besar, hingga masalah itu selesai jalan nya akan sedikit berubah dari haluan awal pilihan nya.
"Nggak tau Mas, Alingga Ndak bicara secara langsung permasalahan nya. Tapi, dari yang saya curi dengar dari obrolan nya dengan Zainal, mereka pernah menyebutkan tentang Bolo pathi ingon keluarga Darmoloyo." Danu terdiam, mencari ingatan nya yang terpendam.
"Bolo Pathi?"
"Kalau Bolo pathi ada dalam genggaman Darmoloyo, tidak menutup kemungkinan yang dimiliki Wijaya adalah Bolo Laru, Salah satu dari lima iblis terkuat di alas ruwah." Danu termenung, mencoba menghubungi benang merah disetiap titik nya.
"Kenapa Bolo Laru mas?" tanya Mas Yanto. Danu melirik, menatap tajam dengan sorot wajah yang khawatir.
" Dari cerita yang Pernah saya dengar, salah satu dari kelima iblis tersebut tersegel di dalam sebuah cermin, dia memiliki kemampuan khusus yang dapat menguasai tubuh manusia. Tidak ada yang tahu sebutan untuk iblis itu, yang jelas kekuatan nya tidak bisa disepelekan."
"Lalu kedua iblis lainya Dimana? " tanya Mas Yanto penasaran. Danu memajukan kursinya, semakin dekat dengan ranjang Mas Yanto.
__ADS_1
"Ada yang bilang iblis itu adalah seekor ular besar, dia hidup ribuan tahun di dalam alas Ruwah. Belum ada yang bisa menjadikan dia ingon nya."
"Kenapa?" Danu tidak bisa menjawab pertanyaan Mas Yanto, hanya sedikit cerita yang ia dengar dari percakapan sesepuhnya dahulu.
"Terus yang satunya lagi?"
"Ada didalam gerbang Segoro!"jawab Danu singkat.
"Njenengan tau apa itu gerbang segoro?"
"Dunia nya para penganut aliran hitam, jiwa jiwa yang mereka gadaikan untuk mengabdi pada iblis iblis itu. Alas Ruwah sudah ada ribuan tahun lalu, dan para iblis itu selalu mencari mangsa baru yang bisa mereka perbudak!"
"Tapi, ada satu lagi kekuatan hitam terkuat, milik junjungan kelima iblis itu. Hanya segelintir orang yang mengetahui cerita ini. Mungkin saja itu tujuan Wijaya yang sebenarnya, dia ingin menguasai Alas ruwah sendirian." Banyak yang Mas Yanto tidak mengerti dari cerita Danu, cerita itu semacam dongeng semata, sayang nya dia mengalami sendiri kegilaan Wijaya, mau tidur mau Logika nya harus menerima.
"Hawa ne disini panah nggih mas? Saya mencium aroma aroma anyir." ucap Danu sepontan setelah menceritakan sedikit kisah tentang alas Ruwah.
Mas Yanto memeriksa di sekeliling, memang benar udara di dalam sana sangatlah pengap. Namun, ia tidak mencium aroma lain selain bau obat obatan dan alkohol.
"Saya ijin keluar sebentar, ndak papa kan mas?" Danu melangkah pergi setelah diizinkan oleh Mas Yanto. Sedangkan Mas Yanto kembali larut dalam lamunannya.
Danu pergi menuju ruangan disebelah ruangan Mas Yanto, didalam sedikit gelap, lampu di langit langit mati. Danu berhati-hati memasuki ruangan itu, perasaannya was was, dia merasakan aura tidak mengenakan dari dalam ruangan itu.
Disudut ruangan terhalang tirai biru, sebuah kaki terlihat di baliknya. Danu semakin tertarik untuk masuk, dia tahu di balik tirai itu pasti bukan manusia, meskipun begitu ia tetap ingin memastikan nya sendiri, mahkluk apa yang sudah menyapa nya pagi pagi begini.
Saat jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah lagi, tiba-tiba saja Danu terhenti, sepasang kaki itu kini bertambah, semakin banyak, semakin rapat, hingga tirai itu sedikit tersibak menampakan deretan mahkluk dengan tubuh yang membusuk.
__ADS_1