Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 47: Rumah Guru


__ADS_3

Matahari masih belum mau mengalah dengan awan, memanggang atmosfer bumi, menyisakan tanah tandus dengan tanaman yang mengering. Di jalanan lenggang Alingga berjalan, menyapa beberapa warga yang tengah lewat, lalu berhenti tepat didepan sebuah gubuk yang dikelilingi pohon jati.


Sebuah mobil terparkir di bawah sebuah pohon rindang, daun daun yang menguning menghiasi atap mobil dengan ditemani beberapa ranting patah. Alingga memasuki halaman, berhenti tepat di depan undakan tangga, melepas sepatu nya yang robek akibat pertarungan tadi.


Dia tak segera memasuki rumah, duduk di teras kayu, tenggelam dalam lamunan nya. Tanpa sadar waktu berlalu begitu cepat, Alingga tersadar saat Syarif meneriakkan namanya keras keras.


"ALI!!" Syarif merangkul Alingga yang membuat nya tersentak, lamunan nya buyar, raut nya mendadak kesal dengan sikap sahabat nya tersebut.


"Alingga !" Syarif tersenyum melihat respon Alingga yang kembali memarahinya. Syarif terlihat sangat senang saat melihat sosok sahabat nya lagi.


"Neng endi Mbah Ladi?" ( Dimana mbah Ladi?) tanya Alingga tanpa ber basa basi. Syarif melirik, sedikit mendengus. Setelah apa yang ia alami, Alingga malah datang tanpa bertanya sedikitpun kabarnya.


"Enek neng njero!" ( Ada didalam!) jawab Syarif singkat, lalu berdiri–memasuki rumah dan diikuti dengan Alingga.


Saat memasuki ruang depan, Alingga melihat sosok Zainal dan Laras yang tengah terbaring dengan diselimuti kain kafan. Alingga mendekat mencoba memeriksa kondisi temannya itu. Namun, ada hal yang terus terusan mengganggu pikiran nya. Apa yang terjadi dengan Laras, mengapa juga terbaring disini.


Syarif juga tak ingin menjelaskan. Namun, Alingga terus terusan mendesak nya. Pada akhirnya Syarif luluh juga.


Syarif bercerita bagaimana mereka dibuat tersesat di dalam gerbang segoro, mereka bertiga memasuki alam gaib saat tiba di ladang jagung. Alingga hanya manggut-manggut saat Syarif menceritakan pengalaman nya saat menuju desa laweh. Pantas saja perasaan nya akhir akhir ini sangat aneh, ternyata memang terjadi sesuatu disini.

__ADS_1


Alingga berdiri, berjalan masuk kedalam, berhenti di pintu kayu tepat didepan kamar milik mbah Ladi. Alingga mengetuk beberapa kali, mengucapkan salam sebelum akhirnya pintu itu berderit, menampakkan sesosok orang tua yang tengah berdiri dengan bantuan tongkat kayu.


"Lee.. " Alingga mencium tangan mbah Ladi setelah pintu itu terbuka. Mbah Ladi berjalan keluar, menuju ruangan depan, berhenti tepat di samping kedua tubuh tanpa jiwa itu berada.


"Merene Lee.., Mbah bade sanjang kalih tiang kalih" ( Kesini nak, mbah mau bicara sama kalian berdua,!)


Alingga dan Syarif saling pandang, Syarif menyenggol lengan Alingga dengan sikut nya, menyuruh nya mendekat terlebih dahulu. Pada akhirnya Alingga yang mengalah. Lagipula masih banyak hal yang ingin dirinya tanyakan pada gurunya tersebut.


"Nggih Mbah." Alingga duduk tepat disebelah mbah Ladi, dengan posisi kaki yang bersila.


"Masalah ingkang panjenegn hadapi niki sanget ageng! Mbah namung saget bantu ngaantos seniki. Kedepan e panjenengan saget ngandelke dhiri kiyambek kange nyeleksek ke nipun! Mbah nasehati ngeh, lee! Ampun ngejorake ketakutan niku nguasani hati nurani panjengan" (Masalah yang kalian hadapi ini sangat berat! Mbah cuma bisa bantu Sampai disini. Kedepannya kalian harus mengandalkan diri sendiri untuk menyelesaikan nya! Mbah Nasehat ya, Nak! Jangan biarkan ketakutan itu menguasai hati nurani kalian.)


"Ngeh mbah , kulo eling" ( Iya Mbah, akan saya ingat!)


Mbah Ladi menghela nafas panjang, meraih kelopak bunga mawar yang sudah mengering dihadapan nya.


"Lewung niku kedah njenegan kumpulake sedereng e wulan purnomo selasa legi! Sederenge wijaya kasil ngumpulake tumbal kesatus e, gerbangniku kedah di tutup. Njenegan juga kedah ngumpulake pitu toya murni saking pitu papan sakral! Pas sedanten lewung lan kepitu toya nuki sampun njenegan angsal, gowonen dateng lebet gubuk ing alas ruwah"


(Lewung itu harus kamu kumpulan sebelum bulan purnama Selasa legi! Sebelum Wijaya berhasil mengumpulkan tumbal keseratus nya, gerbang itu harus ditutup. Kamu juga harus mengumpulkan Tujuh air murni dari tujuh tempat sakral! Saat semua Lewung dan ketujuh air itu sudah kamu dapatkan, bawa semuanya kedalam sebuah gubuk di alas ruwah!)

__ADS_1


Alingga mendengar kan ucapan mbah ladi dengan seksama, begitu pula dengan Syarif, dan seorang lagi yang tengah menguping pembicaraan mereka dari dalam kamar tidur. Alingga mencatat poin poin penting, tidak ada sedikitpun detail yang ia lupakan untuk masalah yang serius ini.


"Nggih mbah, kulo sanggup!" ( Iya mbah, saya sanggup!) jawab Alingga dengan mata menuju pergelangan tangan Zainal. Melihat sahabatnya terbaring seperti itu, hatinya semakin di iris iris.


Mbah Ladi meminta Boneka Lewung yang ada dalam tas Alingga. Alingga sedikit kebingungan, bagaimana bisa mbah Ladi tau dia yang membawanya. Alingga tau ilmu gurunya jauh diatas nya, tapi tetap saja dia terpana saat gurunya menunjukkan sesuatu yang tidak masuk akal.


Alingga membuka tas ransel, mengeluarkan kotak yang dibalut kain merah. Kotak itu ia serahkan kepada mbah Ladi, yang kemudian orang tua itu bawa masuk kedalam kamarnya. Alingga membantu nya berdiri, lalu berhenti di depan pintu saat mbah Ladi melarang siapapun mengganggu nya. Dia kembali duduk, menyandar kan kepalanya di dinding kayu.


Alingga mengingat ingat kembali ucapan mbah Ladi, bagaimana caranya mendapatkan semua Lewung itu, dia sendiri tidak tahu dimana tempat nya. Meskipun dia tahu, tidak mungkin tempat itu tidak dijaga oleh antek antek nya Wijaya. Kepalanya hampir meledak, begitu pula dengan Syarif yang duduk mematung setelah mendengar ucapan mbah Ladi.


Keduanya terdiam, tanpa sadar tubuh Zainal mulai bergetar. Alingga tersentak saat melihat Zainal meronta ronta dihadapan nya. Alingga melihat sesuatu yang janggal, sebuah asap hitam keluar dari tubuh Zainal. Syarif pun demikian, ia melihat tubuh sahabat nya yang mulai kejang kejang. Namun, bedanya Syarif tidak melihat asap itu.


Beberapa menit kemudian sesosok mahkluk hitam berdiri disudut ruangan, tubuhnya diselimuti lendir yang menetes. Pupil mata Alingga membesar, bukan hanya, satu beberapa mahluk lagi keluar dari tubuh Zainal dan berdiri sejajar disudut ruangan.


Alingga mengepalkan tangannya. Syarif yang melihat gelagat aneh Alingga mencoba menyadarkan Alingga yang terlihat sangat marah. Saat itu Alingga teringat kembali ucapan Mbah Ladi, "Rasa takut dan amarah hanya akan membuat mu tenggelam dalam kegelapan" .


Alingga mundur, tubuhnya jatuh kelantai. Syarif segera menyadarkan Alingga yang tengah dikuasai Amarah. Syarif tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia sama sekali tidak melihat apa yang Alingga lihat. Dia hanya bisa membantu Alingga menahan Amarahnya.


Sementara itu seseorang yang tengah menguping dari dalam kamar tidur tampak gemetaran, ia melihat Alingga dan Syarif dari lubang kecil di dinding kayu. Tiba tiba saja pandangan nya terhalang oleh sesuatu. Orang tersebut mendekat kan matanya pada lubang, mencoba melihat keadaan diluar. Namun, sesuatu mengejutkan nya, Sebuah bola mata membusuk terlihat dari lubang kecil di dinding itu. Orang itu terjengkang–Ambruk, kepalanya menatap dipan kayu hingga tidak sadar kan diri.

__ADS_1


__ADS_2