Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 48: Kembali


__ADS_3

Angin berhembus, udara pagi membeku kan tubuh dingin Danu. Di dalam ruangan 5x7 meter tersebut dia bergeming, menatap tirai biru dihadapannya. Ada perasaan tak nyaman yang meminta nya untuk mundur, namun, sesuatu menahan kakinya agar tak lebih jauh lagi melangkah.


Danu memejamkan mata, bibirnya berkomat kamit beriringan dengan mahkluk mahkluk hitam yang mulai mendekati nya. Cahaya matahari tak mampu membuat mahkluk mahkluk itu gentar, semakin berani, semakin mendekati tubuh Danu yang tengah mematung di tengah tengah ruangan.


Saat matanya terbuka, satu mahkluk berhasil menggapainya. Lendir yang keluar dari pori pori tubuhnya menempel pada kemeja Danu. Danu terkesiap, mengeluarkan sebuah keris yang ia selipkan di pinggangnya. Keris yang Danu pegang bergetar, seolah olah haus akan darah segar.


Danu memiliki kontrol yang cukup bagus. Saat keris itu meronta ronta meminta dilepaskan, Danu segera menebaskan keris tersebut kearah mahkluk mahkluk hitam itu yang masih belum menyerah untuk menyerang nya. Setiap mahkluk yang terkena serangan dari Danu, mereka semua terkapar, mengejang sesaat, lalu menghilang tanpa jejak.


Sayangnya, mahkluk mahkluk itu juga tidak mau kalah begitu saja, dari sudut kanan Danu, mahkluk hitam itu melompat, menerjang tubuh Danu hingga terguling di lantai. Danu menghindar saat makhluk itu ingin menebas lehernya dengan cakar cakar nya yang tajam. Dalam satu gerakan keris yang dibawanya, Danu berhasil menancapkan keris itu tepat di tulang tengkorak mahkluk tersebut. Dia ambruk, lalu menghilang menyusul teman temannya yang sudah lebih dulu dikalahkan oleh Danu.


Danu menghela nafas, belum lama ini dia terlibat dengan masalah Alingga, sudah banyak kejadian tak masuk akal yang menghampiri nya.


Danu melirik ke arah tirai biru, menatap tajam, sedikit berujar. Otaknya di paksa berfikir lebih keras dibandingkan sebelumnya. Danu melangkah meninggalkan ruangan itu yang tanpa dia sadari, seorang gadis tengah bersembunyi tepat di balik pintu, wajahnya pucat, mengenakan dress tosca dan bertelanjang kaki. Setelah Danu menutup pintu, gadis itu ikut lenyap bersamaan dengan langkah kaki Danu yang semakin menjauh.


Sementara itu di dalam kamar tempat Mas Yanto berada, dia kembali di kunjungi seseorang.

__ADS_1


Wajah Mas Yanto pucat, seseorang yang mengunjungi nya benar benar di luar dugaan. Lelaki itu berdiri tepat di samping ranjang, mengenakan pakaian serba hitam, membisikkan sesuatu pada telinga Mas Yanto. Sosok yang mengunjungi nya segera pergi saat mendengar langkah kaki yang mendekat, dia berlari, melompat dari jendela belakang, mendarat diatas hamparan rumput lalu menghilang dari pandangan Mas Yanto.


Saat Danu kembali, Mas Yanto berpura pura sedang tertidur. Danu tidak menaruh curiga sedikitpun, ia duduk di kursi di samping ranjang, memeriksa pesan masuk dari handphone nya, berdiam seolah tak pernah terjadi apa apa.


...***...


Zainal terbangun. Matanya terbuka lebar dengan jari jari tangannya yang meremas. Alingga yang berada tepat di sampingnya mencoba menekan dahi Zainal, dia mulai berteriak, sakit di tubuhnya tak mampu lagi ia tahan. Peluh di tubuhnya mengalir deras, dari matanya mengalir bulir bulir bening air mata, Zainal semakin keras meraung raung. Zainal ambruk, saat tangan Alingga berhasil menekan titik tengah di bagian kening nya.


Bibir Alingga bergetar, ia tak sanggup lagi melihat kondisi Zainal yang sudah seperti mayat hidup.


Alingga membaca sebuah mantra, bibir nya terdiam, tapi matanya dapat menunjukkan sesuatu yang tengah dilakukan nya. Perlahan-lahan mahkluk mahkluk itu mulai berteriak, suara memekakkan telinga menjatuhkan beberapa barang dari gelombang suara mahkluk mahkluk itu. Beberapa guci tanah liat di atas meja jatuh—pecah.


Mahkluk mahkluk itu berubah menjadi asap, membumbung tinggi, melewati angin angin jendela, lalu lenyap di panggang matahari. Namun, sepertinya kondisi Alingga juga sedikit buruk, saat terbatuk, darah segar juga ikut keluar dari mulut Alingga. Syarif yang berada di samping menghampiri, menegakkan tubuh Alingga yang tengah berlutut.


"Gakpopo Rip!" ucap Alingga saat Syarif menghujani nya beberapa pertanyaan, kondisi nya tidak terlalu bagus. Jika dia gagal mengusir mahkluk mahkluk itu, Jiwa Zainal tidak akan bisa kembali kedalam raganya kembali.

__ADS_1


"Enteni wae, diluk engkas wes rampung!" ( Tunggu saja, sebentar lagi juga selesai!) lanjut Alingga berusaha melarang Syarif untuk ikut campur. Memang benar sebentar lagi akan selesai, Tubuh Zainal sudah menunjukkan tanda-tanda adanya kehidupan. Meskipun masih lemah, namun Alingga yakin Zainal akan segera sembuh.


Syarif mengambil sesuatu dari arah belakang, segelas air putih yang ingin dia berikan kepada Alingga. Namun, sesuatu menarik perhatian nya. Saat dia hampir sampai pada undakan tangga di dekat dapur, dia melihat Sopir yang mengantarkan nya tergeletak di bawah dipan. Kepala bagian belakangnya mengeluarkan darah, Syarif buru buru memeriksa kondisi sopir tersebut.


Syarif dapat menghela nafas lega saat memastikan sopir itu baik baik saja, dia hanya pingsan akibat dihantam benda keras di bagian belakang kepalanya. Syarif mengangkat tubuh sopir itu dan membaringkan nya diatas dipan.


Sementara Syarif masih sibuk di dalam kamar, pintu kamar Mbah Ladi sudah terbuka. Orang tua itu berjalan dengan bantuan tongkat nya , menghampiri Alingga, memberikan Boneka itu kepadanya.


Alingga sebenarnya sedikit bingung saat Mbah Ladi memberikan Lewung itu kepada nya lagi. Namun, kebingungan nya segera terjawab. Mbah Ladi meminta Alingga untuk segera membakar boneka itu, dia juga berpesan untuk tetap mengawasi Zainal selagi belum sadarkan diri.


Setelah menyampaikan amanat nya, Mbah Ladi kembali masuk kedalam kamar. Langkahnya sedikit tersendat karena tubuhnya yang memang sudah sangat renta. Kaki yang digunakan untuk menopang tubuh sudah seperti akar keropos. Namun, mbah Ladi tidak sedikitpun meminta belas kasihan dari siapapun. Dia sudah hidup cukup lama, dia sudah siap jika sewaktu-waktu ajal menjemput nya untuk kembali kepada sang pencipta.


Alingga mengerti yang dimaksudkan Mbah Ladi, ia segera menjalankan tugas yang diberikan. Di halaman depan, Alingga mengumpulkan beberapa ranting dan dedaunan kering, semuanya ia tumpuk diatas Lewung itu. Saat api menyala, sorot mata Alingga tampak berbinar. Ada sedikit harapan dari matanya yang sudah beberapa hari ini muram. Sedikit senyum terlukis dari wajahnya, Syarif yang menatapnya dari balik jendela pun ikut tersenyum menyambut kembalinya Zainal.


Alingga masih belum bisa berpuas diri. Akar permasalahannya masih belum ia bereskan. Jika nanti mereka berhasil lepas dari simpul pati, segala nya yang telah tertinggal dibelakang tak bisa lagi mereka ulang. Kehidupan biasa, kehidupan layaknya orang normal tak bisa lagi mereka rasakan, ada pengalaman dan kenangan yang selalu membayangi dan tentunya menjadi pembelajaran tersendiri untuk setiap kekurangan yang mereka miliki.

__ADS_1


__ADS_2