Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 36: Kampung


__ADS_3

Tengah malam di koridor melati, lampu redup disepanjang lorong menyiut nyali siapapun yang melewati lorong tersebut. Seorang perawat muda membawa nampan obat dengan penuh kehati-hatian, langkah nya bertempo menampkan aura anggun dari wajah ayu dan bibir yang merona.


Sebuah teriakan histeris terdengar dari ruangan bernomorkan IV. Perawat itu segera berlari menuju tempat asal suara tersebut. Sayang nya saat perawat itu tiba, suara itu sudah tak terdengar lagi.


Pintu berderit, ruangan luas dengan beberapa ranjang rumah sakit yang masih kosong. Dari ke enam ranjang, hanya ada satu ranjang yang ditempati pasien.


Sang perawat begitu panik saat mendapati selang infus yang sudah tak ditempatnya lagi, belum lagi kondisi pasien yang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sang perawat buru buru menghubungi dokter yang bertanggung jawab atas pasien ini, selang tak berapa lama rombongan dokter pun mulai berdatangan.


Alingga masih berjalan santai di lorong rumah sakit, ia masih belum menyadari kondisi mas Yanto yang sekarang sangat kritis. Ia berjalan melewati koridor mawar lalu selanjutnya koridor anggrek. Sebenarnya ia sudah tiba sedari tadi, namun ada sesuatu yang harus ia urus sehingga terlambat mengunjungi mas Yanto.


Saat Alingga tiba diruangan mas Yanto, ruangan itu sudah dipenuhi beberapa perawat yang sedang menangani Pasien nya. Salah seorang perawat meminta Alingga untuk menunggu di luar ruangan. Alingga bersikukuh untuk masuk namun sang perawat juga begitu kokoh benteng pertahanan nya, akhirnya Alingga mengalah dan menunggu di luar ruangan.


***


Cahaya kemerahan masih terlukis di langit senja, angin sepoi-sepoi menggoyangkan dedaunan di hamparan ladang jagung. Dua orang saling pandang untuk waktu yang cukup lama, keduanya sama sama memasang ekspresi bingung.


Syarif kembali memeriksa bumper mobil yang sebelumnya telah diperiksa sang sopir, Namun hasilnya tetap sama, tidak ada sedikitpun goresan di bagian itu.


"Mas.. Itu disana!" ucap sang sopir sambil menunjuk kearah jalan tanah.


Syarif melihat kearah yang ditunjukkan, seorang wanita tergeletak di tanah berdebu.

__ADS_1


"Mbak Laras!" Syarif terburu-buru berlari kearah wanita itu.


Kondisinya terluka parah, laras setengah tersadar saat Syarif mengangkat tubuhnya untuk dibawa kedalam mobil. Luka di telapak tangan nya masih meneteskan darah, Syarif membalut luka itu dengan pakainya untuk menghentikan darah yang tak henti-hentinya menetes.


Sang sopir segera menjalankan kendaraan nya menuju desa laweh di ujung jalan ini. Memang bukan jarak yang jauh, sehingga mereka bisa tiba di desa itu hanya dalam waktu belasan menit.


"Darah rendah iki!" ucap Syarif spontan.


Sang sopir melirik ke arah syarif dengan raut wajah yang sulit dibaca. "Kurang Darah!" ucap nya singkat dengan pandangan yang masih fokus ke depan.


Syarif masih memandangi kearah kursi belakang, entah apa yang begitu mengganggu pikirannya hingga tatapan nya menjadi kosong.


Syarif punya kenangan buruk dengan masalalu nya, kehidupan jalanan yang keras membuatnya di ekploitasi oknum oknum tak bertanggung jawab. Namun, suatu keajaiban ia dapat keluar dari lubang hitam yang melemparkannya dalam ruang hampa, ia di adopsi oleh keluarga yang cukup berada hingga dapat mengenyam pendidikan tinggi di bandingkan teman teman sebayanya.


"Mas.. ini sampe dimana saya nganter nya?"


"Ya sampe tujuan, emang sampean mau di tengah jalan nanti kejadian lagi?" jawab Syarif santai. Sang sopir tampak berfikir sejenak, ia bergidik saat mengingat kejadian sebelumnya.


"Rumah di ujung sana mas, yang ada pohon bambunya!" ucap Syarif sambil menunjuk ke sebuah rumah kayu yang dikelilingi pohon jati dengan pagar bambu.


Mobil hitam segera memasuki pelataran rumah yang ditumbuhi sedikit rumput liar. Di bawah pohon jati mobil itu terparkir. Syarif mengangkat zainal dari pintu sebelah kiri, ia menyandarkan nya pada tiang di teras rumah.

__ADS_1


Tidak ada siapapun disana, Namun pintu dan jendela terbuka lebar. Syarif menatap palangan di sudut halaman, ingatan nya kembali diputar saat ia dan Alingga di paksa bergelantungan dengan kepala berada dibawah. Ia kerap kali dihukum karena terlalu banyaknya kesalahan yang ia buat.


Selang beberapa menit seorang pria yang sudah sangat sepuh keluar dari dalam rumah dengan bantuan tongkat kayu. Perawakannya kurus dengan rambut yang sudah beruban.


"Mbah.. " Syarif segera berdiri membantu mbah ladi untuk duduk.


"Wes, Gak usah!" ucap orang tua itu lembut.


Mbah ladi meletakkan tongkat nya tak jauh dari tempatnya duduk, ia memejamkan mata dan mengatur nafasnya setenang mungkin.


"Enek opo?" Syarif tak langsung menjawab. Namun, sepertinya mbah ladi sudah tau apa yang terjadi saat menatap tubuh Zainal di dekat tiang. Ia kemudian mengisyaratkan agar Syarif mendekat kan tubuh zainal.


"Gapopo iki! Ben Alingga tuntaske disek." ucap mbah ladi dengan tenang. Ia menekan dahi zainal untuk beberapa saat sebelum mengatakan Zainal baik baik saja.


Syarif bisa tenang tidak seperti sebelumnya yang selalu was was. Semua ini bermula dari dirinya, jika ia tak pernah mengambil kost kostan murah seperti itu tentunya Zainal juga tidak akan terseret kedalam masalah ini. Namun, ia juga bersyukur dengan begitu mereka bertiga bisa berkumpul lagi.


Syarif mengambil sebuah mangkuk garam dari dalam dapur, ia diperintahkan oleh mbah ladi untuk menaburi sekeliling rumah dengan garam sebanyak tiga putaran. Saat itu mbah ladi merasakan aura yang tidak mengenakan yang dibawa tamu tamunya ini. Namun, bukan berarti hanya dengan segenggam garam mahkluk mahkluk alam sebelah dapat ditaklukkan, garam itu hanya menghambat agar auara hitam tak dapat menyentuh apapun yang ada didalam nya


Malam itu setelah Syarif menyelesaikan tugas nya menabur garam di sekeliling rumah, mbah ladi masuk kedalam kamar nya, ia tidak mengizinkan siapapun masuk. Sedangkan mereka berempat, duduk diruang tengah hanya dengan beralaskan tikar.


Laras mereka baringkan tepat disamping Zainal, mereka diselimuti sebuah kain kafan yang menutupi ujung jari kakinya sampai ke ujung rambut mereka. Syarif ditugaskan untuk menjaga mereka, begitupula dengan sang sopir yang sebelumnya tidak tahu apa apa sekarang ia juga ikut terlibat. Sebenarnya bisa saja setelah mengantarkan Syarif ketempat tujuan nya ia kembali. Namun, sopir itu merasa takut jika kejadian yang sama akan terulang lagi kepadanya, jadi ia memilih untuk tetap tinggal, setidaknya sampai masalah yang menyeretnya benar benar selesai.

__ADS_1


Tubuh Zainal mengejang bersamaan dengan angin diluar yang mengamuk menghantam jendela dan pintu kayu, begitupula dengan laras kondisinya tidak jauh berbeda dengan Zainal, seolah olah ada aliran listrik yang menyengat tubuh mereka memaksa organ organ dalamnya berhenti bekerja.


Syarif tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya diminta menjaga, ia juga tidak berani melaporkan nya kepada Mbah Ladi. Syarif hanya duduk menatap sahabatnya sedang berjuang lepas dari maut.


__ADS_2