Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 52: Hilang


__ADS_3

Matanya perlahan terbuka, menelisik di sekitar. Danu masih tergeletak di lantai, tepat di lorong rumah sakit di koridor melati. Ia sudah pingsan beberapa jam, hingga malam menjelang tidak ada seorang pun yang mau membangun kan nya. Bukan karena tidak mau, tapi karena memang tidak ada yang melihat Danu.


Danu memijat mijat kepalanya, rasa berdenyut terus terus membuat tubuh nya sulit di seimbang kan. Udara dingin menyapu, membuat tengkuknya bergidik.


Dia telusuri lorong itu, hingga tiba pada sebuah ruangan. Ia masuk perlahan, menyaksikan ranjang rumah sakit yang tampak kosong. Disekitarnya masih tertata rapi, tidak ada tanda tanda pertempuran, hanya saja tempat itu dipenuhi debu. Danu bepikir keras, menelisik Kembali ingatan nya. Kamar bernomorkan IV koridor melati terpampang jelas di hadapan nya, tapi anehnya, seperti tak pernah ada kehidupan di dalam sana.


Danu menyerah, ia pergi, berjalan di setiap lorong rumah sakit, memeriksa setiap ruangan, hingga tiba di ruang jaga perawat. Seorang perawat berparas ayu menyapa nya, menawarkan bantuan saat melihat raut wajah Danu yang kacau.


"Mas nya lagi cari apa?" tanya perawat itu dengan senyum di wajahnya. Danu masih belum menanggapi, mengatur nafasnya hingga benar-benar tenang.


"Pasien di Ruangan Melati, di pindahkan kemana ya?" tanya Danu ngos ngos an. Perawatan itu mengambil buku administrasi, membolak-balik an halaman nya untuk menemukan yang di cari Danu.


"Atas nama siapa, Mas?" tanya sang perawat masih dengan senyum yang mengulum. Danu tampak berfikir, mengingat ingat kembali, sayangnya ia melupakan nama seseorang yang tengah dijaganya. Danu memeriksa ponsel, mencari riwayat pesan dari Alingga.


"Mas Suyanto, Mbak!" ucap Danu setelah memastikan nya dari riwayat pesan Alingga. Sang perawat segera memeriksa, lembar demi lembar ia balik. Hingga sampai pada lembar terakhir, perawat itu belum juga menemukan yang di carinya.


"Tidak ada pasien dengan nama Suyanto, Mas! " ucap perawat itu setelah memeriksa buku nya.

__ADS_1


"Pakai Mas, Mbak! Namanya ada Mas nya."


Sang perawat kembali membuka buku itu, mencoba menemukan nya, tapi sayangnya hasilnya masih sama.


"Iya, Mas. Sudah saya cari tapi tidak ada pasien dengan nama Mas Suyanto! Memang nya pasien Dirawat dimana sebelumnya, Mas?" tanya sang perawat.


"Melati, Ruangan Melati dekat pohon beringin belakang sana!" jawab Danu tanpa banyak berpikir. Sang perawat mengernyitkan alisnya, ia sedikit bingung dengan jawaban Danu.


"Maaf sebelumnya, Mas. Tapi itu Ruangan Melati yang Lama. Sudah dua tahun tidak dipakai, beberapa ruangan sudah dijadikan gudang! Sekarang yang kami gunakan adalah bangunan baru di dekat poli Anak. Mungkin mas nya salah baca." ucap Perawat itu dengan nada serius. Mendengar jawaban sang perawat tentu saja ia tidak percaya. Sudah seharian ini ia berada di dalam ruangan itu, mana mungkin bisa salah.


Danu masih bersikukuh dengan keyakinan nya. Karena tidak kunjung mengerti juga, akhirnya sang perawat mengajak Danu untuk melihat sendiri kondisi Ruangan Melati yang ia perdebat kan.


Mereka berdua berjalan, Danu mengekor sedang kan perawat itu berjalan jauh di depannya. Mereka melewati Lorong, lalu berhenti di depan sebuah bangunan yang terpisah dari bangunan utama. Sebuah papan nama berwarna hijau dengan tulisan Ruangan Melati yang sudah luntur terpampang di hadapan nya.


Danu mengedip, mengucek ucek matanya berkali-kali. memang benar ini Ruangan nya, tapi kondisi sebelumnya tidak seperti ini. Sang perawat membawa Danu untuk melihat Ruangan IV tempat yang disebutkan nya sebelumnya, hingga sampai di depan ruangan itu, mata Danu dibuat kembali tidak percaya.


Dihadapan nya hanya ada beberapa Ranjang yang sudah lusuh, ada beberapa pula yang sudah rusak hingga isinya nya bertebaran di lantai. Danu masih tidak percaya, lalu yang dia alami sebelumnya apakah hanya imajinasi semata, apakah Mas Yanto tidak pernah ada di sana bersama nya? Kepala Danu sakit, dia ingin mempercayai Semua ini, tapi pesan dari Alingga itu nyata, lalu bagaimana mungkin Mas Yanto bisa lenyap begitu saja?

__ADS_1


"Ini Ruangan yang Panjenengan bilang barusan, seperti ini kondisinya. Tidak mungkin ada pasien yang dirawat di dalam ruangan ini, Mas! Saya sarankan mas nya untuk diperiksa dulu kesehatan nya, mungkin saja Njenengan mengalami halusinasi!" ucap Perawat itu sambil menatap Danu. Wajah Danu memang terlihat pucat, tentu saja Perawat itu mengira Danu sedang berhalusinasi.


Danu tidak menjawab, ia pergi meninggalkan perawat itu sendirian di sana. Saat itu Danu mencoba menenangkan pikirannya, lalu berinisiatif untuk menghubungi Alingga untuk menanyakan kebenaran nya.


"Mas, Dan! Ngopo, Mas?" Suara dari seberang telepon.


" Ruangan ne Ilang Ngga! Mas Yanto melu ilang!" ucap Danu dengan nada panik. Dari seberang telepon masih belum ada jawaban, Danu mengatur napas nya, berusaha menenangkan diri agar ia bisa bercerita lebih detail lagi.


"Gimana, Mas? Hilang gimana? Pasien sakit kok bisa hilang."


"Iku juga seng gawe aku bingung, Ngga! Mas Yanto gak ono neng daftar pasien!" ucap Danu menjawab pertanyaan dari seberang telepon.


"Sampean kesini aja, Mas! Nggon ne mbah ku! Lek memang gak ono wong e neng Rumah sakit kui, wes gak popo sampean mrene wae! Engko di golek i bareng bareng karo arek arek kene!" ( Kamu kesini aja, Mas! Kerumah mbah ku! Kalo emang gak ada dirumah sakit itu orangnya, udah gak kenapa kenapa kamu kesini aja! Nanti di cari sama teman-teman disini!)


Danu mengerti dan segera menutup telepon. dia masih tidak mempercayai penglihatan nya. Lalu, sebenarnya apa yang telah terjadi kepadanya. Apa mungkin ia diguna guna. Itu lebih tidak mungkin lagi, seharusnya Alingga juga menyadari nya jika ada kekuatan hitam yang telah memantrai mereka. Sayangnya sampai akhir pun Danu tidak menemukan jawabannya, ia memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya sebelum melakukan perjalanan ke desa laweh.


Sementara itu dari kejauhan sebuah bayangan tengah mengawasi Danu, dari balik pintu bayangan itu mengintip, mengawasi setiap tindakan Danu dengan teliti. Sayangnya Danu masih belum menyadari nya, ia lengah, dan kelemahan itu akan digunakan kegelapan untuk menggerogoti akal sehatnya.

__ADS_1


Danu mengerjap saat sesuatu lewat di depan tempat ia tengah terduduk, ia berdiri, menoleh ke kanan dan ke kiri. Sayang nya, tidak ada apapun di sana, hanya lorong rumah sakit dengan beberapa ruangan yang di penuhi sanak saudara yang tengah membesuk pasien yang dirawat. Danu tidak banyak berpikir, ia segera meninggalkan tempat itu, dan begitupula dengan bayangan itu, yang kini juga mengikutinya.


__ADS_2