
Angin berhembus lembut mengibaskan rekma seorang wanita di tanah lapang, langkah setenang air berlalu membelah rerumputan kering dibawah sinar rembulan. Wanita itu tak punya niatan untuk menghentikan langkahnya, raut nya yang datar menandakan keseriusan hal yang tengah menanti nya.
Terkhusus malam ini wanita itu mengenakan sebuah kain selendang berwarna hijau yang melingkar di pinggang nya, Rina melangkahkan kakinya menuju bangunan utama, ia memenuhi panggilan dari majikannya, lasmi. Lasmi telah menunggu nya cukup lama, sehabis pertarungan nya dengan Alingga tenaga nya benar benar terkuras habis. Entah apa yang akan terjadi dengan kepala pelayan keluarga Wijaya tersebut, mungkinkah lasmi telah mengetahui perbuatan nya? Atau mungkin ada hal mendesak lainnya yang tak bisa ditunda.
Lasmi duduk disebuah kursi kayu dengan ukiran bunga bersulur, ia duduk anggun layaknya seorang dewi dengan aura kuat terpancar dari tubuhnya. Tak lama berselang rina masuk kedalam aula utama, ia berjalan tanpa ragu mendekati lasmi yang menatap nya dengan sorot mata tajam.
"Aku ngekeki kowe nggon neng kene udu di gae sepenake, Opo wes lali rin sumpah mu mbiyen nalikane getih amis ngerembes neng pondasine alas Ruwah!" ( Aku memberi mu tempat disini bukan untuk digunakan seenaknya, apa sudah lupa rin, sumpah mu dahulu ketika darah kental meresap kedalam pondasinya alas Ruwah!) Lasmi berbicara dengan nada lantang, suaranya menggema di aula bangunan utama.
Rina yang diajak berbicara hanya terdiam menundukkan kepalanya dihadapan lasmi, Dia tidak mengeluarkan suara sedikitpun bahkan tubuhnya benar-benar mematung.
Lasmi berdiri mendekati rina yang masih ditempatnya, Wajahnya menahan amarah yang tak kunjung mereda. ia berhenti tepat dihadapan abdi nya tersebut, tangan nya mencengkeram pangkal leher rina kuat kuat, tekanan yang cukup besar membekas sempurna membuat wajah ayu rina memerah kehabisan nafas, namun Rina masih bergeming tak menunjukkan rasa takut sedikitpun.
__ADS_1
Lasmi mendorong tubuh wanita itu dengan keras, tubuhnya menghantam guci keramik yang terpajang di dekat tiang penyangga, guci itu pecah berkeping-keping dihantam begitu keras. Rina yang terjatuh kembali berdiri namun kali ini ia menunjukkan ekspresi yang tidak biasa, Bibir nya tersungging mengejek majikannya tersebut.
"Cuma segini?" ucap rina meremehkan, wanita itu tidak terima dengan cemoohan abdi nya, Lasmi kemudian mengambil sebuah besi panjang yang terpasang digenggaman patung batu, lasmi tanpa ragu menghujamkan besi tersebut ke arah rina, Rina tak sempat menghindar, besi panjang tersebut menembus tulang rusuk nya menghentikan detak jantung dalam sesaat.
Lasmi menatap datar, ia mendekati rina kembali sembari menarik besi tersebut. Darah kental mengalir deras menggenangi lantai marmer dengan warna pekat merah, lasmi masih belum cukup puas ia menghujamkan kembali besi panjang ke arah kepala rina, namun didetik detik akhir nya rina masih sanggup menahan serangan lasmi dengan sedikit tenaga.
Wanita itu kembali berdiri dengan tetesan darah yang belum mengering, ia menyeringai mengejek majikannya lagi. Lasmi terkejut melihat rina yang masih sanggup menopang tubuh lemahnya, lasmi semakin marah ia mencoba mematahkan leher rina dengan satu kali percobaan, namun sayangnya rina tidak bisa ia sepelekan, ia melawan balik mendorong lasmi jatuh dibawah kursi kebanggaan nya tersebut.
Rina tak lagi menahan, rambutnya mulai memanjang menyerang lasmi, helaian rambut itu menyerang membabi buta menargetkan wanita itu, Lasmi sebisa mungkin menghindar mencari celah lalu pergi melarikan diri. Lasmi sadar ia tidak akan menang melawan rina, lasmi dapat melihat rina bukan lah lagi manusia seperti sebelumnya, ada aura mengerikan dari tubuh Rina yang begitu menakutkan, aura dendam yang begitu gelap menyelimuti tubuhnya.
Rina hanya tersenyum sinis saat mendapati lawan nya telah melarikan diri, ia menatap punggung lasmi yang mencoba melarikan diri menuju lorong panjang bangunan ini. Rina tak punya niatan mengejar nya, ia berlalu meninggalkan bangunan utama menuju ke pelataran bangunan.
__ADS_1
Di luar masih gelap, cahaya bulan telah lenyap di telan gumpalan awan di langit malam, meskipun bayangan hitam telah lenyap sepenuhnya namun tempat ini masih sangat mengerikan bahkan dilihat dengan mata telanjang sekalipun.
Rina melangkah kan kembali kaki nya melewati halaman bunga memeriksa satu persatu bangunan ditanah ini, entah apa yang tengah dicarinya, setiap bangunan masih belum memuaskan rasa dahaganya, ia terus mencari, menghancurkan segala hal yang menghalanginya jalan nya.
Perempuan itu berhenti di depan paviliun jati, ia menajamkan Indra penglihatan nya untuk memastikan sesuatu, sesuatu hal yang begitu berharga untuk kelangsungan hidupnya. Pintu pintu yang terkunci terbuka dengan sendirinya saat wanita itu menginginkan nya, ia berjalan anggun melewati lorong panjang meskipun amarah nya tengah memuncak.
Seorang abdi yang tengah membereskan mayat menghampiri rina di lorong paviliun jati, rina tidak memperdulikan wanita itu dan tetap fokus akan tujuannya, namun abdi itu tidak menyerah dan terus terusan menghalangi langkah rina, ia dengan bodohnya menghadang wanita itu tanpa tau konsekuensi nya. Rina sangat marah, ia menghujamkan rambut panjangnya hingga merobek seluruh bagian yang bersentuhan dengan helaian tipis tersebut, rambut itu bahkan lebih tajam dari sebilah pisau. Tak lama tubuh wanita itu benar-benar tidak berbentuk lagi, tubuhnya ambruk bertumpukan dengan mayat mayat lainya yang lebih dulu menghiasi paviliun jati.
Rina memang hanya manusia biasa, namun saat ini yang berada dalam tubuhnya bukan dirinya sendiri. Sesuatu yang lain, sesuatu yang tak berperasaan, sesuatu yang mengambil paksa raganya dengan memisahkan jiwa pemiliknya.
Rina membuka salah satu kamar di paviliun jati, ia menelisik disekitar mencoba menemukan barang yang dicarinya.Wanita itu menatap sebuah kotak di atas meja kayu, ia mendekat tanpa mengalihkan pandangannya nya dari kotak tersebut.
__ADS_1
Kotak yang menarik perhatian rina bukan lah kotak yang spesial, kotak itu terbuat dari kayu tanpa adanya ukiran apapun. Namun yang menarik bukan lah kotak nya tetapi isi dari kotak tersebut, rina membuka kotak yang di gembok dengan sangat mudah, matanya sedikit berbinar seolah mendapatkan berlian dan permata.Isi dari kotak tersebut hanyalah sebuah buku usang, buku lusuh dengan bau menyengat memenuhi rongga hidung. Rina membuka halaman pertama dari buku tersebut, dalam halaman pertama tertulis sebuah kalimat yang cukup menarik perhatian, Tulisan aksara untuk ALAS RUWAH ditulis tebal sebagai pembuka dari buku ini.