
Setelah melewati perkebunan, Doni berjalan menuju sebuah hutan di seberangnya. Kebun itu memang di apit beberapa hutan besar, dan sebagian di kenal dengan keangkeran nya.
Sebenarnya, ia masih kurang nyaman dengan tindakannya sebelumnya. Tapi, ia merasa pilihan nya itu sudah lah tepat. Sepanjang jalan hatinya tak tenang, ia khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada Sumi. Itulah mengapa, dia melakukan perjalanan ini secepat mungkin, untuk mempersingkat waktu, dan segera kembali ke tempat ia meninggalkan nya.
Saat berada di hutan itu, hawa yang ia rasakan mulai berubah. Aura kelam menyelimuti setiap sudut tempat ini. Doni sendiri sudah beberapa kali datang bersama dengan Juhri, mereka biasanya mengantarkan Mayat mayat tumbalnya Wijaya.
Bukan tanpa alasan, tempat itu di kenal dengan keangkeran nya. Jiwa jiwa yang Wijaya gadaikan tak pernah terima dengan kenyataan, mereka ingin menuntut balas. Tapi, sehelai rambut Wijaya pun tak bisa mereka sentuh. Itulah mengapa, amarah pada jiwa jiwa itu menyelimuti hutan ini, menjadikan nya tempat yang menyeramkan.
Doni masih berlari, beberapa kali kakinya tersandung, bahkan terperosok lubang. Tapi dengan tekad, ia kembali bangkit, membawa harapan nya yang ia tinggalkan jauh di belakang sana. Dia menuju arah jalan beraspal, satu satunya jalan yang melintas di hutan ini. Jalan itu membelah bagian utara dan selatan, arah menuju kota dan sebuah desa di dekat perkebunan.
Tujuan Doni bukan untuk mencari tumpangan yang melewati jalan itu. Tetapi, ia ingin menyeberang, tak jauh dari jalan itu, ada sebuah gubuk, gubuk bambu tempat ia meletakkan semua mayat itu.
Usaha Doni nyatanya tidak sia sia, ia telah tiba di seberang jalan. Hanya tinggal sedikit lagi, beberapa puluh meter kedepan, ia sudah sampai pada tujuan nya. Tapi, pepohonan di hadapannya tidak menyambut, mereka muram, menghambat langkah doni dengan cabang cabangnya yang berserakan.
Dari sudut pandangnya, gubuk itu sudah terlihat. Pintunya sedikit terbuka, dengan beberapa atap nya yang berlubang. Doni mendekat, mendorong sedikit pintu yang tidak terkunci. Kakinya perlahan melangkah, memasuki gubuk yang di isi oleh sarang laba laba dan burung yang tengah mengerami telurnya. Doni melihat kotak yang sudah tidak asing lagi, disana lah jalan masuk menuju ruangan rahasia tempat mereka menyimpan Mayat.
__ADS_1
Doni membuka kotak dengan kunci yang di bawanya. Saat Doni mulai menuruni tangga, tutup kotak itu kembali menutup, terkunci, tidak bisa dibuka tanpa kunci pasangan nya. Doni meneruskan langkahnya, hingga tiba di dasar lubang, dan menatap sebuah pintu dengan ukiran bunga bersulur. Doni mengetuk beberapa kali, hingga tangannya mati rasa. Dari dalam pintu itu perlahan terbuka, menampakkan seorang lelaki yang sudah terlihat tua.
Lelaki itu mempersilahkan Doni untuk masuk, menuntun nya melewati peti peti berjejer di sepanjang kiri dan kanan mereka melangkah. Hingga tiba di ruangan kedua, terdapat beberapa kursi dan meja, Dan beberapa tulang belulang yang telah keropos.
Doni tidak berbasa basi lagi, ia segera mengutarakan niat nya datang ke tempat ini. Sebenarnya tanpa ia berbicara pun orang tua tersebut pastinya sudah tau tujuan Doni, semua yang datang ke tempat ini pasti mengantarkan Mayat. Doni menyerahkan sebuah bungkusan dari kain hitam yang ia simpan, lelaki itu segera menerimanya dan membuka nya. Di dalam lipatan itu terdapat sebuah jari kelingking yang diselimuti darah kering dan lumpur kehitaman.
"Kenapa cuma ini?" tanya orang tua tersebut.
Doni menunduk, merangkai kata untuk menjelaskan sesuatu yang masuk akal.
Orang yang di ajak bicara Doni masih belum menanggapi, ia duduk di kursi kayu, lalu membalutnya lagi dengan kain hitam itu.
"Lee, kowe gak iso ngapusi mbah!" ( Nak, kamu tidak bisa membohongi Mbah!) ucap lelaki itu setelah melihat potongan jari. Doni yang mendengar ucapan orang itu buru buru berlutut, ia memohon ampun karena telah berusaha menipunya.
"Ampun Mbah, ampun!"
__ADS_1
"Wes gak popo, nek kuwi wes dadi pilihan mu yo terusne! Perkoro iki ben Mbah seng ngurus." ( Udah enggak papa, kalau itu sudah jadi pilihan mu ya lanjutan! Masalah ini biar aku yang ngurus.) ucap lelaki itu sembari menatap potongan kelingking.
"Kulo mboten wani mbantah, Mbah! Tapi, gak ono dalan meneh." (Saya tidak berani membantah, Mbah! Tapi, tidak ada jalan lain.) jawab Doni yang masih dalam posisi berlutut.
" Wes wektune cagak seng ngadek kudu ambruk, wes cedek, Lee! Lungo o, bakal tak bantu medot tali seng ngiket awakmu!" ( sudah waktunya tiang yang berdiri harus runtuh, sudah dekat, Nak! Pergilah , akan saya bantu untuk memutus tali yang mengikat dirimu!) ucap lelaki itu. Dia berdiri membawa lipatan kain menunu sebuah peti mati yang masih terbuka.
Orang tua tersebut memasukkan potong jari itu kedalam peti mati. Doni yang masih berlutut ikut berdiri, mendekat ke arah lelaki tua itu berada. Doni memperhatikan dengan seksama, setiap tindakan laki laki itu terhadap potongan jari Sumi.
Laki laki tua itu mengambil kain putih, meletakkan setiap lapis dengan ditaburi bunga. Hingga lapisan ke tujuh, laki laki itu baru menutup penutup peti. Di atas peti itu laki laki itu menyala kan lilin, meletakkan nya di beberapa titik, membuat ruangan menjadi semakin terang.
Setelah semuanya siap, Doni meminta izin untuk pergi. Ia kembali melewati lorong, tiba di pintu, lalu menaiki tangga menuju mulut lubang.
Saat ia keluar gubuk, hari telah sepenuhnya gelap. Dia baru sadar telah meninggal Sumi berjam jam lamanya. Ia panik, terburu buru melangkah. Dalam kegelapan ia berlari diantara pilat pilar tinggi pepohonan. Di temani suara serangga, dan beberapa suara binatang malam. Dia tidak peduli lagi apa yang ia injak saat berlari. Karena dalam pikirannya saat ini, hanya bagaimana cara sampai di tempat Sumi secepatnya.
Beberapa saat kemudian ia tiba di perkebunan, hamparan sawi terpapar cahaya bulan, di temani ribuan bintang, bulan itu membantu Doni memperjelas penglihatan nya. Hingga ia memasuki hutan kembali. Hutan tempat terakhir kali ia meninggal hatinya. Bulan mengucapkan selamat tinggal, menyaksikan punggung Doni yang kembali di lahap kegelapan, hingga benar-benar lenyap.
__ADS_1
Doni sebenarnya tidak yakin dengan ini, apakah Sumi masih menunggu nya di gubuk itu. Tapi melihat kondisi Sumi yang tengah hamil begitu, Sumi juga tidak bisa berjalan terlalu jauh. Apalagi kandungan nya masih sangat muda, dia khawatir akan timbul masalah jika Sumi terlalu kelelahan. Rasa bersalah nya semakin memuncak, saat mendapati gubuk tempat ia meninggalkan Sumi tampak kosong. Tidak ada siapapun disana, hening, tak ada jawaban saat Doni meneriakkan nama Sumi beberapa kali.