Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 63: Waktu yang Salah


__ADS_3

Malam semakin larut, berjam jam mereka menunggu, juga berpikir. Tidak ada jalan keluar yang mereka temukan, pintu masih terkunci bersamaan dengan rasa penasaran mereka yang membumbung tinggi. Lumut lumut di lantai kayu menertawakan mereka, memamerkan kemenangan, melihat raut putus asa di wajah mereka.


"Hanya ini yang kita dapatkan? Kosong, tidak ada apapun disini!" Zainal berjongkok, mengacak-acak rambutnya yang berantakan. Alingga tidak menjawab, ia memejamkan matanya, mengawasi sekitar dengan mata batinnya.


"Ada yang janggal dengan ruangan ini, auranya sangat kelam. " ucap Alingga setelah beberapa saat terpejam. Juhri menoleh, ia sama penasaran nya dengan yang lainya.


"Mungkin boneka itu tidak disimpan disini, ngga! Lihat lah, tidak ada apapun disini." ucap Zainal spontan.


"Aku yakin ada disini, aku bisa merasakannya." bantah Alingga menyangkal ucapan Zainal. Ia menyentuh pintu itu, meraba raba setiap inci nya. Di permukaan pintu kayu itu, terdapat beberapa guratan dan coretan acak. Alingga mencoba memahami maksud dari guratan guratan itu.


"Lihat ini, Ada tulisan. Aksara jawa." Alingga menunjukkan temuan nya kepada kedua orang temannya. Mereka mendekat, menyorot tempat yang ditunjukkan Alingga dengan senter yang mereka bawa. Mereka berdua hanya manggut-manggut, mungkin saja Alingga benar, di dalam rumah ini tersimpan beberapa Lewung yang belum bisa mereka temukan.


"Apa artinya?"


Alingga memeriksa lagi, mencoba mengartikan tulisan yang tergambar di hadapan nya.


"Ada beberapa yang tidak bisa aku pahami, huruf huruf nya tercampur dengan aksara lain. Ini tidak murni aksara Jawa." Alingga berbicara sambil menulis kan ulang tulisan itu di dalam ingatan nya. Mungkin ada sesuatu yang Alingga lewatkan, petunjuk, bisa juga jawaban.

__ADS_1


"Mas, Gimana? Njenengan bisa baca tulisan ini?" tanya Alingga dengan posisi yang masih berjongkok, ia menengadah kan kepalanya, menatap Juhri di samping kanan.


"Aku pernah melihat tulisan seperti ini, Campuran dari aksara jawa. Tapi, aku tidak bisa membaca nya. Mungkin kah ada kaitannya nya dengan ritual Lebur Sukma?" Juhri menjawab pertanyaan Alingga, ia juga sama bingung nya dengan mereka. Kalaupun dia tahu, ia tak akan mengulur waktu untuk memberitahu kebenaran nya kepada mereka.


"Bisa jadi, aku yakin ada hubungannya juga dengan Alas Ruwah."


Alingga tiba tiba saja berdiri, berjalan menjauh, menuju pintu keluar. Zainal mengekor di belakang, begitupula dengan Juhri yang juga mengikuti nya keluar. Saat tiba di teras, Alingga berhenti. Ia menatap barisan pepohonan di hadapannya. Samar ia melihat beberapa sorot mata yang menatapnya, mahkluk mahkluk berselimut kain kafan masih setia menunggu mereka. Tapi, mengapa mereka tidak berani mendekat. Mengapa mereka tidak ikut memasuki rumah itu.


Dalam benak Alingga bertanya tanya, beribu pertanyaan berputar putar di kepalanya. Apa yang menyebabkan pocong pocong itu tidak bisa mendekat. Mungkin kah ada sesuatu yang mahkluk mahkluk itu takuti.


"Lihat, mereka hanya mematung di sana. Kenapa mereka hanya bersembunyi di balik pepohonan?" tunjuk Alingga yang di ikuti dengan kedua temannya yang melihat kearah yang sama.


"Mungkin kah rumah ini ada penghuninya?" ucap Zainal asal, bersamaan dengan itu, sebuah angin berhembus kencang menyapu dahan dahan pepohonan hingga menghantam dinding rumah. Alingga melindungi matanya dari hembusan angin, mencoba melihat lebih jelas lagi kedepan.


Mahkluk mahkluk berselimut kain kafan itu telah lenyap, meninggalkan mangsa mereka dengan kecewa. Kecurigaan Alingga semakin bertambah, mungkin saja firasat nya benar.


"Cepat turun! Lari.. " Teriak Alingga dengan suara yang tersamar kan Angin ribut.

__ADS_1


Semuanya berlari, mengikuti Alingga yang sudah lebih dulu pergi. Mereka menuju kedalam hutan, bersembunyi di balik pepohonan yang tinggi. Angin dingin masih bertiup, membekukan tubuh Alingga yang sedikit lembab.


"Kenapa lari, ngga?" tanya Zainal setelah mereka sudah cukup jauh dari rumah itu. Mereka sedikit berjongkok, bersembunyi di balik semak belukar.


"Kita datang di waktu yang salah! Pemilik nya sedang terjaga." ucap Alingga lirih, memelankan suara nya. Zainal mengernyitkan dahi nya, ia tidak mengerti dengan apa yang di maksudkan Alingga.


"Maksudnya?"


Alingga menoleh, menjelaskan lebih rinci lagi." Di dalam rumah itu ada aura hitam yang sangat pekat. Apa kalian tidak sadar, di dalam rumah itu terdapat banyak jejak, jejak sesuatu yang sedang diseret." ucap Alingga masih dengan posisi yang sama.


"Jejak apa?"


"Aku juga belum yakin, seperti jejak ular. Ular yang sangat besar. Jejak nya samar karena sudah tertutup lapisan debu lagi, tapi di beberapa tempat jejak itu terlihat jelas." Alingga menjelaskan lagi, ia memilah milah ingatan. Mahkluk apa sebenarnya yang berwujud seperti ular.


"Jadi bagaimana? Kita tidak bisa kembali dengan tangan kosong." ucap Zainal, ia berdecak kesal, setiap langkah mereka selalu ada saja lubang yang menghalangi.


"Lebih baik kita cari aman, kita tidak tahu sebesar apa kekuatan penghuni rumah itu. Jangan mengambil langkah bodoh!" ucap Alingga. Ia juga sangat kesal. Alingga ingin segera mengakhiri Masalah ini, namun ia juga tidak bisa gegabah, salah satu langkah saja semua yang mereka lakukan akan sia sia.

__ADS_1


Alingga membawa mereka untuk kembali, menghentikan pengintai yang sudah mereka lakukan hingga tengah malam. Tidak mungkin melanjutkan ekspedisi ini, mereka juga kelelahan. Juhri kembali menuntun, membawa mereka kembali ke tempat mobil mereka terparkir. Dengan wajah kecewa, Alingga tidak tahu harus menjawab apa jika nanti Danu bertanya.


Sepanjang perjalanan itu tidak ada gangguan, jarak yang sebelumnya jauh bisa mereka lewati dengan mudahnya. Mahkluk mahkluk berselimut kain kafan tak lagi menggangu, bahkan binatang malam pun tak lagi berani bersuara, hanya ada kesunyian di tengah langkah kaki mereka yang menginjak tanah basah.


__ADS_2