Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 60: Peti Mati


__ADS_3

Alingga memandang heran, kotak kayu di tangan nya sama persis seperti kotak yang ia miliki. Setiap guratan halus itu sangat mendetail, menghiasi dinding bagian luar kotak itu.


"Buka?" tanya Alingga kepada yang lainya. Mereka juga sama penasaran nya, memberinya izin.


Alingga membuka penutup kotak, di dalam sana barang yang tengah mereka cari jelas jelas nampak di depan mata. Mereka puas, setidaknya sedikit usaha mereka membuahkan hasil. Zainal semakin bersemangat, ia menghampiri peti disebelahnya. Tanpa ragu ia membuka peti itu dengan linggis yang dibawanya. Yang lain juga demikian, dengan alat seadanya, mereka membongkar penutup yang menyegel peti mati.


"Tunggu!"


Juhri tiba tiba saja menghentikan tindakan mereka. Ia tidak memberikan alasan mengapa bertingkah seperti itu, ia hanya meminta semua orang untuk tetap diam sementara dia mencari-cari sesuatu yang tengah mengusiknya.


"Kalian dengar itu!" tanya Juhri sembari berbisik.


"Apa?" tanya Danu yang berada di paling pojok.


Semuanya diam, mencoba mendengar dalam kesunyian. Samar samar terdengar suara gesekan benda keras, asalnya dari dalam ruangan ini. Bau menyengat sangat menggangu kendali fokus mereka, akal sehat mereka dipaksa menerka nerka siapa kah gerangan yang membuat suara berisik itu.


"Suara apa itu?" Semua orang memasang ekspresi panik, tak terkecuali Alingga. Ia berfikir, mengatur nafasnya yang tak terkendali.


"Cepat selesaikan!" ucap Alingga. Semua orang segera bekerja kembali. Didalam ruangan itu terdapat Enam peti mati, setiap orang memiliki satu peti untuk dibuka. Zainal dengan mudahnya membuka semua bagiannya, sementara yang lain masih sibuk, ia mengumpulkan semua kotak yang ia miliki.


Sayangnya, suara gemerisik itu masih terdengar, semakin keras, membumbui kegiatan mereka, dan kini mereka yakin, suara tersebut berasal dari salah satu peti mati yang tengah diurus Juhri.


Juhri menghentikan tindakan nya, ia mundur saat mendengar suara dari dalam peti mati. Mereka semua saling pandang, berdiam mencoba mencari solusi yang mungkin saja mereka miliki. Alingga mendekat, menghampiri Juhri, ia berlutut tepat di sebelah peti mati, menempel kan telinganya tepat pada dinding yang mengeluarkan suara.

__ADS_1


Setelah yakin, Alingga memandang teman temannya secara bergantian, lalu mengangguk. Tak seorangpun dari mereka yang mau mengeluarkan suara, juga tak ingin berurusan dengan apapun yang ada didalam peti itu. Alingga pergi, mengumpulkan setiap kotak yang mereka dapatkan, membawanya meninggalkan ruangan bawah yang lembab.


"Apa menurutmu yang ada didalam peti itu?" tanya Zainal saat mereka berjalan beriringan, membawa kotak kotak itu keluar gudang.


Alingga menoleh, "Jangan berfikir yang tidak tidak! Iblis akan mewujudkan ketakutan itu menjadi nyata!"


Mereka membawanya kedalam bagasi mobil, menyusunnya hingga beberapa tumpuk. Alingga memandangi ruangan gelap itu, samar samar ia melihat beberapa siluet hitam berjejer di dalam sana. Bersamaan dengan itu, ia mendengar suara Danu dari dalam setengah berteriak. Tidak terlalu jelas terdengar apa yang mereka berdua bicara, Alingga yang penasaran menerobos barisan siluet hitam dan menuruni lorong menuju ruangan bawah.


Alingga melihat kedua orang itu membongkar peti yang sengaja mereka hindari. Alingga tidak bisa marah, jika jadi mereka, ia pun akan melakukan hal yang sama untuk memenuhi rasa penasaran nya.


"Ada apa?" tanya Alingga sambil berjalan mendekat. Ia berhenti saat melihat peti yang telah terbuka. Alingga terkejut, ia melihat dengan matanya sendiri, seseorang yang ia kenal terbaring disana meregang nyawa karena kehabisan nafas.


"Angkat!"


"Masih bisa diselamatkan, Ayo!" Alingga berusaha mengangkat tubuh yang ia dekap itu, matanya sembab, menahan bulir bulir air yang memaksa mengalir. Yang lain tidak menanggapi, mereka berdiri, tak sanggup melihat pemandangan di depannya.


"Udah, Ngga! Cukup, dia tidak bisa diselamatkan lagi." Zainal memegang pundak Alingga. Ia tau benar sahabat nya itu sedang sangat terluka, satu persatu orang terdekat nya direnggut secara paksa.


Alingga mengepalkan tangannya, ia berdiri, menerjang kearah Juhri hingga menjatuhkan kelantai tanah. Juhri ambruk, Alingga menghujaninya pukulan beberapa kali. Wajah Juhri bengkak, bibirnya mengeluarkan darah.


"Kamu pelakunya, kan?" Alingga memukul wajah Juhri lagi.


"Jawab, Bajingan!"

__ADS_1


Zainal melerai keduanya, ia menarik tubuh Alingga mundur kebelakang. Wajahnya memerah, matanya masih sembab.


"Bukan aku yang melakukan nya! Aku pasti sudah memberitahu mu semalam jika ia ada disini!" Juhri membela diri, ia menyeka darah dari bibirnya. Lagipula ia pantas mendapatkan pukulan Alingga. Jadi, ia tidak akan marah meskipun Alingga menyiksanya lagi.


"Cukup, Ngga! Lebih baik kita makam kan tubuh Mas Yanto segera, sebelum gelap!"


Danu memandangi tubuh Mas Yanto yang sudah tak bernyawa. Ia masih penasaran, jika Mas Yanto sudah tak bernyawa, lalu apa yang membuat suata berisik tadi?


Tubuh Mas Yanto masih sedikit hangat, entah karena udara pengap di dalam peti, atau karena ia meninggal belum lama ini. Danu memeriksa, membolak balik kan tubuhnya beberapa kali, berharap menemukan sesuatu yang dapat menjawab rasa penasaran.


Lagipula Danu tidak bisa membahas hal ini sekarang, suasana nya tidak mendukung. Melihat Alingga yang sangat terpukul, ia juga merasakan kesedihan dari sorot matanya yang dalam.


Mas Yanto memang bukan keluarga nya, bahkan mereka baru saling mengenal beberapa hari saja. Tapi, Alingga merasa dia adalah tanggung jawabnya, ia juga bertanggung jawab saat Mas Yanto terluka, saat harus merasakan kegagalan lagi, hatinya akan benar benar remuk.


Danu dan Zainal mengangkat tubuh Mas Yanto, membawanya keluar dari dalam gudang. Mereka mempersiapkan pemakaman Mas Yanto, dan selesai saat matahari tenggelam.


Alingga menghampiri Juhri yang sedang duduk di bawah pohon di depan kost kostan, di kursi bambu itu Alingga duduk menemani. Ia sedikit merasa bersalah atas tindakan ceroboh nya barusan, ia meminta maaf kepada Juhri karena tenggelam dalam emosi.


"Aku minta maaf, tadi itu benar benar tidak terkendali!" Alingga berbicara sambil menoleh. Mereka menatap bangunan kost kostan yang gelap.


"Aku ngerti, Santai aja!" balas Juhri. Mereka masih menatap bangunan gelap itu. Sorot mata mereka tanpa sadar menangkap sesuatu yang tengah mengawasi dari lantai dua. Keduanya saling pandang memastikan lagi penglihatan nya. Siluet hitam dengan kaki panjang berdiri disana, menatap keduanya dengan mata yang nyalang.


Angin semilir bertiup, membuat leher mereka meremang, meninggalkan rasa takut saat melihat sosok yang kini mulai mendekat. Alingga tanpa sadar berujar, " Ganjang!" begitupun dengan Juhri yang memasang ekspresi terkejut.

__ADS_1


Mereka lari tunggang langgang, begitupula dengan Danu dan Zainal yang sedang berdiri di dekat pintu mobil, mereka segera masuk tanpa banyak bertanya. Sopir itu segera tancap gas, meninggalkan pelataran kost kostan. Sayangnya, mahkluk hitam itu tidak mau menyerah, ia naik keatas atap mobil. Tapi, entah mengapa saat jarak mereka dengan kost kostan itu sudah cukup jauh, Mahkluk itu terpental, seperti menabrak dinding yang tak kasat mata. mungkin saja mahkluk itu tidak bisa meninggalkan tempat itu sampai seseorang yang dicarinya ditemukan.


__ADS_2