
Angin berhembus, menerbangkan dedaunan kering yang menumpuk dibawah pohon. Tanah di bawah tempat Alingga berdiri berkilauan, terik nya matahari menyilaukan pandangan Alingga yang tengah menatap gumpalan awan.
Di dalam rumah, Syarif membersihkan tubuh Zainal dengan air, menyapu kulit tubuhnya yang mengering. Tangan nya dengan lihai merawat, memberikan perhatian lebih. Saat ia berpaling jari Zainal berkedut, dua hingga tiga kali berulang, hingga saat ia kembali matanya menatap tak percaya.
Zainal membuka matanya, menatap langit-langit ruangan, membuat Syarif yang berada di sampingnya kebingungan. Ia secara spontan berteriak, memanggil Alingga yang masih sibuk dengan pikirannya. Jika di ingat kembali ini bukan pertama kalinya pikiran Syarif menjadi tak waras, beberapa waktu sebelumnya ia juga melakukan hal yang serupa, membesar besarnya masalah kecil, membuat kacau masalah besar.
Alingga terburu buru menaiki undakan tangga, kakinya tersandung palang pintu hingga menyebabkan sedikit luka. Darah dari luka di kakinya membekas setiap kali ia melangkah, hingga berhenti di samping tubuh Zainal yang tatap matanya kini mengarah pada mereka. Alingga melangkah maju, berjongkok sedikit, membantu Zainal mengambil posisi duduk.
Dalam suasana haru pertemuan mereka kembali, tak sepatah katapun terucap dari mulut mereka, semuanya membisu, menikmati mata mereka yang mulai berkaca-kaca. Alingga tidak menyangka dirinya akan berhasil, membawa kembali sahabatnya yang tersesat dalam kegelapan. Berulang kali ia menyalah kan diri, ketidakmampuan nya menyebabkan begitu banyak masalah. Namun, saat melihat pulih nya kondisi Zainal, sesak di hatinya sedikit berkurang.
"Ngga.. Rip!" ucap Zainal setelah beberapa saat berdiam dalam kesunyian.
Alingga menatap Zainal, mengedipkan mata seolah menjawab panggilan Zainal.
"Akeh seng wes tak delok." ( Banyak yang sudah aku lihat.) lanjut Zainal melengkapi ucapan nya yang terputus. Alingga tak bisa menanggapi, ia juga tak ingin Zainal mengingat apa yang ia lihat selama tidak berada dalam tubuhnya. Alingga hanya bisa menenangkan Zainal yang seperti orang linglung, membujuknya untuk beristirahat terlebih dahulu untuk memulihkan energinya.
__ADS_1
"Wes, Nggko wae cerito ne!" (Udah, Nanti aja ceritanya!) ucap Alingga.
Zainal menurut, ia menyandarkan tubuhnya ke dinding kayu. Alingga meminta Syarif untuk mengambil kan air minum untuk Zainal, terlihat sangat jelas tubuh Zainal mengalami dehidrasi yang cukup parah.
Zainal melirik kearah samping, tepat pada sosok Laras yang tengah terbaring, wajahnya di selimuti kebingungan. Zainal beralih menatap Alingga, meminta penjelasan dari sahabat nya itu. Alingga memahami kebingungan Zainal, ia juga seperti itu saat pertama kali datang ke rumah ini. Namun, menceritakan masalah itu kepada Zainal saat ini bukan lah hal yang bagus, kondisi Zainal tidak memungkinkan. Ia takut Kondisi nya akan semakin parah jika ia terlalu banyak berfikir.
...***...
Tengah hari gerimis mulai mereda, cahaya matahari mulai menghangat kan atmosfer bumi yang diguyur hujan semalaman. Di dalam sebuah rumah panggung di pinggiran desa, Doni berpamitan dengan pemilik rumah untuk melanjutkan perjalanan. Sementara itu gadis kecil di dalam kamar mengintip mereka berdua, sayangnya posisinya dapat diketahui oleh Doni dengan cepat. Doni menatap tajam gadis itu dengan tatapan mengancam, nyata nya nyali gadis itu menciut, terburu buru menunduk lalu menangis sejadi jadinya.
Di perjalanan setelah mereka melewati jalan desa, Doni mengambil bungkusan kain hitam dari dalam bajunya. Ia mencengkram nya kuat kuat, Sumi yang berjalan beriringan dengannya ikut menatap benda itu. Melihat kain itu tiba tiba saja bekas luka di jari Sumi terasa ngilu, pikiran nya memutar kembali memori saat benda berkilau itu memisahkan jari kelingking nya dari telapak tangan.
"Mau sampean Apakan mas?" tanya Sumi. Doni menoleh, lalu buru buru menyimpan kembali bungkusan tersebut. Terlihat dari raut wajahnya yang merasa bersalah atas tindakan nya.
"Lasmi menginginkan nyawamu. Semoga ini dapat membuat nya berhenti memburu kamu." jawab Doni dengan nada lembut.
__ADS_1
Sumi kembali fokus pada jalanan di hadapannya. Namun, dapat dilihat raut wajahnya yang berubah menjadi kesal. Di dalam hati dia mengutuk keluarga itu, memaki dirinya sendiri, menyalah kan dunia yang telah berbuat tak adil padanya.
Doni melihat perubahan sikap Sumi, ia juga tak tahu harus berbuat apa. Rasa bersalah dihatinya memang tidak sebanding dengan penderitaan Sumi selama menjadi abdi di keluarga Wijaya, namun ia ingin menunjukkan ketulusan, meskipun sudah sangat terlambat untuk memulai lembaran baru.
"Saya ndak papa, Mas! Njenengan lakukan saja tugas yang diberikan. Saya tau bagaimana sifat ndoro Lasmi, dia Angkuh dan serakah. Dia juga yang membuat Wijaya mengambil jalan hitam, jalan yang sudah diputus oleh keluarga nya sejak lama." Sumi bercerita sembari mengepalkan tangannya, jika tau akan begini akhirnya, dia tidak akan menerima tawaran mbak Rina saat membawanya ke keluarga itu dulu.
Doni memahami apa yang dirasakan oleh Sumi. Namun, waktu tidak dapat diputar. Sekeras apapun mencoba, noda hitam di lembaran takdir mereka tak akan pernah bisa mereka hapus.
"Nggak usah khawatir, Sum! Saya pasti bawa kamu pergi jauh. Kamu bisa membesarkan anak ini tanpa gangguan sedikitpun dari Wijaya. Kasih sedikit lagi waktu!" Mata Sumi berbinar, hatinya secara perlahan luluh saat mendengar ucapan Doni. Sudah sejak lama ia tak pernah merasakan hal semacam ini, sudah sejak lama pula hatinya membeku. Namun, seolah-olah badai yang menetap dihatinya telah berlalu, menumbuhkan sebuah kecambah, dan memekarkan bunga bunga yang tengah kuncup.
"Terimakasih, Mas! Sudah mau membantu saya. Saya tidak akan pernah melupakan panjenengan." ucap Sumi dengan di iringi senyum yang merekah, hatinya tengah memasuki musim semi, menumbuhkan kehidupan baru.
Beberapa saat kemudian saat mereka sudah sangat jauh dari Titik awal, Doni membawa Sumi untuk beristirahat di sebuah gubuk. Doni memintanya untuk beristirahat sebentar, kondisi kandungan Sumi harus dijaga.
Saat itu di tempat itu benar benar sunyi, mereka hanya ditemani suara serangga dan tetesan sisa air hujan pagi tadi. Doni berpamitan kepada Sumi, dan memintanya untuk menunggunya disana. Awalnya Sumi merasa ragu saat harus di tinggalkan di tengah hutan sendirian. Namun, Doni meyakinkan nya bahwa semuanya akan baik baik saja. Dia berjanji akan segera kembali saat urusan nya telah selesai. Begitulah pada akhirnya Sumi mengizinkan nya.
__ADS_1
Namun, sayang nya segalanya tidak pernah sesuai dengan rencana, Sesuatu tengah mengawasi mereka, bayangan hitam yang bersembunyi dibalik rimbunnya pepohonan. Jauh di dalam hutan sosok itu menunggu, saat mangsanya lengah ia akan mendekat, menghabisi nya tanpa bersisa.