
Gerimis mengguyur atmosfer bumi, membekukan aktivitas warga di pagi hari. Jalan jalan yang ramai tampak lenggang, tak seorang pun yang mau berlalu lalang tanpa kepentingan. Di dalam gubuk mereka masing masing, berkumpul dengan keluarga, menikmati sepiring ubi rebus ditemani aroma lumpur yang digempur hujan semalaman.
Di teras rumah Doni duduk, menjuntai kan kakinya ke bawah, menikmati setiap tetes air hujan yang menyentuh kulit kakinya. Di dalam rumah panggung tersebut seorang pria menatap Doni, asap mengepul dari ceretu yang ia hisap, membuat anak perempuan di sampingnya terbatuk-batuk.
Pria paruh baya itu mendekati Doni, menawarkan sebatang rokok lintingan, dan berakhir dengan penolakan. Mereka duduk bersebelahan, pria itu duduk dengan kaki kanan di tekuk.
"Hujan nya awet!" ucap lelaki itu membuka pembicaraan. Doni menoleh, tersenyum sedikit—melanjutkan kembali kegiatan sebelum nya.
Kepulan asap semakin membumbung tinggi, lalu menghilang terkena tetesan hujan. Seorang anak melintas di hadapan mereka, bermandikan hujan, lalu disusul dengan teriakan ibunya yang membawa beberapa ranting kayu. Doni tersenyum menatapnya, mengingat kembali kenangan masa kecilnya dulu, ternyata kenangan itu kini begitu indah untuk di ingat.
"Kalau terus-terusan hujan begini mungkin akan mempengaruhi hasil panen!"
"Sebentar lagi juga kemarau panjang, Mas!" jawab Doni menanggapi ucapan orang disebelahnya.
"Kemarau panjang juga tidak bagus untuk pertumbuhan tanaman! Kami petani memang serba salah." Pria itu terkekeh, kembali menghisap lintingan nya, asap kembali mengepul.
"Njenengan dari mana? Jarak sekali desa kami kedatangan tamu!" lanjut si lelaki setelah selesai menghisap batangan rokok. Doni sedikit gelagapan, tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya, warga desa pasti curiga bila menemukan seseorang yang habis keluar dari hutan tersebut.
"Pulang mengunjungi sanak saudara di pinggiran kota, Mas! Tapi, dijalan kami mendapatkan musibah." ucap Doni berbohong.
"Beruntung Njenengan bisa keluar hidup hidup dari hutan itu. Hutan itu memiliki akses dengan alas ruwah, sama sama angkernya!" Tanpa perlu dijelaskan Doni juga sudah tau mengenai hal ini, alas ruwah memiliki akses dengan hutan rawa tersebut.
"Iya, mas! Saya dengan istri saya sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup. Saya banyak banyak berterima kasih dengan Mas dan keluarga."
Sementara itu di dalam rumah Sumi sudah mulai sadar. Kain di jari kelingkingnya telah di ganti, dan pakainya yang basah juga sudah diganti. Seorang anak perempuan mendekati Sumi, membawakan sepiring ubi rebus dan segelas air hangat.
"Mbak.. ini dari ibuk!" ucap gadis kecil itu.
__ADS_1
Sumi tersenyum lalu mengucapkan terimakasih. Sumi meminum air hangat, lalu menghabiskan setengah dari ubi yang disajikan. Selang beberapa saat istri dari pemilik rumah datang, ingin memastikan sendiri kondisi Sumi.
"Gimana? Udah enakan?"
Sumi tersenyum menjawab pertanyaan orang itu, perempuan di hadapan Sumi menatap kearah perutnya, Sumi sadar lalu menjelaskan kondisi nya saat ini yang tengah hamil muda.
"Saya panggilkan Suami njenengan dulu Nggih mbak!" ucap perempuan itu.
Sumi terdiam memikirkan kembali kata kata dari perempuan itu, suami mana yang sebenarnya dimaksudkan, dirinya tidak pernah menikah dengan siapapun. Sempat terlintas mungkin saja orang tersebut adalah Wijaya, namun segera ia tepis mengingat kemungkinan saat Wijaya mengirimkan orang untuk membunuhnya, tentu saja tidak mungkin itu Wijaya.
Seseorang memasuki Ruangan, Doni menghampiri Sumi yang tengah duduk bersandar dengan tumpukan bantal. Saat Doni masuk raut wajah Sumi mendadak berubah, orang yang sama sekali tidak ia sangka akan menolongnya. Doni meminta untuk berbicara berdua saja dengan Sumi, Perempuan itu langsung mengerti dan mengajak putrinya untuk menjauh.
"Mas."
"Gimana? " Sumi hanya menganggukkan kepalanya, memberitahu Doni bahwa kondisinya saat ini baik baik saja.
"Kenapa, Mas?" tanya Sumi.
"Pergi sejauh mungkin, jangan sampai Wijaya mendapatkan anak ini. Dia masih belum tau kamu mengandung anaknya. Jika dia tau, Wijaya tidak akan memintaku untuk membunuh mu." Doni mendekat, menggenggam lengan Sumi yang masih dingin.
"Memang nya sampean mau bawa saya kemana to mas? Memang nya ada tempat yang bisa menyembunyikan saya dari Wijaya?" tanya Sumi lagi. Doni menatap tajam, berusaha memahami apa yang ada dalam kepala Sumi saat ini.
Doni tak bisa menjawab pertanyaan Sumi, dia tau peluangnya sangat kecil. Dalam kebingungan itu tiba-tiba saja Doni teringat dengan Alingga dan misinya. Namun, dia sendiri tidak yakin apakah Alingga masih mau menolongnya setelah apa yang dia lakukan terhadap Mas Yanto dan mbah Slamet.
"Sebenarnya ada cara!" Doni menatap tajam Sumi, berusaha meyakinkan Sumi masih ada jalan yang bisa mereka lalui.
"Tapi_"
__ADS_1
Doni menghentikan ucapannya saat menyadari ada yang tengah menguping pembicaraan mereka. Doni mengisyaratkan agar Sumi diam, dia mengendap-endap, melihat keluar ruangan, dan mendapati seorang anak perempuan tengah asyik menguping pembicaraan mereka.
"Kamu ngapain?" tanya Doni ketus.
Anak perempuan itu sedikit takut, namun Sumi dengan cepat menghentikan Doni yang akan memarahi anak itu.
"Kenapa di biarkan?" tanya Doni kepada Sumi.
"Dia cuma anak kecil, Mas! Jangan memperburuk keadaan. Kita sudah ditolong oleh mereka, lagipula anak itu tidak akan berani mengadu pada siapapun." jelas Sumi berusaha meyakinkan Doni agar tidak memperbesar masalah ini. Doni melirik kearah anak itu, berusaha mengancam nya dengan tatapan matanya yang tajam.
"Jadi, bagaimana selanjutnya? Kita akan kemana?"
Doni kembali ke sisi Sumi, melanjutkan pembicaraan mereka yang sempat terputus.
"Apa kita minta tolong sama mbak Rina aja, Mas?"saran Sumi saat mereka belum juga menemukan jalan keluar. Doni sebenarnya bisa saja setuju dengan saran Sumi ini, tapi dia juga tau bagaimana kondisi mbak Rina saat ini, itu tidak memungkinkan.
"Mbak Rina saat ini sudah dikuasai mahkluk jahat, Sum! Membantu dirinya sendiri saja tidak bisa, gimana caranya mau bantu kamu? "
Mereka kembali terdiam, ada banyak kemungkinan yang bisa mereka coba. Namun, tak ada satupun diantara yang membantu. Kandungan Sumi semakin lama akan semakin Membesar, tentunya Wijaya bisa menyadari keberadaan bayi itu jika mereka terlalu dekat dengan Wijaya.
Wijaya hanya memiliki Mayang, dia tidak memiliki anak yang lainnya. Entah bagaimana bisa dia berakhir dengan menghamili Sumi, abdinya sendiri. Jika nanti anak yang dikandung Sumi adalah laki laki, maka ia yang akan menjadi penerus Wijaya. Dan pada saat itulah segala upaya mereka untuk membebaskan diri dari jerat yang mengikatnya akan sia sia.
"Kenapa tidak di gugurkan saja, Mas?" tanya Sumi.
Doni tercengang, dia memegang pundak Sumi dengan lembut.
"Aku yakin, kamu tidak mau kehilangan bayi ini!"
__ADS_1
Ucapan Doni memang benar, jika satu satunya cara terbebas dari Wijaya adalah dengan membunuh anak ini, Sumi tidak akan melakukan hal itu. Itulah mengapa Doni bersikeras membawa Sumi jauh dari jangkauan Wijaya, dengan begitu mereka bisa memulai hidup baru tanpa terlibat lagi dengan keluarga Wijaya.