Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 32: Jagat lelembut


__ADS_3

Udara semakin pengap. Matahari yang sebelumnya bersinar terik namun tiba-tiba lenyap seketika. Bagaimana mungkin itu dapat terjadi? Bagaimana mungkin matahari yang begitu besar hilang dalam hitungan detik?


Syarif menatap ke sekeliling, ia tak dapat melihat apapun dalam kegelapan ini. Di kejauhan terdengar suara lesung yang saling bersahutan. Dalam gelap gulita sang sopir berencana menghidupkan mesin mobilnya dengan begitu lampu mobil dapat menerangi jalan di hadapan mereka. Namun, Syarif tak sependapat dengan sopir itu. Ia merasakan sesuatu hal yang ganjil di tempat ini, terlebih lagi setelah cahaya matahari lenyap dalam seketika, batinnya semakin was was.


"Ojo mas, howo ne rapenak!" (Jangan mas, hawanya tidak enak!) ucap Syarif pelan.


Sang sopir menjauhkan tangan nya dari kunci mobil, ia mencoba melihat lebih tajam lagi ke depan. Mereka menyadari ada sesuatu yang salah.


"Sampean ngerasain juga kan? Kayak ada aroma aroma dupa." Tanya Syarif kepada sang sopir.


"Enggak mas, udu dupa iki! Menyan koyone." Jawab sang sopir setelah memastikan lagi penciuman nya.


"Tenan lo iki dupa!" (Beneran lo ini dupa!) Bantah syarif lagi. Sang sopir juga tak mau mengalah, ia yakin dengan pendapatnya.


Namun, ditengah tengah perdebatan mereka sepasang mata menatap nyalang dari kaca depan. Mereka masih belum menyadari dan masih asyik membenarkan pendapat nya masing-masing. Tapi sepertinya sepasang mata itu enggan bersabar, tangan panjang nya menggebrak kaca depan dengan keras. Suara dentuman mengiringi munculnya sosok berwujud seperti nenek nenek namun memiliki wajah yang sangat mengerikan.


Satu mahkluk lagi muncul tepat di sebelah kaca tempat Syarif berada. Mahkluk bertaring panjang dengan tubuh kurus berdiri tegak di dekat kaca jendela, syarif masih belum menyadari, Namun sepertinya tidak demikian dengan sang sopir.


Wajahnya pucat menatap mahkluk yang hampir tinggal kerangka nya saja. Sang sopir tidak bisa berkata-kata, lidah nya membeku. Namun, Syarif sepertinya menyadari ada yang salah dengan sikap dari teman sebelahnya itu, ia enggan menatap kebelakang, namun masih penasaran. Pada akhirnya ia berhasil mengumpulkan niat dan mendapati penampakan yang tidak mengenakan di hadapannya, sosok itu berdiri disana dengan telapak tangan yang ia tempelkan di kaca jendela.


Syarif diam diam meraba tempat kunci dan menghidupkan mobil tanpa sengaja.

__ADS_1


Pamandangan di depan nya lebih tak masuk akal lagi. Ribuan pocong berbaris rapi di sepanjang kanan dan kiri mobil. Wajah wajah hancur yang menghitam itu menatap tajam kearah mobil yang mengeluarkan cahaya terang. Mungkinkah Syarif sudah menganggu tidur siang mereka?


Syarif terperangah melihat pocong pocong itu, kain kain lusuh mereka menampakkan bagian tubuh yang tak tertutupi. Sesuatu seperti bergerak gerak dari dalam kain meronta minta dibebaskan. Jangan tanya lagi apa itu, kalian pasti tau jawabannya.


"Cok!! Demit kabeh!" umpat syarif kesal.


Aroma bangkai tercium sangat kuat di penciuman mereka, bukan cuma satu, tapi ribuan pocong itu terlihat mulai agresif. Salah satu pocong dengan mata yang hampir terlepas menempelkan wajahnya pada kaca jendela di samping sang sopir. Sang sopir berteriak keras bersamaan dengan berdatangan nya mahkluk mahkluk alam lelembut lainya.


"Jagat lelembut! (Dunia mahkluk halus!) ucap Syarif dengan suara bergetar.


Syarif pernah mendengar ucapan Alingga tentang gerbang segoro yang memisahkan dunia manusia dengan dunia nya para jin dan sebangsanya. Namun, ia juga mendengar bahwa gerbang segoro telah dibuka.


Syarif masih belum bisa mempercayai semuanya, bagaimana bisa mereka masuk ke alam lelembut. Namun, kebingungan sudah terjawab dengan munculnya ribuan mahkluk seram di sekelilingnya.


"Ojo sampe metu mas! Apapun yang terjadi kita harus tetap didalam!" ( Jangan sampe keluar Mas!) Syarif melanjutkan ucapannya yang belum selesai.


Sang sopir tak berani membuka matanya, ia menutup rapat rapat matanya dengan telapak tangan nya. Sedangkan syarif, ia tampak bingung harus melakukan apa diposisi nya saat ini. Ia tak tahu apa apa tentang alam lelembut, bagaimana caranya masuk ataupun sebaliknya bagaimana caranya keluar dari alam ini. Ia lagi lagi pasrah saat jiwa jiwa yang dipenuhi kemarahan itu mulai menggedor-gedor setiap sisi mobil.


Syarif hanya mengingat pesan laras sebelum nya, ia sekarang mengerti kenapa mereka tak diizinkan keluar mobil saat kemuning muncul. Rupanya laras sudah lebih dulu menyadari keganjilan ini, ia sadar bahwa mereka bukan di Dunia manusia lagi.


Syarif sebenarnya masih bingung, apa yang akan terjadi jika mereka keluar dari dalam mobil. Apakah sesuatu hal akan terjadi nanti? Syarif buru buru menepis pemikiran nya, ia tak ingin melakukan hal hal bodoh.

__ADS_1


Sang sopir masih berada pada tempatnya, ia tak bergerak sedikit pun. Ia begitu menyesali nasibnya yang tidak beruntung, padahal sudah berkali-kali ia melewati jalan itu namun baru kali ini ia mengalami hal diluar nalar.


"Mas.. " Syarif menyentuh pundak sang sopir yang menundukan kepalanya.


Sopir itu melirik ke arah syarif, ia tak mengeluarkan sepatah katapun, hanya menatap datar menunggu sesuatu yang akan di ucapkan Syarif.


"Mayat mayat di dekat jembatan alas Ruwah itu di kemanakan?" tanya syarif.


Sang sopir bingung mau menjawab apa, dia sendiri tidak tau apa yang terjadi dengan mayat mayat itu. Lagipula kenapa Syarif tiba tiba menanyakan hal itu, apakah yang terjadi dengan mereka berhubungan dengan peristiwa itu?


"Ndak tau mas, aparat itu yang membawanya, yang saya dengar mayat-mayat itu tak pernah di bawa keluar." Sang sopir berusaha mengatakan segala nya yang diketahuinya.


Syarif tampak berfikir , ia menimbang semua informasi yang didapat nya. Dengan kebisingan yang dibuat mahkluk mahkluk di luar mobil konsentrasinya sedikit terganggu, beruntung kali ini Syarif tidak pingsan.


"Apa mungkin mayat mayat itu di bawa ke alas ruwah. Melihat denah wilayah desa laweh, satu satunya akses menuju jembatan hanya melewati desa laweh. Tidak mungkin warga desa tidak melihatnya." ucap Syarif lirih terkesan sedang berbicara pada dirinya sendiri.


Entah apa yang tengah dicari tahu oleh syarif, ia terlihat serius memilah milah semua informasi nya. Sang sopir disampingnya juga tak banyak membantu, ia masih menunduk kan pandangannya agar tak berkontak langsung dengan mahkluk mahkluk itu.


"Nyalakan lagi mas! Kita cari gerbang pembatas kedua dunia!" Syarif berbicara lirih pada sang sopir. Sang sopir tentu saja mendengar, namun ia masih belum siap mental menatap ribuan mahkluk dihadapan nya itu. Namun, melihat bulat nya tekat Syarif, ia juga memiliki harapan yang sama.


Mesin dinyalakan, suara derum mobil menggema di dalam dimensi berbeda alam manusia. Lampu depan menyala menampakkan wujud wujud berbagai bentuk yang secara paksa tersingkir dari lajunya mobil. kedua orang itu mencoba melawan rasa takutnya, manusia biasa yang memiliki harapan untuk terus hidup.

__ADS_1


__ADS_2