Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 34: Kematian


__ADS_3

Matahari bersinar terik dalam bayang bayang awan kumulus, menghangatkan aspal jalan yang tengah ramai lalu lintas. Alingga melenggang santai dengan tas ranselnya menuju sebuah angkutan umum di bahu jalan. Kaki nya melangkah masuk kedalam bus kota yang masih sepi penumpang, tidak ada yang tahu kemana tujuannya.


Raut wajahnya datar, tak ada ekspresi khusus yang dapat membaca apa yang tengah difikirkan nya. Namun, ada kegelisahan yang terpancar, gelisah terhadap sesuatu yang akan terjadi dimasa depan.


Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.


Satus tumbal wes arep genep!


Ekspresi wajah Alingga menjadi masam. Alingga kehilangan banyak waktu, ia buru-buru menghentikan laju bis dan segera berlari membelah arus lalu lintas yang tengah ramai.


***


Alingga memasuki pelataran rumah yang cukup lapang. Ia berjalan perlahan memasuki Teras rumah. Tidak ada siapapun disana, pintu terkunci sangat rapat.


"Mbah.. Mbah... !" Alingga menggedor-gedor pintu dengan sangat keras.


Alingga mengintip kedalam rumah melalui lubang kecil diantara sekat jendela, di dalam Sangat gelap, kursi dan perabot rumah yang lainya masih di tempat nya. Namun, ada aroma aneh yang berasal dari dalam rumah.


Saat Alingga sedang fokus dengan penciuman nya, sekelebat bayangan hitam keluar dari jendela samping rumah mbah Slamet. Refleks Alingga cukup cepat, ia segera berlari mengejar orang berpakaian serba hitam itu.


Seorang warga tanpa sengaja menyaksikan mereka, orang itu buru buru meminta bantuan kepada warga yang lain setelah melihat ada seseorang yang dengan sengaja masuk kedalam rumah mbah Slamet.


Alingga berhasil menyusul orang misterius tersebut di area perkebunan. Terjadi perkelahian yang cukup sengit diantara keduanya, seni beladiri Alingga tak bisa di anggap remeh. Namun, sepertinya keduanya masih enggan mengalah, satu dua pukulan saling menyerang dan menangkis.


Alingga berhasil melumpuhkan orang tersebut, ia menarik penutup wajah yang yang terpasang di wajahnya. Alingga terkejut, seseorang dihadapannya ini adalah Juhri.

__ADS_1


"Juhri?" ucap Alingga dengan ekspresi kaget. Juhri yang terkapar di tanah tersenyum licik melihat kebingungan Alingga. Ia tiba-tiba menendang bagian sensitif Alingga dengan sangat keras saat Alingga kehilangan kewaspadaan nya. Alingga kesakitan menahan kesal saat menatap Juhri yang telah melarikan diri.


"BANGSAT!!" teriak Alingga Murka.


Beberapa warga menghampiri Alingga dengan membawa parang dan celurit, seorang warga membantu Alingga berdiri dari posisinya yang berlutut.


"Mas, Kemana orang nya?" tanya seorang warga yang mengenakan kaos oblong berwarna hitam.


Alingga tidak dapat menjawab, ia hanya menunjukkan jari nya kearah tempat juhri melarikan diri. Warga yang lain segera pergi kearah yang ditunjuk oleh Alingga, sedangkan Alingga ia berjalan tertatih-tatih kembali ketempat kediaman mbah Slamet.


Pelataran rumah mbah slamet sudah dipenuhi banyak orang, dari pria, wanita bahkan anak anak ikut mengerubungi rumah itu. Jeritan histeris terdengar dari orang orang yang hadir disana, bahkan ada beberapa orang yang sampai muntah setelah keluar dari dalam rumah mbah Slamet.


Alingga segera berlari masuk kedalam rumah mbah Slamet, ia melihat rumah yang sudah sangat padat dan sesak. Alingga menerobos kerumunan yang menghalangi jalannya, ia dengan cepat sampai di depan kamar tempat mbah Slamet berada.


Alingga terduduk lemas, jika saja ia tak meninggalkan rumah ini pasti nyawa mbah Slamet masih bisa tertolong. Hatinya sesak, jantung nya memompa dengan cepat. Alingga menetes kan air mata atas kegagalan nya.


"Ada satu lagi korban di belakang sana!" ucap seorang warga yang barusan masuk dari arah halaman belakang.Alingga mengusap air mata nya, ia segera bergegas ke halaman belakang untuk memastikan siapa yang menjadi korban lagi.


Dibawah pohon nangka tepat di samping sumur batu, seorang lelaki tergeletak dengan pisau yang menancap diarea perut nya. Alingga segera berlari menghampiri orang tersebut yang tengah menahan sakit dengan nafas yang hampir terputus.


Alingga segera bertindak, ia meminta warga yang lain menyiapkan kendaraan untuk membawa mas Yanto kerumah sakit. Alingga mencengkeram kuat tangan mas Yanto, ia sebisa mungkin menenangkan mas yanto agar bertahan sampai tiba dirumah sakit.


Sebuah mobil sayur memasuki area pelataran rumah mbah Slamet, warga disekitar segera mengangkat tubuh mas yanto untuk segera di bawa kerumah sakit. Alingga tidak ikut serta, ia memilih untuk mengurus tubuh mbah Slamet terlebih dahulu.


"Mas keluarga nya mbah Slamet?" tanya seorang lelaki yang memiliki kumis tebal.

__ADS_1


"Bukan pak, saya tamu nya mbah Slamet, baru tiba tadi pagi."


"Bagaimana ini, tidak ada keluarga yang bisa dihubungi." keluh laki laki berkumis tebal tersebut.


"Kenapa tidak bisa pak? Memangnya mbah Slamet tidak punya sanak saudara?"


Lelaki itu menggeleng kan kepalanya.


"Ndak ada mas! Mbah Slamet tinggal seorang diri. Yang saya ingat mbah Slamet ini tidak pernah menikah. Warga sini juga ndak ada yang tau keluarga nya yang lain"


"Tapi tenang aja mas, tadi salah satu warga kami telah menghubungi aparat yang berwenang. Mungkin saja dengan adanya mereka keluarganya yang lain bisa di hubungi." lanjut lelaki berkumis tebal.


Alingga menghela nafas panjang, ia nampak sedikit kesal setelah mendengar ada warga yang melaporkan masalah ini kepihak yang berwajib.


"Percuma! Masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan hukum." Alingga menggerutu lirih.


"Langsung kita makam kan saja pak!" lanjut Alingga.


Lelaki berkumis tebal itu sedikit kebingungan, tampak wajahnya yang sudah cukup berumur berkilau tersengat terik nya matahari.


"Tapi ini kasus pembunuhan, biar pihak yang berwenang saja yang mengurus." bantah lelaki berkumis tebal.


"Sudah saya bilang percuma! Kasus ini akan ditutup sebagai kasus beku. Semua aparat itu antek antek nya wijaya semua ~Ciih!"jelas Alingga jengkel, ia sedikit emosi terlebih lagi saat menyebut nama Wijaya.Lelaki itu masih tidak paham, ia bahkan tidak mengenal wijaya yang dimaksud kan oleh Alingga.


Alingga tak ingin berdebat lagi dengan lelaki itu, suasana hatinya sedang tidak baik baik saja. Alingga kembali masuk kedalam rumah untuk memeriksa sesuatu, ia begitu fokus hingga dering handphone nya tidak dipedulikan nya lagi. Sebuah panggilan dari Syarif tak henti hentinya menggetarkan saku celananya. Namun, pikiran Alingga saat ini tengah kacau, masalah demi masalah muncul tanpa adanya jalan keluar. Ia masih belum juga sadar, posisi Syarif sama sama terpojok dengannya, sama sama tersudut, sama sama tak memiliki jalan keluar.

__ADS_1


__ADS_2