
2 hari menjelang pernikahan.
Afra melangkah pelan turun dari anak tangga. Pikirannya malah melayang pada lima hari yang lalu. Sedikit geli dia kembali memikirkannya.
Flashback-on
"Aku ingin mempercepat pernikahan ini." Lelaki itu menunduk setelah mengutarakan niatnya pada kedua orangtua Afra.
Awalnya Afra terkejut, namun segera menormalkan wajahnya kembali. Dia berhenti bernapas sejenak. "Apa ini maksudmu saat di hutan tadi?" Tanyanya.
Ziran tersenyum simpul sangat manis. "Iya, benar. Bagaimana menurut kamu?" Afra mengalihkan atensi pada tangannya yang ter-gips. Bagaimana menurutnya? Mana dia tahu! Yang dia tahu pasti, jantungnya makin deg-degan kencang saat ini! Afra bergerak gelisah, kehilangan ketenangan.
Tidak menduga akan secepat ini?
"Abi setuju. Niat baik itu jangan di tunda lebih lama, bukankah lebih cepat lebih baik?" Jawaban Abinya makin menambah pacuan jantung Afra, berdetak lebih keras.
"Benar Abi, lebih cepat lebih baik. Bagaimana sayang?" Sahut Irana girang, bersemangat memeluk putrinya dari samping.
jika sudah seperti ini, mau tidak mau Afra menjawab.
"Afra setuju, semua terserah Umi dan Abi saja."
"Alhamdullilah..." Syukur itu terucap oleh Ziran, Abi dan Uminya, terlihat sangat bahagia.
Gadis itu menolehkan wajahnya ke samping dan berbisik pada udara " Menolak pun tidak berguna, Ziran akan tetap memaksa dia menerima! Pemaksa!"
Ziran tak bisa menahan kekehan geli, mengetahui gadis itu mengomeli dirinya habis-habisan meski tak ada suara. Gerakan bibir itu terlalu sukar di lewatkan, selalu terpantau olehnya.
"Tapi...," Tentu kalian masih ingat bukan janji lelaki itu? Yah, hapalan Surah An-Nisa sebagai mahar penikahannya. Apa Ziran melupakannya? Semua orang menduga-duga kelanjutan ucapan Afra. "Hapalan Surah An-Nisa itu...,"
Ziran tersenyum semakin lebar, dugaannya paling tepat. "Alhamdulillah, aku sudah hafal. Pernikahannya satu minggu lagi dan sehari sebelum itu, akan ku dengarkan untukmu."
Rasa tenang meruyup ke hati Afra. Ziran patut diincar banyak kaum hawa, Lelaki itu bahkan mati-matian ingin mengahapal semua surah dalam Al-Quran untuknya. Apalagi yang lain? insaAllah...
"Atau..., kamu ingin mendengarnya sekarang? Tidak sabaran sekali." Goda Ziran, membuat Afra malu.
"30 Juz Al-Quran boleh sekarang." Tapi jangan salah, mulai sekarang Afra akan belajar menggoda lebih dari yang Ziran perbuat.
Padan muka!
Flashback-off
Pernikahannya di percepat dan kalian tahu bagaimana perasaan Afra? Menengangkan! Seperti menaiki wahana permainan ekstriem Rorrler Coaster, jantungnya di pacu berdebar lebih kencang menanti dua hari lagi statusnya akan berubah.
Pikiran Afra buyar seketika saat Uminya datang.
"Afra, mau kemana?"
Irana bertanya lebih dulu sebelum anaknya meminta izin.
"Mau ke kedai terus ke panti, Umi." Sahut Afra tersenyum.
Yah, setelah beberapa hari berkurung dalam rumah, Afra ingin mencari udara segar. Rencanya, dia akan ke 'MOCOCOLA' Sudah lama tidak ke kedai miliknya itu. Biasanya yang akan memantau kedai selain dirinya, ya Umi. Dan yah, dia juga rindu suasana panti, ketemu anak-anak dan si gadis malaysia.
"Loh, loh. Itu tangan kamu belum sembuh total, pernikahan kamu juga tinggal 2 hari lagi, lebih baik istrahat saja, ya nak." Irana membujuk, mengelus-elus lembut bahu kanan anaknya.
Afra menggeleng dan terkekeh kecil. "Tangan Afra lebih baik kok, Umi. Afra keluar hanya sebentar, boleh ya?" Afra memeluk manja Irana agar di izinkan.
Irana pun pasrah. "Iya, boleh deh. Baik-baik di sana. Jangan kelamaan pulangnya, sayang."
__ADS_1
Pelukan terlepas dan Afra tersenyum lebar memberi hormat. "Siap, Umi. Assalamuaikum." Setelah menyalami tangan Umi, Afra mulai melangkah ke arah pintu utama rumah.
"Eh, Nak!" Irana kembali memanggil. Afra pun berhenti dan membalik badan.
"Iya, Umi?" Afra penasaran.
"Tadi Abi nelpon Umi. Katanya, sebentar kakak kamu datang, loh." Ucap Umi tersenyum.
"Beneran, Umi. Kalau gitu, Afra berangkat sekarang, insyaAllah pulangnya cepat. Nggak sabar ketemu Abang."
Adami Huzeri, Kakak laki-laki seorang Afraza Humairah. Setelah Adami menjabat di perusahaan Abinya di luar kota, dia jarang sekali pulang karena saking sibuknya. Biasanya, hanya mencuri-curi waktu untuk pulang karena rindu keluarga dan kedua adik kesayangannya. Namun kali ini, dia pasti sudah mendengar jika Afra akan menikah itulah alasannya pulang.
"Iya, Sayang. Hati-hati, naik motornya jangan ngebut!" Peringat Irana saat anaknya bertingkah terlalu bersemangat.
"Iya Umi, iya ...." Afra melambai ke Uminya kemudian keluar dari rumah.
***
Motor Scoopy putihnya kemarin baru keluar dari rumah sakit -bengkel- masalahnya distrater tidak menyala mungkin mesinnya rusak. Entahlah, itu pertama kalinya motornya sakit. Makanya, jika keluar rumah dia selalu menggunakan Ojol atau taksi.
"Alhamdulillah."
Kini Scoppy-nya telah terparkir cantik di depan kedai. Afra turun dari motor, melepas helm dan menaruhnya di jok motor. Kakinya melangkah keluar dari parkiran dan berjalan ke arah pintu kedai MOCOCOLA. Saat mendengar bunyi notif ponselnya, segera dia mengambil benda pipih itu di dalam tas punggung kecinya.
Saat akan membuku pesan yang ternyata dari Ziran, Afra tak fokus pada jalan menyenggol seseorang, ponselnya melayang dan akan terjun ke bawah.
"Akh ...." Afra bergidik sendiri membayangkan detik-detik ponselnya akan membentur tanah. Pasti akan berbunyi 'kreak' retak dan pecah. Diapun menutup telinga rapat-rapat. Namun,
Hap!
Seseorang menangkapnya dengan lincah. Afra kini menatap ponselnya ada di tangan orang tersebut, tidak melihat wajahnya. Oh iya, siapa yang di tabraknya tadi? Melihat dari celana dan sepatu yang dia pakai, agaknya dia laki-laki.
"Yak, kembalikan ponselku!" Akhirnya Afra sadar. Menatap lelaki yang mengambil ponselnya, dengan tangan meminta miliknya. Beberapa detik memperhatikan sosok di depannya, Afra terkejut membulatkan mata. "Kiki? Kamu Kiki, kan?"
"Afra? Allahu Akbar, ketemu di sini rupanya." Lelaki yang ternyata bernama Kiki, tertawa senang tidak percaya. "Lama tidak jumpa. Terakhir kali ketemu waktu Art Festival 4 bulan lalu kalau nggak salah. Kamu selalu datang ke Stand lukisan aku waktu itu. Masih ingat?" Kiki mencoba mengingatkan Afra. Terlihat gadis itu tersenyum lebar dan tertawa geli.
"Masih ingat lah, Ki. Aku kan penggemar beratmu, tanda tanganmu waktu itu masih ada tuh. Siapa tau kan, suatu hari nanti kamu bakalan terkenal di dunia seni, aku nggak bakal bisa dapatkan tanda tanganmu lagi nanti." Keduanya tertawa merdu. "Makin kurus saja Ki, kebanyakan lukis yah?"
"Enggak, lah. Mikirin kamu nih, makanya jadi kurus gini."
"Idih, pintar gombal yah kamu!"
Afra tak bisa melupakan lelaki satu ini, Alki Kihalmid, nama panjannya. Afra lebih senang memanggil dengan sebutan 'Kiki' gabungan dari nama lengkap lelaki itu. Sosok lelaki tinggi dan berkulit kuning langsat, paling istimewa adalah bulu matanya yang tebal dan lentik ke atas. Mereka bertemu di acara pentas kesenian sekolah SMA-nya dulu. Kepala sekolah mengundang banyak profesi Seniman lukisan, pematung juga gafikus. Dan Kiki, salah satu seniman pelukis di antara yang terkenal. Ah, itu sudah sangat hebat menurut Afra. Memang belum terkenal, tapi di usia Kiki yang masih 28 tahun, sudah punya ratusan karya lukisan menakjubkan. Kecintaan Kiki pada melukis, sejak dia masih SD hingga kini.
"Eh, Ayo masuk!" Afra membuyarkan lamunannya, mengingat kilasan singkat tentang Kiki sang pelukis.
"Ajak masuk gini kayak punya kamu saja. Atau mau neraktir, nih." Kiki menggombal gadis itu namun, malah mendapat tatapan sinis.
"ini memang kedaiku, tahu!" Afra memeletkat lidah.
kini pandangan kiki turun pada tangan Afra yang ter-Gips. "Tangan kamu kenapa?"
"Bukan apa-apa. Tanganku baik-baik saja." Afra tersenyum menenangkan.
"yakin tangan kamu gak pa-pa? biasanya, tangan ter-gips itu artinya pa..."
"sudah di bilang ini bukan apa-apa, gak usah di pikirin!" Afra kesal menyentakkan kaki ke tanah.
"Hahah ..., oke-oke aku percaya." Kiki tertawa, mengetuk kepala gadis itu dengan kuas kecil yang selalu dibawa. "Jadi di ajak masuk gak, nih?"
__ADS_1
"Silahkan masuk Tuan, nikmati kunjungan Anda." Afra bergaya layaknya pelayan, tersenyum manis, membuka pintu untuk pengunjung.
"Dasar lebay!"
Afra kembali terkikik mendengar gerutuan Kiki yang sudah masuk dan memilih duduk di pojok ruangan dekat kaca jendela. Afra masih berdiri di depan pintu. Tangannya melambai kepada Zera dan Yuna, baru mengetahui kedatangannya. Mereka berlari senang menghampirinya dan memeluk secara bergantian.
"Zaka di mana?" Tanya Afra tidak melihat sosok pegawai laki-laki itu.
"Di belakang, kak. Lagi buatkan pesanan pengunjung. Kakak mau cokelat Mococola dingin atau panas?" Tanya Zera sopan.
"Kali ini panas deh. Pesan dua yah, satu untuk teman yang di pojok sana." Afra menujuk Kiki yang sedang duduk memandangi ke luar jalanan.
"Oke siap kak. Sebentar, yah." Zera pamit kebelakang.
Sekerang tinggal Yuna. "Neng Afra duduk dulu nanti pegel kakinya. Oh iya, tangan neng sudah baikan?" Pasti Uminya yang memberitahu. Huh, Uminya memang hobi curhat.
"Alhamdullilah sudah lebih baik, gak terlalu sakit lagi, kok." Afra mengangguk tersenyum lagi.
"Alhamdulillah, syukur deh neng. Kalau begitu, saya pamit ke belakang bantuin Zaka buat pesanan." Yuna turut senang.
Afra kini tahu satu hal. Uminya tidak curhat tentang rencana pernikahannya. Syukurlah.
"Silahkan, Yuna."
Selepas kepergiaan dua pegaiwainya, Afra menghampiri Kiki. Lelaki itu menyadari kedatangannya menoleh dan tersenyum. Afra duduk di depan lelaki itu.
"Aku lagi ikut perlombaan melukis, dan kamu tahu? Pemenangnya nanti akan mendapat kebanggaan melihat karyanya terpajang selamanya di Art Museum." Kiki mulai bercerita, tangannya menari-narikan kuas di meja kaca secara absurd.
Afra tercengang mendengarnya.
"Wah hebat dong! Kesempatan kamu menjadi sukses sebentar lagi akan terwujud. Semangat dong, Ki!" Dukung Afra bertepuk tangan heboh. Namun keceriaannya pudar melihat reaksi Kiki yang biasa-biasa saja.
Kiki tersenyum kecil, menatap Afra dengan sorot dalam penuh arti. "Kamu tahu?" Di lihatnya Afra menggeleng kebingungan. "Aku ingin memang, tapi tidak butuh semua ketenaran itu. Tidak ingin terkena sorot kamera seperti sosok yang ingin di kenal dunia. Mimpiku sederhana, Afra. Aku ingin, satu bagian kisahku yang paling berarti menjadi sejarah yang di abadikan di museum itu. Cukup itu!" Nadanya sangat dalam tersirat satu keinginan besar.
Afra mengeryit, seakan hatinya berontak ingin bertanya, kisah apa yang Kiki ingin abadikan dalam lukisan itu? Ingin dia bertanya, namun Afra bukan siapa-siapa, hanya teman itupun jika diakui lelaki itu. Afra tetao optimis mendukung. "Maka menangkan perlombaan itu. Aku ingin melihat langsung kisah yang amat berarti bagimu terpajang di sana." Senyum lebar keduanya terbit. Afra mengangkat tangan kirinya tinggi ke udara. "Alki Kihalmid, bisakah kamu janjikan kemenangan itu?"
Kiki balas mengangkat genggaman tangannya ke udara. "Pasti. Pokoknya kamu harus lihat!"
Sepasang manusia itu bercerita banyak hal, semua tentang dunia seni, di temani minuman cokelat Mococola panas. Afra cukup tergiur dengan seni lukisan bepikir, coba saja dia punya keahliah melukis, Kiki pasti bisa jadi guru yang baik untuknya. Ah, lupakan saja. Afra hanya berangan-angan pendek tentang hal itu.
Waktu berlalu cepat.
"Aku ternyata ada janji." Kiki bangkit berdiri dari duduknya. Menatap Afra lama, kemudian merogoh saku celananya mengeluarkan benda pipih milik gadis itu. "Ini ponselmu." Mengulurkannya pada Afra.
"Aku hampir lupa ponselku kamu simpan dari tadi." Afra menggerutu pelan. "Terima kasih, yah. Semoga impian sederhanamu bisa terwujud. Aku doakan selalu."
Kiki ikut berterima kasih menundukkan kepala sejanak. "Terima kasih juga. Aku berharap tidak terlambat, tapi ternyata aku kalah cepat dengannya. Mungkin lain kali aku ada kesempatan."
Kata-kata lelaki itu mengandung maksud seperti senyum kesedihannya.
Afra terdiam melamun, mencerna ucapan Kiki. Dan tersadar cepat, ingin bertanya, "Alki Kihalmid! Kiki! Apa maksudmu?" Namun, Kiki telah keluar dari kedai, pergi meninggalkan gadis itu.
Afra mendesah kasar. Tatapannya kini beralih pada meja di depannya, Kuas Kiki tergeletak di sana. Tertinggal atau memang disengaja, entahlah! Initinya, ini yang ke 4 kalinya Kiki melakukan itu.
Sama seperti ucapan Ziran tentang pahlawan bertopeng masih menjadi misteri. Ziran tak pernah mau menjawabnya. Kini, Kiki pun melukis misteri baru untuknya.
Kenapa semua berakhir seperti teka-teki?
Dan kenapa Afra di paksa menjadi seorang detektif yang harus memecahkan misteri ini sendirian!
__ADS_1
-To Be Continue-