
"Jangan pernah menyentuh milikku!"
Bendera peperangan telah berkibar tinggi. Kedua pemuda itu telah terhasut bisikan setan untuk bertarung menunjukkan taring.
Bugh ....
Ziran terpelanting jatuh di lantai akibat bogem mentah yang di layangkan Kiki di rahang kanannya secara tiba-tiba, dan dia tidak sempat menghindar. Ziran mendesis pelan merasakan sakit di tulang pipinya. Sebuah kesalahannya karena tidak siap, dan tinjuan itu cukup bertenaga.
"Akkhh!!!"
Semua pasang mata memekik shock menyaksikan live perkelahian beradu buku tangan antara dua lelaki itu. Suasana dalam kedai nampak horor dan membuat semua orang merinding berada di dalam sana. Sebagian pengunjung memilih menyelamatkan diri keluar kedai takut terkena imbas, dan sebagian kecil lainnya memilih bertahan mencari tempat aman dan tetap menonton.
"Cih!" Kiki geram, mendekat cepat dan meraih kerah kemeja Ziran untuk berdiri dan kembali melayangkan tinjuan ke wajah itu. "Memang kamu siapa, hah! Apa hakmu mengatur hidup orang lain!" Lagi-lagi tubuh Ziran jatuh menghantam lantai.
Sudah cukup, Ini tidak impas. Waktunya balas dendam!
Tak butuh waktu lama untuk Ziran segera bangkit dan membalas tinjuan itu.
Bugh ....
Giliran tubuh Kiki yang menubruk lantai keras. Kiki jatuh berbaring dengan memegang sudut bibirnya sobek dan mengeluarkan darah segar. pukulan itu dua kali lebih kuat dari tinjuannya tadi.
"Menyerah saja, kamu telah kalah dariku!" Ziran melumpuhkan Kiki, mengukungnya di bawah lengan kekarnya. Posisi mereka berdua sama-sama di atas lantai saling tumpang tindih, Ziran di atas mengunci pergerakan lelaki di bawahnya.
"Pe_pengecut ..., Hahaha ..., " Kiki tertawa mengejek dengan tatapan mata sinis. "Lebih ba_baik kamu bangun! A_ku tidak akan pernah me_melepaskannya apa yang aku klaim dahulu, terlebih kamu adalah seorang penikung." Suara Kiki terputus-putus sebab lengan Ziran yang mengukungnya membuat dirinya juga sulit bernafas.
Dua langkah di belakang Ziran, Afra mematung tak bergerak. Tubuh itu mendadak kaku, tak bisa berteriak atau sekedar menahan tangan Suaminya untuk berhenti. Walaupun kenyataannya semua itu terjadi karena dirinya sendiri. Kenapa dia sampai melanggar amanah Ziran untuk tidak berdekatan dengan laki-laki lain! Padahal dia sudah di peringatkan beberapa kali jika Ziran bukan orang yang sabar dan sangat pencemburu. Kamu sangat bodoh Afra, Batinnya berteriak.
"Yang kamu harapkan hanya kesia-siaan. Sudah tidak ada harapan lagi Alki, dia sekarang milikku, kamu tidak bisa apa-apa!"
Ziran melepas kuncian pada pergerakan tubuh Kiki. Dia sadar jika tidak segera menguasai amaranya dan kehilangan kontrol diri, dia bisa membunuh seseorang. Ya Rabb, Ziran tidak pernah ingin itu! Ziran bangkit berdiri.
"Uhuk ..., uhuk ...," Setengah terduduk Kiki terbatuk dan mengirup rakus udara di sekitarnya. "Berhenti bermimpi Ziran. Aku mungkin lebih lemah darimu, tapi aku tetap tidak akan menyerah!"
Apa maksud semua ini? Dalam hati Afra terus berteriak tidak mengerti.
Afra sadar ada yang tidak beres. Ini seperti benang yang saling berhubungan. Ziran memang akan cemburu jika dia dekat dengan lelaki lain, tapi mungkin tidak akan separah ini jika bukan Kiki orangnya. Yah, benar, dugaannya pasti benar. Mereka berdua terlihat saling membenci dan Afra tidak memungkiri bahwa kedua-duanya tengah memperebutkan dirinya. Kenapa dengannya? Ini sangat aneh dan membuatnya berpikir keras menebak maksud teka-teki dari kisahnya!
"Aku kata ...,"
"Kiki, sekarang Ziran adalah suamiku yang sah. Dia benar, aku miliknya. Aku mohon hentikan semua ini." Afra segera memotong ucapan Ziran yang jika di biarkan amarahnya akan semakin terpancing, dan jalan epilognya akan panjang.
Di wajah Ziran timbul senyum smirk. Perkataan Afra membuatnya sedikit cukup tenang. "Aku sudah katakan, kan? Tidak akan ada kesempatan!" Ziran mengguman dalam hati.
__ADS_1
Jleb ....
"Haha ..., Omong kosong apa ini? Jangan bercanda, Afra. Ini sama sekali tidak lucu." Kiki tertawa layaknya orang yang patah hati. Katakan jika itu hanya bualan, aku mohon. Aku sungguh tersiksa dengan candaanmu, Afra! Raut wajah Kiki adalah penderitaan batinnya. Jantungnya berdentum kuat menerima fakta itu. Tidak! dia tidak mau menerima kenyataan.
"Aku tidak berbohong, ki." Afra menggeleng lemah dengan sorot mata sayu.
"Dia memang Istriku dan aku Suaminya. Kami telah menikah tiga hari yang lalu." Imbuh Ziran berjalan mendekat ke arah Istrinya yang menunduk. "Jangan mengganggu keluargaku lagi!"
Kiki membuang pandangan ke arah dinding kedai yang terdapat lukisan Afra tengah tersenyum manis di sana. Kiki malah sebaliknya, tersenyum miris seraya bangkit dari dudukannya di lantai. Dia menunduk meraih kuasnya yang tergeletak di bawah, karena sempat membuangnya tadi saat perkelahian mereka.
Kiki meletakkan kembali kuasnya ke di dinding dan mulai melanjutkan lukisannya yang belum sepenuhnya jadi.
"Pergilah. Aku akan memikirkan cara untuk mengambilnya kembali. Aku memang terlambat, tapi tidak akan berhenti!" Katanya fokus menyelesaikan lukusannya.
Kiki sangat pintar mengendalikan amarah. Seperti tak ada yang baru saja terjadi, santai melanjutkan lukisannya dengan tenang. Napasnya yang tadi memburu karena emosi lenyap seketika.
Tangan Ziran kembali terkepal erat. Dia ingin maju dan memberi Kiki hadiah tinjuan lagi, namun kali ini Afra lebih sigap mengangkap jemari itu untuk tidak pergi.
"Ayo kak, kita pulang." Ekspresinya Sedikit memelas. Ziran menoleh menatap Afra memohon tidak tega untuk tidak mengabulkannya.
Perlahan napas itu keluar seiring emosinya yang kembali surut. "Baiklah!"
Ziran menautkan jarinya ke tangan istrinya dan membawanya berbalik arah hendak keluar dari kadai, namun Ziran menahan langkah saat pintu. Dia berbalik lagi. "Dengar Alki, jangan pernah berpikiran untuk bisa merebut istriku. Karena aku takkan melepasnya sampai kapanpun!" Camkannya sebelum benar-benar menghilang dari sana.
"Kita lihat sampai di mana keteguhanmu, Ziran!"
Pengunjung kafe bernapas lega saat peperangan dingin itu akhirnya berakhir.
***
"Kak ..., " Afra mencengkram pelan tangan Ziran berharap mendapat balasan, namun lagi-lagi dia harus menelan kecewa karena Ziran tidak menggubrisnya sama sekali. Ini bukan yang sekali, sudah sejak tadi Afra mencoba untuk mendapatkan perhatian Suaminya itu.
Marahnya laki-laki seperti ini, ya? Sekatapun atau sekedar deheman saja tidak. Gerutu Afra dalam hati.
Laju mobil yang mereka kendarai melaju di jalan raya dengan kecepatan sedang. Mereka akan langsung ke rumah pribadi mereka dan memulai hidup berdua di sana. Afra pun memilih manatap jalanan dan berinteraksi dengan pikirannya saja.
Sebenarnya apa yang dia lupakan? Tunggu dulu.
Afra memajamkan mata untuk mengingat-ngingat masa lalunya. Apa dia melupakan sesuatu? Yah, siapa tau Ziran dan Kiki memang bagian dari masa lalu yang terlupakan. Tapi yang mana? Seingatnya dia tak pernah bertemu Ziran ataupun Kiki.
"Aww!" Afra memekik saat kedua pipinya di cubit. Afra langsung membuka mata dan lamunannya yang tak berjawaban itu lenyap seketika.
"Kak Ziran, pipi aku sakit .... " Adu Afra mengusap-usap pipinya melirik ke arah Ziran yang bertampang datar. Tak ada tanggapan atau permintaan maaf dari Suaminya. Ziran persis seperti robot yang tak ada ekspresi dan tak berbicara.
__ADS_1
Ziran keluar mobil dan berjalan ke bagasi belakang dan mengambil kopernya. Dia menariknya hingga sampai ke pintu mobil Afra yang belum terbuka.
Ziran membukanya membuat Afra tersenyum. Ah, Suamiku kalau marah masih romantis juga. Batin Afra berteriak girang. Dia memang sengaja menguji, tak ingin keluar dari mobil sampai Ziran membuka pintu untuknya.
Afra turun dan melangkah ke arah Ziran yang berdiri dua langkah di depan mobil. Tatapannya menatap luruh rumah dua tingkah dengan pekarangan yang begitu banyak bunga berwarna-warni tumbuh sumbur dan tertata rapi di setiap sudut.
"Cantiknya ..., apa ini rumahnya, Kak?" Senyum manis Afra terbit begitu saja. Dia menyempatkan untuk mengirup bau segar bunga dan oksigen bersih yang menguar di sekelilingnya. Rumah impian setiap wanita.
Afra melongo, Ziran berlalu begitu saja dari hadapannya, dirinya di acuhkan. Sedih, Afra baru tau rasanya akan seperti ini. Tidak di pedulikan oleh orang yang kita cintai itu, macam duri dalam gengangam. Meski pernikahannya baru setumbuh benih kacang hijau, rasa ini sudah sangat menyiksa.
Afra diam di tempat.
Tring ting
Ada notif pesan yang masuk. Afra merogoh saku gamisnya dan mengambil benda pipih itu. Matanya tak berkedip menatap pesan yang masuk.
Ini dari Ziran? Pesan dari Suaminya?
Afra mengangkat pandangan menatap Ziran yang ternyata berhenti 7 langkah di depannya. Afra membuka pesan.
"Iya, ini sekarang rumah kita. Kenapa diam, ayo masuk."
Afra tersenyum geli membaca pesan dari Ziran. Oh, ternyata begitu. Tak ingin bicara langsung, tapi menggunakan media sebagai alat menyampaikan maksud. Satu lagi, Afra baru tahu sifat Ziran yang ini. Selain pemaksa, pencemburu, dia juga bisa kekanakan saat marah.
Afra langsung membalas pesan dengan seringai jahil di wajahnya.
"Aku buta tanpamu, tunjukan aku arah untuk memasuki rumah kita."
Afra cekikikan tanpa suara ketika pesannya di baca dan secepat detik berlalu di balas.
"Tunggu, aku akan menjemputmu."
Senyum kemenangan terpatri di wajah Afra setelah mendapatkan pesan balasan Suaminya.
Ziran bisa mogok bicara pada Afra, tapi tak bisa mogok memberi perhatian romantis pada istri kesayangannya itu. Lihatlah, Ziran berbalik arah melangkah lebar menuju Afra, layaknya pangeran hendak menjemput sang putri yang tertinggal. Sampai Ziran di hadapan sang pujaan hati, Jemari Afra di gengam erat. Berjalan bersama-sama menuju rumah impian. Afra bersandar nyaman di pundak lebar Ziran meresapi kebahagian di hatinya.
"Terima kasih, Suamiku."
Tring ting
Pesan kembali masuk di ponsel Afra.
"Aku mencintaimu, Istriku."
__ADS_1
-To Be Continue-