
Di hari pertamanya mengajar, Afra sedang melamun dan tidak sadar ketika dirinya telah menjadi pusat perhatian para santriwati di pondok pesantren Al-Akbar. Dia telah selesai menjelaskan pelajaran Akidah Ahlak pada santri dan memberi tugas, lalu memberi waktu mengerjakan sebelum menyetor padanya. Namun, Afra malah kehilangan konsentrasi dan alasannya lagi-lagi karena memikirkan Ziran.
"Buk Ustadzah?" Panggil salah satu Santriwati berniat ingin menyadarkan Afra dari lamunan. Namun, berakhir di tertawai kecil oleh teman sekelasnya karena rupanya caranya itu tidak berhasil.
Afra masih saja melamun.
"Eh, Reni. Kamu udah selesai tugasnya belum? Anter sana, siapa tau Buk Ustadzah bisa langsung sadar." Saran Lena pada teman sebangkunya. Biasanya, Reni paling cepat kalau mengerjakan tugas di kelas tersebut.
"Sudah, Sih. Oke deh aku coba." Akhirnya Reni mencoba. Dia berjalan ke arah meja Afra dengan membawa buku catatan tugasnya.
"Ekhm!" Dehemnya sedikit agak keras, belum berhasil Reni kembali mengulang, "Ekhm, ekhm, ekhm ... Uhuk, uhuk, uhuk .... "
Tawa sekelas pecah karena deheman Reni berubah menjadi batuk karena tersedak. Dan karena kebisingan itu Afra pun tersadar dan menoleh pada santriwati di deoannya yang masih batuk-batuk.
"Kamu kenapa, Nak?" Afra panik menepuk-nepuk pundak Reni kemudian menyodorkan air mineral dalam botol.
Setelah minum, batuk Reni pun menghilang dan tawa di kelas berangsur-angsur padam.
__ADS_1
"Hehe, nggak pa-pa, Buk Ustadzah. Ini tugas saya sudah selesai." Reni nyengir sambil menyimpan buku tugasnya di atas meja guru.
"Ya, sudah, kamu duduk lagi ya, kalau batuk lagi nanti ibu belikan obat." Tutur Afra mendapat senyum geli dari semua santri. Afra tidak tau saja apa yang sebenarnya terjadi, terlalu sibuk melamun.
"Ehe, iya, Buk Ustadzah." Reni kembali duduk.
Setengah jam kemudian berlalu dan waktu pelajaran Akidah Akhlak telah usai. Afra membereskan beberapa buku cetak untuk di kembalikan ke perpustakaan. Semua santriwati telah keluar kelas ketika bel berbunyi tadi.
"Ustadzah Afra, Biar aku saja yang bawa." Ternyata Jordan telah berada dalam kelas menghampiri Afra.
"Eh, nggak usah, Pak!" Larang Afra namun tetao di abaikan.
Huff, kelihatan banget, ya? Tanyanya dalam hati.
Afra duduk kembali di kursi guru. Kali ini dia sibuk pada ponselnya, melihat beberapa pesan masuk tapi itu semua bukan dari orang yang paling di tunggunya.
"Kakak segitu sibuknya sampai gak ada waktu ngabarin aku, ya? Satu pesan saja atau tidak telfon beberapa detik sudah cukup mengobati kegelisahan hati ini." Lirih Afra.
__ADS_1
"Eh, Astagfitullah. Ini sudah masuk waktu Zuhur, lebih baik aku sholat dulu." Afra bergegas berdiri membereskan barang-barangnya dan bergegas keluar kelas menuju mesjid di pondok pesantren Al-Akbar.
Afra kini sedang duduk bersimpuh di dalam mesjid mendengarkan Azan berkumandang merdu memenuhi indra pendengarannya. Ketika sholat hatinya tenang dan tentram. Dan yang paling istimewanya, Afra bisa meminta apapun pada sang khalik sepuasnya yang pasti akan di kabulkan.
"ALLAHUMMA SOLLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALA ALI SAYYIDINA MUHAMMAD." Sholawatnya memuji kekasih tercinta Allah Azza Wajallah.
"Allahumma la sahla illa ma ja’altahu sahla wa anta taj’alul hazna iza syi’ta sahla" Afra melafalkan doa penenang hati yang artinya~
“Wahai Tuhanku, tiada kemudahan melainkan apa yang Engkau jadikan mudah dan perkara yang susah boleh Engkau jadikan mudah apabila Engkau mengkehendakinya”.
Semoga dengan begitu hatinya akan damai dan segala benih masalah yang akan dia hadapi selanjutnya bisa di selesaikan sengan baik.
Afra selesai melaksanakan sholat berjalan keluar dari mesjid. Namun, tak lama gatar HP-nya membuatnya buru-buru mengecek.
Tenyata pesan Whatssap telah dia terima dari nomor tidak di kenal. Afra membuka pesan yang ternyata beberapa gambar. Ketika gambar itu telah terlihat jelas barulaah Afra terkejut melihatnya.
"Astagfirullah, Apa ini!!!"
__ADS_1
-To Be Continue-