
Di rumah sakit Cindara, satu keluarga berwajah panik setelah mendengar penjelasan sang dokter. Sampai mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Bagaimanakah cara untuk mendapatkan pendonor untuk Afra? mengingat orang yang bergolongan darah AB positif sangatlah langkah, seperti kata si Dokter hanya 3,4 persen saja.
"Pasien sudah boleh di kunjungi. Namun maaf, kondisi pasien yang lemah saat ini memungkinkan belum bisa sadar dalam waktu beberapa jam atau bisa sampai hari. Kita berdoa saja semoga bisa menemukan pendonor agar proses pemulihan pasien berjalan cepat. Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter wanita paruh bayah itu berbalik arah dan pergi setelah menjelaskan hal demikian.
Umi Afra tak mampu lagi menahan beban tubuhnya jatuh tak sadarkan diri, untung saja Abi sigap menangkap sang istri dan di bantu Ziran untuk di pindahkan ke dalam ruang peristrahatan rumah sakit tak jauh dari ruangan Afra. Salah satu dokter memeriksa keadaan Umi Irana.
"Dia hanya kelelahan dan banyak pikiran, mohon untuk tidak menambah dulu beban pikirannya saat ini. Biarkan dia istrahat agar cepat pulih." Abi dan Ziran mendengarkan seksama penjelasan dari Dokter wanita muda yang memeriksa kondisi Umi.
"Baik, Dokter, terima kasih." setelah Ziran berbicara dokter itu pamit keluar.
Teman-teman Afra dan keluarga panti tak tau harus melakukan apa. salah satu di antara mereka ingin membuka suara memulai suatu pembicaraan, namun rasanya tidak tepat dan suasananya kurang pas. Rasa canggung membatasi mereka.
Zanira sendiri memilih pergi dari rumah sakit setelah mengetahui keadaan Afra. Tak ada pamitan, dia pergi begitu saja entah kemana itu? Dia pergi membawa rasa marah pada Adiknya, mungkin untuk menenangkan diri.
Ziran kembali lagi menuju ruang perawatan istrinya meninggalkan mertuanya setelah berpamitan. Kepalanya terasa berat memikirkan dimana dia bisa mencari pendonor untuk Afra. Ah, lebih baik dia masuk untuk melihat kondisi Afra yang sedang kritis. Mengusap wajahnya lemah, sesekali meremas rambutnya dia memutuskan masuk ke dalam ruang perawatan Afra
Ceklek...
"Mau kemana anda?" Namun secara tak terduga, Bika menahan tangan Ziran yang memegang knop pintu mengahalagi lelaki itu beranjak dari tempat. Tatapan Bika selalu tak bersahabat pada Ziran sejak awal mereka berjumpa di hutan lalu.
Niat Ziran yang ingin masuk ke ruang Afra tertunda. Pintu ruang rawat di tutup oleh Ziran.
"Perlu kamu ketahui aku ini Suaminya, apa hak kamu bertanya aku mau kemana pun terserah!" Sinis Ziran tak suka pada teman Afra. Ziran bukan orang bodoh yang tidak bisa menebak tatapan yang selalu Bika berikan untuk Afra adalah tatapan Cinta.
"Saya tau Anda adalah Suaminya, tapi ..., " balas Bika menggantungkan ucapan. Ziran menatap aneh pada Bika yang malah memberi setipis senyum padanya. Ada apa dengan pemuda itu, bukannya dia tidak menyukai dirinya?
Sekarang pandangan Bika berpindah menatap bergantian pada semua orang di sekitarnya. "Saya tau siapa yang bisa membantu kita untuk menolong Afra."
Tercengang, tidak ada yang menduga jawaban Bika memberi sebuah harapan jika Afra bisa sembuh dan melewati masa kritisnya.
"Kalau begitu cepat katakan! Dimana kita bisa menemukan pendonor itu!" Tentu saja itu adalah kabar baik untuk Ziran, namun cara penunjukannya salah karena dia memaksa Bika berbicara dengan mencengkaram kemeja baju pemuda itu. Saking tidak sabarnya.
Kenapa semua orang suka sekali menyita waktuku! Apa susahnya segera beritahu saja? Aku bukan orang sabar, jadi jangan membuat emosiku berkuasa dan bertindak sesuka hati! Maki Ziran dalam hati menatap Bika dengan tajam.
Bika pun hanya diam di perlakukan seperti itu. Dalam posisi itu matanya melirik sekilas pada seseorang yang tengah duduk di kursi tunggu nampak gelisah dan wajahnya tertunduk sejak tadi.
"Woi, Bika! Jangan bikin orang emosian lah! Cepat kasih tau siapa orangnya?" celetuk Joy gemas ingin menjitak kepala Bika.
__ADS_1
"Iyanih, siapa orangnya? Kita akan lakukan apapun agar mendapatkan pendonor darah untuk teman kita, memohon pun kita gak pa-pa, keselamatan Afra lebih utama!" Sahut Mila bersemangat. Dia tersenyum pada Debi di sebelah Farsya yang juga kini ikut membalas senyumnya.
"Bik, dimana orang itu?" Tanya Debi, dia yang paling sabar di antara yang lain.
"Iya, kita akan lakukan apapun!" Reza tak ketinggalan ikut menyahut selaras dengan itu, tangannya di letakkan di bahu pacarnya, Mila. "Iya, kan, Beb?" sebelah alis Reza naik turun pada Mila.
"Iya, dong! Afra nggak boleh kenapa-kenapa, meski dia itu ngeselin karena gak ngundang kita ke pernikahannya waktu itu, dia tetap teman baik kita yang harus kita tolong." ucap Mila membuat Dinda terenyuh mendengarnya.
"Saya salut, korang memang kawan Afra yang terbaik." Dinda tak minta bahasa Malaysia-nya di mengerti baik. Tapi mereka pasti pahamlah.
"Heheh, iya dong." Tawa Joy di susul yang lain.
Kembali lagi pada Bika dan Ziran. mereka masih fokus pada pembahasan masing-masing. Masih dalam posisi yang tadi.
"Jangan membuat kita menunggu!" Geram Ziran menguatkan cengkraman.
"Sebenarnya kita bisa meminta tolong langsung padanya untuk mau mendonorkan darahnya pada Afra." salah satu di antara mereka makin gelisah dan wajahnya memucat karena ucapan Bika. Dia semakin menunduk menyembunyikan wajah di helaian rambutnya yang tergerai di dua sisi bahunya.
"Siapa orangnya? Dimana dia?" Desak Ziran. Sekali lagi Ziran bukanlah orang penyabar.
"Dia ada di sini. Dan orangnya adalah ...," pandangan Bika tertuju orang itu lebih intens.
"Farsya."
"Hah?" Sontak semua shock mendengar nama itu keluar dari mulut Bika. Farsya?
Jantung Farsya seketika berhenti berdetak sejenak. Bulir keringat dingin menetes dari pelipisnya.
"Ah, bercandaan kamu gak lucu, Abika Pratama! Kalau benar Fasya orangnya pasti dari tadi dia menjadi orang paling depan yang mau membantu Afra tanpa pikir panjang. Dia kan teman baik Afra." Cerocos Joy membantah.
"Oh, jadi maksudnya kami ini bukan teman baik Afra? Gitu ya?" Sinis Mila menginjak kaki Joy.
"Eh, bukan gitu maksud aku. Kan, Farsya teman pertama Afra sebelum kita, otomotis pertemanan mereka lebih akrab. Bahkan orang tua Afra lebih percaya Farsya tuh di banding kita." Ucapan Bika ada benarnya, bahkan semuanya hampir benar. Teman terlama Afra adalah Farsya.
"Hahaha, iya juga ya? Ah, kamu beruntung banget Farsya." tawa Mila kemudian, hingga tak sengaja refleks memukul bahu Farsya membuat gadis itu terlonjak kaget. Mila menghentikan tawa dan menatap aneh Farsya "Kamu kenapa, sih? Kok jadi pendiam gitu?"
Tidak di jawab. Farsya melamun.
__ADS_1
Cengkraman Ziran pada kerah kemeja Bika terlepas dan perhatian mereka berpusat pada Farsya.
Mila menatap teman-temannya dengan pandangan bingung. Saat Bika hendak angkat suara, Ziran menahannya dengan isyarat tangan.
"Apa golongan darah kamu sama seperti istriku?"
"Tidak, bukan aku! Bukan aku! Jangan! jangan! jangan benci aku!" Jeritan histeris keluar dari mulut Farsya menjawab pertanyaan Ziran dengan tak masuk akal.
Mila, Debi, Dinda, juga ketiga anak panti berjengkit kaget dan berdiri dari duduknya.
"Farsya?" Debi menatap tidak percaya pada apa yang di lihatnya.
"Dia kenapa kak?" Rizki menatap ngeri pada Farsya yang meremas rambutnya.
"Tante itu jadi aneh!" Komentar Reno berbisik pada bos kecilnya.
"Orang gila!" Teriak Risa bersembunyi di belakang Dinda. Keadaan menjadi rusuh.
"Husst, anak-anak diamlah dulu, jangan kacau!" Peringat Dinda yang akhirnya di turuti. Dinda membawa pergi ketiga anak itu keluar dari suasana yang berbeda itu.
"Far? Kamu baik-baik saja?" Bika ingin maju selangkah ke arah. Farsya, namun gadis itu kembali berteriak histeris.
"Aaakkh! Menjauh! Pergi sana!" jerit Farsya membuat suasana rumah sakit menjadi ramai.
Orang-orang merapat ke arah sumber kegaduhan, tidak hanya itu para dokter dan perawat yang lain juga ikut melihat.
"Ada dengan temanmu, kenapa dia seperti orang ketakutan?" Tanya Ziran pada Bika. Di balas gelengan tidak tahu oleh pemuda itu.
Farsya berdiri dari duduk dan berputar-putar di tempat dan dua tangannya terus menarik rambut yang kini terlihat berantakan karenanya. Sesekali perbedaan ekspresi wajah Farsya seperti orang yang hilang kewarasan, dan juga dia tertawa kemudian berteriak di waktu yang sama.
Salah satu Dokter laki-laki berumur kepala tiga menepuk pundak Ziran hingga lelaki itu berbalik menatap dokter.
"Maaf, Sepertinya teman anda ini mengalami gangguan kejiwaan karena tekanan atau sesuatu masalah yang menekan jiwanya hingga kehilangan kewarasan."
Hampir semua wanita di sana menutup mulut dengan sebelah tangan menyembunyikan keterkejutan.
"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit jiwa."
__ADS_1
"Apa!!!"
-To Be Continue-