
Lantunan ayat suci Al-Quran mengalun indah mengisi kesunyian di dalam kamar, setiap hari suara merdu itu selalu terdengar di kala sebelum subhu sampai matahari terbit.
Selesai sholat suhbu tadi, Afra tidak bisa menahan kantuk untuk terlelap, diapun tertidur sejenak dan terbangun masih mendapati Ziran me-Murojaah Surah Al-Furqon dengan mata terpejam berusaha fokus.
Afra turun dari peraduan berjalan lesu mendekat dan duduk di samping Suaminya. Kantuk Afra belum sepenuhnya hilang melihat paha Ziran yang seperti bantal, diapun kembali merebahkan kepalanya di sana. Nyaman di tambah suara Ziran yang mengulang bacaan Quran, seperti lagu pengantar tidur untuk membuat Afra memejamkan mata lagi.
Suara Ziran terhenti, membuka mata dan menunduk mendapati istrinya yang tidur berbantalkan pahanya. Diapun tersenyum dan mengelus-elus lembut rambut Istrinya kemudian berucap,
"Sudah pagi, masih mau tidur?" Dilihatnya Afra membuka mata sipit dan mendapati gelengan istrinya. "Oh, iya. Kamu belum cerita tentang jalan-jalanmu kemarin bersama Kak Zanira, jadi bagaimana? Menyenangkan?"
"Eh .... "
Mata Afra langsung terbuka lebar dan bangun dari baringannya. Tak lama dia terkekeh sembari menggaruk kepala.
Bagaimana ini? Kenapa harus mengungkit hari kemarin? Aku tidak ingin berbohong. Afra menjadi gelisah dan bergerak tak nyaman.
Dia harus mencari alasan tepat yang membuat Ziran tak mencurigainya. Ziran tidak boleh mengetahui jika kemarin dia sampai bertemu dengan Kiki, meski secara tidak sengaja Afrapun sudah menghindari lelaki itu kan?
Ziran merasakan gelagat aneh istrinya, menyipitkan mata berusaha membaca raut wajah Afra, "Ada apa? Apa terjadi sesuatu kemarin?"
"Eh, tidak ada yang terjadi kok, Kak." Ya karena aku benar-benar berusaha menghindari sesuatu yang bisa membuatmu cemburu! Sambungnya dalam hati.
Ziran tambah mencurgai istrinya. Melihat Afra yang menggeleng cepat dengan tangannya melambai-lambai di depan dada. Ada yang tidak beres. Apa yang lagi kamu sembunyikan, Hm?
"Kemarin jalan-jalannya sangat seru, Kak. Aku dan Kak Zanira menjelajahi kota, mengunjungi berbagai tempat seperti museum kota, toko buku, dan terakhir menonton Film action di bioskop. Semua baik-baik saja." Afra berusaha tersenyum setenang mungkin.
"Kamu tidak lagi menyembunyikan sesuatu, kan?" Afra berkedip, tak lama dia menggeleng sebagai jawaban.
"Tidak berbohong?" Afra menggeleng lagi.
"Jujur?" pertanyaan Ziran Kali ini tidak mendapat respon cepat dari Afra. Cukup lama, hingga beberapa detik berlalu barulah Afra mengangguk.
Afra menunduk dalam, hingga rambut panjangnya yang terurai menutupi wajah. Aku minta maaf, aku hanya ingin menjaga keharmonisan rumah tangga kita.
"Baguslah," Ziran mengelus kepala Afra kemudian berucap lagi, "Aku akan bersiap-siap ke kantor." Hanya itu, kemudian dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah terdengar bunyi pintu yang tertutup barulah dia menoleh kebalakang dengan tatapan nanar. Untunglah dia tidak bertanya lebih dalam lagi mengenai kejadian kemarin. Sekali lagi maafkan aku Suamiku ....
Afra berjalan menuju pintu kamar mandi dan mengetuk pintu tiga kali, "Pakaian kantormu telah aku siapkan di atas tempat tidur. Aku keluar kamar buatkan sarapan, aku tunggu di bawah, ya ...." Sejenak Afra menunggu sahutan Ziran.
"iya. "
Afra mengernyitkan kening mendengar jawaban Ziran yang singkat padat dan jelas. Sependek itu? padahal biasanya Ziran selalu menjawab dengan gombalan atau yang paling sederhanya saja dia berkata 'Iya Istriku' Tapi ini ....
"Ah, Sudahlah. Kenapa aku jadi mempermasalahkan hal sekecil itu, sih. Ada-ada saja kamu, Afra." Afra menepuk wajahnya konyol, menggeleng kepala dan berlalu keluar kamar.
__ADS_1
Di dalam kamar mandi, Ziran sedang berdiri di bawah guyuran air Shower yang membasahi seluruh tubuhnya. Pandangannya menghadap dinding keramik putih di depannya dengan tangan terkepal, giginya bergemelutuk saat dia mengeraskan rahang.
Dia berbohong! kepalan tangannya melayang meninju dinding keramik.
***
"Aku di undang datang ke acara Reunian teman sekelas di rumah teman lama, Afra mau ikut?"
Gelas berisi Susu akan tersentuh di bibir Afra, namun niatnya meminum susunya terhenti mendengar ajakan Kakak Iparnya. Afra malah berbalik menatap Ziran yang masih memakan sarapannya dengan tenang.
Perasaanku saja atau memang Ziran menjadi pendiam saat ini? Tidak biasanya. Atau aku membuat masalah lagi? Tapi apa itu? Afra membatin resah menatap Ziran.
Afra menggeleng pelan sebelum menjawab, "Sepertinya tidak deh, Kak. Itu kan, acara Kakak. " Afra tidak yakin juga dia akan di Izinkan pergi oleh Ziran.
"Loh, kok gitu. Ini bukan acara seformal Reuni yang di adakan sekolahan, Dek. Hanya acara Reuni sekelas teman-teman SMA kakak dulu di salah satu rumah teman juga, siapapun boleh datang. Afra mau, ya temani Kakak?" Zanira memelas dengan wajah di imutkan.
Afra kembali menatap Ziran yang kini telah selesai saarapan dan sedang meminum Susunya. Aduh bagaimana ini? Kenapa Ziran tidak berkata sesuatu, atupun melarangnya? Batin Afra berteriak kebingungan harus menjawab apa.
"Kak ..., " Afra pun menyentuh punggung tangan Ziran yang ada di atas meja, membuat Ziran tersentak seperti kaget, namun Afra tidak menyadarinya, "Boleh tidak?" Meminta Izin dengan tersenyum.
"Eh ...," Tatapan Ziran langsung tertuju serius pada Afra, "Kamu mengatakan apa tadi?"
Seketika ruangan hening, beberapa detik kemudian terdengarlah gelak tawa dari Zanira yang memenuhi ruang makan.
"Hahaha ..., Ternyata dari tadi kamu melamun?" Tawanya makin kencang. "Ya ampun Ziran, kamu ini kenapa?" Zanira memegang perutnya sakit karena tertawa keras.
"Maaf, aku sedikit tidak fokus. Memang ada apa?" Tanya Ziran pada Zanira dan di hadiahi cibiran dari Kakaknya.
"Sedang tak fokus?" Ledakan tawa Zanira memenuhi ruang makan. "Tidak biasanya kamu begitu, apalagi sampai mengabaikan Afra tadi. Tanya Istrimu sana."
Terlihat Ziran diam-diam mengehembuskan napas berat. Pikiranku benar-benar sedang kacau! aku ini kenapa! hanya karena kebohongan Afra yang belum pasti kenyataannya aku sampai sebodoh ini, bahkan mendiamkannya dari tadi. Ya, ampun Ziran! Jangan mengulang kesalahan yang sama lagi! sebelum Akhirnya dia menoleh pada Afra.
"Maafkan aku, Istriku. Aku terlalu berpikir keras, dan ...," Hentikan kekonyolanmu Ziran! Masalah kebohongan Afra tadi pagi hanya dugaanmu! "Aku berpikir mengenai pekerjaan kantor yang belum selesai, sekali lagi Maafkan aku." Ziran menunduk menyesali sifatnya yang tiba-tiba aneh membuat istrinya mengkhawatirkannya.
Afra berusaha tersenyum, "Tidak perlu meminta maaf, Kak. Kakak pasti lelah setiap hari mengurus kantor dan menjadi seorang bos memang bukan hal mudah, aku tahu itu." Afra mengelus punggung tangan Suaminya dan di sambut senyum dari wajah itu "Aku hanya ingin meminta izin dari Kakak."
Tangan Afra di genggam, "Meminta Izin untuk apa?" Tanya Ziran menelengkan kepala sedikit ke samping kanan.
"Kak Zani mengajakku ke acara Reunian teman lama sekolahnya dulu, boleh tidak Kak?" Tunggu beberapa detik baru terdengar jawaban Ziran.
"Memang acara selesainya sampai kapan?"
Mata Afra dan Zanira saling menubruk mendengar jawaban Ziran,
"Kamu memberi Izin?"
__ADS_1
"Kakak beri aku Izin?
Kedua wanita itu berucap bersamaan dengan nada terkejut.
Serius? kesambet apa Ziran sampai mudahnya Adik Iparnya mendapatkan Izin pergi dengannya, padahal kemarin mati-matian di bujuk agar Afra bisa aku bawa jalan-jalan. Zanira menggeleng terpukau sampai bertepuk tangan kecil di bawah meja.
"Asal pulangnya sebelum aku sampai di rumah sore nanti, jika lewat dari itu tak ada toleransi, kamu akan tetap Kakak hukum. Paham?"
Wah, rezeki yang tak terduga, tak perlu susah-susah lagi mencari alasan kalau begini. Zanira mengangguk pada Afra berharap Adik Iparnya mengikutinya.
Afra angguk kepala dan tersenyum bahagia, ini seperti menapatkan kebebasan kedua setelah kemarin. Afra tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menghirup udara luar sebanyak mungkin sebelum Ziran berubah menjadi sosok pengatur hidupnya lagi.
"Siap,Kak. Makasih Suamiku."
"Tapi ingat, jangan pernah dekat dengan laki-laki lain di luar sana! Kamu sudah punya suami dan itu adalah aku. Awas saja kalau aku sampai tahu!" Dan aturan itu beberapa kali sudah Afra dengar dan ingat baik-baik.
Zanira tertawa melihat interaksi suami istri di depannya. Apalagi ketika adiknya memberi Aturan saat keluar rumah, harus menghindari yang namanya lali-laki, bisa gawat saat ketahuan. Cemburunya Ziran lebih menakutkan.
"Siapa juga ya mau!"Aku bukan gadis genit yang menginginkan belaian lelaki lain. Aku punya Suami! Afra memaling wajah kesal.
Seperti biasanya, Afra dan Zanira pergi dengan menaiki motor Scoopy andalan Afra. Rumah acara reunian teman Zanira cukup jauh dan mereka kembali terjebat macet sampai satu jam lebih lamanya untuk sampai ke tujuan.
"Akhirnya ... "Zanira turun dari motor dan merenggngkan otot-otot tubuhnya yang kaku karena terlalu lama duduk. "Aduh, encok badanku."
"Sama Kak, tapi Alhamdulillah kita sampai juga. ini ya, rumahnya?" Helm keduanya di simpan di jok motor. Afra memperhatikan sekeliling, "Rame banget, Kak. Aku malu masuk ke sana, ini acara reunian kakak soalnya." melihat beberapa kendaraan mobil dan motor telah terparkir mengurubungi halaman rumah yang cukup luas itu. Karena parkiran dalam sudah penuh, Afra memarkirkan motornya di luar pagar rumah dekat pohon mangga.
"Gak pa-pa, Dek. Acara ini bebas untuk siapa saja yang mau datang, malah tetangga teman Kakak di undang juga. Kakak akan kenalin kamu sama semua teman jika kamu adalah Adik Ipar Zanira." Tangan Zanira menyentakkan rambut terurainya ke belakang berlagak sombong. "Ayo kita masuk." mengulurkan tangan pada Afra.
Afra tertawa melihat tingkah Zanira dan menyambut uluran itu. Mereka berjalan bersama hampir sampai di pintu pagar, di sana sudah ada Pak Satpam yang membuka pintu pagar, namun sebelum itu Afra menghentikan langkah.
Aku melupakan ponselku di bagasi motor!
"Tunggu, ya, Kak." Afra belari lagi ke motor dan membuka bagasi, kemudian mengambil ponselnya. Dia tidak membawa tas jadinya ponsel itu di masukkan ke dalam kantong gamis abu-nya.
Setelah di rasa tak ada lagi yang tertinggal, dia hendak melangkah lagi menuju Zanira yang menunggu di depan pintu gerbang. Namun, baru selangkah kakinya melangkah, Afra terkejutkan saat tiba-tiba mulutnya di bekap dengan kain yang berbau obat bius, Afra mencoba meronta melepaskan diri, tapi tidak berhasil.
TOLONG! KAK ZIRAN, TOLONG AKU!!! Batinnya berteriak memanggil nama Suaminya, berharap dia datang dan menolongnya.
Afra melihat Zanira dan Pak Satpam berlari panik ke arahnya, namun perlahan matanya tidak dapat menahan rasa kantuk yang datang begitu cepat memaksanya untuk tertidur, perlawanannya melemah.
Tubuh Afra di gotong masuk ke dalam mobil.
"Tolong aku Suamiku .... " Di sisa-sisa kesadarannya, tiga kata itu terucap hanya menyerupai gerakan bibir, sebelum semuanya gelap lalu mimpi menyambutnya.
"YA ALLAH, AFRAA!!!"
__ADS_1
-To Be Continue-