
"HEI GADIS KECIL, AWAS!"
"ZIRAN!"
DUB BRAK!!!
-
Hi-lo Hi-lo Hi-lo
Suara sirene Ambulan begitu memekakkan telinga saat mobil itu berhenti di depan tubuh seorang anak kecil yang terluka. Dua petugas rumah sakit bergegas turun dari mobil setelah mengambil tandu.
Seorang wanita dewasa yang kini duduk di samping anak terluka, dia yang menelpon pihak rumah sakit untuk mendatangkan Ambulans beberapa menit lalu.
Di depan tubuh seorang anak kecil yang bersimbah darah dan tak sadarkan diri itu. Seorang anak laki-laki lainnya sedang duduk bersimpuh dan menangisi sahabatnya. Dia terus menggoyangkan tubuh itu berharap sahabatnya terbangun. Namun tidak, tangisan anak laki-laki itu makin kencang.
Pengunjung taman lain yang tadi berniat pulang terhenti dan mulai merapat heboh ke tempat terjadinya kecelakaan itu. Tubuh anak tak sadarkan diri itu di kelilingi banyak orang.
"Kak, maafin Afra. Gara-gara Afra, Kak topeng serigala kepalanya berdarah dan tidur." Ucap gadis yang berdiri di samping anak laki-laki yang menangis itu. Kepala anak gadis itu tertunduk dalam meminta maaf.
Dia Afra, gadis kecil berusia 5 tahun itu yang menyebabkan Ziran celaka karena menyelematkan dari sepeda motor yang hampir menabraknya. Dan Alki hanya mampu menatap shock kejadian yang terjadi sangat cepat itu.
"Sudah, jangan minta maaf. Ziran gak akan suka kalau cewek minta maaf meski dia yang salah." Tutur Alki menghapus jejak air mata di wajahnya.
Dua petugas rumah sakit langsung mengangkat tubuh Ziran ke atas tandu. Tapi sebelum itu dia bertanya pada pada kerubungan orang-orang.
"Siapa keluarga korban?"
"Aku Kakaknya ... "Alki terpaksa mengakui dirinya sebagai kakak dari Ziran. "Cepat bawa adikku ke rumah sakit, Pak. Dia butuh perawatan, selamatkan dia!" Kata Alki.
"Baik. Adik silahkan ikut dengan kami." Ucap salah petugas yang memakai masker rumah sakit.
"Iya, Pak!"
Petugas itu telah membawa Ziran mamasuki Mobil Ambulans. Sebelun Alki beranjak dia kembali berbalik menatap wanita yang menelpon pihak rumah sakit tadi.
"Sekali lagi terima kasih atas bantuan Tante." Wanita dewasa berkacamata itu tersenyum dan mengelusi kepala Alki.
"Semoga Adikmu tidak kenapa-kenapa. Dia seorang pahlawan berani mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Cepat susul Adikmu." Kata wanita itu menyuruh Alki pergi.
"Afra boleh ikut tidak, Kak? Afra mau lihat Kakak topeng serigala." Sebelum Alki berbalik pergi tangannya di tahan oleh Afra yang meminta izin untuk ikut.
Alki menggeleng keras. "Tidak, kamu lebih baik pulang ke rumah. Hati-hati gadis kecil."
__ADS_1
Wajah Afra berangsur-angsur sendu. "Kalau begitu, Afra akan tunggu di taman ini. Afra akan meminta maaf dan berterima kasih langsung sama Kak topeng serigala kalau dia sudah bangun nanti. Kak topeng kijang, tolong sampaikan pesan ini, ya?" Ucap Afra mengatupkan telapak tangan di dada memohon pada Alki.
"Pasti. Kakak pergi, ya!" Alki telah berlari maduk ke dalam mobil Ambulans. Sirena Almbulans itu pun mengiringi kepergian mobil dengan kecepatan cukup tinggi.
Afra kecil melambai pada mobil dengan tersenyum kecil. Dia masih tidak tau apa-apa, gadis itu masih sangat polos untuk tau apa yang terjadi.
"Kakak topeng Serigala pahlawanku!" Katanya melebarkan senyum sampai gigi ginsulnya terlihat.
"AFRA!"
"Kak, Adami!"
Namanya, Adami. Sosok laki-laki berusia 12 tahun datang dan langsung merengkuh Adiknya dalam pelukan.
"Kamu kemana saja? Kakak bilangkan tunggu di taman, kenapa malah di sini?" Adami sempat melirik sosok wanita dewasa di depannya.
"Kamu Kakaknya, ya? Tolong jaga adikmu baik-baik, dia hampir saja tertabrak tadi." Ucap wanita itu membuat mata Adami membulat.
"Benar begitu, Afra? Kamu ini ... "
"Maaf, Afra salah. Tadi Kak topeng serigala kepalanya berdarah dan sekarang di bawah mobil ambulans, Kak." Tutur Afra mulai terisak kecil dalam tundukannya.
"Huff ... Kita bicara di rumah. Kak, kami izin pulang dulu, terima kasih sudah menjaga adik saya." Ucap Adami dengan senyum kecil di wajahnya.
Kedua bocah itu meninggalkan taman dan pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Adami mengenggam erat tangan Afra, takut adiknya celaka jika dia melepaskan tangannya.
"Kak, nanti Afra mau sering-sering ke taman, ya? Afra mau tunggu pahlawan Afra datang." Ucap gadis itu.
Dalam benak Adami, yang di maksud pahlawan adiknya pasti yang menolong Afra tadi. Hati Adami gusar memikirkan nasib anak itu. Apa dia baik-baik saja? Semoga saja. karena berkat anak itu, adiknya selamat dan tidak kenapa-kenapa.
"Iya, boleh kok, Dek." Adami mengangguk sambil tersenyum menyetujui keinginan kecil sang adik.
***
Tiga bulan kemudian.
Nampak tiga anak kecil tengah berkejar-kejaran mengelilingi kursi taman yang panjang sambil tertawa riang. Ada satu orang anak gadis dan dua orang anak laki-laki yang memakai topeng berbeda bentuk. Ya, mereka adalah Afra, Ziran, dan Alki.
Mereka bertiga telah berteman dari beberapa hari yang lalu, setelah Ziran sembuh total dari kecelakaan tempo hari itu. Afra benar-benar menunggu pahlawannya darang ke taman, tentu dia senang karena penantian lamanya itu membuahkan hasil. Setiap hari dia sempatkan datang ke taman, jika bukan di temani Bibinya pasti Kakaknya.
"Aku capek!" Keluh Afra berhenti berlari sambil mengatur napasnya yang memburu. "Udah yah, Kak topeng. Kita duduk dulu."
Kedua anak laki-laki itu menurut, namun tetap menertawakan gadis kecil yang cepat sekali lelah bermain. padahal mereka hanya bermain tidak lebih dari sepuluh menit berkejar-kejaran.
__ADS_1
Mereka bertiga duduk di bangku taman yang panjang. Afra duduk di tengah kedua laki-laki itu.
"Mau es-krim?" Tawar Alki menunjuk penjual es-krim keliling di ujung taman.
"Mau-mau! Yang rasa stowberi ya, Kak topeng kijang!" Ujar Afra antusias.
"Siap, tuan putri. Kamu mau rasa apa?" Kini Alki bertanya pada Ziran.
"Hm ... Sama deh, hehehe ...." Ziran cengengesan sambil menggaruk belakang kepalanya.
Alki terdiam sebentar menatap Ziran tanpa ekspresi. Beberapa detik sampai....
"Jadi gak es krimnya kak?" Tanya Afra.
"Oh jadi, kok. Tunggu sebentar, ya." Alki pun segera berlalu dari sana pergi memberi es-krim.
Suasana di sekitar dua anak kecil itu mulai canggung.
"Kak topeng serigala, makasih, ya." Turut Afra tiba-tiba membuat Ziran langsung salah tingkah.
"Terima kasih untuk apa?" Ziran merasa wajahnya yang tiba-tiba panas ketika menatap Afra. Dia pun memilih menatap langit biru untuk menghilangkan rasa gugupnya. Ada apa dengannya?
"Karena sudah menolong ku waktu itu. Apa lukanya masih sakit, Kak?" Tanya Afra memengang bekas luka di dahi Ziran.
Sontak saja Ziran menepis cepat tangan anak gadis itu dan menggeser duduknya sedikit menjauh.
"T-tidak apa-apa, aku sudah baik-baik saja. Hehehe ...." Ucap Ziran terputus-putus karena jantungnya yang bedetak lebih keras sekarang.
"Huff ... baguslah kalau begitu. Boleh tidak aku memanggil Kakak dengan pahlawan bertopengku?" Tanya Afra dengan tersenyum sangat lebar.
"Tentu boleh!" Ucap Ziran balas tersenyum. "Kita bisa berteman."
seketika senyum Afra menyurut mendengar ucapan terakhir Ziran.
"Teman?" Tanya Afra sedikit mengernyitkan kening,
"I-iya, kita teman." Kata Ziran lagi dengan anggukan kecil.
"Tapi aku suka sama Kakak. Kalau suka memangnya hanya berteman, ya?"
Mata Ziran membulat mendengar penuturan anak gadis lima tahun di bawahnya itu.
-To Be Continue****-
__ADS_1