Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 19 : DEAL!


__ADS_3

Pagi ini Afra seperti biasa, sibuk berkutat dengan alat-alat masaknya. Dia membuat nasi goreng dan telur mata sapi untuk sarapan paginya dan Suaminya. Afra bukan ahlinya memasak, tapi sedikit bisalah. Mbok Wu hanya berkerja selain di hari minggu dan hari ini dia tengah libur. Saat tengah asik menggoreng telur, tiba-tiba dia merasakan ada tangan yang menyelip dan memeluknya dari belakang.


Sudah pasti Ziran.


"Assalamualaikum, Sayang." Sambil mencium pipi kanan Afra. "Lagi masak apa?" Ziran menumpukan dagunya di bahu sang istri.


"Waalaikumsalam. Gak lihat aku lagi masak apa?" Jawab Afra tak ada manis-manisnya, meski hanya di buat-buat.


Ziran mendengus pelan menggelitiki perut Afra, sampai dia mendengar permohonan ampun dari Istrinya barulah dia berhenti. Tawa Afra masih menyisahkan kegelian di perutnya.


"Bercanda, Suamiku. Ini aku lagi buat nasi goreng dan telur mata sapi, kamu suka kan?" Sebelah tangannya mengelus kepala Ziran dan semakin merapat ke dalam pelukan.


"Aku suka semua yang kamu masak. Walau tersedia hanya air putih pun akan terasa nikmat asal ada kamu dan senyumanmu." Ziran menggoda istrinya.


Afra cekikikan mendengar kata-kata manis yang sering dia dengar dari pasangan halal maupun tidak halal pada umumnya. "Gombal kamu!" Sambil mencubit pelan lengan Suaminya.


"Ini serius, Sayang."


"Oke, oke, aku percaya. Kalau begitu sarapan pagi ini hanya air putih sambil liatin senyum aku, Deal?" Tantang Afra mendapat senyum kecil Ziran.


"Nasi goreng dan telur mata sapinya jadi Mubazir dong, Sayang." Ziran menganggaruk sebelah pipinya.


"Haha ..., aku hanya bercanda. Makanya jangan suka ngegombal!" Telinga Ziran di jewer sambil di tertawai, Afra.


Ziran mencebikkan bibir memasang tampang teraniyaya. "Iya, Istriku bawel! Aku mau pura-pura ngambek, ah."


"Jangan mulai, deh." Afra geleng-geleng kepala melihat tingkah kekankan Ziran. "Suamiku, lebih baik Kamu tunggu di meja makan, ya."


Ziran mengangguk seperti anak kecil. ketika ingin pergi sempat-sempatnya dia mencium pipi Afra. "Jangan lama-lama, Istriku!" Katanya sebelum menghilang dari balik dinding dapur.


Senyum Afra mengembang melihat Ziran telah kembali seperti pertama kali dia mengenalnya, bukan seperti kemarin Afra bagai berbicara pada patung. Ini semua berkat Kakak Iparnya Zanira. Karena rencana kemarin mampu membuat Ziran bertekuk lutut berjanji akan lebih dewasa dalam menghadapi masalah rumah tangganya. Ah, itu hanya masalah kemarin, sekarang semua sudah kembali normal.


Saat ini, terlihat sepasang kekasih halal sedang memakan sarapan paginya di meja makan. Hanya dentingan sendok dan garpu yang menghiasi kesunyian. Belum ada yang membuka suara.


"Kamu bosan di rumah terus?" Sampai suara Ziran yang pertama kali terdengar memecah keheningan.


Afra mengangkat pandangan menatap ke Ziran, "Bosan. Tapi kalau kamu bilang jangan keluar rumah aku bisa apa?" Bahuya terangkat santai.


"Kita sudah lama tidak ke panti, ya?" Satu sendok nasi goreng masuk ke mulut Ziran.


"Sangat lama. Aku sampai merindukan keluargaku di sana. Haha..., aku masih ingat saat kita di kerjain dua bos kembar saat main petak umpet." Afra tertawa mengingat kenangan sebelum mereka menikah bersama anak panti.


Ziran ikut tertawa menihat Afra tertawa bahagia. "Mau ke sana?" Ajak Ziran.


Afra menatap sang Suami. Serius? "Mau, mau! Kamu gak bercanda, kan?"


"Dua rius," Ziran meletakkan sendok dan garpunya ke piring, meminum habis teh hangatnya yang tinggal setengah. "Cepat habiskan sarapanmu, setelah itu kita berangkat."


"Yes! Alhamdulillah .... " Saking senangnya Afra locat dan memeluk erat leher suaminya. "Terima kasih suamiku!" Gemas dia mencubil pipi Ziran.


Ziran balas memeluk "Aku mencintaimu." Bisiknya di telinga sang istri yang tidak mendapat jawaban.


***


"Kita akan belanja apa?" Afra bertanya bingung saat mobil telah terparkir di depan supermarket menuju ke rumah panti.

__ADS_1


Ziran terlebih dahulu mematikan mesin mobil kemudian membuka sealbetnya dan juga Afra.


" Belikan yang mereka suka, Sayang. Kamu pasti tau kesukaan mereka, kan?"


Afra tersenyum haru. Suaminya benar-benar perhatian, tidak hanya pada dirinya tapi ke semua orang. "Terima kasih." Sorot matanya penuh syukur mendapatkan sosok Suami seperti Ziran.


"Jangan berterima kasih terus. Asalkan kamu bahagia akupun ikut bahagia." Mengelus-elus wajah Afra, "Ayo!"


Ziran turun lebih dulu dan membuka pintu mobil untuk istrinya. Sudah menjadi kebiasaanya. Di ulurkan tangan kanannya itu ke hadapan Afra. "Mari Tuan Putri."


Afra menerima dengan suka cita, turun dari mobil dengan wajah berseri indah. Dia mengambil kesempatan untuk menghirup udara luar setelah dua hari terus berada dalam rumah. Ah, dia senang sekali.


"Jangah jauh-jauh dariku. Aku takut kamu menghilang." Ucap Ziran yang di tanggapi hormat kecil Istrinya.


Cukup lebay juga. Afra bukan anak kecil lagi, tak mungkin hilang. Bilapun menghilang di sini, dia juga tau jalan pulangnya. Afra menjawab saja, "Siap pak Bos!" Di iringi hormat kecilnya.


Mereka bergandengan hingga masuk ke dalam supermarket. Tangan Ziran erat menggengam tangan kecil Istrinya, takut mutiaranya hilang dari pandangan saat dia melepasnya. Afra pun tak ingin jauh-jauh dari Ziran terus berada di dekatnya membuat dirinya sangat nyaman.


Waktu berbelanja di mulai.


Ziran mengambil Troli Supermarket dan membawanya ke hadapan Afra. Belum sempat Afra melengkah untuk memulai petualang belanjanya, Ziran lebih dulu menggendongnya masuk ke dalam Troli.


Hap.


"Tugasmu hanya duduk manis di sini dan tunjuk apa saja yang kamu inginkan. Paham?" Ziran itu penuh kreasi, suka membuat suasana romantis tiba-tiba. Lihat saja, saat pertama kali masuk ke dalam supermarket pun sudah mendapat tatapan memuja hampir dari semua gadis yang ada di sana. Tapi melihat perlakuan lelaki itu pada wanitanya membuat semua gadis patah hati seketika.


Sudah ada yang punya.


"Turunkan aku Ziran, aku malu di lihat banyak orang." Afra malu menjadi pusat perhatian banyak orang.


Di sela-sela waktu mereka berbelanja selalu di selingi tawa candaan dari keduanya, tak terasa mereka hampir menghabiskan waktu selama satu jam di sana. Di rasa semuanya sudah lengkap, keduanya kembali ke kasir untuk membayarnya.


Di dalam mobil menuju panti.


Ziran menarik pelan hidung Afra, "Pasang sealbet penting untuk keselamatan, ingat ya, Sayang." Ucapnya sambil memasangkan sealbet pada istrinya.


Afra cengengesan karena lupa, "InsaAllah akan selalu di ingat, Pak Bos." Sahut Afra mengangkat dua jempol di depan wajahnya.


Mobil kembali berhenti, kali ini telah sampai pada tujuan utamanya rumah Panti Asuhan 'Yayasan Peduli Kasih'. Pasangan kekasih itu berjalan bersama-sama menuju pintu Panti, dan bersama juga mengetuk pintu. Itu tidak di sengaja.


"Assalamualaikum." Kembali lagi mereka bersamaan mengucap salam.


Merekapun saling melempar senyum dan memandang ke dalam mata pasangannya. Cukup lama, hingga tak sadar pintu telah terbuka lebar menampakkan penguhuni panti dan menatap dua orang di depannya tak berkedip.


"Ekem .... " Suara deheman mengalihkan atensi Afra dan Ziran kepada Dinda dan semua anak panti di depannya.


Afra menjadi salah tingkah. "Assalamualaikum," Sapanya melambai pelan pada keluarga pantinya.


Anak-anak panti langsung tersadar dan belomba-lomba berlari ingin memeluk Afra. "Waalaikumsalam, Kak Afa!" Yang ke bagian memeluk harus mengalah.


"Kak Afa lama banget datang ke sini lagi," Riza menggerutu cemberut.


Dan saudaranya Riski ikut nimbrung galak. "Iyanih, Kak Afa udah lupa kita ya, pasti gara-gara Kakak tinggi ini." Sambil menunjuk Ziran dengan mata tajam.


"Kok aku, sih?" Bisik Ziran ke udara. Tangannya menggaruk kepala yang tidak gatal.

__ADS_1


"Eh, tak boleh macem tuh. Kalian jangan hakimi bang Ziran. Mundur sikit, dah macem tak boleh napas kak Afra tuh." Dinda melerai pernusuhan yang baru saja tercipta antara Rizki dan Ziran yang di tuduh telah mengambil kakak kesayangannya.


Ziran harus mengambil hati anak-anak panti agar dia juga menjadi seperti Afra, kakak kesayangan. Aha! Ziran tau caranya.


"Bos kecil, bagaimana kalau kita berteman?" Pinta Ziran yang di hadiahi satu angkatan alis dari Rizki.


"Nggak mau!" Tolak Rizki mentah-mentah membuang pandangan ke samping.


Ziran menarik napas kecil. Sabar Ziran. "Yaudah ayo ikut sini!" Tanpa minta izin dia menarik tangan Rizki ke arah mobil.


Afra menggeleng kepala melihat permusuhan aneh itu, dirinya jadi rebutan. Dia ikut mengiring anak panti ke arah mobil begitupun Dinda.


Ziran membukan bagasi mobil dan mengeluarkan semua kantong barang belanjaannya di hadapan Rizki yang berdiri angkuh melipat tangan di dada.


"Kamu suka coklat, kan? Ini coklatnya." Ziran menaruh coklat itu ke tangan Rizki.


"Coklat bikin gigi aku sakit, aku bukan cewek!" Bocah kecil itu menatap sangar pada Ziran.


Wah, bocah ini susah sekali di taklukkan. Batin Ziran hampir menyerah.


"Ya sudah, kamu boleh pilih semua makanan di sini, ambil sesukamu. Jadi kita bisa berteman, kan?" Ziran juga hampir menyerah menghadapi keras kepalanya Bocah itu. Itu adalah penawaran terakhir yang dia miliki.


"Nggak mau!" Tangan Rizki mengibas di samping wajahnya. Matanya melirik-lirik ke arah mobil mewah di depannya. Ziran ikut melirik ke arah mana mata Rizki.


Oh, jangan bilang dia mau mobilku? Ya ampun bocah tengik ini!


Telinga Ziran hampir berasap, tapi sebelum terjadi ucapan Bocah itu menghentikan kemarahannya.


"Oke kita berteman," semua yang ada di sana menerbitkan senyum.


Akhirnya ....


"Tapi syaratnya bawa kami semua jalan-jalan pakai mobil ini, setelah itu baru kita berteman. Bagaimana?" Alis Rizki naik turun meminta jawaban.


Afra menyembunyikan kekehan kecil menutupnya dengan punggung tangan. "Bocah licik!" Bisik Afra pada Dinda.


"Betullah, dia belajar dari ahlinya." Dinda bangga menunjuk diri. Dialah guru Rizki sehingga licik seperti itu.


Afra tertawa, kembali melihat aksi perdebatan di depannya.


"Ide bagus. Kalian mau kemana?" Ziran menyetujui permintaan Rizki membuat semua anak panti bersorak riang akan di bawa jalan-jalan memakai mobil. Ini pertama kali untuk mereka.


"Bagaimana kalau kita berkemah di pantai? Sepertinya di sana akan seru." Afra bersuara memberi usulan. Berkemah di pantai belum pernah dia lalukan. Bagaimana kalau mencoba hal baru?


"Wah, iya. Pantai, pantai, pantai! Ayo berkemah di pantai!" Risa berteriak gembira di susul temannya yang lain.


Ziran tak perlu berpikir lagi. Afra senang, diapun senang. Dia menjabat tangan kanan Rizki dan berkata,


"Oke, Deal. Besok kalian siap-siap kita berkemah di pantai!"


Semua yang ada di sana meloncat gembira. Anak-anak panti, tak terkecuali Rizki si bocah licik ikut mengerubungi Ziran dan memeluknya.


"Makasih Kakak Tinggi!"


-To Be Continue-

__ADS_1


__ADS_2