Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 30 : SATU KESEMPATAN


__ADS_3

"Kamu belum cukup pintar rupanya. Ziran bisa saja melacak ponsel istrinya dan menemukannya segera, kenapa tidak di matikan saja?" Lelaki itu mengambil ponsel dari genggaman Adiknya berniat menonaktifkan ponsel Afra, Namun lebih dulu di rampas kembali oleh Kiki.


"itu adalah bagian dari rencanaku, biarkan dia datang." Kiki berjalan menuju jendela kamarnya, membuka horden cream bermotif garis putih dan melarikan matanya melihat keadaan di bawah sana. Tentu saja kamarnya terletak di lantai dua, "Aku menantikan kedatangannya."


Mata lelaki itu membelalak mendengar ucapan Kiki, dia mendekati adiknya, "Kamu gila! Dia bisa tau tempat ini cepat atau lambat, dan rencanamu ini berakhir sia-sia!"


"Tidak akan, aku sudah mempersiapkan ini matang-matang jangan meragukanku ini pasti berhasil!" Tanpa menoleh Kiki menjawab.


Lelaki di belakang berkacak pinggang, jengah dengan tingkah adiknya. Jangan kira Kakakmu ini tidak peduli padamu, kamu itu belum lebih pintar dari Kakak, kenapa merasa seolah-olah kamu ini hebat? Kukutuk baru tahu rasa!


"Oh, jadi rencanamu membiarkan tempat ini di grebek polisi? Coba katakan, sudah berapa hebat kamu menyusun rencanamu agar ini berhasil sempurna?" Nada bicara lelaki itu naik satu oktaf, setengah mati dia menahan kemarahan sebagai seorang Kakak yang memarahi adiknya sebab masalah yang terlalu di remehkan.


Kiki menatap Kakaknya sejenak kemudian mengangkat bahunya cuek, "Itu urusanku, urus saja urusanmu!" Kembali melihat ke luar jendela.


Tak dapat menahan kekesalan lagi, Lelaki itu menarik kerah baju Kiki sampai menghadapnya, mendorongnya hingga tubuh Adiknya menghantam jendela besi di belakang.


"Jangan bilang ini hanya urusanmu! Ingat aku ini Kakakmu, urusanmu juga menjadi urusanku! " Tekanan dorongan tangan lelaki itu pada Adiknya cukup kuat, akibatnya Kiki terbatuk pelan karena lengan Kakaknya mengunci lehernya.


Perlahan lelaki itu sadar dan menguasai amarahnya. Dia melepas tangannya begitu saja membuat Kiki satu langkah maju ke depan dengan tertunduk memegangi dadanya. Apa yang telah kulakan! Hampir saja aku membunuh adikku sendiri!


"Kamu baik-baik saja?" Lelaki itu menyentuh pundak Kiki berniat membantu berdiri, namun segera di tepis kasar sang adik.


Apa dia gila? masih bertanya aku baik-baik saja setelah aku hampir mati tercekik lengannya? ku harap aku bisa membalasnya nanti. Batin Kiki mengumpati sang kakak.


Kiki menghirup oksigen dan berdiri tegak menghadap Kakaknya, "Aku bilang jangan mendramatisasi! Cukup, lebih baik kamu keluar!"


"Aku tidak akan keluar, ini juga rumahku!" mendengar ucapan itu Kiki bemanik tajam pada Kakaknya,


Sombong sekali, rumah ini masih milik Ayah sepenuhnya, belum jatuh hak waris pada kamu Kakak! Tapi tak apa, lain kali aku akan pindah kerumahku sendiri, hanya karena ini kamarku sejak kecil aku menyukainya.


"Aku tahu, tapi ini Kamarku!" Protes Kiki mendorong bahu Kakaknya agar mundur, dia berjalan menuju sofa panjang dan duduk nyaman di sana setelah mengambil buku tebal bersambul hitam legam. Di sana tertulis judul bertinta gold 'Instinct of the world's painters' yang di belinya di toko buku terkenal semasa kuliahnya di inggris.


Lagi-lagi Lelaki itu mengikuti Kiki, diapun duduk di samping adiknya yang sekarang sibuk membolak-balikkan halaman buku entah apa yang dia cari.


"Dengarkan aku Adikku ...."


"Sudah ku dengar, "


Hembusan napas sangat berat keluar dari Kakak Kiki, Menjadi sosok kakak yang baik untuk adiknya ternyata susah, apalagi saat kita mempunyai salah padanya akan lebih kacau lagi. Baik salah, jahat lebih parah!

__ADS_1


"Masalah ini bisa sampai ke rana hukum dan kamu bisa masuk penjara karena rencana gilamu menculik Istri Orang, meski akupun juga turut terkena imbasnya. Ziran bukan orang sabar, dia bisa menghabisimu saat dia tahu dalang semua ini kamu, Alki Kihalmid." Di lihatnya Kiki seperti tak mendengar ucapan Kakaknya barusan, malah asik membaca bagian paling belakang halaman buku.


"kamu tahu?" Lelaki itu melirik adikknya dengan senyum tapi tak di respon, "Ayo katakan sesuatu!" Dia ingin adiknya menyahutinya.


"Hm ... " Hanya di balas seperti ini, rupanya Kiki sudah terlalu malas meladeni ocehan lelaki itu.


Tak apa, dia akan tetap melanjutkan keinginannya bercerita tentang hal yang di anggapnya menarik ini, "Kakak juga sudah merasakan tinjuan Ziran yang super itu mengenai wajah tampanku, ya itu karena aku menggoda istrinya."


Bukh!


Buku tebal Kiki melayang ke wajah Kakaknya.


"Kamu memang pantas mendapatkannya, untuk apa menggoda Afra!" Lelaki itu tersenyum senang melihat kemarahan adiknya, ini lebih dari prediksinya.


Wow, dia lebih galak jika ini menyangkut wanita yang dia suka. Aku tak menyangkah satu wanita di perebutkan dua orang nyata terjadi di hidupku, dan hebatnya akupun terlibat.


"Lain kali aku yang akan menghajarmu jika .... "


"Egggh ... " Ucapan Kiki terpotong kala terdengar lenguhan pelan dari seorang wanita yang baru terbangun dari tidurnya. "Aw ..., kepalaku pusing." Ringisnya menyentuh kepalanya. Afra masih belum menyadari di mana dia sekarang.


Aduh, aku ini kenapa? kenapa kepalaku pusing sekali setelah bangun? Batinnya kembali memejam mata.


Kedua lelaki itu saling pandang sejenaj, seakan berbicara lewat tatapan mata.


Kakak Kiki : Memang banar.


Kiki : Tapi ini ....?


Kali ini Kakak Kiki menggeleng sebagai jawaban diapun tak tahu.


Telepati itu terputus dan mereka segera berjalan menuju ranjang melihat keadaan gadis itu. perasaan Kiki tiba-tiba di landa cemas serta jantung yang berdetak keras, antara gugup dan khawatir ketika sebantar lagi Afra akan sadar apa yang terjadi dan telah dia lakukan padanya.


"Hei, kamu baik-baik saja?" seketika Lelaki itu mengaduh kesakutan saat kakinya di injak Kiki tak berperasaan. Dia menatap adikknya dengan tatapan bertanya 'Kenapa menginjakku?'


Namun, kiki tak menjelaskan sebab mata Afra telah terbuka lebar dan kini menatap mereka berdua. Aku lemah melihat tatapannya, aku takut rencanaku gagal! Tapi tidak, ini sudah sangat jauh, aku harus menceritakan padanya tentang cerita kami di masa lalu, bahwa akulah yang sebenarnya bersamanya buka Ziran!


Afra berkedip, masih mengumpulkan kesadarannya. Beberapa detik berlalu barulah Afra benar-benar sadar.


"Kiki!" Terpekik kaget dan segera bangun dari baringannya, dia beringsut mundur menjauhi lelaki itu. Tatapannya menjadi takut melihat Kiki ada di depannya. Seketika ingatan beberapa jam lalu langsung menerobos masuk ke dalan memorinya, mengingatkan dia tentang penculikan beberapa jam lalu.

__ADS_1


Aku gak mungkin mimpi! Dia adalah Kiki! Apa yang menculikku adalah dia! Tidak salah lagi, penculiknya pasti adalah dia! Ketakukan Afra semakin bertambah saat melihat sosok lelaki yang cukup familiar di ingatannya juga berdiri di samping Kiki. Dia ..., Kenapa dia di sini? Apa dia juga terlibat? Yah, itu pasti, mereka berdua bersekongkol menculikku, benar-benar licik! Batin Afra terus berteriak ketakukan menduga-duga segala kemungkinan yang mungkin saja benar, kan?


Aku kira Kiki adalah orang yang baik, tapi perbuataannya ini membuatku yakin dia adalah perusak rumah tanggaku dan Ziran!


"Kenapa kalian mencukikku!?" Afra berteriak histeris terus menerus beringsut mundur hingga ke sudut kepala ranjang, "Apa sebenarnya mau kalian? Katakan!"


Kedua lelaki itu mematung di tempat, mereka sudah menduga Afra akan ketakukan melihat mereka.


Kiki akan maju selangkah, namun Afra kembali berteriak dan melemparkan bantal pada dua lelaki itu.


"DIAM DI TEMPAT! DASAR PENJAHAT, PENCULIK! AKU BENCI KALIAN SEMUA!"


Kiki menundukkan kepala baru merasakan penyesalan setelah semuanya terjadi. Dia kira inilah cara yang terbaik untuk bisa bercerita masa lalu mereka, namun semua di luar ekspentasinya, Afra semakin takut melihatnya.


"Afra kumohon tenang dulu, dengarkan aku menjelaskan semua kesalahan ini." Kiki tak mendengarkan suara jeritan Afra yang menyutuhnya mundur, dia maju dan bersimpuh dengan tangan memohon. "Aku salah, aku bodoh, aku sungguh merasa menyesal. Menculikmu ternyata membuat kamu semakin takut padaku. Aku kira ...."


"Kamu kira apa? Aku senang dengan perbuatanmu? Hahaha ..., aku kira kita adalah teman, Ki. Tapi terima kasih, kerena perbuatanmu ini sekarang aku tahu mana teman yang baik dan jahat sepertimu! kamu hanya ingin menghancurkan rumah tanggaku dan Ziran, aku tahu itu! Dasar penjahat!"


Kiki semakin menunduk menyembutikan sorot matanya yang terluka dengan perkataan Afra.


Kakak Kiki merasakan ketegangan di dalam ruang kamar itu sangat membuatnya tak nyaman. Dia bukan penjahat, adiknya juga bukan! Namun, kesalahpahaman nampaknya berhasil membuat pertengkaran sepasang manusia itu.


"Nona, kami sudah mengakui kesalahan kami, mohon maafkan kami. Niat Kiki membawamu ke sini sebenarnya hanya untuk bercerita mengingatkanmu tentang masa lalu yang mungkin telah kamu lupakan. Kenapa kami menculikmu? Itulah jalan satu-satunya karena kamu terus menghindari Kiki di saat dia ingin mendekatimu, kamu pasti ingatkan kejadian di taman? kurasa semua sudah jelas." Lelaki itu menjelaskan panjang lebar masi dengan gayanya yang santai.


Kening Afra mengerut, menatap bergantian pada dua lelaki di depannya, "Sebenarnya hungan kalian berdua apa?" Pertanyaan itu terlintas begitu saja di kepalanya.


"Kami berdua Kakak beradik." Kiki menyahut pelan masih dengan menyembunyikan wajahnya. Dia tidak sanggup manatap manik ketakutan Afra padanya.


Fakta itu tidak begitu mengejutkan Afra, "Huh ..., pantas saja sifat kalian berdua sama." Ucap Afra begitu sinis dan membuang wajah ke samping.


"Ya, terserah padamu, Nona. Mau menilai kami jahat, aku takkan mengelaka lagi. Aku sudah lelah menjelaskan diriku ini baik dan tampan pada semua orang." Kelakar Lelaki itu pun ikut memalingkan wajah. Dia memang suka bercanda di semua situasi.


Namun tak lama lelaki itu kembali menatap Afra yang kini menatap jendela kamar, "Asal Beri satu kesempatan untuk Adikku bercerita, selebihnya kamu bebas melalukan apapun. Kami juga akan memulangkanmu secara baik-baik." Ucapan itu membuat Kiki menatap Kakaknya. Afra juga menatap lelaki yang pernah bertemunya sekali itu.


"Baiklah ...," Afra melihat kesungguhan manik itu meminta satu hal itu, kemudian dia beralih memandang sorot penyesalan Kiki yang masih bersimpuh di lantai. "Aku akan mendengarkan semua ceritanya. Tapi setelah itu, kuharap kejadian ini tidak terlulang lagi dan jangan pernah menganggu rumah tanggaku! Bisa kamu janjikan itu, Ki?"


Kiki tak bisa berkata. Rasanya semua perjuangannya tetap sia-sia dengan permintaan Afra terakhir tadi. Menjauhi wanita itu sangat sulit, mengingat janjinya sewaktu dulu sepertinya Afra itu lupa akan hal itu.


Kiki mengangguk pelan, meski sulit memenuhinya setidaknya ini lebih baik di bandingkan tidak sama sekali. Dia bisa mengingatkan Afra tentang cerita masa lalu mereka.

__ADS_1


"Baik, terima kasih untuk satu kesempatan itu."


-To Be Countinue-


__ADS_2