
"Yey ... Pantai!"
Risa berteriak riang di samping jendela mobil yang kacanya terbuka. Sorakan itu tidak sendiri, ke tujuh teman dan saudara pun ikut berteriak menciptakan kebisingan hebat di dalam mobil Ziran.
"Akhh! Aku gak sabar mau lihat pantai. kata salah satu temanku di sekolah, di pantai kita bisa seru-seruan main air, berenang, nulis-nulis di pasir, pokoknya asik deh. Nanti aku mau buat Istana pasir di sana, kalian bantu aku, ya?" Risa bersemangat berbicara pada temannya.
"Oke, aku bantu!"
"Aku juga!"
"Aku ikut!"
"Nanti aku yang buat menaranya!"
"Kalau aku sih paling jago buat Istana. Nah, Bos Rizki maukan buat tembok raksasanya?" Reno bertanya pada Bos kecilnya.
"Oke, yang penting kita sampai pantai nya dulu." Balas Rizki mengangkat satu jari jempolnya ke Reno yang duduk tepat di belakangnya.
Benar, Rizki yang duduk di samping Ziran. Yang seharusnya tempat favorit itu di tempati istrinya, tapi si bocah licik langsung menyerobot masuk mendahului Afra. Awalnya Ziran ingin memprotes, tapi akhirnya mengalah melihat tatapan memohon dari Afra.
Sabar, semua demi Afra.
Rizki memandang ke arah Ziran yang menyetir mobil. "Masih jauh nggak Kak, lama banget sampainya?"
Mata Ziran tetap lurus kedepan, "Sudah sampai, tuh di depan sana." Menunjuk dengan gerakan dagunya pada objek yang telah nampak di depan mata.
"Mana, Mana! Wah ..., keren benget!" Risa berkomentar lebih dulu melihat.
Anak-anak mulai merapat ke jendela mobil dan mengintip takjub hal yang baru di hidup mereka. Pantai? Mereka hanya tau nama dan tak pernah tahu wujud.
"Cepat hentikan mobilnya, Kak!" Perintah Bos kecil, Rizki.
"Iya, Bos. Sabar sedikit." Sehalus mungkin Ziran menjawab.
Afra tertawa saat melihat sudut mata Ziran menyipit tajam.
Sabar, Suamiku. Beginilah rasanya saat menjadi anak-anak. Hal paling kecil pun akan sangat menyenangkan saat kamu belum pernah merasakannya. Ingin sekali Afra mengatakan itu pada Suaminya, tapi suasananya tidak begitu pas. Di sampingnya ada Dinda yang memangku Risa.
Mobil telah di parkirkan Ziran pada tepat teduh. Suasana semakin gaduh, anak-anak tidak sabaran meminta pintu mobil segera di buka. Sebelum itu terjadi, lebih dulu Ziran angkat suara.
"Satu aturan sebelum kalian turun," Perkataan itu mengacu pada anak-anak. Atensi dalam mobil semua langsung tertuju pada Ziran.
"Iya apa, cepat bilang, Kak!" Rizki tak suka menunggu, jika ada aturan katakan saja secepatnya. Dia juga tak sabar menahan godaan menginjakkan kaki ke pasir pantai.
Kacamata hitam bulat yang awalnya tersampir di kerah bajunya di kenakan oleh Ziran, berlagak Cool. "Jangan melawan, harus mendengar, jangan main di air laut tanpa pengawasa kami, mainnya jangan kelamaan, dan paling penting jangan menyusahkan kakak kalian menyuruhnya ini dan itu. Paham?"
__ADS_1
Semua melongo mendengar itu.
"Tadi Kakak bilang satu aturan! Aku hitung kok jadi lima?" Reno ajudan setia Rizki dengan status si bocah gemar matematik itu menyanggah.
"Kamu harus banyak Belajar," sebelah tangan Ziran jatuh di pundak Reno. "Semua perkatan Kakak tadi masih dalam satu rangkaian kalimat yang berarti menjadi satu aturan."
Afra tersenyum sedih melihat semua wajah anak-anak panti nampak tidak terima. Afra merasa kasihan, mereka tidak akan bebas ingin bermain.
"Kak Ziran, Suamiku .... "
"Sssttt ..., aku tidak akan merugikan mereka, Sayang. Asal mereka mensepakati satu aturan tadi semua jadi beres, kita akan berkemah malam ini. Tapi jika tidak ..., ya sudah kita pulang!"
"Oke Deal!" Rizki sebegai ketua mensepakati menjabat tangan Ziran mantap. "Sudah boleh keluar, kan?"
"Pintar. Ini baru bos kecil yang penurut. Silahkan keluar, nikmati waktu kalian. Pastinya, dengan aturan yang sudah kita sepakati." Teralu banyak aturan di hidup Ziran, padahal itu sangat tidak baik untuk kebebasan.
Tak perduli lagi, semua anak-anak itu turun berlari ke arah bibir pantai dan mulai bermain kegirangan. Di dalam mobil masih menyisahkan Ziran, Afra, dan Dinda.
"Hehe ...," Ziran tertawa pelan menatap lurus pada anak-anak yang asik bermain. Ziran berbalik menengok pada Afra dan Dinda di belangnya. "Kalian tau, tadi itu hanya aturan konyol saja, aku tidak serius mengatakan semua itu. Hanya yah, untuk mengerjai si Bos licik. Haha .... "
Seketika wajah Afra dan Dinda tersenyum setelah mengetahui maksud Ziran sebenarnya.
"Oh ..., Awak nih balas dendam rupanya. Haha ..., terbaiklah lah awak." Dinda mengangkat satu jempol pada Ziran. Ketiga orang itu tertawa lepas.
"Harus itu, Kak. Capek di kerjain terus, sekarang gantian aw ...," Ziran memekik saat tangannya di cubit sang Istri.
"Dah lah, saya turun dulu nak tengok anak- anak. Korang berdua duduk kak sini, sweet-sweet juga tak apa, kan dah halal. Bye!"
Dinda meninggalkan mobil dengan berlari, bukan karena apa, dia takut Afra malah ikut mencubitnya juga setelah berkata seperti itu.
"Apasih. Awas yah kamu Dinda!" Afra tambah kesal segera turun dari mobil berlari mengejar Dinda yang tertawa mengejeknya.
Ziran menatap sekelilingnya, kosong. Tak ada orang lagi, hanya dia sendiri di dalam mobil. Dia pun mulai mengambil semua peralatan perkemahan mereka malam ini dalam bagasi mobil. Membawanya ke tempat daratan pasir sedikit agak jauh dari air laut. Saat Ziran ingin membangun tenda, Afra datang dan menawarkan bantuan untuk ikut membantu Suaminya itu. Ziran mengizinkan, tapi hanya untuk berdiri melihat kadang membantu memegang tenda agar berdiri tegak, ringan saja.
Ziran tidak ingin Istrinya lelah.
"Alhamdulillah, Semua siap!" Afra mendekati Ziran dan melayangkan tangan pada Suaminya untuk bertos-ria. Ziran refleks melakukannya, dia sempat mengira akan mendapat tamparan malah.
"Alhamdulillah." Entah kali ini dia bersyukur karena apa? Mungkin karena bayangan Afra akan menamparnya tadi, padahal bukan itu.
"Ayo, kita duduk di sana." Ziran menunjuk sebuah batang pohon kelapa tua sangat dekat dengan bibir pantai, mungki kelapa itu telah lama tubang karena faktor alam.
"Ayuk!"
Ziran memeluk sang Istri dan berjalan bersama menuju pohon kelapa. Mereka duduk berdua dan jauh dari mereka terlihat anak-anak masih asik bermain pasir di temani Dinda. Sangat gembira.
__ADS_1
Afra tersenyum saat Ziran menarik kepalanya untuk bersandar di dada bidangnya.
"Apa sekarang kamu senang?" Tanya Ziran sambil mengelus kepala Afra.
Afra tidak menjawab malah memejam menikmati moment bersama Suaminya. Angin sepoi-sepoi menambah rasa nyamannya semakin rapat menutup kelopak mata itu. Deburan ombak menerpa kaki sepasang kekasih yang menggantung, membuat pakaian bawah yang mereka kenakan basah. Masih dalam posisi tadi, keduanya diam.
"Aku sangat senang," Afra baru menjawab Ziran dengan mata masih terpejam. "Semua ini di luar bayanganku. Aku benar-benar tak menyangka rencana Allah akan seindah ini mempertemukanku denganmu."
Ziran tersenyum, "kamu sudah menerimaku?"
"Memangnya sejak kapan aku bilang tidak? Setelah aku menerima lamaranmu dulu, itu artinya juga aku sudah menerimamu. Bukan begitu?" Afra menjadi bingung dengan sikap Ziran ini.
"Syukurlah jika seperti itu. Aku hanya takut dengan pikiranku." Elusan Ziran berganti dengan pelukan, "Apa kamu sudah mengingat tentang Alki, lelaki yang ku hajar di kedaimu waktu itu. Yang akrab kamu panggil Kiki?" Ziran mengganti topik pembicaraan.
Kenapa harus bicara tentang dia, sih! Padahal aku ingin melupakannya, meski kenyataanya dia baik padaku. Tapi karena saat kalian bertemu, ada aura permusuhan kental di antara kalian yang aku tak tahu dan tak ingin tahu! Cukup lupakan Kiki, maka hubungan kita akan baik-baik saja, Ziran.
Afra memalingkan wajah ke bawah, menatap ombak yang menyapu kakinya. "Aku tidak tau siapa dia. Aku hanya ingat petama kali bertemu saat acara festival seni lukisan di SMA dulu, dia salah satu seniman itu. Dari sana kami mengenal dan mulai dekat, tapi hilang kontak setelah terakhir kali Kiki mengabarkan akan ke america mengikuti salah satu lomba Art World, 4 bulan lalu. Pertemuan tak terduga kami saat di kedai, setelah pertunangan kita." Afra bercerita kronologi pertemuannya dengan Kiki, sesingkat itu.
"Jadi seperti itu ..., " Ziran meanggapi pendek, namun beberapa detik kemudian dia bersuara lagi, "Apa kamu menyukainya?"
Afra seketika mengangkat pandangan menatap serius pada Ziran. Cukup sudah. "kamu ini kenapa, sih? kenapa dari tadi bahasnya Kiki terus. Dan itu lagi, kenapa bertanya aku menyukainya? Aku itu sudah bersuami, aku tidak mungkin menghianatinya!" Afra meluapkan sesak di dadanya. Apa setianya selama pernikahan ini hanya di anggap sandiwara di mata Ziran? Apa lelaki itu buta melihat ketulusannya?!
"Aku .... "
"Cukup! Jika kamu masih membahas Kiki di antara kita, aku tidak akan segan-segan mengusirmu dari sini. Pergi saja sana! Aku marah padamu!" Afra melipat tangan di dada dan membuang pandangan tak ingin melihat Ziran.
"Bukan itu ..., "Ziran kembali merengkuh Afra. "Aku tidak akan membahasnya lagi Wallahi, sebenarnya aku sangat cemburu. Aku takut kamu pergi."
Seketika Afra tersadar dari emosi yang tadi menguasaiya, apa itu benar?
Perlahan Afra mau menatap mata Suaminya. Tangannya terangkat menyentuh wajah itu. "Siapapun Kiki di masa lalu, di masa kini, dan di masa depan nanti, aku tidak peduli. Janjiku adalah setia pada yang pertama sampai akhir hayatku."
"Aku mencintaimu Suamiku. Semoga Allah mempertemukan kita kembali di syurganya." Kata-kata Afra setulus hatinya.
"Amiinn .... " keduanya meng-aminkan bersama, saling melempar senyuman manis.
Ziran meraih kepala Afra untuk mendekat dan berucap,
"Inni uhibbuki fillah yaa Zawjati." Ciuman itu mendarat di kening Afra penuh cinta.
"Ahabbakalladzi ahbabtani lahu." Afra meneteskan air mata, perasaannya bercampur aduk sulit di tenangkan. Dia memeluk erat Suaminya, tak tahan dengan detakan keras pada jantunganya.
Terjemah- (Semoga Allah mencintaimu, Dzat yang telah menjadikanmu mencintai aku karena-Nya).
Di bawah langit cerah berwarna biru dan berawan seputih kapas, sepasang kekasih saling balas membalas perasaan cinta di saksikan lautan, karang, angin dan pasir pantai yang tak terhitung jumlahnya.
__ADS_1
-To be continue-