Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 23 : ARDIANO


__ADS_3

Di dalam ruang kerja Ziran, Afra menyibukkan diri dengan bermain bersama kucing kecil yang telah di putuskan akan dia beri nama Piko, kerena menurut pengamatannya anak kucing itu berjenis kelamin laki-laki. Setelah tubuh Piko kering, nampak jelaslah warna bulunya yang cokelat kekuningan dengan bintik-bintik putih di bagian punggung juga kepala.


Piko asik bergelung di atas pangkuannya mencari kenyamanan. Afra terkikik kecil saat jarinya di gigit hewan kecil itu, tidak sakit, lebih tepatnya seperti diemut bayi yang bergigi kecil.


Afra menusukkan jarinya ke perut Piko, berniat menggelitiki namun yang dia rasakan malah tulang kucing itu, sangat kurus.


"Setelah pulang kantor nanti, kita minta untuk beliin kamu makanan ya sama Kak ziran, kamu harus tumbuh menjadi kucing besar yang sehat." Afra menggengam kucing itu dengan dua tangan dan memeluknya, layaknya seoarang anak.


"Meong .... " Piko mengeong sambil menjilati tangan-tangannya.


Afra tertawa mengaggap meongan kucing itu sebagai tanda setuju dengan perkataannya, "Piko pintar!"


Tak Prak


Afra terlonjak kaget saat mendengar suara ribut dari luar ruangan, itu seperti gelas jatuh yang menghantam lantai dan berserakan.


"Tunggu di sini, aku akan lihat apa yang terjadi di luar." Afra melepas Piko ke bawah lantai dan langsung berlari membuka pintu, penasaran.


Tangan Afra membuka pintu sedikit lebar, tepat saat itu matanya memfokuskan pandangan pada satu objek berjarak satu meter di depannya. Afra masih mematung dalam ruangan sambil memegang gangang pintu melihat seorang Office Boy (OB) sedang membereskan pecahan gelas yang berserakan di lantai.


Saat Afra akan melangkahkan kakinya keluar ingin membantu, terhenti dan mata membulat melihat Kucing kecilnya langsung berlari kencang keluar ruangan. Piko Kabur!


"Piko!"


Afra berlari mengejar kucingnya yang kini melompati lincah pecahan gelas di depannya. Mau kemana kucingnya?


"eh, eh, eh, Mbak hati-hati, bahaya mbak!" suara Pak OB mencegahnya lewat berdiri menjadi benteng penghalang dengan merentang kedua tangannya.


"Pak, itu kucing saya kabur!" Afra melongokkan wajah menatap gamang pada kucingnya yang semakin jauh.


Afra berpikir jika tak mengejar, dia akan kehilangan Piko, maka dengan ini dia putuskan menerobos jalan pecahan kaca dan memulikan telinga saat suara OB meneriakinya berhenti tak lagi dia hiraukan.


"Biarkan saya lewat, Pak."


"MBAK!!"


-


"Saya harap dengan kerja sama yang baik, maka proyek ini bisa terselesaikan dengan cepat. Untuk pensurveian lokasi, bisa kita lakukan minggu depan. Bagaimana Pak Ziran?"


Ziran mengangguk dengan senyum tipis kepada rekan bisnisnya yang baru saja menyelesaikan ucapannya.

__ADS_1


"Saya setuju. lokasi pemilihan tempat pembangunan hotel anda sangat strategis dan bisa mengundang minat banyak orang, saya yakin banyak keuntungan yang bisa kita peroleh dari itu."


Semua peserta rapat saling melempar tatapan bangga pada sesama rekan kerja, ini semua hasil dari kerja keras sesama tim. Mereka berharap proyek ini bisa sukses besar.


Ziran melakukan kerja sama pembangunan proyek besar dengan salah satu perusahaan berpengaruh di indonesia, sebuah keberuntungan. kesempatan ini bisa saling menguntungkan kedua belah pihak, karena hotel yang akan di bangun kali ini akan sederet dengan hotel-hotel di luar negri.


"Ya, saya harap begitu. kerja sama yang baik harus di utamakan, tanpa kekompakan ini juga bisa menjadi kerugian besar jika hasilnya berujung kegagalan."


Ziran tersenyum menyakinkan, "Aku akan bekerja lebih keras lagi untuk mencapai keberhasilan proyek ini, Pak Ardiano."


"Not only you but we work together, Pak Ziran." Ardiano meralat ucapan Ziran dengan kekehan kecil. Sifat Ardiano sebenarnya tak jauh berbeda dengan Ziran.


Ardiano selalu tersenyum, dan ramah pada siapapun. Tak perlu meragukan lagi bagaimana bentuk wajahnya, kulit putih menempel di tubuhnya, rahang kokoh mempertegas wajahnya, bibirnya sedikit bervolume menambah kesan seksi pada dirinya, oh jangan lupakan mata tajamnya, jika sewaktu marah akan lebih mengerikan karena kesan alisnya yang cukup sangar. Usianya kini 29 tahun, dia memimpin perusahaan sejak usia 24 tahun, dan sejak saat itu puluhan Prestasi menabjubkan telah dia kantongi sebagai sosok pengusaha muda Smart, persistent, and talented.


Ziran ikut terkekeh pelan dengan memasukkan tangan kirinya ke saku celana, "Ya, anda benar, Pak Ardiano."


Seluruh Peserta rapat ikut tertawa menyaksikan kerenggangan kedua Bosnya. Fano pun sampai menutup bibir dengan punggung tangan kala tawanya hampir bersuara.


Drrtt Drrtt


Bunyi ponsel Ardiano mengheningkan ruang rapat, seluruh atensi beralih pada lelaki itu.


Ardiano mengambil ponselnya dari saku celana dan melihat nama yang tertara di layar kaca, cukup lama dia membiarkan suara dering poselnya memenuhi setiap pendengarnya.


Namun respon Ardiano malah menggeleng dan menaruh ponselnya di atas meja rapat setelah me-reject panggilan itu. "Bukan sesuatu yang penting, kita bisa lanjutkan rapat ini sampai selesai." Ucanya santai lalu memperbaiki posisi duduknya agar nyaman.


Oke, sepertinya Ziran tak perlu lagi memperdebatkan panjang masalah panggilan itu, "Baiklah, Kalau begitu kita lan..."


Drrtt Drrtt


Ponsel Ardiano kembali berdering dan membuat suasana kembali hening.


kali ini Ziran tersenyum sedikit di paksakan. Rapat ini takkan selesai juga jika ponsel itu selalu berbunyi. "Benar-benar tidak masalah jika Anda mengangkat panggilan itu Pak, Silahkan."


Ardiano menipiskan bibir kesal mengenai orang yang menelponnya saat ini, ingatkan dia mengaktifkan mode pesawat agar ponsenya tak bisa di hubungi saat-saat penting seperti ini.


"Saya permisi keluar untuk mengangkat telpon, maaf telah mengganggu kenyaman kalian pada rapat hari ini." Ardiano menunduk sopan, menyambar ponselnya dan langsung berjalan keluar ruangan. "Masih berani menghubungiku? Benar-benar cari mati!" Desisnya sangat-sangat pelan berjalan menuju pintu keluar ruang rapat.


-


Afra terus berlari mengejak Piko, kucing kecilnya yang belum terlihat berhenti berlari. Bisa berbahaya jika kucing itu sampai jatuh atau sesuatu yang berbahaya lainnya menimpanya. Afra tidak akan membiarkannya, kucing itu masih terlalu kecil untuk bisa bertahan hidup sendiri.

__ADS_1


"Piko! Pus, pus, pus! Meong, meong, meong! Berhenti berlari kucing kecil!" berharap suaranya bisa membuat kucing itu mendengar dan menuruti perintahnya, seperti yang Ziran sering lakukan padanya, memberi perintah dan Afra selalu menurut.


Namun seperti itu tidak berlaku pada hewan, Lihat saja kucing itu makin memperlaju lariannya.


"Jangan pergi, Aku akan merawatmu, Piko!"


"Kita akan pergi membeli makanan untukmu agar tubuhmu gemuk, Ayo Piko."


"Hey, Kucing kecil dengarkan Aku!"


Tapi ternyata Kucing itu tidak bisa di bujuk atau di rayu, Afra di acuhkan, di tinggalkan.


Afra tak menyerah terus saja berlari, dan sepertinya dia sedikit berhasil. larian Kucing itu semakin pelan, mungkin sudah lelah. Afra tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan sisa tenaga dia mengejar dengan langkah lebih cepat.


Sepersekian detik ada sesosok lelaki tinggi keluar dari ruangan dengan langkah lebarnya tepat akan menendang kucing kecil milik Afra, sedikit lagi. Mata Afra membulat saat membayangkan Piko akan terkena tendangan dan terpental ke dinding. Epilognya, Piko bisa terluka atau Afra bisa kehilangan hewan kecil itu.


Tidak, Tidak! tidak boleh sampai terjadi!


"STOOOP!"


Terlihat lelaki itu merinding seketika mendapat teriakan keras entah dari siapa? matanya terlalu fokus menatap layar ponselnya yang terus berdering meminta di angkat. Dia langsung mengalihkan fokus pandang saat seorang gadis telah terduduk bungkuk di depannya.


Lelaki itu adalah, Ardiano. Matanya tak lepas memandang gadis yang sekarang perlahan berdiri di depannya, tangannya memeluk seekor kucing kecil yang biasa saja, menurutnya. Ardiano belum melihat jelas wajah itu karena posisi gadis itu menyampinginya.


"Untunglah kamu tidak kenapa-napa, Piko. Dua kali nyawamu terancam hilang hari ini."


Kini Ardiano telah melihat sempurna wajah gadis itu, wajah cantik natural tengah tersenyum memeluk sayang kucingnya. Gadis ini? Diakah? Batin lelaki itu menduga-duga.


"Kamu cantik." Kata itu spontan keluar dari mulut Ardiank.


Seketika laser mata Afra menajam. Kesalnya belum hillang karena kucingnya yang hampir saja terluka atau mati, di tambah ucapan lelaki itu sepertinya tidak masalah lagi jika bomnya akan meledak saat ini.


"Anda katakan apa tadi? Bisa anda ulangi? Sepertinya telingaku sedang tidak berfungsi baik saat ini."


Sinisan mata Afra diam-diam mengundang minat Ardiano untuk mengenalnya lebih dekat, Baru kali ini dia di perlakukan buruk oleh seorang gadis.


"Menarik." Ardiano menarik segaris senyum bibir yang awalnya tipis, namum semakin lama semakin melebar.


"Ayo ulangi kata-katamu!"


Ah, Ardiano semakin penasaran dengan gadis yang teryata super galak ini. Kata-kata gadis itu seperti mengajaknya bertarung.

__ADS_1


"Kamu cantik, tapi galak."


-To Be Continue-


__ADS_2