Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 25 : MENIKMATI SENJA


__ADS_3

Waktu petang adalah saat-saat yang Pas untuk bersantai. Menikmati mentari jingga di ufuk barat juga pemandangan yang paling indah bagi setiap orang. Saat wajah diterpa cahaya hangat itu, rasanya menenangkan dan beban terlupakan sejenak.


Di ayunan tali, Afra terduduk menggerakkan ayunan itu maju mundur pelan dengan bantuan kakinya. Tangan kanannya memegang tali dan satunya mengusap lembut kucing kecil di pangkuannya. Matanya malah fokus ke depan, menanti detik-detik kepergian senja yang akan bersembunyi di balik gunung besar. Sesekali kelopak mata itu berkedip di kala perih menahan mata untuk tetap terbuka, dia hanya takut melewatkan sedetik saja keindahan yang tuhan berikan satu ini.


"Yang ku tahu Senja itu tidak seganteng aku, tapi kenapa lebih memilih menatapnya dibanding Suamimu ini, Hm?"


Afra berhenti mengayuh ayunannya ketika suara itu terdengar dari belakang tubuhnya. Pelan-pelan dia berbalik dan mendapati Ziran berdiri di sana dengan setelan kantor yang masih lengkap, namun terlihat acak-acakan.


Afra bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Ziran dengan Piko masih berada di gendongannya, "Kakak baru pulang?" Berdiri tepat di depan lelaki itu. Afra sedikit mendogak untuk bisa menatap wajah Ziran yang lebih tinggi darinya.


Bibir Ziran menipis sejenak kemudian bernapas berat, "Aku tidak menjumpaimu di depan pintu menyambutku pulang dan mencarimu seperti orang gila di dalam rumah. Huff ..., syukurlah ternyata kamu ada di sini." Ziran mengabaikan pertanyaan Afra, malah menarik Istrinya ke dalam pelukan. Dia lega ketika pemikiran buruknya tadi lenyap saat menemukan Istrinya di taman belakang rumahnya.


"Hehe ..., Maaf Kak. Aku bosan di dalam rumah, ini lagi cari angin segar dan menikmati senja," Pelukan terlepas, "Eh, Senjanya! Ayo Kak kita lihat matahari tenggelam."


Ziran sedikit terkejut ketika tangannya di tarik oleh istrinya berlari, mereka berhenti di kursi panjang taman yang mengarah langsung ke barat tepat menghadap ke matahari terbenam.


Afra duduk, namun melihat Ziran masih mematung berdiri di depannya membuat Afra menarik tangan itu ikut duduk di sampingnya. "Lihat deh, Kak! Keren, kan?" Telunjuk Afra mengarah ke senja menyuruh Ziran untuk melihat keindahan itu.


Ziran kesal bukan main, " Afra apa bagusnya senja dibanding Aku? Hei, hei, lihat aku ... Kenapa menatapnya begitu?" kepalan tangannya memukul-mukul pahanya merasa kesal dirinya di acuhkan, "Kepala kuning itu tidak tampan sama sekali! Suamimu ini lebih enak di pandang darinya." Oceh Ziran berhasil membuat Afra terganggu dengan acaranya menikmati senja.


Afra mendengus pelan dan perlahan balik menatap Ziran. Cemburuan sekali! yang seperti inipun masih di cemburui!


Batin Afra mengerutu. "Kak, ini bukan soal tampan atau tidak, Senja memang tidak memilikinya. Coba deh, perhatikan baik-baik matahari tenggelam itu ...." tidak ada cara lain selain membalas kecemburuan Ziran dengan kelembutan agar lebih tenang.


Dengan tampang kesal kembali Ziran menatap senja, hanya beberapa detik sebelum menatap Afra lagi, "Mataku sakit melihatnya."


Jawaban datar itu membuat Afra tarik napas dalam dan hembuskan perlahan. Tubuhnya bersandar di kursi dan kepalanya mendogak lurus menatap langit yang berubah Jingga.


Coret nama Suamiku dalam daftar manusia normal. Dia sama sekali tidak bisa melihat keindahan dunia dan hanya tahu cemburu! Afra bebas berbicara dalam hati, daripada menyuarakannya akan mendapat amukan Beruang.


"Ya sudah kalau begitu," Afra sudah merajuk. Di sandarannya, dia berpangku tangan dan memalingkan wajah ke arah lain.


Ziran memijat kening. S**epertinya aku sudah membuatnya marah? Seketika sadar melihat raut wajah Afra yang berubah murung.


Ya ampun Ziran, tidak tahukan kamu menyengkan hati istri? Karena kecemburuanmu itu, kamu mengurungnya terus berada di rumah. Sekarang kamu pulang dan membuat Mood Bahagianya seketika Buruk! Coba pikir, apa yang akan kamu lakukan saat ini? Hati terdalam Ziran menyesali responnya yang menyebalkan tadi saat Afra mengajaknya menikmati senja bersama.


Aku harus senangkan hati Afra lagi!


"Tunggu di sini, aku akan kembali."

__ADS_1


Afra langsung bangkit dari sandaran dan melonggokkan kepala memandang kepergian Ziran. "Loh, jangan bilang dia ikutan ngambek? Makanya dia masuk tinggalkan aku sendiri di sini?"


Ya Allah, kenapa aku jadi kekanakan begini, sih? Seharusnya aku lebih bersabar menghadapi sifat Ziran yang memang sangat cemburuan. Afra menarik naik lututnya ke atas kursi, memeluknya, dan membenamkan wajah di sana. Piko yang sedari tadi dalam gendongan Afra sekarang berbaring di bawah rumput dekat kursi sambil menjilati tangannya.


"Sayang, kamu kenapa?"


Suara yang sangat di kenali Afra memanggil dengan nada khawatir. Afra mengangkat wajah menatap orang tersebut. Ziran? Dia di sini?


"Kakak .... "


Ziran melebarkan langkah menghampiri sang istri. "Kamu ini kenapa?" Ziran menarik kedua tangan Afra dan menggenggam di depan wajah. Air muka Afra mendung seperti ingin menangis.


" ... "


" Jangan diam saja, jawab aku." sebelah tangannya beralih mengelusi wajah Afra yang masih menampilkan wajah sendu. "Apa ini salahku?"


Tidak, Ini bukan kesalahanmu!


"Kakak dari mana?" memgabaikan pertanyaan itu, Afra tersenyum lembut mengusir kegusaran hatinya yang sempat mampir tadi. Kini, dia senang melihat Ziran ada di sisinya kembali.


"Kamu belum menjawab pertan .... "


"Meong, meong ... Meong, meong ...." Dua kucing besar lainnya terlihat gemuk dengan bulu lebatnya yang berbeda warna, satu Putih dan satunya Cokelat.


Ziran tertawa melihat ekspresi Istrinya yang lucu.


"Wah ..., gemuk sekali. Lihat, mereka menjilati Piko! hahaha .... " Afra tergelak menyaksikan ketiga kucing yang bermain di bawahnya. Saat dua tubuh kucing gemuk mengelilingi Piko yang kecil membuat tubuh kurus itu tidak terlihat, apalagi bulu lebat dua kucing baru itu cukup panjang. "Ini kucing siapa ya, Kak?"


Tangan Ziran meraih dua kucing gemuk itu dan di peluk pada dua sisi tangannya. Afrapun mengambil Piko dan menimang-nimang hewan kecil itu.


"Aku membelikan dua kucing Ragdoll kembar ini spesial untukmu. Tiga hari lalu aku menyuruh Fano membelikannya langsung di Amerika, aku kira akan sampai besok harinya, tapi ternyata terkendala dengan cuaca buruk yang berakhir jadwal penerbangan pulangnya di Delay. Makanya, aku baru memberikan Kucing ini hari ini. Bagaimana menurutmu, apa kamu suka?"


"Apa .... " Afra membeo tak habis pikir. Bagaimana seenaknya Ziran menyuruh ini dan itu pada seseorang. Membelikannya kucing sampai harus memerintahkan Fano ke America, padahal kucing lokal kan lebih baik dan tidak harus jauh-jauh pergi ke negara dingin itu. Astagfirullah ..., Suamiku ini. Bisa-bisanya dia memperlakukan sekertarisnya kasana kemari hanya untuk membikannya kucing? Oh, yang benar saja. Tapi biarkan, tidak usah berkomentar atau mengomelinya. Hargai perjuangannya, Afra. meski ini perjuangan Fano, Sih.


Ziran mendekatkan dua kucing kembar itu ke wajah Afra, "Suka, suka, terima kasih, Kak." Afra angguk kepala dan tersenyum, "Mereka ini cowok atau cewek, ya Kak?" Piko di letakkan di atas kursi dan meraih dua kucing Regdoll itu dari Ziran, ingin memeluknya.


"Yang benar saja aku mau membelikanmu kucing jantan? Aku bisa mati cemburu tahu. Setidaknya ini kucing betina sama sepertimu, so aku tidak akan terlalu memusingkan kasih sayang untukku terbagi oleh jantan yang lain. Yah, kecuali Piko, dia masih kecil dan karena kesalahanku kita harus merawatnya," Kepala Ziran menggeleng, "Sekali lagi dia itu masih bayi, Ziran. Ah, tapi kenapa aku tetap cemburu pada kucing kecil jantan itu. Menyebalkan!"


Mata Afra terpejam mendengar gerutuan Ziran yang panjang di kali lebar. Cobaan macam apa ini?

__ADS_1


Matahari di cemburui, Kucing di cemburui, apalagi manusia! Oh, jangan bilang Ziran juga cemburu pada Abi, Abang Adam, dan juga Rian adiknya? Biarpun keluarga sedarahnya, tapi bisa jadikan? Tenang Afra ....


Sekali lagi Afra menarik napas dan menghembuskan perlahan, kekesalannya sedikit berkurang. "Kucingnya cantik, Kak." setidaknya jawabannya tidak akan menimbulkan masalah untuknya, Pasrah saja. Terserah Suaminya.


"Pilihanku memang tepat." Bangga Ziran memelintir hidung dengan jari jempolnya.


Padahal jika ada Fano, lelaki itu akan sakit hati saat perjuangannya malah di aku-akui oleh Bosnya yang hanya memerintah sana sini. Perjuangan Fano mengarungi langit, menyebrangi lautan dan daratan hanya untuk sampai ke negara Amerika demi membeli kucing kembar itu. Dia juga yang memilih hewan itu tanpa campur tangan Bosnya. Tapi Fano orangnya sabar, mengelus dada saja dia akan melupakan semua kesalahan Bosnya.


"Mau kemana?" Tanya Ziran saat melihat


Afra bangkit dari duduknya membawa dua Kucing Regdoll itu.


Afra berhenti melangkah dan memutar tubuh, "Aku mau baring di rerumputan menikmati senja yang sedikit lagi tenggelam. Ayo sini cepat kak, tolong bawa Piko, ya!"


Kini, Afra dan Ziran telah berbaring di atas rerumputan di bawah pohon, menatap matahari yang telah nampak hilang setengah sinar jingganya merembes ke langit. Lengan kanan Ziran menjadi bantal Afra dan satu lengannya lagi sebagai bantalnya sediri. Di sekelilingnya ketiga kucing ikut dudk dan bermanja pada tuanya.


"Oh, iya. Nama kucing berbuluh putih ini adalah, Pika. Dan Kucing yang berbulu Coklat adalah, Puka. Bagaimana menurut, Kakak?" Pasangan kekasih itu saling menatap.


Ziran tidak langsung menjawab, "Piko, Pika, dan Puka? Hm, tidak begitu buruk, aku suka." Jawab Ziran akhirnya mengundang senyum cerah Afra. Keduanya kembali memandang senja yang sedkit lagi akan lenyap.


Tidak ada lagi percakapan setelah itu. Sampai seseorang datang dan ikut tidur di lengah Ziran menjadi pembatas antara pasangan itu.


"Jadi gini ya kalau sudah menikah? Romantis banget, sih. Jadi pengen nikah juga, tapi sama siapa ya?"


Afra terkejut melihat Zanira Kakak Ziran ikut berbaring di sampingnya. Ziran tak kalah terkejut dari Afra, namun segara merubah tatapannya menjadi horor.


Zanira melirik bergantian Afra dan Ziran kemudian cengengesan sambil mengambil cokelat yang sudah di bawa di kantong celananya. Dia mengambil dua.


"Kok, matanya melototo gitu? Oh, aku tahu, pasti mau cokelat, ya? ini deh aku kasih, satu untuk Ziran dan satunya lagi untuk Adik Ipar Kakak yang cantik." Masih dengan tertawa sambil menyodorkan coklat.


" K- kakak Zanira di sini?" Afra mendadak gugup kepergok berada di posisi seperti sekarang, malu.


"Hehehe ..., iya. Aku mau numpang tidur di rumah kalian mulai hari ini dan beberapa hari kedepan. Soalnya kalau di Apertemen bosan dan gak ada yang bisa diajakin gosip. Nah, kalau di sini ada Adik iparku yang gemesin ini, jadi boleh kita gosipin Ziran lagi. Iya kan, Afra?"


"KAK ZANIRA!!!"


Teriakan lengking itu membuat dua wanita bangkit seketika dari baringan, saking terkejutnya. Yah, pelakunya tak lain adalah Ziran.


"DASAR PENGGANGGU!!!"

__ADS_1


-To Be Countinue-


__ADS_2