Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 45 : RUMAH SAKIT


__ADS_3

"Astagfirullah, ada yang kecelakan! Cepat, ayo cepat!"


"Hoi, kecelakan! Cewek!"


"Ya Allah ...."


"Innalillahi wainnailahi rajiun ...."


Suara-suara manusia saling menyahuti di tepi jalan dengan ekspesi wajah shock. Dan para pengendara seketika menghentikan kendaraan dan berlari ke arah pusat objek kecelakaan. Manusia yang penasaran mulai mengerubungi korban, namun mereka hanya berdiri dan tak ada di antara mereka yang berani menyentuh korban kecelakaan tersebut.


KENAPA PARA MANUSIA ITU HANYA MENJADI PENONTON DI SAAT KORBAN TENGAH SEKARAT?!


Dua meter dari motor yang telah rusak karena berbenturan dengan mobil, ada gadis yang tengah terbaring lemah di aspal antara sadar dan tidak, tapi bibirnya terus bergerak mengucap istigfar dengan mata terkatup rapat. Gadis itu setengah sadar dan dia tak lain adalah Afraza Humairah.


"Z - Ziran ...," Lirihnya masih dalam keadaan tadi. Kini Afra berusaha mengulurkan jemari ke udara, namun terjatuh karena keadaannya sangat lemah.


Afra tidak tau apa yang terjadi pada dirinya. Dia tidak merasakan sakit di sekujur tubuhnya, hanya lemah. lebih daripada itu luka hatinya lebih terasa menyakitkan.


"Kalian ini manusia atau bukan! Kenapa berdiri saja? Tolong anak gadis itu, dia sekarat!" Seorang wanita tua hampir genap berusia 70 tahun duduk di kursi roda memaki manusia yang masih asik saja menonton korban.


Itu lumrah terjadi di indonesia.


Semua bangun dari ketidaksadaran dan sebagian lainnya mulai mundur tak ingin ikut campur. Memberikan ruang untuk siapa yang ingin membantu gadis malang tersebut.


"Kenapa kalian jadi bodoh? Telfon pihak rumah sakit suruh datangkan ambulans secepat mungkin!" Jika saja nenek itu masih muda, dia yang akan turun tangan daripada mengandalkan banyaknya manusia yang tidak berguna mencari bantuan.


Gadis itu sekarat!

__ADS_1


"Hei, kamu pergi tolong sana!"


"ihh, kamu saja! Aku takut."


Dua ibu-ibu bertubuh tinggi yang satu berambut bergelombang dan satunya lagi berambut lurus pendek, saling mendorong bahu menyuruh menolong gadis tersebut.


Citttt!


Seorang pemuda pemilik mobil putih yang tadinya melaju langsung me-rem mendadak kendaraannya. Sejenak dia melihat-lihat banyaknya orang yang berkerubung di salah satu tempat dengan suara bising mereka menarik perhatian pemuda itu. Entah kenapa rasa penasarannya muncul.


"Ada apa ramai-ramai begitu?"


Pemuda itu memutuskan turun dari kendaraan dan berlari kecil ke arah sana. Namun, saat berlari tak sengaja matanya melihat motor scoopy putih rusak yang sangat familiar.


I-itu kan motor ..., Ah, nggak mungkin lah. Motor seperti itu tidak hanya satu di dunia. Banyak Bika! Yah, dia adalah Abika, teman petualang Afra.


Deg


Dia tepat berdiri di belakang dua orang wanita yang menghalangi pandangannya melihat jelas ke depan. Sekali lagi Bika menerobos mendapat barisan pertama. Dan terpampang jelaslah apa yang di depannya, terjawab sudah kegelisahan hatinya yang tiba-tiba datang.


Cemas dan marahnya menjadi satu. Bika bersimpuh di samping Afra dengan tubuh panas dingin. Tangannya menggigil dingin ketika akan menyentuh wajah Afra yang bersimbah darah, namun dia masih sadar dan segara menepis jauh tangannya.


"Af-Afra? K-- kamu bisa dengar aku?" Bika mengguncang pelang bahu Afra. Tak ada sahutan, Bika semakin cemas.


"Hei, hei ..., Jawab aku!" dua bahu Afra diguncang pelan, belum ada respon.


Saat ketiga kalinya Bika ingin berbicara kembali, Afra menggerakkan jemari dengan wajah mengernyit.

__ADS_1


"Z-Ziran? K-kamu kah itu?"


Meski kenyataannya sakit dirinya di panggil Ziran, Bika berusaha menulikan telinga. Intinya, dia senang masih dapat mendengar suara gadis itu. Napasnya berhembus lega.


"Bantu saya membawa teman saya ke mobil! Dia butuh pertolongan medis segera!" Teriak Bika terbawa emosi.


Orang-orang mulai mendekat menggotong tubuh Afra masuk ke dalam mobil pemuda itu. Bika membawa Afra ke rumah sakit dengan perasaan tak menentu. Mengendarai mobil sedikit laju, dia tak ingin Afra kenapa-kenapa jika sampai dia terlambat.


"Afra bertahanlah! Kamu boleh menyakitiku dengan kenyataan pahit jika kamu telah menikah. Namun, kamu tidak boleh pergi! Tidak boleh!" Bika melirik Afra yang terbaring di kursi tengah lewat kaca spion dengan mata memerah. Dia ingin menangis, namun lagi-lagi dia harus menguasai dirinya.


Sesampainya di rumah sakit, Bika berteriak menganggil perawat layaknya orang frustasi. Tak berapa lama, dua perawat wanita datang mendorong brankar ke arah mobil Bika.


Tubuh Afra terangkat karena bika menggendongnya untuk di pindahkan ke atas brankar. Bika pun ikut mendorong tempat tersebut menuju ruang ICU.


Ketika Bika akan ikut masuk,


"Maaf, Pak, silahkan tunggu di luar." kata salah satu perawat yang membawa Afra masuk kedalam ruangan.


"Baik, Sus. Tolong lakukan yang terbaik untuk teman saya, selamatkan dia!" Pesan Bika sebelum perawat itu menutup pintu ruang ICU.


Bika sadar, ponsel Afra ada padanya. Dia mengeluarkannya dari saku celana.


"Syukurlah tidak di kunci. Aku harus memberitahukan salah satu keluarganya."


Setelah mengulir beberapa nomor kontak di dalam ponsel tersebut, nama Ziran yang paling melelat di ingatannya. Bika tak ingin egois, dia menelfon suami dari cinta pertamanya.


-To Be Continue-

__ADS_1


__ADS_2