Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 50 : PENDONOR


__ADS_3

"Halo Mbak! Kondisi Afra jadi memburuk dan juga jetak jantungnya melemah! Cepatlah kemari Mbak!"


Panggilan itu terputus setelah Dinda berkata to the point. Seakan tujuannya hanya untuk menyampaikan kabar buruk tersebut.


Ketiga orang di taman itu saling menatap sebelum salah seorang di antara mereka memekik.


"APA!" Mata Farsya membola tak lama kamudian, pandangannya mengabur karena air mata yang telah mengenang dan sebentar lagi akan meluncur ke pipi tirusnya.


"Air mata buaya! Jangan sok akting berlagak terkejut! Itu kan yang kau mau? Kau senang, kan!" Herdik Zanira mendorong bahu Farsya kasar akibatnya gadis itu terhuyung ke belakang. Untung saja Bika sigap menahan tubuh Farsya agar tak terjerembab ke tanah.


Farsya menggeleng, "Tidak, itu tidak benar! Aku menyesal, aku sangat menyesal. Maaf atas yang telah ku lakukan pada Afra. Maaf ...." Farsya terisak keras mendapat makian Zanira. Sorot matanya sangat nyata jika dia benar-benar menyesal.


Sedangkan Bika tak bisa melerai atau melalukan apapun, hanya mampu menatap kecewa pada Farsya.


Sejujurnya dia marah! Bika pun ingin bertanya tentang apa maksud Farsya atas perlakuan jahatnya pada orang yang dia sukai sejak dulu? Mengapa tega mencelakai teman yang dia miliki sejak lama? Apa alasannya! Namun, yang dia lakukan hanya diam dalam kecewa.


"Alaah, omong kosong! Gadis busuk sepertimu benar-benar pintar berakting! Jika sampai terjadi sesuatu pada Adik iparku, kau akan mendapat balasan yang lebih dari yang kau lakukan!" Tunjuk Zanira tepat di wajah Farsya memberi peringatan tajam. Seketika dia ingat jika saat ini adik iparnya dalam bahaya.


"Cih, mengurusi rubah bermuka dua sepertimu menguras waktu! Aku harus menemui adik ipar yang telah kau celakai. Urusan kita belum selesai, kau tunggu saja pembalasanku! "


Ketika Zanira akan berbalik pergi, lebih dulu Farsya mendahuluinya berlari menuju pintu masuk rumah sakit. Bika terkejut dan Zanira mengeram marah sambil mengepalkan tangan.

__ADS_1


"Mau kemana lagi rubah licik itu!" Zanira segera berlari mengejar Farsya dengan perasaan was-was, dia tidak percaya pada gadis itu. Takut jika sampai Farsya berbuat yang tidak-tidak pada Afra.


Bika pun ikut berlari di belakang Zanira. Jangan sampai Farsya kembali mencelakai Afra! Tidak di pungkiri rasa khawatirnya akan hal itu sangat menghantuinya. Ingat, Farsya bisa menjadi tidak terduga!


Sebelum itu, Bika sempat mengabari ke empat temannya untuk segera menyusul ke ruang Afra melalui Voice chat Whatsapp.


***


Di ruang rawat Afra.


Di pintu luar Dinda, bersama ketiga anak panti menunggu. Wajah Dinda terlihat sekali ketakukan di sana. Bulir keringat dingin menetes dari pelipisnya jatuh ke pakaian. Dinda melamun sambil meremas tangan untuk menghangatkan jemarinya yang juga dingin.


"Dinda, Afra di dalam?!"


Dinda langsung tersadar mengingat peristiwa sekitar satu jam yang lalu, saat Farsya bertindak aneh seperti orang yang tidak waras.


"Afra tengah di tangani dokter. Ziran pun ada kat dalam mendapingi istrinya. Lebih baik kamu duduk dulu, kita ni sama-sama menunggu!" Jelas Dinda bergeser duduk mendempet pada Rizki. Dia mempersilahkan Fasrya untuk duduk.


Farsya masih bergeming di tempat.


Apa ni? Bukannya tadi dia seperti orang tak waras? Pikir Dinda menggaruk kepala aneh. Dia kebingungan dengan tingkah laku teman Afra itu.

__ADS_1


Reno mendekatkan wajah ke telinga Bos kecilnya, Rizki. "Bos, kok orang Gila tadi jadi waras ya?'" Bisiknya pelan.


Langsung saja Rizki membalas."Oh mungkin sudah minum obat. Tadi obatnya habis makanya, jadi gila gitu." Reno terkikik dengan jawaban Rizki.


"Kalian bicara apasih?" Tanya Risa sebal karena di anggurin.


"Husst, ini urusan cowok, cewek diam saja!" Kata Rizki malah mendapat jitakan di jidatnya dari Risa.


"Adik durhaka! ku sumpahin jadi cewek tau rasa kamu!" Ancamnya pada adik kembarnya.


Seketika perhatian mereka semua terpusat pada seorang dokter wanita yang baru keluar dari ruang rawat Afra. dengan cepat Farsya mendekati dokter wanita paruh baya tersebut.


Dinda dan ketiga bocah panti juga turut mendekat.


"Dok, boleh saya tau keadaan teman saya saat ini?" tanya Farsya cepat.


Dokter wanita itu menghela napas sebelum menjawab. "Pasien sangat membutuhkan pendonor golongan AB Positif, karena kami belum menemukannya, maka kondisi jantung pasien makin lemah."


Semua yang ada di sana terkejut.


"Kalau begitu saya siap, Dok! Saya yang akan mendonorkan darah saya pada pasien! Cepat Dok, sekarang juga saya siap!" tungkas Farsya tak berpikir lama. Hanya dia penolong saat ini.

__ADS_1


-To Be Continue-


__ADS_2