Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 15 : PERTEMUAN


__ADS_3

Di pojok ruangan kedai, terlihat Afra duduk di salah satu kursi dengan berwajah lesu tak bersemangat. Buku, pensil, dan juga kertas kosong menjadi temannya dari dua jam yang lalu. Tangannya sibuk mencoret-coret kertas dengan pensil yang kembali diremuk lalu masuk ke tong sampah. Ini yang ke-17 kalinya. Sekali lagi, Afra berjanji tidak akan melakukan kesalahan. Di ambilnya kertas dan mulai menarikan pensilnya dengan tenang dan penuh hati-hati, namun belum beberapa detik kertas itu malah di coret dan masuk ke tong sampah lagi dan lagi.


"Huff ...," Napasnya lelah, mengusap wajah frustasi. "Kalau bukan bakat ya tidak usah di paksa, pusing sendiri kan!" Omelnya pada diri sendiri.


Afra menopang dagu di tangan dan bersandar pada kursi. Matanya meneliti keadaan kedai MOCOCOLA yang nampak legang dan sepi. Tak ada siapapun yang tertangkap di pandangannya. Saat tatapannya lurus ke depan, Afra melamun.


Sedangkan Zera, yuna, dan Zaka diam-diam mengintip dari balik meja kasir bersembunyi dan memperhatikan Afra dengan kening berkerut. Sudah dari setengah jam lalu mereka bersembunyi tanpa berniat menghampiri Afra yang nampak lain hari ini. Mereka saling melirik bertanya lewat tatapan mata satu sama lain, dan gelengan kompak sebagai jawaban ketiganya.


Di pintu masuk, seorang lelaki baru saja mendekati pintu kedai. Zera yang melihat kedatangan pengunjung pertama hari ini segera menghampiri untuk menyambut sesopan mungkin, sedangkan Afra tidak menyadari sama sekali.


"Selamat datang di kedai MOCOCOLA dan Selamat menikmati. Silahkan masuk, Kak." Sapa Zera dengan senyum sopan. Zera terpana melihat senyumnya di balas cerah oleh lelaki itu. "Tampan," batinnya menilai.


"Maaf. Aku mencari pemilik kedai ini, apa dia ada?"


Zera merubah senyumnya menjadi tatapan menyelidik. Seperti pernah lihat? "Kakak siapa? ada hubungan apa dengan Kak Afra?" Zera bertanya untuk memperjelas ingatannya.


"Aku Kiki, teman Afra yang kemarin datang." Ternyata lelaki itu adalah Kiki.


Zera membulatkan bibir mengangguk pelan, sekarang dia ingat. Ah, daya ingatnya memang sangat buruk. "Maaf kak, aku baru ingat. Kak Afra ada di sana," Telunjuk Zera mengarah ke gadis yang duduk melamun di ujung ruangan, posisinya membelakangi mereka.


"Kak Afra sejak tadi seperti itu, wajahnya murung tak bersemangat beda dari biasanya. Dia juga asik sekali menggambar, tapi hanya untuk di koleksi di tong sampah. Aku jadi bingung." Zera menginfokan sedikit tentang keadaan Afra dengan sedikit jenaka.


Kiki tak lagi merespon Zera. Dia berjalan menghampiri gadis berjilbab hijau toska yang masih sama tak ada pergerakan, hanya kelopak mata yang sesekali menutup lalu terbuka. Termenung entah apa yang di lamumkan?


"Pip, pip, pip ..., DOR!" Menirukan suara acak, Kiki menepuk meja Afra cukup keras.


Innalillahi ....


Afra berjengkit kaget langsung menegakkan punggung. "Astagfirullah .... " Mengusap-usap dadanya yang berdetak tak karuan kaget. ketika sadar, tatapannya langsung me-laser Kiki yang tertawa tanpa dosa.


"Hahaha ..., makanya, jangan melamun terus!" Ledek Kiki duduk di sebrang meja. Di letakkan kuas kecilnya di atas meja tanpa mengalihkan tatapan pada Afra. Tangannya membingkai wajah dan sikunya di topang di atas meja, "Lagi pikirin apa coba?" Lurus menatap Afra.


Afra melemparkan kertas hasil karya gagalnya tepat mengenai wajah Kiki. "Untung jantung aku sehat, kalau kena serangan jantung bagaimana?" Afra berang, menatap nyalang lelaki jangkung di depannya.


Kiki malah cengar-cengir mengangkat dua jari sebagai kata maaf. "Iya, iya, aku salah." Memungut kertas remukan di atas meja yang baru saja menampar pipinya. Di lihatnya isi kertas itu yang menampilkan gambar pemandangan pantai yang ... Hm ... apa ya? Menurut Kiki hampir membuatnya tersedak saliva nya sendiri. Jelek dan tak kreatif. Anak SD juga bisa gambar sejelek itu, malah mungkin lebih bagus!


"Hm, gambarmu bagus, cantik, dan sangat menarik." Kiki memuji bermaksud menyindir. Bibirnya berkerut ingin tertawa setelah mengatakan itu. "Kalau kamu ajukan kontrak lomba menggambar, bakalan terbit jadi Best works of sale. Percaya, deh."


"Hm, hina saja terus sampai kamu puas. Tuh, masih banyak di tong sampah, mau aku ambilkan terus kamu nilai? Huh!" Sinis Afra memalingkan wajah.


Kiki tertawa dan duduk tegak, sempat melirik sebentar tumpukan kertas di tong sampah. Apa yang membuat gadis itu mati-matian ingin menggambar sebanyak itu?


"Ini untuk apa?" Kiki penasaran.


"Hanya ingin mengusir rasa bosan." Afra menjawab tak berselera.


Kiki menutup bibirnya dengan punggung tangan saat tawa kecil keluar. "Mau aku bantu?"


Afra melirik, "Bantu apa?" Tak lama, tawa ejekan Afra terdengar. "Tidak perlu. Apa yang seorang pelukis tau selain mengejek gadis tiada bakat sepertiku."


Tuk


Kiki mengetuk kepala Afra dengan kuas kecilnya. "Tuan putri terlalu rendah diri." Dia bangkit berdiri. "Tunggu sebentar."


Afra menatap punggung Kiki yang terus melangkah keluar kedai. "Dia sudah pulang, yah? Eh, nggak. Tadi dia bilang tunggu, kan?" Afra berguman pada dirinya sendiri.


Dan benar. Kiki kembali lagi dengan tas peralatan melukisnya di bawa hingga sampai di depan Afra.


"Mau bantu aku melukis?" Tawar Kiki dengan senyum. Dia tau pasti gadis ini tidak akan mau meneriwa ajakannya. Jadi ....


"Ak ...,"

__ADS_1


"Ambil ini," Kiki langung menyodorkan tempat beraneka macam kuas mikiknya ke tangan Afra.


"Aku tidak ...,"


"Ini juga," Lagi-lagi tak membiarkan Afra berbicara. Kali ini palet tempat cat di sodorkan di wajah Afra.


Seperti asap yang keluar karena panas, begitulah amukan Afra yang hendak meledak. Namun dia mencoba bersabar, tarik napas ~ buang. Baiklah Afra ikuti saja apa maunya lelaki ini. Mengajaknya melukis, kan? Mari kita lihat hasil karya spektakuler seoarang Afra.


"Aku sudah bosan melukis di kertas atau kanvas. Jadi aku pinjam dinding kedaimu untuk membuat karya kita berdua. Oke?" Sambil angguk-angguk kepala merasa idenya hebat.


"Seriusan? Kenapa harus kedaiku yang menjadi korban?" Protes Afra mendapat dengusan Kiki.


"Dinding kedaimu sangat polos dan tidak ada menariknya. Kalau seperti ini terus, orang-orang akan bosan, pelangganmu akan lari, dan usahamu bisa bangkrut! Mau?" Ucap Kiki Sambil menunjuk dinding kedai Afra.


Afra melirik dinding kedainya yang hanya berwarna putih polos, tanpa ornamen yang menarik di pandang. Benar juga. Kalau di pikir-pikir, ini rezeki anak sholeha. Kiki adalah seorang pelukis hebat yang handal, seharusnya dia bersyukur karya Kiki terpajang di dinding kedainya. Nanti orang-orang akan terpesona dan semakin banyak berkunjung ke kedainya. Harus bersyukur, Alhamdulillah...


"Boleh kan?" Tanya kiki membuyarkan pikiran Afra.


Tak membuang waktu lagi Afra mengangguk antusian. " Okedeh, boleh!"


Afra mungkin hanya membantu jika memang tenaganya di butuhkan, dia tak ingin merusak lukisan Kiki dengan adanya sentuhan tangannya. Afra bisa merusak kualitasnya.


"Nah, gitu dong." Kiki menjentikkan jari. Tak lama dia membuat gerakan melemaskan otot. "Apapun yang aku lukis, itu terserah padaku. Jadi kamu tidak boleh protes! Paham?"


"Iya, iya, paham!" Afra tak ingin ambil pusing.


"Oke, mari kita mulai!"


Dan mereka berdua di telan kesibukan dalam dunia seni penuh warna pelangi. Lebih tepatnya, Kiki yang mengatur semua, sedangkan Afra hanya duduk diam dengan wajah di tekuk kesal. Moodnya seketika hancur mengetahui apa yang akan Kiki lukis. Sekali lagi, Tarik napas ~ buang. Rutinitas Afra untuk menambah stok kesabaran.


***


"Hm, Fano!"


Fano berbalik lagi menundukkan kepala pada Bosnya "Iya, Pak?"


"Aku ingin kamu beri pendapat tentang satu hal." Ziran menatap lurus Fano, sekertarisnya. Sebenarnya dia sedikit tidak percaya diri untuk bertanya.


Fano bergeming menerima tatapan serius dari Ziran. "Apa itu pak?


"Ekhem .... " Ziran berdehem pelan, menahan rasa panas yang akan menjalar ke wajahnya.


"Apa yang biasa di lakukan seorang suami untuk menyenangkan Istri setelah menikah?" Mata Ziran menghindari tatapan Fano. Dia sedikit malu.


"Ekhm .... " Fano balik berdehem, menyembunyikan rasa humornya agar tidak terlepas. Ingin sekali tertawa namun di tahan.


"Apa Pak Ziran sudah membawa istrinya honey moon?" Fano menunduk. "Hm, maaf Pak, saya lancang bertanya." Sesalnya.


"Honey Moon?" Tanya Ziran seperti baru pertama kali mendengar kata itu. "Aku tidak pernah terpikirkan hal itu. Aku kira setelah menikah kami hanya harus hidup seperti biasa." Ziran merenung jauh.


"Hehe .... "


Tersadar ketika sekertarisnya terkekeh pelan, menertawakan ucapannya.


"Maaf Pak, saya lancang lagi, tapi untuk yang seperti ini saya harus menjelaskan." Menunduk sesaat dan kembali menatap Ziran.


"Menyenangkan hati istri adalah suatu kewajiban suami. Karena jika sang istri bahagia, seluruh dalam rumah juga akan ikut bahagia. Nabi Muhammad SAW pun sangat memanjakan istrinya dengan sering membuat mereka gembira, atau memanggil nama istri-istrinya dengan panggilan kesayangan." Fano menjeda.


"Pilihan untuk menyenangkan istri tidak hanya satu, Pak. Hanya pada umunya setelah menikah, pengantin baru akan berbulan madu. Bapak juga bisa menanyakan pada sang istri tentang apa yang membuatnya senang, dan bapak bisa kabulkan itu. Tapi cara ini bukan taktik jitu membuat istri bahagia, karena sang istri bisa berpikiran suaminya tidak peka atau ... kurang romantis." Fano mengambil napas dan tersenyum.


"Ini hanya pendapat saya, Pak. Saya yakin Pak Ziran adalah suami yang romantis."

__ADS_1


Terjadi kekacauan pada meja kerja Ziran. Dia mengambil kilat barang-barangnya dan berjalan menghampiri Fano yang masih diam di tempat.


Sambil menepuk bahu kanan Fano. "Terima kasih. Kerja bagus!" Ziran berlalu pergi meninggal Fano yang memantung mendapat perlakuan bersahabat bosnya. Dia kira akan mendapat pukulan karena kelancangannya.


Setelah mendengar Penjelasan sekertarisnya, Ziran langsung tahu apa yang akan dia lakukan. Tujuan utamanya sekarang adalah menjemput sang istri.


Di parkiran depan kedai MOCOCOLA.


Mobil Ziran sudah terparkir rapi bersama beberapa mobil lainnya. Sebelum turun dari mobil, Ziran melepas jas hitamnya dan melepar asal ke jok belakang. Kemeja putihnya di gulung hingga siku kemudian jemarinya menyisir asal rambut hitam legamnya. Di raihnya kaca dalam mobil dan di arahkan untuk melihat wajahnya.


"Kamu sangat tampan Kak Ziran." Berkata dengan Menghayalkan jika itu adalah kata-kata dari Afra yang memujinya.


Ah, sudahlah. Kepedean Ziran sudah mencapai rate 100%.


Ziran berjalan menuju pintu kedai dan membukanya. Pandangan matanya langsung di sambut kepadatan pengunjung kedai yang tengah mengerubungi sesuatu. Awalnya Ziran tak terlalu memusingkan, fokus pada tujuannya menjemput sang istri. Dia pun menggeledah seluruh tempat, tapi tak menemukan keberadaan Afra.


Ziran mulai resah.


Di tengah kegelisahannya, telinganya yang tajam menangkap suara tawa yang sangat di kenalinya, meski bukan suara tawa pun dia tau pemilik suara itu.


"Afra?" Dia langsung membelah kerumunan pengunjung kedai hingga matanya menangkap punggung sang istri tengah membelakanginya.


Ziran bernapas lega mengamati Afra yang sibuk menari-narikan tangannya di dinding sedang melukis bunga. Ziran perlahan tersenyum belum menyadari sosok lelaki di sebelah Afra yang juga tengah sibuk melukis sosok wanita berjilbab. Rupanya pengunjung kafe lebih berminat menonton live orang yang melukis daripada duduk bersantai menikmati pesanan.


"Lukisanku cantik juga!" Afra berbangga diri menatap bunga yang di lukisnya. Dan mendapat respon mengejek dari sosok lelaki di sebelahnya yang tengah memberi warna pada karyanya. Sebuah lukisan seorang gadis berhijab hijau toska yang tengah tersenyum sangat manis. Dia tak lain adalah 'Afraza Humairah'


"Jelek. Lukisanku cantik, kan? Eh, tapi lebih cantik yang aslinya, dong."


"Hahaha .... " Keduanya tertawa lepas.


Banyak pengunjung kedai yang mengambil potret dua orang itu beserta lukisannya.


Perlahan Ziran menyadari bukan hanya istrinya yang tengah serius melukis di depannya. Tangan Ziran mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih mendengar percakapan dan tawa Afra karena godaan lelaki di samping istrinya.


Ziran perlahan mendekat dan menarik lengan istrinya. Otomatis Afra berbalik sedikit terhuyung dan hampir terjatuh jika Ziran tidak langsung menangkap istrinya ke dalam pelukan.


"Kamu lupa amanahku!" Geraman tertahan dan kata-kata itu membuat Afra tersadar langsung berdiri tegak.


Di hadapannya, terlihat jelas tak ada senyum cerah dan mata hangat dari sosok Ziran. Orang yang selalu menatapnya lembut sekarang menatapnya tajam dan penuh kemurkaan.


"Zi- Ziran?" Seketika rasa takut menyelimuti diri Afra. Dia telah membuat suaminya marah! "Kak ini tid ... "


"Siapa Laki-laki ini?!"


Afra menelan pahit saliva nya, tak pernah menduga kemarahan sang suami akan separah ini. Satu sosok lelaki yang sejak tadi fokus melukis baru tersadar ketika mendengar suara bentakan itu. Dan bodohnya, Afra pun tidak lagi ada di sampingnya.


Dia membalik badan.


Seketika Ziran terpaku menatap lelaki di depannya. Setan-setan mulai merapat Padanya membisikkan kata-kata yang membuat kemarahannya berkali-kali lipat bertambah. Mata itu semakin tajam. Sejak kapan? Batinnya berbisik marah.


Ziran menarik sang istri ke belakang punggung lebarnya. " Kamu bukan hanya melanggar, Afra!" Desisnya membuat sang istri semakin menunduk dalam dan meremas-remas tangannya.


Beda dari ekspresi Ziran. Kiki malah tersenyum sinis melihat lelaki di depannya, seperti salam penyambutan untuk Ziran. Dia tidak terkejut sama sekali.


Semua orang merasakan aura mencekam juga turut bergidik. Pengunjung kedai mundur beberapa langkah memberi ruang ketiga orang di depannya.


"Apa kabar?" Tatapan Kiki perlahan ikut menajam. "Bagaimana rasanya mengambil kebahagiaan orang lain? Menjadi seorang penikung, Cih!"


Tangan Ziran terkepal erat hendak melayangkan tinju ke wajah laki-laki di depannya.


"Jangan pernah menyentuh milikku!"

__ADS_1


-TO BE CONTINUE-


__ADS_2