
Flasback-On
"Huh! Apa sekarang waktunya aku cerita?"
Ziran berjalan bolak balik di pintu dapur belakang rumah menuju taman belakang. Seperti orang yang gugup lainnya, Ziran mengingit kecil jari jempolnya. Sesekali matanya melirik sosok wanita yang duduk di kursi taman dari jendela kaca.
"Pikir Ziran, Pikir!" Sekarang dia malah menjambak rambutnya frustasi. Namun beberapa saat kemudian akhirnya dia pun memutuskan.
"Oke, mungkin ini saatnya!"
Dengan langkah mantap Ziran menguatkan tekad akan menuntaskan segala kegusaran hati yang selama ini dia simpan sendiri. Dia akan berterus terang hari ini juga. Ziran berjalan menghampiri istrinya yang tengah duduk membelakanginya.
"Sayang," Ziran memelul istrinya dari belakang, menyandarkan dagu di puncuk kepala Afra, "Kenapa melamun?"
Afra sedikit terkesiap ketika sepasang tangan melingkar di perutnya. Dia menoleh kebelakang dan ketika mendapati jika perbuatan iyu adalag suaminya, Afra pun tersenyum.
"Tidak, aku hanya sedikit berpikir." Jawab Afra memeluk tangan Ziran.
"Jangan terlalu banyak berpikir, nanti kepalamu bisa sakit." Peringat Ziran di balas cengiran kecil dari Afra. Hal itu juga membuat Ziran berpikir apa ketika dia berterus terang pada Afra, istrinya itu akan baik-baik saja? Karena bisa saja itu bisa saja menambah beban pikirannya. Afra bimbang.
"Ada sesuatu yang ingin ku katakan," Kata Afra mendogak menatap Ziran di atasnya.
"Apa itu penting?" Kini Ziran berjalan memutari kursi panjang taman dan duduk di sebelah Afra. "Baiklah aku akan dengarkan, karena setelahnya aku juga akan bercerita sedikit padamu." Imbuh Ziran memgengam tangan Afra.
"Hum, bercerita tentang apa?" Tanya Afra dengan wajah penasaran.
"Kamu dulu, baru aku." Kata Ziran dengan tersenyum menampakkan gigi.
"Hm, baikalah aku mulai ya." Afra perlahan mulai mengambil napas dalam sebelum memulai. "Aku sudah ingat semuanya."
Perkataan itu membuat Ziran tidak heran lagi. Pasti Alki telah menceritakan semuanya.
"Apa yang sudah kamu tahu?" tanya Ziran kembali tersenyum. Walaupun nyatanya, hatinya terus saja tidak tenang.
__ADS_1
"Aku sudah tau jika kamu adalah pahlawan bertopengku selama ini. Kamu yang memakain topeng serigala dan menyelamatkanku saat itu iya, kan?"
Ziran tertegun sejenak, sebelum menjawab, "Iya benar, itu adalah aku."
"Jadi benar? Dugaanku selama ini benar jika kamu adalah bagian dari masa laluku? Bukan cuman kamu, tapi Alki adalah laki-laki bertopeng kijang itu. Kalian bersahabat." Tutur Afra dengan wajah merah padam.
"Iya benar, Sayang. Itu adalah kami." Jawab Ziran lagi. Kali ini dia merengkuh Afra ke dalam pelukan. "Maafkan aku."
"Jahat! kenapa tidak jujur lebih awal padaku, kenapa kamu sangat kejam Ziran!" Jerit Afra meronta dalam pelukan Suaminya. Isak tangisnya kini terdengar sendu. "Hiks ... jahattt!"
"Maaf, maafkan aku, Afra." Dan Ziran hanya bisa memohon pengampunan maaf karena menyembunyikan fakta dirinya begitu lama.
"Sungguh, tak ada maksud lain. Aku melakukannya untuk membuat hubungan kita baik-baik saja. Namun setelah datangnya Alki, itulah puncak kekhawatiranku dan sekarang terbukti saat semua kebenaran itu di ungkap oleh dia. Padahal aku ingin pernikahan kita berjalan lancar dan tak ada lagi kisah masa lalu." Imbuh Ziran.
"Tapi setidaknya beritahu aku. Kamu tau kan, sejak dulu aku menyukaimu. jika tahu seperti itu, betapa bahagianya mengetahui jika Allah memberiku pendamping hidup sosok yang telah aku kagumi sejak kecil." Celoteh Afra dalam pelukan Ziran.
"Maaf ...."
"Menyebalkan, tahu tidak? dulu aku mati-matian menolak lamaranmu, jika saja Umi tidak membujukku mungkin aku tidak akan menjadi istrimu sekarang! Kamu itu, ya ..." Kesal Afra menyerbu Ziran dengan cubitan di perut sehingga pelukan mereka terlepas.
"Masih ingat tentang perjanjian waktu itu? Saat kamu berjanji akan menunggu sang topeng serigala datang kembali dan akan menjadikanmu miliknya setelahnya, ingatkah?" Tangan Ziran bertumpu di dua bahu Afra.
Suasanya legang sejenak,
"Ingat. Sekarang janji itu telah lunas, kan? Awalnya aku juga memikirkan itu saat hendak menolak lamaran alasannya karena aku telah mempunyai janji. Tapi, entah apa penyebabnya sampai akhirnya aku menerima lamaran kamu dulu dan melanggar janji pada sosok pahlawanku." Raut Afra menyenduh, namun seketika ceria.
Ziran hanya diam mendengarkan.
"Tapi apa sekarang? Ternyata rencana Allah sama sekali tidak terduga. Aku masih belum percaya jika jodohku adalah cinta masa kecilku. Berarti Janji itu tidak ku langgar, karena ternyata itu adalah kamu Ziran!" Terdengar suara pekikan kesenangan Afra. Dia tersenyum sangat lebar.
"Namun sayangnya itu bukanlah aku, Istriku. Bukan aku yang menyuruhmu bejanji." perkataan Ziran seperti menghentikan waktu Afra bernapas.
"Maksud Kamu?"
__ADS_1
"Dia adalah Alki. Yang menemuimu di hari terakhir itu adalah dia." Tutur Ziran mendapat picingan mata Afra.
"A-aku masih tidak mengerti!" Kepala Afra terasa berat mendengar kenyataan itu. "Bukankah kamu pemilik topeng serigala itu, iya kan? Kenapa bisa kamu katakan itu adalah Alki!"
Bulu mata Ziran naik turun berkedip beberapa kali,
"Sehari sebelum dia pergi menemuimu, aku mengajak Alki datang kerumah tepat di acara ulang tahunku. Namun, saat semua orang sibuk memberi selamat padaku, aku tidak melihat sosok sahabatku itu di manapun. Aku juga belum mendapat ucapan selamatnya dan sebagai seorang sahabat aku pasti menunggu kata sederhana itu 'Selamat Ulang Tahun Ziran' Hanya seperti itu tapi tidak ada."
Ziran menunduk menghindari tatapan intens Istrinya. Afra pun mengangkat dagu Ziran untuk mau bersitatap dengannya.
"Kamu seperti bocah lagi kalau sedih begini." Tersenyum kecil pada Ziran membuat lelaki itu merona.
"Tolong jangan menatapku iba seperti itu. Hahaha ... Aku sebenarnya orang yang setia kawan dan aku sangat menyayangi sahabat kecilku itu. Namun, rasanya sekarang tidak lagi. Tujuan kami sama dan itu adalah memperebutkanmu." Kata Ziran tiba-tiba mengantikan raut wajahnya menjadi geram.
"Sudahlah, Suamiku. Ceritanya belum selesai, ya? Setelah itu apa?" Tanya Afra membuat Ziran kembali fokus.
"Ternyata Alki mempunyai rencana. Dia kerumahku hanya untuk mengambil topeng Serigalaku kemudian pergi dari acara ulang tahunku. Besoknya, Alki pergi menemuimu dengan memakai topengku. Betapa liciknya dia! Penghianat!" Ziran memukul sandaran bangku taman melampiskan emosi yang datang.
"Dan yang paling aku benci, dia berpura-pura menjadi aku di hadapanmu. Menyuruhmu berjanji untuk menunggunya, dia benar-benar sosok penghianat!"
Afra tak tinggal diam. Segera di raihnya tubuh Ziran ke dalam pelukan untuk menenagkannya. Amarah Ziran selalu tidak terkontrol.
"Tenang Suamiku, jangan emosi. Semua sudah lewat, kekuatan Allah lebih dasyat menyatukan hambanya yang memang seharusnya berjodoh. sebesar apapun seseorang melawan takdir, dia akan tetap kalah jika yang di lawannya itu adalah ketetapan Allah Aza Wajallah." Tutur Afra terus mengusap-usap rambut kepala Ziran hingga detu napas lelaki itu teratur seperti sebelumnya.
Beberapa menit,
"Sudah lebih baik?" Afra bertanya pelan. Dan anggukan ringan dari Ziran adalah jawaban.
"Kumohon jangan tinggalkan aku, Afra. Jangan pernah!" Ziran langsung memeluk Afra erat seperti anak kecip yang takut di tinggal oleh ibunya. "Berjanjilah!"
Pejaman mata Afra terbuka, wajahnya pun perlahan menampakkan segaris senyum simpul.
"Aku berjanji. Selagi itu bukan perpisahan karena maut, aku akan tetap berada di sampingmu. Aku mencintaimu karena Allah, ya Hubby." Kata Afra membawa ketenangan hati pada Ziran.
__ADS_1
"Aku lebih mencintaimu, ya Zawjati."
-To Be Continue-