Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 46 : UJIAN


__ADS_3

Seorang laki-laki keluar dari gedung perusahaan dengan berlari. Menghiraukan beberapa orang yang di tabrak, bahkan keselamatannya pun tak dia peduli saat memilih turun ke lantai bawah menggunakan tangga dengan langkah seribu di karenakan lift telah melebihi kapasitas.


Ya, dia adalah Ziran.


"PAK, HATI-HATI DONG KALAU JALAN!" maki seorang pria salah satu karyawan di perusahaan tempat Ziran rapat siang itu.


Ziran tak menggubris pria muda itu dan terus saja berlari menuju pintu keluar perusahaan. Wajah Zirab tegang dan kaku. Setelah menerima panggilan dari nomor istrinya, Ziran membuang kesempatan untuk mendapat proyek besar, semua itu karena berita buruk yang di dapatkannya hari itu.


Afra kecelakaan. Dia sekarang ada di rumah sakit Cindara. Segera kemari karena istrimu terus memanggil namamu!


Itulah informasi yang di dapat dari laki-laki penelpon memakai ponsel milik Afra. Dia tidak tau siapa orang itu? Ziran juga tak sempat bertanya panjang karena panggilan langsung di akhiri. Siapapun dia, yang pasti dialah salah satu orang yang tau kondisi istrinya sekarang.


Ya Allah Afra, ada apa lagi ini? Kenapa kamu tidak mendengarkan nasihatku! Ketakutanku terjadi, inilah alasanku tidak ingin terlalu memberimu Izin untuk pergi kemanapun!


Ucap batin Ziran di selimuti rasa yang bercampur aduk menjadi satu, ketakutan. Dia takut kehilangan Afra.


Sejak tadi pula dia telah mengendarai mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya. Lagi-lagi tak peduli atas banyaknya makian yang di dapatkan hari ini karena kegilaannya.


Drrtt Drrtt ....


Dering suara ponselnya mengambil atensi Ziran. Dia menerima panggilan itu tanpa melihat nama kontak.


"Halo? Kamu dimana?"


"Assalamualaikum, Kak Zanira?" Itu adalah panggilan dari Kakak Ziran.


"Tidak usah basa-basi! Kamu dimana?!" Tanya Zanira setengah berteriak.


"Aku sudah di jalan, bagaimana keadaan istriku, Kak?" Ziran balik bertanya dengan pandangan fokus pada jalan dan menyetir.


"Baguslah, cepat kemari biar aku beri pelajaran padamu! Aku tunggu!" Nada bicara itu sangat tidak bersahabat. Sepertinya Zanira sedang emosi.


"Kakak ini kenapa? Bagaimana keadaan Afra?" Ziran telah merasa aneh pada Zanira, namun dia harus tetap tenang tidak boleh ikut terbawa emosi.


"CEPATLAH DATANG DAN JELASKAN SEMUA PERBUATAN BURUKMU INI!"


Tit ....

__ADS_1


Panggilan terputus sepihak begitu saja, Zanira lebih dulu mengakhiri.


Ziran memegang dada tepat di jantungnya yang bedebar keras. Ada apa ini? Apakah Kakaknya marah besar sampai berteriak dan berkata hal demikian padanya? Tapi karena apa?


"Ujian apa yang sebenarnya sedang kuhadapi, Ya Allah?" Lirih Ziran dengan bibir bergetar. Dia harus cepat sampai di rumah sakit tempat istrinya di rawat untuk tau jawabannya!


***


Di tempat lain, beberapa orang dan anak kecil tengah menunggu hasil pemeriksaan dengan keringat dingin dan cemas. Sudah sejam lebih mereka menunggu namun dokter yang menangani pasien tak kunjung keluar dari ruang perawatan.


"Pak Dokter, lama banget periksa Ibu!" Rizki ada di depan pintu dan berteriak membuat keributan. Dinda langsung menarik Rizki mundur.


"Rizki tak boleh kacau dokter bekerja, nanti tak boleh jumpa Kak Afra mau?" Ucap Dinda mendapat gelengan keras dari bocah 8 tahun itu.


"Tapi Dokternya lama! Rizki mau ketemu Ibu!" Rengek bocah laki-laki itu.


"Iya, Risa juga mau ketemu Ibu! lagian kenapa Sih, kan Ibu hanya tidur di dalam nggak ngapa-ngapain. Pokoknya Risa mau ketemu Ibu!!" Jerit saudari kembar Rizki menyentak kaki kesal di lantai.


"Iya, akak tau. Tapi boleh tidak kalian sabar sikit je. Doakan Kak Afra baik-baik je kat dalam sana." Ucap Dinda penuh pengertian.


Di kursi tunggu, Zanira, Bika, Reza, Mila, Debi, Joy, Farsya, dan kedua orang tua Afra menatap iba pada bocah yang telah di angkat menjadi anak angkat oleh Afra dan Ziran. Hanya sebagian yang tau akan hal itu, teman-teman Afra tidak tau siapa anak yang memanggil Afra dengan sebutan 'Ibu?'


"Bi, Anak kita baik-baik saja, Kan?" Umi Irana menatap sendu Suaminya. Sejak tadi, air matanya tak kunjung berhenti mengalir.


"Tenang, Umi, Afra itu anak yang kuat, dia pasti bisa melewati semuanya. Kita doakan saja, ya." Abi Daud menenangkan sang istri. Tangannya mengelus-elus punggung Irana.


"Iya, Abi. Amiinn .... Afra anak kuat!"


Adami kakak dari Afra dalam perjalanan pulang dari luar negri. Kemarin Adami tengah berada di Singapura untuk bisnis dan setelah mendengar kabar adiknya, tentu pekerjaan itu bukan prioritas.


Aku benar-benar kecewa padamu Ziran, beraninya kamu menyakiti hati adik ipar! Beraninya kamu berduan di sana dengan pelakor sampah! keterlaluan!


Zanira terus mengumpati adiknya. Di tangannya terdapat ponsel Afra yang bagian ujungnyaa retak karena terbentuk aspal. Zanira menggenggan benda pipih itu seakan ingin meremukkannya setelah melihat isi dari ponsel tersebut. Dia tidak sengaja membuka app Whatsapp milik Afra, dan betapa terkejutnya melihat foto-foto dari pesan nomor tidak di kenal.


Zanira langsung saja naik pitam mengamati jelas siapa dalam foto itu. Adiknya sedang berduaan dengan wanita lain, jelaskan apa yang membuat Afra kecelakaan!


Sisi yang lain, seorang laki-laki larut dalam pikirannya dengan pandangan kosong. Bika sudah termenung sejak tadi. Dan di sampingnya, ada gadis yang menatap Bika terluka melihat kondisi laki-laki itu. Tangan gadis itu mengepal erat, juga pandangannya kabur sebab air mata yang menggenang di sana.

__ADS_1


Ceklek ....


Suara pintu ruang rawat terbuka membuat atensi mereka berpindah oada seorang Dokter wanita paruh baya yang baru melangkahh keluar menghampiri keluarga pasien.


Semuanya berdiri.


"Di antara kalian siapa keluarga pasien?" Tanya Dokter menatap satu persatu orang di depannya.


Abi dan Umi Afra langsung maju, "Kami orang tuanya, Dok!" Kata Abi menunjuk dirinya dan istrinya. "Bagaimana kondisi anak Kami?" Lanjut Abi penuh harap kabar yang baik.


"Anak bapak dan ibu kondisinya masih terselamatkan." Jawab Dokter terdengar ambigu di telinga semua orang.


"Maksud Bu Dokter apa?" Kali ini Zanira yang bertanya membuat suasana hening.


"Pasien selamat, namun kondisinnya sekarang sedang Kritis."


"APA!!!" Suara lantang itu menarik semua perhatian tertuju oada orang itu. Orang itu adalah Ziran yang baru datang dana di kejutkan dengan berita buruk tersebut. Ziran mendekati ke arah Dokter, "Apa maksud Dokter jika istri saya sedang kritis! Dokter periksa yang benar!"


Makian Ziran mendapat hembusan napas lelah dari sang Dokter. Sekarang dua orang itu menjadi pusat perhatian keluarga dan teman-teman Afra.


"Maaf, Pak. Kami sebelumnya meminta maaf karena kabar kondisi pasien membuat anda semua khawatir. Namun, di karenakan pasien mengalami benturan keras di kepala mengakibatkan pasien kehilangan banyak darah karena pendarahan hebat. Sebab itu kami mengatakan pasien dalam kondisi kritis." Jelas Dokter tersebut penuh pengertian.


"Sekarang dia sedang membutuhkan banyak donoran darah." Lanjut si Dokter.


"Kalau begitu kenapa diam! Ambil darah saya saja!" Ziran membentak dokter karena emosi. Dokter itu telalu membuang banyak waktu untuk pemulihaan istrinya!


Dokter itu tersenyum kemudian menjawab, "Maaf, Pak. Kami tidak sembarang mengambil darah untuk di donorkan pada pasien. Dan berhubung stok darah di rumah sakit ini kosong, kami tidak bisa melakukan apa-apa selain mencari pendonor yang sukarelawan. Pasien bergolongan darah AB positif, apa anda pemilik darah tersebut?"


Ziran menggigit bibir menahan mulutnya untuk membalas cepat. Beberapa detik hingga...


"Tidak." jawaban singkat itu membuat sang dokter lagi-lagi tersenyum. Dia tau betapa khawatirnya sosok suami pasien di depannya ini sehingga terlepas kendali dirinya.


"Dan karena orang yang bergolongan darah seperti itu sangat langkah, hanya 3,4 persen presentasinya, Pak. Maka kita akan berusaha keras mencari pendonornya."


Ujian apalagi ini ya Allah?


-To Be Continue-

__ADS_1


__ADS_2