Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 49 : MENGEJUTKAN


__ADS_3

Di tengah kondisi Afra yang melemah, di sisi lain kelima teman Afra lainnya terus mengejar Farsya. Bika paling depan berusaha mensejajarkan langkah kaki, namun sepertinya kalah cepat dari gadis di depannya. Rupanya langkah Farsya membawa mereka ke taman belakang rumah sakit cindara, taman yang nampak sedikit ramai oleh pengunjung rumah sakit.


"Fiuh, capek tau nggak!" Keluh Mila berhenti berlari. Reza yang tadinya masih berlari ikut berhenti dan mundur ke arah Mila yang telah duduk di atas rumput taman. Sedangkan yang lain hanya berhenti di tempat dan menoleh sejanak pada pasangan itu.


Bika menoleh menatap satu persatu pada teman-temannya yang berwajah lelah dan napas yang ngos-ngosan.


"Ya sudah begini saja, kalian semua tunggu di sini, aku yang akan mengejar Farsya." Putus Bika akhirnya setelah melihat kondisi teman-temannya.


"Nggak pa-pa, ayo kita kejar Farsya lagi, takutnya dia malah ngilang." Tolak Joy ingin melangkah ke arah Bika, namun segera langkah itu segera di tahan Bika.


"Stop, biar aku saja! Pokoknya kalian tunggu di sini!" Bika telah berlari kembali mengejar Farsya di tengah taman rumah sakit yang ramai oleh beberapa pasien dan perawat.


Yah, pada akhirnya semua teman Bika mau tak mau menurut. Mereka menatap kepergian Bika yang mengejar Farsya yang jaraknya cukup jauh darinya. Semoga Bika tidak kehilangan jejak teman petualangan mereka.


"Far! Farsya!!" Teriak Bika saat gadis itu menabrak salah satu pasien yang belajar berjalan di bantu seorang perawat wanita, akibatnya Farsya di maki oleh mereka. Namun Farsya tidak peduli, dia bahkan tidak menoleh apalagi meminta maaf.


"Farsya berhenti! Aku Bika temanmu!" berharap setelah dia berkata begitu, gadis itu sadar dan berhenti. Lagi-lagi tidak ada respons. Sekali lagi, Bika melihat Farsya menabrak orang dan yang dia lakukan hanya memejamkan mata sejenak melihat hal tersebut. Saat dia sampai pada laki-laki tua yang Farsya tabrak, Bika membantunya berdiri.


"Maaf, ya Pak." Meminta maaf yang jelas-jelas bukan ulahnya, Bika lekas berlari lagi. Namun karena itu, kini Bika malah kehilangan jejak Farsya.


"Dimana?" Gumamnya bertanya pada diri sendiri. Bika berputar di temat demi melihat keseluruhan taman mencari ciri-ciri fisik temannya.


Berusaha memfokuskan pencarian Bika menatap sekeliling lebih tenang. Dan saat dia menatap sebuah pohon Trembesi besar di ujung taman, pendengarannya makin fokus menangkap suara tangisan. Bika sangat yakin, jika itu suara isakan tangis Farsya.


Bika mendekati dengan langkah pelan. Dan saat sampai di samping pohon itu, terlihatlah Farsya yang duduk meringkuk memeluk lutut. Wajahnya tenggelam di sana. Dia lebih mendekat dan menekuk sebelah kaki di samping Farsya.


"Farsya?" Panggil Bika pelan. Namun bukan sahutan yang dia dengar, malah tangisan yang bertambah keras. "Farsya tenangkan dirimu, ini aku, Abika Pratama."


"Hahaha ..., Hiks, hiks, pergi! menjauh!" tawa di ganti tangisan itu terdengar aneh di tangkap Bika. Apa yang membuat Farsya seperti ini?


"Aku duduk di sini temani kamu nangis kalau gitu." Posisi Bika berganti duduk bersila mengahadap Farsya. Di tatapnya gadis itu intens dengan perasaan campur aduk menerka-nerka masalah yang tengah Farsya hadapi. Apakah itu berat, hingga gadis yang telah beberapa tahun di kenalnya tegar dan kuat bisa serapuh ini?


"Hiks ..., Aku tidak mau kamu di sini. Pergi! Pergi sana! Aku ini gila!" Kata Farsya masih terus menangis. Mereka yang tengah berada taman tentu tidak sendiri, sedari tadi beberapa orang telah memperhatikan mereka berdua secara terang-terangan.


Beberapa menit ke dua orang itu saling diam dalam posisi tadi. Tangisan Frasya belum reda, semakin meyayat hati Bika. Sebegitu sakitnya kah? Tapi apa penyebabnya?


"Aku tidak akan pergi tanpa tau alasan yang telah membuatmu begini?" jawab Bika tak di balas apa-apa. "Aku tidak pernah melihat seorang Farsya Adibara menangis selama aku mengenalnya. Sangat aneh bukan jiwa hari ini kamu seperti ini? Katakan masalahmu."


" ... "

__ADS_1


Tak ada balasan.


"Kalau begitu aku akan tetap di sini!" Gemas Bika. Lima menit berdiam diri sama seperti lima jam. Saling diam membuat suasana tidak nyaman. apalagi di tambah suara tangisan Farsya.


"Sampai kapan kamu diam? Lebih baik cerita daripada kamu memendamnya menjadi sakit di hati." Pinta Bika akan terus berusaha mencari tau masalah gadis itu. "Mengangis memang baik, namun tidak bisa menemukan titik temu penyelesaian dari kegundahan hati, iya kan?" sejenak suara tangisan berhenti terdengar.


"Ceritakan saja yang kamu pendam sendiri, Percaya sama aku, aku bisa menjadi pendengar yang baik untuk keluh kesahmu." Berhasil, akhirnya Farsya mengangkat wajah dan mau memandang Bika.


Wajah sembab, mata bengkak, hidung melar, rambut acak-acakan, semua nampak jelas pada Farsya yang sedang kacau.


Bika mengembangkan senyum manisnya untuk Farsya. "Kamu ada masalah?" Tanyanya masih dengan senyuman.


Farsya mengalihkan pandang ke depan. Respon yang di berikan gadis itu membuat Bika bernafas pendek.


"Aku tau kamu pasti sedih dengan kondisi Afra yang kritis, kan?" Bika ikut mengalihkan pandang ke depan. Menatap bunga rumah sakit cindara yang di terpa mentari sore hari. Nampak bercahaya. "Bukan hanya kamu, kita semua sangat menghawatirkan dia. Yah, kita doakan semoga dia kembali lagi bersama kita." lanjutnya dengan nada senduh.


mata Farsya kembalu berkaca.


"Maaf,"


Bika langsung menoleh menatap gadis yang baru saja meminta maaf. Farsya meminta maaf? Maaf untuk apa?


Gadis itu kembali diam dan air mata sudah kembali lagi berjatuhan di pipinya.


"Maaf ntuk Apa Farsya?" Desak Bika tak sadar telah menguncang bahu temannya.


"Karena akulah penyebab kecelakaan Afra."


Deg


Rasanya Bika sulit bernapas baik saat ini. Tenggorokannya tercekat dengan hal mengejutkan yang Farsya katakan. Apa itu benar? Bika tak bisa melihat langsung kejujuran di bola mata Farsya, karena gadis itu menghindari tatapannya.


"Leluconmu sungguh tidak lucu Farsya, jangan bercanda!" Bentak Bika berdiri dari duduknya. Dia menusuk Farsya dengan tatapan tajam. Tanpa permisi Bika menarik paksa Farsya berdiri. Dia juga memaksa wajah Farsya menoleh padanya meski gadis itu menolak.


"Lihat aku dan katakan yang sejujurnya! Apa yang kamu lakukan pada Afra!?" Murka Bika terus menatap tepat ke dalam mata Farsya yang masih mengeluarkan air mata yang deras.


Dengan sekali sentak, tangan Bika di wajah Farsya di hempas kuat.


"Akulah penyebab Afra kecelakaan. Aku yang mengirim seorang wanita untuk menggoda Suaminya dan memotret mereka diam-diam. Aku juga yang mengirimi Afra foto-foto tersebut! Aku juga yang menyuruh seseorang mengambil ponsel Ziran untuk di sembunyikan agar tidak bisa mengabari Afra. Aku, ya, aku pelakunya!" Teriak Farsya menjelaskan semua kejahatan yang telah di lakukan pada Afra. Tangisannya tersendat-sendat setelah mengatakan hal tersebut.

__ADS_1


PLAK!


"Gadis gila! Apa yang telah kamu lakukan pada Adik Iparku, Hah!"


Wajah Farsya terhempas ke samping karena tamparan keras di pipi kanannya. Itu bukan dari Bika, melainkan Zanira yang entah kapan telah ada di antara dua orang tersebut. Bika terdiam kaku di tempat. Farsya pelan-pelan menatap Zanira dengan getar takut.


PLAK


Tak cukup sekali tamparan itu kembali mendarat di pipi kiri Farsya. Bika langsung tersadar, tak seharusnya semua di selesaikan dengan kepala panas, meski Farsya memang salah besar. Bika menahan kakak Ziran saat hendak menerjang Farsya ingin menghabisinya.


"Cukup, Kak, cukup. Kakak lebih baik tenang dulu." Pinta Bika terus menahan tubuh Zanira agar tidak lepas kendali.


"Rubah licik bermuka dua! Dasar teman busuk! Beraninya kau melukai Afra! Bahkan melakukan hal menjijikan dengan menyuruh gadis rendahan mendekati adikku untuk membuat istrinya berpikir buruk! Sekarang dia kecelakaan dan kondisinya kritis! Puas kau, puas?!" Jeritnya meronta dalam tahanan Bika.


Dengan berani Farsya membalas, "Ya, awalnya aku sangat puas dengan yang kulakukan ...,"


Bika menggeleng kecewa, tidak menyangkah teman yang Afra miliki paling lama mengenalnya malah menghianatinya.


"Dasar tidak waras! Beraninya kau!"


Farsya tak ingin diam lagi, akhirnya dia mengungkapkan. "Itu hanya awalnya! Aku terlalu di butakan oleh rasa marah dan sakit hati karena seseorang yang ku cintai malah di kecewakan oleh Afra! Apa aku salah! Aku hanya membalaskan rasa sakit hatiku pada Afra yang mengecewakan orang yang menyukainya sejak lama!"


Deg


Apa maksud itu semua? Bika berusaha mencerna kata demi kata yang Farsya katakan tadi. Membalaskan rasa sakit hatinya karena orang yang di cintainya di kecewakan oleh Afra? Siapa? Siapa yang kamu sukai Far? Bika masih belum sadar.


"Apa maksudmu?" Tanya Bika. Sorot matanya meneduh menatap gadis berpenampilan kacau di depannya.


"Apa masih belum sadar juga? Tidak masalah, aku pun sudah terbiasa dengan ketidakpekaanmu itu. Dari dulu hanya aku yang berjuang dan tidak sekalipun kamu melihat perjuangan orang itu!" Dua tangan Farsya menghapus kasar air matanya. Dadanya sesak, sesak sekali hingga ingin rasanya dia saja yang merasakan sakitnya berjuang untuk hal yang tidak pasti.


Zanira tak mau mengerti apa yang menjadi alasan gadis itu. Intinya Farsya telah mencari masalah membuat hidup Afra terancam. Dia hanya menganggap air mata yang Farsya keluarkan hanyalah palsu! Cukup sudah, drama wanita rubah licik itu telah jauh dan ingin segera Zanira akhiri. Namun, ketika akan membuka suara, bunyi nada panggilan ponselnya mengurungkan niatnya. Tentu bunyi itu mengalihkan dua perhatian yang sekarang tertuju padanya.


Zanira mengambil ponsel dari dalam saku celana jins nya. Dia melihat nama pemanggil. ~Dinda gadis malaysia~ Nama yang tertera dalam panggilan telfon tersebut. Segera Zanira mengangkat panggilan dan sengaja mengaktifkan loudspeaker suara.


"Halo Mbak! Kondisi Afra jadi memburuk dan juga jetak jantungnya melemah! Cepatlah kemari Mbak!"


Tiga orang itu terpaku dan saling menatap kaku.


"APA!"

__ADS_1


-To Be Continue-


__ADS_2