Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 54 : HAFALAN TERAKHIR


__ADS_3

"Assalamualikum, Ustad!" Sorak anak- anak santri berlarian menatangi Ziran yang sedang mengikat tali sepatu di tangga mesjid. Dia baru saja selesai melaksanakan sholat Asar.


Ziran tertawa kecil mendengar kata Ustad yang melekat pada dirinya. Karena sejak 7 bulan terakhir, dia sering ke pesantren tempat dulu dia belajar menghapal Al-Quran demi bisa menunaikan janjinya pada istrinya. Kalian pasti ingat dua janji saat Ziran melamar Afra dulu bukan?


Tiga anak santri itu ikut duduk di anak tangga sambil menatap Ziran yang masih sibuk mengikat tali sepatu.


"Waalaikumsalam. Sudah berapa kali aku bilang aku bukan, Ustad!" Ziran selesai dengan kegiatannya dan menatap anak santri itu dengan menyipitkan mata.


Tiga anak santri nyengir dan menggaruk kepala.


"Pak Ustad kan, sudah lama di sini. Sering bagi-bagi ilmu juga sama anak pondok. Jadi gak apa-apalah kami panggil Ustad saja biar lebih sopan." Kata salah satu santri memakai peci putih dan berkaca mata. Dia Anwar, kulitnya lebih putih dibanding kedua temannya, Reza dan Jojo.


"Setuju!" Reza menjentikkan jari.


"Betul, betul, betul!" dan Jojo menganguk-angguk kepala sambil menirukan kata-kata andalan si Ipin.


"Ya, terserah kalian saja!" Ziran sudah kapok menyela, dia pasrah. Kini lebih baik diam dan tidak berkomentar lagi. Saat akan bangkit, niatnya terurung karena anak santri kembali mengajaknya mengobrol.


"Pak Ustad sudah hapal berapa juz?" tanya Jojo menyanggakan tangannya di dagu.


"Jus mangga, jeruk, apel, naga, durian, melon ... apa lagi ya?" Ziran menghitung jarinya saat menyebutkan beberada jus buah. Dan itu mendapat tawaan dari Anwar dan Reza sebab Jojo yang berwajah masam karena jawaban Ziran.


"Bukan itu ... Maksud aku Pak Ustad sudah hapal berapa Juz Al-Quran? Bukan jus buah!"


"Oh, aku kirain jus buah, Jo. Menurut kalian berapa?" Tanya Ziran dengan menaik turunkan dua alisnya.


Ketiga anak santri itu berpikir sejenak.


"20 juz!"


"Bukan! Pasti 25 juz!"


"Salah! Yang benar itu pasti tinggal satu surah Al-Quran lagi. Kan, kan?" Anwar balik menaik turunkan alisnya pada Ziran.


Ziran awalnya berwajah datar, tak lama tersenyum semakin lebar, lalu akhirnya tertawa.


"Rahasia!" Ucapnya masih dengan tawa. "Sudah, sudah, mending kalian hapalin Al-Quran secepatnya. Siapa tau calon istri kalian minta mahar hafalan 30 Juz Al-Quran, bahaya kan, kalau kalian gak sampai hafal?"


Ketiga santri itu saling melirik dan mengkode satu sama lain, lalu kembali menatap Ziran.


"Tenang saja Pak Ustad! Calon istriku nanti ku sogok suruh minta mahar seperangkat alat sholat saja. Bisa mati aku kalau 30 juz." Ucap Reza menepuk pundak Jojo di seblahnya.


"Betul, betul, betul!" Jojo menyetujui saran Reza temannya.

__ADS_1


"Siaplah Pak Ustad! 30 juz Al-Quran siap di hafalkan. Bukan untuk meminang gadis soleha saja, tapi juga untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT. Dan aku juga ingin memberikan mahkota untuk kedua orang tuaku di surga nanti, Aamiin Ya Rabbal Alaminn."


"Ih, Anwar bikin aku terharu! Aku juga mau deh, menghafal!" Kata Jojo seraya tersenyum.


"Aku jugalah!" Sahut Reza kemudian dan ke empat orang itu tertawa bersamaan.


"Nah gitu dong! Semoga Allah memberi kemudahan pada kalian dalam menghafal seluruh isi Al-Quran." Doa Ziran mengelus satu persatu puncuk kepala tiga anak santri tesebut.


"Aamiin ...." Anwar, Reza dan Jojo sama-sama meng-Aminkan.


"Eh, Pak Ustad sudah mau pergi?" Tanya Anwar ketika melihat Ziran telah bangkit.


"Pastilah! Pak Ustad sudah tak sabar ingin bertemu dengan bidadari surganya yang cantik itu loh. Betul, tidak?"


"Betul, betul, betul!" Jojo dan Reza asik bertos ria. Kini Anwar berwajah kesal karena mereka bertiga sudahlah tau musibah yang tengah di timpa Ziran selama 7 bulan ini.


"Iya benar. Bidadari cantikku itu masih tertidur lelap hingga kini, jadi aku rindu ingin bertemu dan memandangin wajah cantiknya itu. Pak Ustad pulang dulu, ya!"


"Nanti kapan-kapan bidadarinya sudah bangun bawa kemari ya, Pak Ustad! Mau kenalan!" Teriak Reza mendapat injakan di kakinya dari Anwar.


"Kenalin sama aku juga dong, Pak Ustad!" Tak tanggung-tanggung Jojo juga mendapat jitakan di kepala dari si Anwar.


"Kalian ini ya, bercadaan mulu!" Omel Anwar bertampang garang.


"Waalaikumsalam, asyiap Pak Ustad!" Jawab kompak ketiga santri tersebut.


***


Ceklek ....


Ziran melangkah masuk ke dalam ruang perawatan Afra. Seperti biasa, bunga mawar pink kembali dia bawa hari ini. Tak lupa, senyum menawannya bertengger manis di bibirnya. Itulah yang Ziran lakukan selama tujuh bulan terakhir di saat Afra koma hingga hari ini. Ziaran menutupi kesedihan dengan bersikap baik-baik saja. Tak ada yang tau jika hatinya sengat kesepian atas keadaan Istinya yang belum lelah tertidur panjang. Bersabar. Hanya itu kuncinya.


"Eh, Astagfirullah ...." Ziran terperanjat kaget ketika mendapati Kakak Iparnya sedang duduk di sofa sambil menatapnya.


"Aku kayak hantu, ya? Sampai kamu kaget begitu?" tanya Adami bangkit berdiri mendekati Ziran di pintu masuk.


"Ah, nggak lah, Bang. Aku hanya tidak fokus tadi," Sela Ziran tertawa kecil. "Abang dari tadi di sini? Umi, Abi, sama Rian di mana?" lanjut Ziran bertanya.


"Sudah pulang diantar supir, baru saja," Jawab Adami melirik jam tangannya yang ternyata telah pukul lima sore.


"Abang sudah makan belum? Kalau belum aku pergi cari makanan dulu .... "


"Eh, nggak usah! Abang langsung pamit mau keluar ada urusan. Sebentar malam Abang ke sini lagi. Jaga adik Abang, ya!" Pintanya Di angguki Ziran.

__ADS_1


"Iya, Bang." Adami menepuk sebelah pundak Ziran lalu keluar ruangan. Tinggal Ziran dan Afra di dalam sana.


Ziran menatap bunga di genggamannya. Berjalan ke arah nakas dan mengganti bunga mawar kemarin dalam Vas bunga. Lalu mengambil Al-Quran yang ada di atas nakas. Dia duduk di kursi di samping ranjang Afra.


"Kamu betah sekali tidur? Kamu gak mau bangun Sayang?" sambil mengelus lembut kepala Afra dia bertanya lirih.


Di bola mata Ziran terpancar kesedihan, namun segera di ganti senyuman seketika itu juga.


"Gak apa-apa. Aku akan tetap tunggu kamu bangun sampai kapan pun itu."


Tiba-tiba Ziran ingat sesuatu. Sebuah hadiah pernikahan yang Afra sangat tunggu-tunggu darinya. Dari Ziran melamar hingga hampir setahun ini, cukup lama hingga bisa mengabulkan dan benar-benar siap untuk itu. Kini Ziran sudah siap.


"Alhamdulillah. Aku telah menghafal 30 Juz Al-Quran. Haha, maaf karena lama menunaikan satu janjiku ini Istriku. Coba tebak surah apa yang paling terakhir aku hafalkan?" pertanyaan Ziran itu jelas tak mendapat jawaban. Dia hanya menatap lamat-lamat wajah Afra yang damai saat tertidur.


"Surah Maryam. Iya benar, itu Surah terakhir yang aku hafalkan." Ziran seperti tengah mengobrol bersama Istrinya, namun kenyataannya dia yang bertanya dia juga yang menjawab sendiri.


"Surah Maryam adalah surah yang mempunyai kisah menakjubkan ketika kelahiran putra Maryam, Nabi Isa A.S tanpa adanya sosok Ayah. Mau mendengarkan Surahnya Istriku?" Lagi, Ziran tak bosan mengajak Afra berbicara. Seperti saat ini, dia tengah menanti jawaban Afra.


"Baiklah, aku akan membacakannya."


Ziran lebih mendekat pada Afra. Membacakannya di samping wajah Afra sembari mengelus wajah istrinya yang lebih tirus dari sebelumnya. Satu tangan Ziran menggengam sebelah tangan Afra yang sedikit dingin.


Ziran pun memulai. Bibirnya bergerak mengeluarkan suara yang menggemakan ayat-ayat suci Al-Quran. Alunan merdu terus terdengar hingga tak sadar Ziran menitikan air mata. Suaranya mulai bergetar dengan wajah yang telah basah oleh air mata. Meski begitu, dia tak berhenti melafalkan ayat demi ayat hingga akhirnya selesai.


"Ya Zawjati, hal yumkinuk ruyati wahidana?" tanya Ziran lirih dengan suara serak. ~Terjemah : Wahai istriku, tegakah kau melihatku kesepian?


Tak ada isakan. Hanya air mata yang turun mengaburkan pandangannya melihat wajah Afra. Dia pun menyeka sudut matanya dan berusaha meredakan gejolak perasaan di hatinya.


Namun, detik ini ada yang membuatnya terpaku. Ketika melihat sudut mata Afra yang mengalirkan air mata. Ziran terdiam.


Apa istrinya mendengarkan suara rintihan hatinya yang kesepian? Apa dia mendengar semuanya? Apa istrinya menangis karena itu?


Rentetan pertaanyaan berputar di kepalanya. Ziran tersenyum lega, jika memang itu benar.


"Jangan menangis istriku ... aku akan ikut menangis." Ziran mengecup dua kelopak mata tertutup itu lembut lalu memeluk tubuh Afra.


Tangan yang masih Ziran genggam perlahan bergerak. Mata Ziran membola dan segera mengangkat tubuhnya untuk melihat jelas apa yang di rasakannya tadi.


Benar, tangan Afra terus melakukan pergerakan meski pelan. Dan itu membuat jantung Ziran berpacu kencang. Perasaan bahagia langsung menyelusup masuk membuatnya tak bisa berpikir lagi selain berteriak,


"DOKTER! DOKTER!"


-To Be Continue-

__ADS_1


__ADS_2