
Masa depan itu tercipta karena cerita masa lalu.
-Flasback-Off-
"ALKI!"
Teriak seorang bocah berusia 10 tahun di depan sebuah rumah sederhana yang nampak pekarangannya di penuhi bunga warna-warni. Rumah itu milik seorang Nenek yang tinggal bersama seorang Cucu kesayangannya.
Seorang bocah lainnya keluar dari dalam rumah ketika namanya di panggil.
"Ziran? Mau langsung main?" Bocah usia 11 tahun bernama Alki itu bertanya sambil mengenakan sendal jepitnya, kemudian berjalan ke arah sahabatnya yang tak lain adalah Ziran.
"Iya main, yuk, ke Taman Kota! Aku lihat di sana ada main-mainan baru, kayaknya seru tuh." Ziran tampak antusias bercerita sambil meloncat kecil di tempatnya.
"Oho, ya sudah ayuk!" Kiki merangkul bahu Ziran dan berjalan kaki menuju Taman Kota yang berjarak sekitar setengah kilo meter dari rumah Alki. Sedangkan rumah Ziran berada satu kilo meter dari rumah sahabatnya.
Di pertengahan jalan, mereka terus membahas apapun dan berakhir tertawa bersama entah cerita apa itu. Begitulah keakraban Alki dan Ziran, sahabat lengket yang hampir selalu bersama. Bukan tanpa alasan, sebab Alki tidak mudah bergaul dengan teman sekolahnya yang lain, dan bertemu Ziran yang cukup aktif membuat mereka menjalin persahabatan sejak awal masuk Sekolah Dasar (SD).
"Kamu bawa alat lukis gak?" Tiba-tiba Ziran bertanya dengan wajah seriusnya pada Alki.
"Memang kalau nggak kenapa? Kalau iya kenapa?" Alki malah balik bertanya dengan satu alisnya terangkat tinggi.
"Ya, jaga-jaga saja. Tapi kalau kamu gak bawa baguslah, wajahku aman dari Catmu!" Kata Ziran.
Bibir Alki perlahan mengerut, kemudian tak lama terdengalah ledakan tawa darinya, "Hahaha ... Aku hanya membuat wajah tampanmu semakin tampan, apa salah?" Tanya Alki dengan jejak tawa yang masih tertinggal.
"Jelaslah, memalukan! Kalau saja aku tidak tidur di perosotan, wajahku tidak akan jadi bahan olok-olokan pengunjung Taman! Tangannmu itu suka sekali berbuat jahil!" Ucap Ziran bertampang galak.
Mengingat hari itu, Ziran jadi malu sekali. Waktu sepulang sekolah Ziran dan Alki langsung ke taman kota bermain sepuasnya di sana. Mereka tidak langsung pulang ke rumah seperti anak baik lainnya, mereka berdua cukup nakal. Itulah Ziran dan Alki, sepakat bermain sepulang sekolah sampai tidak mengingat waktu. Akibatnya, Ziran kelelahan dan akhirnya tertidur sewaktu main perosotan. Ketika dia terbangun, pertama kali yang di lihatnya adalah dirinya di kelilingi banyak orang yang sedang mengambil gambar dirinya.
Apa yang terjadi?
__ADS_1
"Hahaha ... Aku membantumu jadi Artis waktu itu. Orang-orang memotretmu dan mengunggahnya di sosmed, wajahmu sangat manis dan itu karena hasil lukisanku. Iya, kan?" Tawa Alki sambil memegang perutnya yang terasa geli.
Ziran meninju pelan dada Alki. "Kamu jahil, tapi kamu sahabatku. Jadi aku akan memaafkan ulahmu kemarin." Setelahnya Ziran tertawa dan kembali merangkul Alki.
"Kamu ini .... " Alki mengacak-ngacak rambut Ziran seperti seorang kakak yang gemas terhadap adiknya.
Perjalanan menuju taman kota kembali berlanjut. Di sore hari itu mentari hangat telah menyorot langkah kaki mereka dengan ceria. Waktu sore juga sangat di sukai banyak orang untuk di gunakan dengan bersantai atau berolahraga. Seperti halnya Ziran dan Alki, sore itu akan mereka habiskan dengan bermain. Sebentar lagi mereka akan sampai di taman.
"Eh, ada penjual topeng. Yuk, ke sana!" Ucap Ziran menarik tangan Alki menuju ke tempat penjual topeng yang ada di sekitaran taman.
"Wih, keren! Lihat deh, Al!" Celoteh Ziran sambil mengamati beberapa model topeng yang terpajang.
"Ini keren, coba lihat." Turur Alki menunjuk topeng yang ada di depannya. Topeng kijang yang setengah menutupi bagian wajah, hanya sampai di hidung.
"Kamu suka?" Ziran bertanya menatap wajah sahabatnya.
"Suka." Komentar Alki mengacungkan satu jempolnya.
"Ya sudah. Bang, aku mau beli topeng ini dan ini." Tunjuk Ziran pada dua topeng yang sama seperti topeng kijang tadi, namun topeng satunya lagi berbentuk serigala.
Topeng kijang itu Ziran berikan pada Alki dan sahabatnya menerimanya dengan senyum.
"Ayo kita pakai!" Titah Ziran langsung memakai topeng serigala miliknya. Bocah itu bergaya layaknya superhiro dan berlari menuju wahana permainan Taman Kota meninggalkan Alki di belakang. Alki pun mengikuti Ziran mengenakan topeng kijangnya dan mengejar langkah cepat Ziran.
Sekarang Alki dan Ziran sedang duduk di atas dua ayunan yang berdampingan berwarna biru dan kuning. Dua ayunan itu terus bergerak maju mundur cepat kala penunggangnya mendayung dengan sekuat tenaga. Mereka saling berlomba siapa lebih laju.
"Alki?" Ziran memelankan ayunan, "Bagaiaman jika mulai hari ini kita pakai topeng ini kalau ingin ke taman?" Tanya Ziran menatap Alki dengan menggerakkan sebelah alisnya ke atas.
"Oke!" Tanpa banyak kata Alki menyetujuinya begitu saja.
Dan itulah awal dari perkenalan persahabatan dua bocah tersebut. Hari demi hari terlewat begitu indah, menghabiskan waktu bermain dan saling bertukar cerita bersama. Selalu...
Ziran duduk bersila di atas rumput sambil bertopang dagu memperhatikan orang yang lalu lalang berjoging memutari taman. Dia lelah bermain kejar-kejaran dengan sahabatnya dan memilih istrahat sejenak. Sampai...
__ADS_1
"Ziran, aku bawa Kuas dan Cat, Nih. Mau jadi kelinci percobaanku tidak?"
Seketika Ziran berbalik menatap horor Alki yang baru saja datang dan duduk di sampingnya. Tangan Ziran maju dan menjewer telinga kanan Alki.
"Aaaaduh, sakit bro, sakit!" Rintih Alki setengah tertawa.
"Enak saja! Kalau mau, coba saja sendiri!" Ketus Ziran melepas jewerannya.
"Hahaha, bercanda kali ... Aman, aku cuman bawa Kuasnya!" Alki menunjukkan kuas yang memang selalu dia bawa. Dia sering menjahili sahabatnya karena menyukai tampang kesal Ziran akibat ulahnya.
"Lagi pula aku sudah pakai topeng ini, jadi kamu gak bisa cat muka aku lagi. Bleee ... " Ejek Ziran memeletkan lidah ke arah sahabatnya.
"Masih banyak kesempatan untuk menerjai bocah manis sepertimu, tunggu saja!" Balas Alki ikut memeletkan lidah.
Keduanya pun tertawa tak lama mereka terdiam sampai matahari hampir tergelincir di ufuk barat. Akhirnya kedua bocah itu selesai bermain dan menikmati sore hari itu seperti biasanya. Sekarang mereka berniat untuk pulang.
"Ayo pulang!" Ajak Alki berdiri lebih dulu.
"Ayo!" Ziran berdiri dan berjalan di depan Alki.
Langkah kedua bocah itu sejajar dan berjalan keluar dari taman kota. Satu persatu manusia pun juga mulai terlihat menyelesaikan kegiatan sore itu ikut beranjak pulang.
Malam akan segera tiba.
Namun, saat Ziran dan Alki hendak menyebrangi jalan mereka melihat dua meter dari mereka seorang gadis kecil yang memakan lolipop akan turut menyebrang. Mata kedua bocah itu membulat melihat gadis kecil itu akan menyebrang tanpa memperhatikan kiri dan kanan kendaraan yang akan berlalu.
"Bahaya, Zir! Anak itu mau nyebrang!"
Tepat saat satu langkah gadis itu berjalan, dari arah kiri terlihat sepeda motor yang akan melintas begitu laju.
"HEI GADIS KECIL, AWAS!"
"ZIRAN!"
__ADS_1
DUB BRAK!!!
-To Be Countinue-