Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 12 : IJAB QOBUL


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Afraza Humairah Binti Hasan Addaud dengan Mas kawin Qur'an Surah An-Nisa, dan seperangkat alat sholat di bayar tunai!"


"Bagaimana Saksi, Sah?"


"SAH!"


"Alhamdulillahirabbilalamin ...."


Di dalam kamar, sayup-sayup Afra mendengar lelaki mengucap Ijab Qabul dengan suara lantang dan penuh kewibawaan. Dia adalah Muhammad Ziran Algaza, yang detik ini telah sah menjadi Suami dan kekasih halalnya.


Pernikahan mereka terkesan sederhana yang dihadiri hanya dari dua keluarga inti mempelai laki-laki, wanita dan beberapa saksi. Afra pun tak mengundang banyak kenalannya hanya si gadis malaysia, Dinda. Pernikahan itu terlaksana secara khidmat, di rumahnya. Tak ada panggung penuh bunga untuk sepasang kekasih itu bersanding layaknya seorang raja dan ratu. Pernikahannya juga tidak seperti pada umumnya yang menyatukan kedua calon mempelai, Afra yang meminta langsung untuk menunggu suaminya di dalam kamar.


Gadis itu menatap pantulan dirinya dalam cermin kamarnya. Harap-harap cemas menunggu lelaki yang telah sah menjadi suaminya. Baju pengantin putih bersih, hijab senada sebagai mahkota dan make-up tipis terlihat menambah kesan cantik alami sosok Afra. Binar matanya tak berbohong, dia bahagia dengan pernikahan ini. Dialah wanita paling bahagia berjodoh dengan Ziran.


Ziran pemilik suara merdu saat membaca Al-Quran, yang membuat Afra jatuh hati saat pertama kali mendengarnya. Lelaki yang penuh perjuangan, menerima 2 syarat yang bukan mudah untuk mengabulkannya. Satu janji Ziran telah lunas saat Ijab Qabul tadi, Surah An-Nisa itu telah di bayar sebagai mahar pernikahan. Kini hanya tinggal satu lagi, yaitu hafalan 30 juz Al-Quran dari lelaki itu. Dan Afra bisa sabar menunggu, karena kini Ziran adalah suaminya.


Jatung Afra kembali menggila menyebut Ziran adalah suami. Ah, seharusnya dia belajar membiasakan diri.


"Eh,"


"Ya ampun, anak Umi ..., Malah melamun. Pantas saja suami kamu ketuk pintu kamar, tidak kamu buka. Kasihan Nak Ziran, malah turun ke bawah lagi."


Afra terkejut tetiba Uminya ada di dalam kamar dan memegang pundaknya. Apa tadi? Suaminya datang? Ketuk pintu? Ah, dia benar-benar tidak mendengarnya!


Pelan-pelan Afra berbalik menghadap Umi dengan tersenyum kakunya. "Be-benarkah Umi?" Tanyanya memastikan.


Irana menganguk, "iya, sayang. Sekarang suami kamu ada di bawah, ngumpul sama keluarga."


"Kan pintunya tidak di kunci, Umi. Kenapa kak Ziran gak langsung masuk saja?" Afra bertampang polos.


Irana terkekeh. "Gimana sih anak Umi. Memang kamu mau seperti itu? Terbayang dong gimana lucunya kamu teriak ada laki-laki masuk kamar gak izin dulu, meski Nak Ziran sekarang suami kamu." Irana tambah tertawa. "Ingatkan dulu Abi masuk kamar ini, gimana reaksi kamu?"


Afra tergelak kecil. "Hehe. Afra teriaki maling, Umi. Aduhhh, Umi ..., jangan bahas itu lagi!" Afra malu sendiri mengingat dulu Abinya masuk ke dalam kamarnya, tanpa mengetuk pintu dan di beri izin olehnya. Afra teriaki maling! Astagfirullah ... Kebiasaan buruk seoarang Afraza Humairah.


"Tuh, kan. Ya sudah. Umi ke bawah panggil Nak Ziran, kamu tunggu, ya." Irana berbalik ingin melangkah keluar kamar, tapi selangkah lagi sampai pintu Irana kembali berbalik. "Masih ingat pesan Umi, sayang?" Tanya Irana dengan senyum lembutnya.


Afra terdiam beberapa saat, sebelum dia balik memberi senyum terbaiknya untuk Irana. "Ingat kok, Umi."


Irana mengangguk bangga, merentangkan tangannya meminta Afra memeluk dirinya. Afra berlari sembari tersenyum sedih. Kini dirinya bukan hanya milik orang tuanya tapi juga Ziran, Suaminya. Pelukan itu seperti biasa, menenangkan.


"Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir. Sayang.” Doa Irana pada sang anak. Terjemah- mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kalian berdua pada kebaikan. "Selamat ya sayang. Sekarang, berkbaktilan pada suamimu. Karena Surga dan Nerakamu ada pada dirinya. Maka jadilah Istri solehah, bidadari yang selalu ada untuk Nak Ziran."


"Amiinn Umi ... Doakan Afra." Afra semakin mengeratkan pelukan. Bertahan untuk tidak menangis saat ini. Dia harus tegar!

__ADS_1


"Umi ke bawah ya." Afra melepas pelukan, menanggauk pada sang Umi. Irana melambai kecil pada putrinya dan segera keluar kamar.


Hati Afra kembali gundah gulanah.


Ziran datang? Suaminya itu akan datang? Ya Allah, bagaimana ini? Jantungku berdebar keras.


Gugup menyergap Afra. Dia pun memilih berjalan kesana kemari seperti kebiasannya. Menyentuh pelipisnya dan menghapus jejak keringat dengan telapak tangan. Pergelangan tangannya yang ter-gips sudah dilepaskan dengan dua alasan, menggangu dan karena tangannya sudah lebih baik. Gips itu berharga menurutnya, maka dia simpan baik-baik dalam lemarinya.


Gadis itu kembali mondar-mandir tidak jelas.


Tok tok


Deg.


Afra menelan saliva kasar. Detak jantungnya menggila, tidak salah lagi itu pasti Ziran!


"Oke, Afra! Tarik napas dalam-dalam, hembuskan perlahan. Sekali lagi, sekali lagi, sekali lagi!"


Tarik napas lewat hidung, buang perlahan lewat mulut. Lebih baik. Semoga jantungnya tidak loncat keluar. Ini masih suara ketukan pintu Afra sudah panas-dingin, bagaimana dengan melihat wajah itu langsung?


"Assalamualaikum, Istri. Boleh aku masuk?"


Akh!!! Ingin rasanya Afra melarikan diri. Wajahnya memeran dan panas, tangannya terkepal erat menyalurkan rasa gugup. Dia diam, mulutnya tak bisa terbuka untuk menjawab.


"Afra Istriku, tidak boleh yah?" Ziran kembali bersuara dengan nada yang di lembutkan. Masih bersabar. Namun setelah beberapa menit belum mendapat respon, Ziran membuang napas lemah dan berkata,


Durhaka!


Afra mengutuk dirinya sendiri. Cepat-cepat berlari ke arah pintu kamar dan membukanya kilat. "Boleh boleh. Ayo masuk, Kak!"


Afra langsung mati kutu. Terlihat Ziran tengah menahan tawa setengah mati. Beberapa detik barulah dia sadar. Dia dikerjai!


"Hahaha ...," seketika tawa Ziran terdengar bahagia sekali mengerjai Afra. "Ciee, jadi takut nih suaminya tidur di kamar bawah? Hmm?" Tangannya menyentuh ujung hidungnya tanda mengejek. Mata Ziran nampak basah. Dan akhirnya berhenti menertawai Istrinya, ketika melihat Afra beranjak masuk ke dalam kamar.


Afra yang malu, setengah menekuk wajahnya kesal. Kini dia tahu! Selain hangat, pemaksa, ternyata Ziran juga jahil seperti anak kecil. Tak habis pikir berapa macam karakter sifat yang Ziran miliki. Afra bernapas pendek, menyibukkan diri meremas gaun pengantin putihnya. Posisinya sekarang membelakangi Ziran.


Kreatt, ceklek.


Suara pintu kamar yang di tutup oleh Ziran. Dia sekarang berbalik menatap punggung istrinya yang bergerak-gerik gelisah. Ziran tersenyum tak di perhatikan. Dia berjalan pelan menuju Afra.


Sekarang dia tepat berdiri di belakang istrinya.


Perlahan dan pasti Ziran memeluk Afra dari belakang. Tangan Ziran meraih kedua tangan istrinya dan menggengamnya erat namun lembut. Terasa dingin. Istrinya tentu saja grogi, seperti dirinya. Yah, Ziran Pun tak kalah gugup sebenarnya.

__ADS_1


Afra gemetar dengan perlakuan mendadak dari Ziran.


"Apa kamu takut padaku? Apa kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini?" Bisik Ziran lemah di telinga kanan istrinya.


Mata Afra membulat mendengar ucapan itu. Tidak. Bukan itu! Afra mengerjapkan mata, Pelan-pelan dia berbalik menghadap laki-laki halalnya itu. Di tatapnya dalam dan serius.


"Maaf, Kak. Aku hanya belum terbiasa." Kata Afra dengan kepala menunduk dalam, merasa bersalah. "Aku akan belajar."


Ziran tersentuh, ikut menatap istrinya. Senyum manisnya terbit berseri-seri. Tidak apa-apa. Mereka baru saja menikah mana mungkin langsung akrab seperti dia bersama orangtuanya. Butuh proses, bukan?


"Kita sholat sunnah dua rakaat dulu ya."


Kedua mempelai itu melaksakan sholat sunnah dua rakaaat dengan penuh takzim. Selesai sholat, Ziran berbalik kebelakang menatap sang istri yang ternyata juga turut menatapnya.


Ziran pun melakukan yang seharusnya. Di raihnya kepala sang istri, di kecup kening itu lama dan penuh arti sebelum tangannya menyentuh ubun-ubun Afra dan berdoa.


"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih.” Runtuh sudah pertahanannya, Air mata Afra meleleh mengalir di pipi. Dia sesegukan sambil menundukkan kepala, terharu dengan perlakuan suaminya.


Terjemah- ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.


"Amiinn ... Ya Rabb ... Amiinn ..." Afra mengaminkan Doa suaminya dengan air mata masih belum berhenti mengalir.


Ziran mengusap-usap lembut kepala istrinya dan menghapus jejak air mata itu dengan jemarinya. "Jangan menangis, tersenyum saja Istriku. Bisa berikan tangan kananmu?" Titah Ziran lembut.


Afra menurut, di ulurkannya tanya kanannya pada Ziran. Lelaki itu merogoh saku baju pengantinnya dan mengeluarkan kotak cincin merah dari sana. Cincin perak bermata rubi kecil diambil Ziran dari kotak itu.


Afra terpaku. Cincin itu terlihat Sederhana. Ziran memakaikannya ke jari manisnya. Pas di jarnya.


"Sesuai pintamu tuan putri. Tidak berlebihan, bukan?" Ziran bertanya beberapa hari lalu tentang cincin yang di sukai Afra seperti apa? Dan gadis itu menjawab.


"Cantik, Sederhana dan tidak mencolok. Aku suka, terima kasih kak." Afra tersenyum senang terus menatap benda kecil berkilau itu.


Ziran ikut bahagia gadis itu senang dengan benda yang di berikannya. Dia bisa memberikan cincin lebih dari cantiknya cincin itu, namun sepertinya Afra bukan gadis pecinta kemewahan. Cukup sederhana, dia akan senang.


Ziran fokus pada wajah istrinya. "Boleh aku memelukmu?"


Afra tersenyum lucu. "Apa perlu minta Izin? Tidak perlu suamiku." Afra lebih dulu memeluk sang suami. Ziran awalnya terkejut, namun segera dia membalas pelukan erat itu dan berbisik pelan.


"Terima kasih istriku. For Everything."


Sepertinya Afra tidak akan salah, jika ingin jatuh hati berkali-kali pada sosok suaminya itu. Sebab kini, dia jatuh cinta pada yang halal. Ziran, sang pejuang hati gadis petualang, Afraza Humairah.


-To Be Continue-

__ADS_1


-Author.


Rencana pernikahan yang Seperti di atas itu, penulis mengetahui dari salah satu penulis wattad 🙏


__ADS_2