
Pandangan mereka saling bertemu.
Kiki bangkit dari duduknya dan meninggalkan kesibukan melukisnya sesegera mungkin. Dia sedikit berlari menghampiri wanita yang selalu dia cari dan bolehkah dia berkata 'merindukan?' karena perasaan itu memang selalu hadir pada dirinya.
Aku merindukanmu, rasa ini membuatku sesak setiap malam. Melihatmu sekarang membuatku pulih, itu karena kamu adalah obatnya. Jadi ..., Bolehkah aku bersamamu? Hatinya bertanya berharap pesannya itu sampai pada Afra, Namun entah kenapa hatinya malah semakin sakit, jawaban dari pertanyaan itu sudah pasti lebih menyakitkan.
Afra telah menjadi milik orang lain! Kiki benci kenyataan itu.
Mata Kiki melebar saat menangkap Afra terburu-buru akan beranjak pergi, tiba-tiba nalurinya untuk mempercepat langkah kaki muncul begitu saja. Diapun refleks berlari sekencang mungkin demi mengejar Wanita itu.
"Afra!"
Afra tak memperdulikan panggilan itu dan terus berlari membawa Zanira pergi. Dia harus menghilang sesegera mungkin dari taman ini, Dia tak boleh sampai bertemu dengan lelaki itu. Jangan lagi! Akan terjadi kesalah pahaman lagi jika sampai itu terjadi! Afra mengingit bibir takut melihat ke belakang sana.
"Adik Ipar, kenapa? Ada apa? ini kita lari seperti di kejar hantu saja." Zanira kebingungan melihat tingkah Afra yang tiba-tiba menjadi aneh. Tangannya masih di pegang dan terus berlari. Zanira tak mendapat jawaban bertambah bingung. Satu tangannya yang bebas di gunakan menggaruk kepala.
"AFRA TUNGGU!"
Zanira baru menyadari ada orang yang memanggil-manggil nama Adik Iparnya dari belakang, diapun putar kepala ingin tahu.
"Loh, loh. Itukan si ganteng yang melukis tadi." Zanira hampir ambruk ke samping saat tangannya yang di tarik Afra tiba-tiba berhenti namun, kembali di tarik ke bawah. Posisi mereka berjongkok di balik semak bunga yang lebat. "Afra ....! "
"Sssst ..., Kakak diam dulu, ya." Telunjuk jari Afra menempel di bibir dan menghentikan teriakan Zanira dengan membekab mukut Kakak Iparnya. setelah di rasa Zanira lebih tenang Afra melepas bekapannya.
Perhatian Zanira terfokus pada wajah pucat pasi Afra yang tagang, serta keringat di dahinya meluncur turun sampai ke alis mata.
Kenapa dengan Adik Iparku Ini? Zanira menjadi khawatir.
__ADS_1
"Sekarang jelaskan sebenarnya ini ada apa? kenapa kita lari maraton sampai bersembunyi di sini? Dan siapa lelaki tadi, yang meneriaku namamu dan mengejar kita?" Terlihat Afra masih mengatur napasnya yang ngos-ngosan, lelah. Zanira menjadi tidak sabar menunggu jawaban mendesak lagi, "Adik Ipar, ayo jelaskan!"
Afra malah mengintip-ngintip di balik semak mengabaikan pertanyaan beruntun Zanira. Setelah di rasa aman, tubuh Afra beralih bersandar lemah pada semak di belakangnya. "Sepertinya aman, selamat .... "
"Kamu ini kenapa coba? Jangan buat Kakak penasaran, cepat jelaskan penyebabnya!" Zanira mengguncang tubuh Afra sedikit keras. Dia kesal dengan Afra yang mengabaikan semua pertaannya.
"Oke Kak, aku akan jelaskan, tapi hentikan dulu ini." Guncangan itu berhenti, Afra memperbaiki posisi menjadi duduk tegak. Tatapan Afra menjadi serius pada Zanira. "Ekhm .... "
"Ekhm .... " Zanira ikut-ikutan berdehem, entah kenapa dia sangat penasaran akan mendengar penjelasan Afra.
Afra menarik napas panjang sebelum menghembuskan, "Kakak lihat lelaki yang tadi melukis di taman .... "
"Dan memanggil-manggil namamu sambil mengejar kita? iya, aku tahu." Seakan tak sabar ingin mendengar bagian intinya. "Dia itu siapa?"
Afra terdiam beberapa detik, kemudian wajah tegangnya akhirnya bisa tersenyum sekarang, "Dia adalah Alki Kihalmid."
"Lelaki tadi aku panggil Kiki. Dia itu, yang membuat Ziran mendiamiku sewaktu itu sampai beberapa hari lamanya hanya karena cemburu pada lelaki tadi. Itu terjadi saat di kedai, aku sedang melukis bersama Kiki lalu Ziran datang dan tiba-tiba terjadilah baku hantam antara keduanya." Afra mengusap kasar wajah, "Tapi bukan itu masalahnya. Kedua lelaki itu seperti punya dendam pribadi yang aku belum ketahui apa itu? Tatapan mereka sangat menjelaskan maksudnya, jika mereka berdua saling mengenal." Memandang langit dengan tatapan kosong.
"Jadi maksud kamu ada yang tidak beres dari itu semua? Ada kejanggalan?" Afra mengangguk dalam diam.
Jadi inilah alasannya. Afra menariknya berlari sampai di sini untuk menghindari lelaki yang bernama Kiki itu. Pantas saja. Zanira menjadi semakin penasaran.
"Makanya aku harus menghidari lelaki itu Kak, takutnya kejadian di waktu lalu akan terulang lagi. Apalagi jika sampai Ziran menemukanku bersama Kiki, perang dunia ketiga!" Afra terkekeh di akhir kalimatnya. Zanira pun akhirnya ikut tertawa melihat adik iparnya.
"Mendengar dari ceritamu, tak salah lagi Kiki menyukaimu." Ucap Zanira tiba-tiba. Jarinya memetik satu tangkai bunga Aster berwarna Pink dan mencabut satu persatu kelopaknya.
Afra tambah tertawa mendengar ucapan kakak iparnya. "Hahaha ..., Mustahil, lah kak. Jangan mengada-ngada, deh." Dia memegang Perut karena merasa tergelitik, lucu.
__ADS_1
"Makanya itu Afra. Kiki mustahil bersamamu di karenakan kamu telah bersuami. Adikku itu sangat-sangat mencintaimu dan tidak akan mau melepasmu, tidak akan pernah." Bunga Aster itu telah kehilangan kelopak, kini Zanira mengambil satu bunga Aster lagi kali ini di selipkan di daun telinganya. "Tidak ada kemungkinan Kiki bisa memilikimu."
Afra mengernyit bingung dengan ucapan Zanira. "Maksud Kak Zanira apa?"
"Kurasa kiki adalah jodohku."
Afra seketika berbalik menatap Zanira. telingaku baik-baik saja kan? Kak, apa dirimu serius mengatakannya? Afra menatap tak percaya. "Kakak Serius? Tahu dari mana?"
"Dia adalah pengeran tampan yang membuatku menyukainya sejak pertama kali melihatnya. Aku mengklaimnya jodohku." satu kepalan tangan Zanira terangkat di dada. kini, dia beralih menggenggam kedua tangan Afra. "Jadi maukah kamu mendukungku? Aku telah lama menjomblo, kurasa sekarang saatnya aku mendapatkan pasangan hidup. Bagaimana menurutmu?" Mata Zanira bersinar memancarkan cahanya terang.
"A-i-u .... "Afra mati kutu tak tahu harus merespon seperti apa? Afra menerbitkan senyum. "Iya Kak, Sepertinya Kiki ialah orang yang tepat untuk Kak Zani. Kalau Kak Zani bahagia, aku ikut senang. Aku akan mendukung, Kakak."
"Aaaakk! Terima kasih Adik Iparku .... "
Meski Afra masih merasa aneh tentang Zanira yang tiba-tiba menyukai Kiki, tapi dia tidak rela menghancurkan kebahagian Kakak iparnya ini. Biarkan saja, siapa yang tahu takdir kedepannya? ya, kecuali sang penentu Takdir, Allah SWT, semua yang mustahil bisa terwujudkan.
Di sisi lain Kiki kembali ke tempat melukisnya tadi, wajahnya menampakkan gurat kemarahan. Dengan bertenaga dia menendang kursi kayu taman di depannya, tak memperdulikan beberapa orang yang kini melihatnya aneh.
Aku kehilangan jejaknya, Afra benar-benar menghindariku! Melihat Afra yang berlari meninggalkannya, hati Kiki sakit mengetahui fakta itu.
"Ah, Sial! Sekarang bagaimana? Untuk bertemu denganku saja sepertinya dia enggan, bagaimana aku menceritakan kebenarannya?!" Sekali lagi kursi kayu itu bertenaga, kepalan tangannya tergenggam kuat. "Aku belum kalah Ziran! Aku pasti mencari cara untuk membalas semuanya!"
Tangan kiki mencabut paksa tangkai bungan mawar merah yang ada di sampingnya, seperti tak merasakan sakit tangkai berduri itu di genggam erat. Akibatnya tangan Kiki berdarah, tetes demi tetes berlomba untuk jatuh ke tanah.
Hati jika terluka akan lebih sakit di banding luka pada tubuh yang mengeluarkan darah. karena sejatinya di saat Hati terluka, air mata yang akan jatuh.
-To Be Continue-
__ADS_1