Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 40 : BIDADARI SURGAKU


__ADS_3

Malam itu selepas isya. Sepasang kekasih halal tengah duduk berduan di taman belakang rumah, sambil berbincang kecil berakhir dengan tertawa bersama.


Mereka duduk di atas rumput jepang yang menghiasi taman belakang rumah mereka. Di temani bunga-bunga yang tampak indah bersinar di bawah terpaan cahaya bulan.


"Kamu dulu sangat cengeng." Celetuk Ziran tiba-tiba.


"Ah, masa? Perasaan dulu aku tidak secengeng itu, deh." Kilah Afra dengan wajahnya berubah menjadi cemberut menatap Ziran.


"Ingatanmu itu sangat buruk sampai lupa kenangan masa kecilmu. Ingat dulu saat kamu lari-larian dan terjatuh? Kamu nangis, kan? Ah, itu bukan yang sekali, jatuh dari perosotan nangis juga." Ketus Ziran menceritakan betapa cengengnya Afra saat kecil.


Dulu Ziran selalu menghibur Afra jika menangis, maski tak memungkiri Alki pun sama pedulinya kepada Wanitanya. Ah, kenapa malah harus tersangkut pautkan pada si penghianat itu! Lupakan, kisah ini hanya untuk mereka bedua saja, semoga tidak ada orang ketiga.


"Serius? kok aku sampai lupa, ya?" Ucap Afra di selingi dengan tanggannya yang memukul-mukul kepalanya sedikit keras. Ziran yang melihatnya lantas mencegat tangan Afra melakukan tindakan menganiaya diri sendiri.


"Jangan sakiti dirimu, bisa geger otak kalau di pukul begitu. Aduh, kalau tidak ingat ya tidak masalah, Sayang." Membuang napas kasar Ziran beralih memeluk Afra.


Keduanya pun larut dalam keheningan. Afra terbuai oleh tepukan pelan di bahunya karena perlakuan Ziran yang seperti ingin menidurkan anak kecil. Afra memejamkan mata, tapi tak lama matanya terbuka kembali.


"Nyanyikan aku sebuah lagu, Kak." Kata Afra sambil merubah posisi menjadi tidur terlentang. Di jadikannya paha Ziran sebagai bantalan.


"Sayang aku tidak pintar bernyanyi, minta yang lain saja, ok?" Balas Ziran tersenyum kikuk.


"Tidak mau, pokoknya nyanyikan satu lagu! Kalau tidak aku tidur di luar saja, deh." Afra pura-pura merajuk tidur menyampingi Ziran.


Sambil menghela dan menarik napas, Ziran pun menjawab, "Iya, iya, aku nyanyi. Mau lagu apa, Sayang?"


Tersenyum senang Afra menimang jawaban sebelu menjawab.


"Ah, tidak usah tanya aku mau lagu apa? Kan kakak tidak pintar bernyanyi, jadi terserah Kakak mau nyanyi lagu apa." Cibir Afra dengan terkekeh geli.


Lucu, tidak pintar bernyanyi tapi masih saja meminta Afra untuk request lagu.


"Hahaha, benar juga. Tunggu sebentar, aku ingat-ingat dulu lagunya." Ziran pun diam sebentar sambil memikirkan lagu, tangannya terus mengelus kepala Afra yang terbalut hijab. Sampai...


"Ah, ternyata ada satu lagu yang ku hafal. Aku nyanyikan sekarang?" Tanya Ziran.


"Iya sekaranglah, Kak, masa sebentar!"


Ziran pun tertawa mendengar nada kekesalan Istrinya. Namun hanya sebentar, karena setelahnya Afra terpaku mendengar lagu yang di pilih Ziran untuk di nyanyikan.


🎶


Setiap manusia punya rasa cinta,


yang mesti dijaga kesuciaanya


namun ada kala insan tak berdaya,


saat dusta mampir bertahta


Kuinginkan dia,


yang punya setia.


Yang mampu menjaga kemurniaanya.

__ADS_1


Saat ku tak ada,


ku jauh darinya,


amanah pun jadi penjaganya


Reff


Hatimu tempat berlindungku,


Tuhanku merestui itu,


dijadikan engkau istriku


Engkaulah.....


Bidadari Surgaku


Tiada yang memahami,


sgala kekuranganku


kecuali kamu, bidadariku


Maafkanlah aku


dengan kebodohanku


yang tak bisa membimbing dirimu


Reff


Hatimu tempat berlindungku,


Tuhanku merestui itu,


dijadikan engkau istriku


Engkaulah.....


Bidadari Surgaku.


🎶


Air mata Afra menitik jatuh ke atas paha Ziran. Lagu itu sangat menyentuh relung kalbunya, membuat dia larut hingga tak bisa membendung air mata. Ziran tersenyum lebar-lebar sambil mengusapi jejak air mata Afra.


"Kenapa pilih lagu yang itu?" Tanya Afra penasaran. Wajahnya masih memerah karena tangis.


"Karena engkaulah Bidadari Surgaku. Istri dunia dan akhiratku."


Malam itu mereka habiskan dengan bincang-bincang tentang lika-liku cinta mereka. Cinta masa kecil yang sekarang telah menjadi cinta yang halal. Sama sekai tidak terduga.


***


Dalam kamar.

__ADS_1


"Kak, aku di terima mengajar di pondok pesantren Al-Akbar."


Ziran yang tengah bersandar di kepala ranjang dan sibuk pada laptop melihat beberapa email perusahaan yang masuk, teralihkan saat Istrinya berucap demikian.


"Alhamdulillah ... bagud dong, Sayang." Balas Ziran tersenyum.


"Kakak Izinin?" Afra mendekat naik ke atas ranjang.


"Menjadi sosok Ustadzah kan, bagus. mengajar para santri itu mendapat pahala amal jariyah, betul tidak?" Afra tertawa melihat Ziran menaik turunkan alis padanya.


"Haha, iya betul. Makasih ya restunya, Kak."


"Sama-sama. Kapan mulai mengajarnya?" Ziran bangkit untuk pergi meletakkan laptor di atas meja dalam kamar dan kembali berbaring di samping istrinya.


"Minggu depan, Kak. Dan untuk jam kerjanya, jam 8 pagi sampai jam 3 sore."


"Hm, lama juga ya, tapi gak pa-pa.


Asal kamu jangan sampai lupa urus diri dan jaga kesehatan." Peringat Ziran.


"Siap, deh Kapten. Nanti kalau sudah mulai mengajar, aku kesana bawa motor saja ya kak?" Tanya Afra kemudian.


"Bahaya ..."


"Nonono, aku akan hati-hati. Laju motornya maksimal 60 km/jam saja, boleh dong kak. Kasihan kalau mau di antar jemput terus sama Kakak." Rengeknya menggoyang-goyang bahu Ziran.


"Iya boleh, tapi kalau aku bisa, aku yang akan antar sendiri Istriku ke sana."


"Oke, aku setuju. Asal jangan sampai capek."


"Masa antar istri naik mobil capek? Ada-ada saja kamu." Ziran menarik hidung Afra membuatnya memerah.


"Iih, nakal. Saakitt!" Rajuknya mengingit lengan Suaminya. Dan terakhir mereka tertawa bersama.


Tak berapa lama Afra kembali bersuara,


"Kak, aku mau ...," Afra mengantungkan ucapan membuat Ziran mendekatkan wajah penasaran.


"Ekhm ..., kamu mau apa?" Sumpah Ziran ingin meledakkan tawa karena otaknya malah ngawur memikirkan hal lain tentang apa yang Afra inginkan. Kalian pasti taulah!


"Aku ...," Tuh kan! Jika wanita ingin meminta sesuatu yang membuat egonya tersentil harus mikir beberapa kali dulu. "Itu aku ...,"


Ziran yang gemas dengan tingkah laku Afra membuat jantungnya dag dig dug dan memejam mata menetralisir reaksinya.


"Kalau mau minta sesuatu jangan di tunda-tunda, bicaranya coba yang jelas Sayang." Ziran mengigit bibir bawahnya menatap Afra yang polos menatapnya.


"Ituloh, Kak. Kan kemarin Kakak bacakan aku Surah An-Naba, sekarang aku mau surah Ar-Rahman. Aku cepat tidur kalau dengar suara merdu Kakak soalnya." Yah, setiap Afra akan terlelap Ziran selalu membacakan Surah Alquran sesuai keinginan sang istri atau inisiatif Ziran sendiri ingin membacakan surah apa. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka setelah menikah.


Namun, jawaban Afra membuat Ziran merontokkan pikirannya tadi. Dia mengira....


"Loh, kok mukanya jadi manyun gitu, Kak?" Tanya Afra melihat mimik wajah Ziran yang berubah drastis.


"Oh, gak kenapa-kenapa, Sayang. Kamu mau dengar surah Ar-Rahman, kan? Kalau begitu aku ke kamar mandi dulu sebentar ya."


Afra menatap bingung tingkah aneh Ziran yang telah berlalu masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


"Loh, Kak Ziran kenapa kayak gitu, sih? Kayak kebelet pipis amat."


-To Be Countinue-


__ADS_2